
Mereka tertidur pulas hingga tak sadar matahari sudah tergelincir ke barat. Pangeran bangun lebih dulu, menguncang lembut bahu Suri untuk membangunkannya.
"Adinda, sayang, bangun, sudah sore, adinda harus pulang" Suri menggeliat memicingkan matanya sebentar mengeratkan pelukannya lalu tidur lagi. "Sayang, matahari sudah tergelincir sebentar lagi gelap,ayo kita pulang" pangeran Indra mencoba membangunkan Suri lagi.
Tapi yang dibangunkan hanya tersenyum, "Sebentar lagi pangeran masih ngantuk" Pangeran Indra tersenyum, tiba-tiba muncul idenya untuk membangunkan Suri.
"Dinda, hukumanmu tadi belum dibayar, ditambah lagi yang barusan semuanya menjadi 5 kali apa boleh aku memintanya sekarang?"
Suri yang sebenarnya sudah bangun, tapi pura pura tidur langsung melepaskan pelukannya, menatap tajam pada pangeran Indra.
"Kanda curang, masak iya sih orang yang lagi tidur harus dihukum juga!" Suri berkacak pinggang marah pada pangeran Indra, tapi yang dimarahi malah tertawa.
"Ayo kita pulang, sebelum hari gelap" Pangeran Indra menarik tangan Suri. Tapi yang ditarik malah memeluk pangeran Indra "Dinda belum mau pulang, masih rindu" Suri memeluk pangeran lagi.
"Kalau kanda mau egois kanda juga tidak mau dinda pulang" tapi dinda harus pulang, besok kita bertemu lagi. Walaupun enggan Suri akhirnya mau pulang juga, mereka bergandengan menuju gerbang istana.
Di luar gerbang sudah menunggu kereta kuda kerajaan Buana Gemilang, Sebuah kereta berwarna coklat, di sisi kanan dan kirinya terdapat ukiran rajawali lambang kerajaan Buana Gemilang.
"Ayo naik" Pangeran mengulurkan tangannya untuk membantu Suri naik kereta. "Kenapa tidak naik kuda saja? dinda tidak suka naik kereta kanda" Suri bertanya.
__ADS_1
"Kanda tidak ingin dinda lelah, sebaiknya kita naik kereta saja. Suri naik kereta dengan wajah cemberut. Entah mengapa dengan pangeran Indra Suri yang mandiri berubah menjadi Suri yang manja.
Kereta mulai bergerak perlahan, kereta bertambah kencang, saat melalui jalan berbatu tubuh Suri yang bersandar di dinding kereta ikut terguncang.
Pangeran Indra menarik Suri kedalam pelukannya, Suri diam saja tak menolak. "Jangan ngambek lagi, jelek" pangeran berbisik di teliga Suri, mencium kening Suri sekilas, dan memeluk erat pinggang Suri.
"Biarin jelek, jahat banget, bukannya di baik-baikin malah dibilang jelek" Suri mencubit pinggang pangeran Indra "Aww! sakit dinda" pangeran Indra pura-pura kesakitan sambil mengelus pinggangnya yang dicubit Suri.
Mereka tertawa bersama, saling tatap dalam remangnya kereta yang tanpa lampu, hanya cahaya bulan samar samar dari jendela kereta.
Pangeran membelai rambut Suri, menyusupkannya kesamping telinga, mencium kening Suri lembut, mencium matanya, hidungnya, pipinya, dan perlahan turun ke bibir Suri yang entah kapan sudah terbuka menanti sentuhan.
"Berhenti" pangeran Indra memerintahkan berhenti, matilah aku bisik Angin Bayu dalam hati.
Telik sandi dan juga sahabat pangeran Indra yang malam ini menjadi kusir kereta. Sedari tadi sudah berdebar-debar panas dingin tak karuan mendengar suara-suara dari dalam kereta, Bayu tahu pasangan yang sedang dimabuk cinta di dalam kereta pasti sedang bercumbu, dan dia tak sengaja telah merusak semuanya.
Pangeran keluar dengan wajah sangar, "Kau sengaja Bayu?" pangeran menatap sinis pada Bayu".
"Ampun tuanku pangeran, hamba tidak sengaja jalanan ini memang dipenuhi batu cadas yang tajam, dan jalanan juga sedikit curam, mana berani hamba tuanku" Bayu berbicara sambil menunduk.
__ADS_1
"Baiklah kali ini kau kumaafkan, awas saja kalau lain kali kau berulah lagi" pangeran indra berbicara dengan suara rendah di telinga sahabatnya itu. Bayu mengangguk lemah.
Pangeran masuk kembali ke kereta, "Ada apa? apa keretanya rusak? Suri bertanya cemas. "Tidak, tidak ada apa-apa hanya jalanan saja berbatu cukup besar" pangeran menjawab sambil kembali menarik Suri kedalam pelukannya.
Dalam hati pageran merutuki kelakuan Angin Bayu, yang menggagalkan ciumannya malam ini, " Sialan kau Bayu, tunggu pembalasanku nanti di istana" pangeran berkata dalam hati sambil mengepalkan tangannya menahan kesal.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di tempat Cantiqa di tambatkan, Pangeran keluar, lalu mengulurkan tangan membantu Suri turun dari kereta.
Angin Bayu datang menuntun Cantiqa, dan Suri naik ke kudanya dibantu pangeran Indra, mereka saling tatap, pangeran menggenggam erat tangan Suri seakan tak ingin melepaskannya pergi.
Pangeran mengecup lembut tangan Suri "Hati-hati" pangeran berbicara sangat pelan hampir tak terdengar. Suri menggangguk, dan langsung memecut kudanya.
"Hiyaaaa..." Cantiqa pun melesat meninggalkan sedikit debu di jalanan berbatu yang di tinggalkannya, pangeran masih terpaku menatap kepergian Suri hingga sosoknya tak terlihat lagi di kejauhan baru pangeran masuk ke kereta.
"Ayo pulang" pangeran memerintah, Angin Bayu merafal mantera, "pulang ke istana" terdengar samar2 suaranya diantara suara jangkrik dan binatang malam lain yang makin kencang membelah kesunyian malam di tengah hutan yang sangat menyeramkan itu.
Sesaat kemudian kabut tipis menyelimuti kereta, dan menghilang seiring menghilangnya kereta kuda pangeran Indra.
Hai reader terima kasih sudah membaca novelku, please like, dan comment nya karena ini karya pertama aku, pasti banyak kekurangan, bagi aku yang penting tulis dulu, ngalir aja apa adanya, pengennya novel ini travel time, tapi aku ngga mau juga stereotape putri meninggal trus raganya pindah ke putri lain yang tertindas trus balas dendam, pengennya bisa beda. Dukung aku ya biar bisa nulis cantik kayak author author beken disini.
__ADS_1
love you reader, n happy reading๐๐๐