
Pangeran Indra baru saja bangun, dan duduk bersandar di tepi ranjangnya. Pangeran memperhatikan keadaan di sekeliling kamar itu, kamar yang cukup besar, tepat di depan ranjang terdapat 1 buah lukisan indah, lukisan sebuah gazebo di kelilingi mawar putih, ada dua sejoli yang sedang duduk di ayunan di dalam gazebo itu. Pangeran tersenyum melihat lukisan itu. Pemandangam di lukisan itu mengingatkannya pada Paviliun milik Suri di kerajaannya Paviliun mawar putih.
Pangeran bangkit dari ranjang dan berjalan ke depan lukisan, 'Siapa yang melukis, mengapa bisa sama?' Pangeran membatin. 'Sungguh aneh' Pangeran menggeleng bingung karena tidak mungkin ada tempat lain yang sama persis dengan paviliun milik Suri. Pangeran berjalan mengitari kamarnya, ternyata selain ruangan tempat tidurnya ada 1 ruang lagi di kamar itu, pangeran berjalan pelan ke ruangan itu, meski tertatih akhirnya dia tiba disana.
Pangeran duduk di kursi sambil memperhatikan ruangan itu, ruangan yang cukup mewah dengan sepasang kursi dan meja jati beralas marmer yang sangat indah dengan hiasan awan di sandarannya, dan di bagian sisi dudukannya, sebuah lemari dan meja rias dengan kayu dan ukiran yang sama melengkapi kamar itu, Tirai jendela berwarna Peach membuat kamar ini terasa nyaman dan membuat betah penghuninya.
Saat pangeran asik menyapu isi kamar itu, terdengar suara berisik di depan pintu. Entah apa yang mereka bicarakan pangeran tidak dapat mendengar jelas, kecuali saat suara wanita yang berteriak "Ayah saja yang merawatnya, Mey tidak mau merawatnya lagi" Terdengar langkah kaki menjauh setelah itu. Tak lama berselang terdengar pintu di ketuk.
Pangeran pura pura akan duduk dari arah ranjangnya, karena tak ada waktu lagi untuk pura pura tidur jarak ranjang terlalu jauh dan pangeran belum bisa berjalan cepat. Pangeran tidak ingin ketahuan bahwa dirinya menguping karena sebagai tamu sungguh tidak sopan jika mencuri dengar. Lee Hong Xie masuk dengan membawa nampan berisi makanan, dan 1 buah kotak obat obatan.
Hong xie meletakkan nampan berisi makanan dan tas yang di bawanyadi atas meja lalu berjalan menutup jendela. Pangeran Indra menatap ke arah jendela ternyata hari sudah mulai gelap, seorang pelayan datang untuk menghidupkan lampu di kamar itu, dan pergi setelahnya. "Maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar pada anakmu, tadi itu murni kecelakaan" Pangeran Indra mencoba memecah kebisuan di antara mereka. "Hamba sudah tahu pangeran, hamba mohon maaf telah salah sangka" Hong Xie berlutut memohon maaf.
__ADS_1
"Jangan, jangan lakukan itu aku mohon bangunanlah" Pangeran meminta Hong Xie untuk bangun kembali, tapi Hong Xie tak bergeming. Merasa tak akan berhasil akhirnya pengeran menyerah, "Baiklah aku memaafkanmu, bangunlah". "Mari duduk, ada yang ingin aku tanyakan padamu" Pangeran berkata lagi. Kali ini berhasil Hong Xie bangun dan duduk di kursi di depan Pangeran Indra.
"Aku ingin mengatakan sebuah rahasia padamu, kuharap kau bisa di percaya", Pangeran berkata pelan, tiba tiba Hong Xie kembali berlutut "Hamba siap di hukum mati pangeran jika terbukti berkhianat". Pangeran melotot melihat Gong Xie berlutut lagi 'Aduhhh ini orang apa tidak lelah, terus saja berlutut' Pangeran pura pura memijit kepalanya. "Bangunlah" Pangeran memerintah.
"Sebenarnya aku tidak ingat siapa aku, dimana aku, dan mengapa aku bisa ada di tempatmu" Pangeran berkata lemah dan memasang wajah putus aja. "Kudengar kau memanggilku pangeran, kau pasti tahu siapa aku, bukankah begitu" pangeran Indra bertanya pada Hong Xie.
