Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
102. Lee Mey Hwa 11


__ADS_3

Entah berapa lama pangeran terlelap saat ia terjaga karena sentuhan lembut di wajahnya. "Sayang" Pangeran Indra menarik tangan Suri yang ingin menjauh. "Mengapa berhenti, anggap saja aku masih tidur" Pangeran pura pura tidur lagi.


"Mana bisa", Suri mendengus "Mengapa tidak" pangeran menarik Suri yang ingin menjauh, sentakan yang kuat membuat Suri terjatuh tepat menimpa pangeran. "Huk!" pangeran terkejut tak meyangka tarikannya akan membuat Suri jatuh begitu kuat. "Dinda, kau makin berat sayang" Pangeran pura pura berusaha menahan berat tubuh Suri.


"Kau mau bilang aku gendut?" Suri langsung cemberut, "Jahat, kau jagat" Suri langsung mendaratkan cubitanya bertubi tubi di bagian tubuh pangeran Indra. "Aww, sakit sayang, bukan ini yang kumau" katanya sambil berusaha menahan menangkap tangan Suri agar berhenti mencubitnya. "Rasakan, ini sapa suruh bilang aku gendut?" Suri terus saja mencubit pangeran hingga meninggalkan bekas merah dimana mana.


"Dinda, kapan aku bilang kamu gendut, kamu sendiri yang bilang" pangeran berteriak hingga saat Suri pangeran berhasil menangkap tangan Suri, dan menguncinya. Entah kapan posisi mereka berubah, Suri telah terkunci dengan tubuh pangeran berada di atasnya.


"Pangeran mendekatkan wajahnya pada wajah Suri, dan Suri langsung mengernyitkan hidungnya. "Ada apa?" Pangeran bertanya bingung. "Kau mau menciumku kan, aku menolak, kau baru bangun tidur pangeran mulutmu pasti bau" Suri berkata sambil membuang muka kesamping.


"Benarkah?.pangeran langsung menghembuskan nafasnya ke tangan dan menciumnya, kau bohong, berani beraninya bilang bau" Pangeran ingin membalas Suri tapi sayang, Suri sudah berdiri di gawang pintu, "Mandilah pangeran bau, ha ha ha" Suri pergi sambil melambaikan tangannya dengan wajah mengejek yang membuat pangeran sangat kesal. "Awas kau sayang, saat aku mendapatkan mu, kau harus terima pembalasnku, seorang pangeran Indra tak pernah kalah" Pangeran tersenyum licik. Hanya Suri yang bisa menggodanya, meluluhkan keangkuhannya, cinta memang membutakan mata, memekakkan telinga, lalu hati menjadi hampa? (ingat sesuatu reader? maaf ngelantur dikit🙈)

__ADS_1


"Pangeran mengibaskan rambutnya yang basah, saat mendatangi Suri di kamar Tabib Lee. "Pangeran sengajaengibaskan lagi rambutnya saat berada di dekat Suri. "Apa yang kau lakukan" Berbisi sambil mendelik marah. "Hanya ingin mengatakan bahwa aku sudah wangi" pangeran Indra terkekeh pelan.


Suri gemas melihatnya dan langsung melayangkan cubitan, namun sayang pangeran sudah bersiap siaga akan serangan mendadak itu, cubitan Suri hanya melayang di atas angin. Suri makan kesal, "Awas kau" Suri bersuara pelan sambik menatap pangeran, menyimpan kekesalan dihatinya karena terlihat Tabib Lee sudah membuka matanya perlahan.


"Ayah, kau sudah sadar?" Suri segera mendekat. tatapan kosong dari tabib Lee membuat Suri sadar akan sesuatu. "Maaf, tapi bolehkah aku tetap memanggilmu ayah" Suri menatap tabib Lee dengan tatapan memohon.


Tabib Lee tersenyum, dan mengangguk pelan, Suri menyentuh tangan tabib Lee, dan berkata pelan " Terima kasih ayah, terima kasih sudah menjagaku" Suri tersenyum, matanya berkaca kaca karena terharu. Tabib Lee memberi isyarat agar Suri mendekat di sampingnya, "Selama kau disini kau tetap anakku Mey er", suara pelan tabib Lee makin membuat Suri terharu, dan memeluk tabib Lee, terima kasih ayah.


Uhuks!.. uhuks!.. tabib Lee terbatuk, darah segar menyembur keluar dari mulutnya. "Ayah! Suri segera membantu tabib Lee menyeka darah dimulutnya, dan memberinya minum. "Maafkan aku ayah, tampaknya aku harus bersabar hingga ayah sembuh untuk mendengar cerita ayah, istirahatlah" Suri menarik selimut tabib Lee hingga menutupi dada, dan tersenyum padanya sebelum pergi meninggalkan tabib Lee.


