Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
15. Putra mahkota datang merisik 2


__ADS_3

Putra Mahkota Pangeran Mulyawarman



Perdana Menteri :


"Sungguh manis buah pulasan,


buah dipetik di pelangiran,


pesan bukan sembarang pesan,


pesan dari tuanku pangeran"


Panglima Hang Tuah membalas pantun :


"Mengapa pipit terbang rendah,


siraja udang menangkap ikan,


air sudah sirihpun sudah,


hajat apa tolong sampaikan"


Perdana Menteri menjawab :


"Pokok kerini jangan dipanjat,


kalau dipanjat patah dahannya


datang kami datang berhajat


bunga di taman sudahkah berpunya?

__ADS_1


Panglima Hang Tuah


"Pokok kerini jangan dipanjat


kalau di panjat patah dahannya


bunga kami memang memikat


belum di ikat belum berpunya".


Perdana Menteri :


"Kain putri sulaman pelangi


cantik dan molek jadi idaman


dahulu kami pernah berjanji


Perdana menteri :


"Kini gendang kami tingkahkan


mengiring lagu pelipur hati


ini semua kami serahkan


untuk ananda dirumah ini"


rombongan pembawa hantaran membawa dulang-dulang hantaran, semua berjumlah 7 dulang, tertutup dengan kain sutra, setelah hantaran diletakkan dan kain penutup di buka, terlihatlah isi hantaran.


2 dulang berisi kain songket sutra bersulam benang emas, 2 dulangberisi seperangkat perhiasan, 2 dulang lagi berisi sepasang sendal berbahan songket dengan warna senada. 1 dulang berisi sirih pinang yang disusun cantik dengan bunga2 mawar membentuk karangan bunga yang sangat indah.


Panglima Hang Tuah melanjutkan pantunnya :

__ADS_1


"Bunga melur pelambang cinta


ambilkan pasu tolong tanamkan


kami terima penuh suka cita


kecik tapak tangan nyiru kami tadahkan"


Baginda Raja dan Ratu tersenyum puas, lamaran telah diterima, begitu juga Putra mahkota terus memandangi Suri tak berkedip.


Sementara Suri hanya menunduk "Pangeran Indra maafkan aku apa yang harus aku lakukan, semua diluar kehendakku" Suri hanya diam tak berkata apa apa saat Permaisuri Pin Kenanga menyarungkan cincin permata merah delima di jarinya sebagai tanda Suri resmi bertunangan dengan Pangeran Mulyawarman.


Ratu Pinang Masak melihat Suri yang sepertinya tidak bahagia, Ratu menyentuh dagu Suri dan memaksanya menatap wajah ratu, "Apa yang ananda fikirkan? kenapa ananda bersedih? apakah ananda tidak sudi menjadi menantu ibunda? Kenanga bertanya dengan bertubi-tubi.


"Bukan, bukan begitu ibunda, ananda bukan bersedih karena itu, tetapi.. Suri sudah tak kuasa lagi membendung air matanya akhirnya jatuh menganak sungai.


Sambil tersedu putri melanjutkan ucapannya, "seandainya ibundaku masih ada, dia pasti sangat bahagia hari ini ibunda ratu", Ratu yang melihat Suri menangis langsung memeluk Dayang Suri.


Ratu Pinang Masak menenangkan Suri, "Jangan bersedih ananda, bukankah ibunda ratu sudah katakan pada ananda, anggaplah bunda sebagai pengganti ibu kandungmu, karena ibunda sangat menyayangimu".


Ratu mengelus pundak Suri dengan penuh kasih sayang, semua yang hadir turut merasa sedih. "Maafkan hamba Ratu, hamba terpaksa berbohong" jerit hati Suri, Suri memang sedih karena ketiadaan ibunya.


Tetapi Suri juga sedih mengingat janjinya pada pangeran, menolak lamaran putra mahkota juga tidak mungkin, pasti raja akan murka, akhirnya Suri hanya diam, bingung meratapi nasibnya.


Sementara di atas pohon angsana yang rimbun, Angin Bayu telik sandi Kerajaan Buana terus memperhatikan prosesi lamaran dari awal, dan dia juga tahu bahwa Suri tidak menginginkan lamaran itu, karena Angin Bayu bisa mendengar bisikan hati Suri.


"Hmmm... ternyata firasat pangeran benar telah terjadi sesuatu disini, pangeran dan Putri Dayang Suri sudah memiliki ikatan bathin yang kuat, apa yang harus kukatakan pada pangeran?" Angin Bayu menjadi resah memikirkan nasib pangerannya.


"Kasian sekali pangeran jika harus patah hati pada cinta pertamanya, bisa-bisa jadi bujang lapuk dia, ha.. ha.. ha.. Angin Bayu jadi tersenyum senyum membayangkan Pangeran Indra yang bisa jadi bujang lapuk.


Angin Bayu dan Pangeran memang bersahabat sejak kecil, walaupun Angin Bayu hanya prajurit biasa tetapi pangeran tidak pernah menganggapnya sebagai abdinya, tetapi sebagai sahabat tempat nya berkeluh kesah.


Hanya pada Angin Bayu pangeran bisa mencurahkan isi hatinya.

__ADS_1


__ADS_2