Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
47. Pangeran dalam mimpi


__ADS_3

Malam semakin larut, Arak arakan gunungan telah lama selesai, tapi keramaian di pasar sepertinya tidak berkurang, semakin malam malah semakin ramai sepertinya tak ada yang ingin tidur malam ini, jikapun ada tak akan bisa tidur nyenyak karena malam yang terlalu bising. semua pedagang seperti berlomba meneriakkan dagangannya memanggil pengunjung pasar yang lewat untuk membeli dagangan mereka.


Suri sudah kembali ke kamarnya, mengeluarkan dua pasang baju pria berwarna hitam, melemparkan sepasang pada Siti. "Apa ini putri?" "Cepat ganti kita harus segera pergi, aku sudah tak sabar ingin makan gulali, pagede angek, sala lauak yang masih panas, mmmmm..." Suri menelan liurnya membayangkan makan jajanan pasar kesukaannya, sambil bicara Suri sudah selesai berganti pakaian melupakan Siti yang ternganga melihat apa yang di pakai putri junjungannya.


"Putri, mengapa memakai pakaian pria?" "Apa perlu aku menjawabnya Siti? kita harus menyamar, apa kau ingin kita di hukum karena kabur dari istana? cepat ganti!" meski kebingungan Siti melangkah ke ruang sebelah mengganti pakaian dengan wajah cemas.


"Pakai ini juga" Suri menyerahkan caping dan selendang hitam untuk menutup wajah mereka, sesaat kemudian mereka sudah tiba di luar pagar istana. Mereka berlari kencang ke arah pasar, segera berbaur dengan ramainya pengunjung, Sementara itu tanpa disadari keduanya sesosok bayangan mengikuti mereka sejak keluar dari pagar istana. Berpakaian serba hitam, tersenyum melihat Suri dan Siti yang sudah hilang di keramaian pasar malam, 'Masih tak berubah, masih sama' pangeran membatin dan berlari seperti bayangan mengejar Suri dan Siti.


Tak perlu waktu lama, dua sosok yang dicari ditemukan sedang asik makan gulali, berpindah dari satu penjual jajanan ke jajanan lainnya, Siti sudah kerepotan membawa begitu banyak belanjaan, tapi putri junjujangan belum menunjukkan tanda tanda akan berhenti, mereka mampir di penjual perhiasan, tusuk konde kayu yang berukir indah menarik perhatian Suri, "Ayo di beli nona, ini sangat bagus dari kayu gaharu, selain untuk hiasan juga bisa untuk pagar diri, murah saja nona hanya 5 keping perak". Pedagang itu menjelaskan dagangannya dengan bersemangat.


Suri membuka dompetnya, sayang sekali hanya tinggal 4 keping perak, menatap kecewa pada tusuk konde kayunya, "Maaf uangku tidak cukup, bisakah ini di simpan dulu, besok aku pasti kembali untuk membelinya" Setelah menimbang nimbang Pedagang itu setuju, "Baiklah nona aku percaya padamu". Suri berlalu dengan kecewa "Ayo kita pulang" Siti hanya diam mengikuti langkah junjungannya yang sudah tak seriang tadi.


"Berikan padaku" tiba tiba sesosok pria berpakaian hitam muncul di hadapan pedagang itu begitu tiba tiba hingga mengejutkan sang pedagang yang terdorong kebelakang hampir menimpa dagangannya kalau saja tidak segera berpegangan di sisi rak dagangannya.


"Tuan, a...a. ..pa maksudmu?" "Berikan tusuk konde itu padaku" "tapi tuan ini tidak jual, aku sudah berjanji akan menjualnya besok pada seseorang" pedagang itu menatap ngeri pada sosok dihadapannya, sosok itu mendekat terlihat matanya yang tajam mulai berubah merah, "Apa kau ingin mati" suaranya yang lirih tak mengurangi ketakutan pedagang itu,akhirnya pasrah menyerahkan tusuk konde gaharunya, Sosok berbaju hitam pergi setelah melemparkan sekantong perak.


Suri dan Siti tiba di pagar istana, saat mereka sedang berusaha memanjat pagar pembatas istana untuk kembali ke kamar, tiba tiba saja keduanya terbujur kaku, seseorang telah menotok mereka cepat sekali hingga mereka berdua tak menyadari kedatangannya.

__ADS_1


Sosok itu menggendong Suri gerakannya yang halus seperti terbang, dengan mudah mereka sudah tiba di kamar Suri, merebahkan Suri di ranjangnya dan tersenyum menatap Suri. Membelai rambutnya, mencium puncak kepalanya, perlahan turun, mengecup ke dua mata, menyentuh hidung Suri, mengecupnya perlahan, senyumnya licik menyeringai melihat Suri yang menatap tajam pada dirinya, ingin marah tapi tubuhnya kaku tak bergerak.


"Kanda merindukanmu" suara lirihnya hampir tak terdengar, pria itu kembali mendekat, "pejamkan matamu" perintahnya, Suri ingin melawan tapi tubuh kakunya tak mampu melawan, akhirnya hanya patuh saat tangan itu menutup matanya, nafas hangat menyentuh pipinya, suaranya yang serak, sentuhan yang seakan pernah dirasa, 'siapa dia?rasanya aku pernah melihatnya,tapi dimana?' Suri tenggelam dalam kebingungan, hatinya menjerit tapi tak bisa menolak, ada rasa marah, ada pula rasa yang tak difahami, hingga sosok itu menghilang Suri masih membeku.


