
Pangeran Indra dan Putri Dayang Suri baru saja tiba di paviliun Rajawali, saat dayang Melati mengetuk pintu, dan memohon izin masuk, Melati masuk bersama 2 orang dayang lainnya yang langsung menghatur sembah, "Ampun tuanku pangeran, kami datang untuk membantu pangeran dan putri bersiap, karena sebentar lagi pawai perkenalan pangeran dan puteri akan segera di mulai, pangeran dan putri sudah terlambat untuk bersiap" Melati berbicara sambil menunduk takzim, takut akan kemarahan pangeran junjungannya yang bisa meledak tiba tiba.
Namun di luar dugaan pangeran hanya menjawab acuh "Baiklah Melati segera laksanakan tugasmu, mana pakaian beta, beta akan bersiap seorang diri sahaja". Melati tersenyum lega, dan segera menyerahkan pakaian pangeran Indra. Pangeran meninggalkan kamar itu untuk bersiap di ruang lain, pangeran selesai bersiap nampak gagah dengan baju kurung berwarna kuning, tanjak yang menjulang, lengkap dengan sebilah keris yang tersampir di pinggangnya, begitu sempurna, pangeran bergegas kembali ke kamar utama dan berkata, "Beta menunggu......." ucapan pangeran Indra terhenti saat melihat pujaan hatinya yang sudah dirias, terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya berwarna kuning muda, sunting emas yang berkilauan,dan bunga melati yang terjuntai indah dari sanggulnya, wajah Suri terlihat seperti bercahaya, "Ya kanda, ada apa?" suara lembut Suri memecah lamunan pangeran Indra yang begitu terpesona pada kecantikan istrinya itu. "Ti..tidak ada, jawabnya terbata" namun sesaat kemudian suara angkuh dan berwibawa pangeran kembali terdengar, kalian semua keluarlah lebih dulu ada hal penting yang harus kubicarakan pada istriku" para dayang segera memberi hormat seraya berundur keluar meninggalkan pangeran Indra dan putri Dayang Suri.
Pangeran mendekat, dan mengecup lembut kening Suri, reflek Suri memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut suami tercinta, Pangeran Indra tersenyum dan mengecup kedua mata itu bergantian, dan mengecup pelan hidung bangir Suri, "Dinda cantik sekali" bisik pangeran di telinga Suri, saat pangeran Indra ingin mengecup bibir Suri, suara deheman dari pintu menggagalkannya.
__ADS_1
"Jadi hal penting apakah yang sedang di bicarakan kanda, hingga seluruh kerajaan harus menunggu?" Pangeran Arya berdiri di pintu dengan tangan kiri bersedekap di dada, dan tangan kanan mengusap dagu pura pura berfikir, namun tak lama wajahnya yang serius berubah menjadi tawa mengejek.
"Sialan kau dinda, mengganggu saja" Pangeran Indra menatap adiknya kesal. "Sudahlah kanda, mari kita pergi, semua pasti sudah tidak sabar menunggu kita, memang kanda yang salah mengaku saja" Suri menggandeng tangan suaminya yang masih menatap kesal pada pangeran Arya, mereka segera keluar beriringan menuju arak arakan di halaman istana Buana Gemilang. Pangeran Arya Buana ingin menjawab lagi, namun tiba tiba suara nya tercekat di tenggorokan karena bisikan di telinganya "Diamlah dinda, atau kubuat kau tidak bisa diam selama 1 purnama!" ternyata pangeran Indra mengancam melalui telepati yang membuat pangeran Arya hanya bisa tersenyum masam, berbeda dengan pangeran Indra yang tersenyum sombong penuh kemenangan. Pangeran Arya tahu kakandanya tidak pernah main main dengan ancamannya itu, membayangkan tidak bisa diam selama 1 purnama, tiba tiba saja pangeran Arya memegangi rahangnya yang terasa kaku, "Sialan, membayangkannya saja rahangku terasa kaku apalagi jika itu benar terjadi, dasar kau kanda, benar benar kejam, awas saja nanti jika ilmuku sudah setanding denganmu akan kubuat kau menyesal" pangeran Arya bersungut kesal. "Aku tunggu saat itu dinda" suara bisikan Pangeran Indra kembali terdengar, membuat pangeran Arya hanya bisa mengurut dada menahan kesal, dia lupa bicara dalam hati pun kandanya pasti akan mendengar.
Kereta Kencana Kerajaan Buana Gemilang terlihat begitu indah memimpin jalannya pawai, kereta emas dengan 4 ekor kuda hitam yang terlihat sangat gagah, di depannya panglima Hang Tuah terlihat sangat gagah dengan pakaian kebesaran lengkap panglimanya memimpin pasukan pawai ini, dia di apit dua orang prajurit pembawa bendera kerajaan dan 6 orang prajurit pilihan yang sudah terkenal kemampuan beladirinya.
__ADS_1
Di belakang kereta Yang Mulia Raja berjejer kereta pangeran Arya, 4 orang prajurit pilihan bersiaga mengamankannya. Putri Berliana sudah duduk di sana, wajahnya terlihat kesal karena sudah terlalu lama menunggu, pangeran Arya bergegas naik dan duduk disamping adiknya, di ikuti pangeran Indra di kereta paling belakang, kereta paling cantik dengan hiasan bunga bunga mawar putih dan ditarik 4 ekor kuda putih yang sangat anggun, Angin Bayu beserta 7 orang anak buahnya mengawal di belakang kereta pengantin. Pangeran membantu Suri yang kesulitan untuk naik karena kebaya nya yang sempit, setelah beberapa saat tidak berhasil akhirnya pangeran Indra mengendong Suri untuk naik, seketika seluruh rakyat yang menyaksikan kemesraan mereka langsung bertepuk tangan, terdengar gemuruh dan beberapa bersiul panjang melihat kemesraan itu, semua tertawa bahagia melihat calon penerus tahta kerajaan Buana Gemilang yang mengendong istri tercintanya.
Arak arakan berjalan pelan, sepanjang jalan dipenuhi rakyat yang ingin melihat putri mahkota mereka untuk pertama kalinya, para gadis membawa keranjang penuh kelopak bunga mawar putih, dan menaburkannya saat pengantin baru itu lewat di depan mereka, suasana penuh suka cita, rakyat ikut bergembira dengan pernikahan putra mahkota kerajaan ini.
Arak arakan berlangsung meriah, hingga tak terasa matahari sudah condong ke barat, acara selesai semua kembali ke rumah dengan bahagia.
__ADS_1