Pangeran Indra hanya memperhatikan apa yang dilakukan Suri tanpa bicara lagi. 'Kau pergi begitu saja sayang, setelah seenaknya memeluk pria lain' Pangeran mendengus kesal dan menyusul Suri yang telah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Dinda" Pangeran Indra "Ya" Suri menjawab singkat tanoa menoleh. 'Keterlaluan, bisa bisanya dia berbuat seolah tidak terjadi apa apa, setelah membuatku seperti patung hidup' pangeran membatin kesal. "Dinda" panggilnya lagi. "Ada apa? Suripun mulai kesal. Pangeran menarik Suri dan menguncinya di dinding, membuat Suri tak bisa bergerak karena tangan kekar pangeran di kiri kanannya.


"Sudah lempar batu sembunyi tangan?" Pangeran bertanya kesal. "Ada apa? aku tidak merasa berbuat salah apapun" Suri bertanya bingung, "Jangan berteka teki terus terang saja, aku capek" Suri bergerak karena merasa sesak. "Dinda pikir kanda tadi patung, kanda seperti tidak ada disana, tidak mengajak bicara sama sama sekali, kemudian seenaknya memeluk pria lain di hadapanku" pangeran meluahkan kekesalannya.


"Astagaaaaaaa sayang, kau cemburu?" Suri ingin tertawa tapi ditahannya agar pangeran Indra tidak semakin marah. Pangeran salah tingkah wajahnya memerah senang karena Suri memanggilnya sayang, tapi sesaat kemudian pangeran sadar Suri sengaja melakukannya. "cup!" Pangeran mengecup Suri tiba tiba "Pangeran, kau gila ya ya, kalau ada yang liat bagaimana?" Suri marah. "Biar saja, aku tak peduli, ku katakan saja kau calon istriku" Pangeran berkata asal. "Sudahlah, susah menenangkan orang yang lagi cemburu buta, apa lagi cemburunya pada orang tua, sungguh tak masuk akal" Suri memanfaatkan kelengahan pangeran Indra dengan meloloskan diri dari bawah, dan berlari ke kamarnya, "Dasar bayi besar" Suri mengolok pangeran sambil berlari.


"Dinda!, Sayang!" Pangeran memanggil Suri, tapi Suri tak memperdulikannya, terus berlari sambil tertawa membayangkan pangrran Indra yang kesal. "Awas kau dinda, kau harua membayar semua ini lihat saja nanti" Pangeran tersenyum licik merencanakan sesuatu untuk membalas kelakukan Suri kekasihnya itu.


Pangeran kembali ke kamar Tabib Lee, melihat tabib tua itu sedang tertidur pulas, saat pangeran ingin keluar Kwan Yiew sudah berdiri di gawang pintu. "Prajurit Lee, ayo kita bicara" Pangeran berjalan mendekati Kwan Yiew dan mereka berjalan beriringan ke ruang rahasia.


"Apa rencana kita selanjutnya pangeran?" Kwan Yiew tak ingin berbasa basi lagi. "Ayahanda pasti sudah mengetahui keberadaanku, tapi untuk sementara ini kita terpaksa menunda rencana kita, keadaan kita memang tidak menguntungkan saat ini, tabib Lee juga sedang sakit, maafkan aku soal ayahmu" pangeran berkata bijaksana. "Tidak apa apa Pangeran, semua ini bukan salahmu, tak ada yang bisa melawan kehendak penguasa langit" Kwan Yiew meng hembus nafas panjang terlihat sekali bahwa dia sangat kacau.

__ADS_1


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?, maaf pangeran aku tak mampu memikirkan apa apa, fikiranku sedang kacau" Kwan Yiew menunduk. "Aku tahu, tak mudah bagimu untuk menerima semua ini, apapun yang terjadi aku tetap akan membalas mereka,mereka harus dihukum jika tidak makin banyak orang yang tak bersalah akan mati sia sia. "Urus saja pemakaman kekasih Mey Ling, lakukan dengan hati hati jangan sampau ada yang tahu, setelah itu aku ingin Mey Ling menjadi mata mataku ke istana" Pangeran memberikan tugas pada Kwan Yiew, dan Kwan Yiew sesekali bertanya pada pangeran, hingga tak terasa larut malam baru mereka selesai. "Lakukan semua malam ini juga Kwan Yiew, lebih cepat lebih baik, aku akan menjaga ayahmy, jangan khawatir" Pangeran menepuk pundak Kwan Yiew, dan Yiew segera berlalu menjalankan tugasnya.


__ADS_2