Lee Hong Xie menatap pangeran tak percaya "Tidak mungkin" Hong Xie menggeleng berulang kali, "pangeran lupa ingatan?, entah racun apa yang mereka berikan hingga pangeran jadi seperti ini, sungguh kejam" gumamnya.
"Kerajaan ini adalah kerajaan Qin, Kaisar kita bernama Kaisar Qin Huang Nan, dan Putra Mahkota bernama Qin Huang Di, dan andalah putra mahkota itu pangeran" Tabib Lee menghentikan penjelasannya dan melihat reaksi pangeran yang mulai memijit kepalanya yang pusing.
"Pangeran, sebaiknya pangeran istirahat dulu, pangeran harus makan dan minum obat agar segera pulih" Tabib Lee khawatir melihat keadaan pangeran. "Tidak aku masih kuat lanjutkan" pangeran memaksa. "Maafkan jika hamba lancang pangeran, tapi tolong jangan memaksakan diri tidak baik untuk kesehatan anda pangeran" Tabib Lee memohon dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada dan membungkuk menghadap pangeran.
__ADS_1
Pangeran terpaksa mengalah "Baiklah" jawabnya singkat. "Izinkan hamba menempatkan seorang pelayan untuk melayani pangeran" Tabib Lee memberi hormat sebelum pergi sama seperti yang di lakukannya tadi menyatukan kedua tangan di depan dada dan menundukkan kepalanya sedikit. "Maaf, jika tabib Lee mengizinkan bolehkah jika hamba hanya ingin dilayani Mey Mey saja?" Pangeran Indra bertanya hati hati tak ingin Tabib Lee tersinggung karena merasa di rendahkan. Benar saja meski samar wajah tabib Lee terlihat kurang senang. "Maaf maksudku bukan melayani, tapi aku ingin dia menemaniku, aku ingin banyak bertanya padanyanya, supaya mempercepat kesembuhanku, bukankah tabib Lee tadi mengatakan bahwa Mey Mey sedang belajar ilmu pengobatan?" Pangeran memperjelas maksudnya.
Tabib Lee tersenyum "Baiklah kalau itu yanh pangeran inginkan, tapi saya tetap akan menyiapkan 1 orang pelayan jika pangeran tidak keberatan" Tabib Lee berkata sambil tersenyum tipis. "Baiklah" Pangeranenjawab singkat. 'Gagal rencanaku ingin berdua saja dengan Suri" pangeran membatin sedih. 'Semoga besok ada cara untuk berdua saja dengannya' Pangeran tersenyum membayangkan kekasihnya itu yang sangat anggun dengan hanfunya, bukan baju lelaki yang selalu di kenakannya. Pangeran memejamkan mata dan bergumam "Sayang aku merindukanmu" Pangeran tersenyum, dan tiba tiba "Pangeran bicara apa?"
Mey Mey sudah duduk di hadapannya dengan seorang pelayan lelaki yang berdiri tepat di belakangnya. "Tidak ada" Pangeran menjawab singkat. Mey Mey cemberut mendengar jawaban pangeran Indra. "Bukan itu yang Mey dengar tadi, Pangeran bilang Sayang..." Mey mey berkata kesal. 'Lucu sekali kau dinda, kali ini jadi wanita manja dan menggemaskan' Pangeran membatin dan tersenyum.
"Owh.. itu.. Aku bilang sayang aku tak bisa mengingat semuanya" begitu" Pangeran menjawab asal. Mey Hwa mengangguk mendengar jawaban Pangeran Indra. "Ayah menyuruhmu makan dan minum obat apa sudah?" tanyanya sambil menatap nampan berisi makanan.
Tiba tiba pangeran memiliki ide agar bisa berdua saja dengan Mey Mey. "Makanannya sudah dingin" pangeran menatap makanannya tak berselera. "Iya sudah dingin" Mey menyentuh mangkuk buburnya. "Lian tolong bawa bubur ini ke dapur, ganti yang baru" Mey memberikan nampan bubur pada pelayannya.
'Pergilah, pergilah yang lama' pangeran tersenyum menyeringai.
__ADS_1
13223 view! tq semua, 😘