Cahaya matahari membelai kulit Suri, mengerjapkan matanya, menatap malas ke langit langit, berfikir apa yang terjadi, dan tiba tiba Suri duduk, kembali teringat hal yang terjadi kemarin, melihat tusuk konde yang tadi malam ingin dibelinya kini sudah ada dalam tangannya. 'Ini bukan mimpi, ini nyata, dia pangeran dalam mimpiku?' Suri bergegas bangun ingin mencari Siti, beeharap Siti bisa menjelaskan apa yang terjadi, belum sempat keluar dari kamarnya Siti sudah muncul di pintu.


"Putri sudah bangun? apa ingin langsung mandi, air hangat sudah siap" Suri menatap aneh pada Siti, 'Mengapa Siti bertingkah biasa, seperti tidak terjadi sesuatu' Suri membatin bingung, meraba raba apa yang terjadi tapi tak menemukan apa apa di wajah polos itu. Suri yang menatap aneh membuat Siti bingung "Ada apa putri apakah hamba berbuat salah" Siti menunduk resah memilin milin ujung selendangnya memikirkan kesalahan apa yang telah dilakukannya hingga Putri junjungannya menatap begitu rupa.


"Tidak apa apa Siti", 'Apa yang terjadi pada Siti sepertinya dia lupa ingatan, aku yakin tadi malam aku tidak bermimpi, tapi Siti? seolah olah tidak terjadi apa apa tadi malam' bermacam pertanyaan muncul di benak Suri. Suri berjalan ke depan cermin, Siti membantunya berganti pakaian untuk mandi, Suri memejamkan mata berendam di air hangat begitu nyaman, kelopak mawar yang bertaburan di kolam mandi membawa aroma harum yang menenangkan sedikit mengalihkan fikirannya yang bingung, Suri mandi dalam diam, Siti memijat lembut punggung Suri dengan minyak zaitun tak seperti biasanya mereka berdua hanya diam tenggelam dalam fikiran masing masing.


Suri hanya diam membiarkan Siti melayaninya, hingga selesai berpakaian Suri tetap saja diam. "Putri, hari ini adu ketangkasan untuk para pangeran" Siti menjelaskan "Apa boleh aku tidak kesana Siti?" "Yang mulia pasti tak akan mengizinkan Putri, apakah putri sakit? jika iya hamba rasa yang mulia mungkin tidak akan keberatan" "Tidak, aku tidak sakit hanya tidak ingin saja, sudahlah, bawakan aku sarapan aku ingin sarapan di kamar saja" "Baiklah putri.


Sepeninggal Siti, Suri hanya duduk di balkon kamarnya memandang jauh ke taman, hingga matanya menangkap seseorang yang menatap tajam dari kejauhan 'Astaga! dia itu.. bukankah dia?' Suri terduduk menutup mulut karena terkejut, menenangkan hati yang bergejolak, pangeran yang kemarin menggendongnya menatap tajam dari kejauhan. Saat sudah tenang Suri kembali berdiri, tapi sosok itu sudah tak ada lagi di tempatnya, Suri menatap kesana kemari tapi yang dicari tetap tak terlihat, hingga muncul suara "Jangan mencariku dinda, biar kanda yang datang padamu" suara itu begitu nyata, hembusan nafasnya begitu terasa di teliga Suri, tapi tak ada siapa siapa disana.


Tiba tiba satu tangan menyentuh Suri "Aaaaaaa!" Suri berteriak, "Dinda, ada apa? mengapa begitu terkejut?" Kehadiran Putra mahkota tak disadari oleh Suri. Putra mahkota begitu khawatir melihat Suri yang begitu terkejut dengan kehadirannya. "Tidak apa apa kanda, dinda hanya terkejut kanda datang begitu tiba tiba" Suri tersenyum tak ingin kakaknya tahu apa yang baru saja terjadi.


"Apa dinda sudah siap, kanda ingin menjemput dinda ke gelanggang, ingin berkuda bersama?" Putra mahkota menjelaskan maksud kedatangannya. "Begitukah? Suri diam sesaat "Sebenarnya dinda tidak ingin kesana, tadi malam begitu melelahkan, dinda ingin istirahat saja" Suri memijit pelipisnya pura pura sakit kepala. "Baiklah kalau begitu istirahat saja, kanda pergi dulu" Putra mahkota pergi dengan kecewa. Biasanya Jingga sangat senang berkuda dengannya, paling bersemangat melihat para pangeran bertanding, Putra Mahkota sangat menyayangi adik perempuan satu satunya itu, meski adiknya selalu bersikap manja dan keras kepala. Tapi setelah bangkit dari kematian Jingga berubah putra mahkota seakan tak mengenal adiknya itu semua begitu berbeda.

__ADS_1


Siti datang membawa sarapan, dan Suri makan dengan tak berselera. "Siti... katakan pada ayahanda aku tak ingin pergi tiba tiba aku tak enak badan. "Baiklah putri, apa perlu hamba panggil tabib? "Tidak usah aku hanya butuh istirahat" .


Suri beranjak ke pembaringan, berusaha tidur berharap bisa melupakan hal hal membingungkan yang terjadi sejak tadi malam, karena kurang tidur tadi malam, dengan cepat Suri pun hilang kesadaran di buai mimpi di siang bolong.


Dalam mimpinya Suri duduk di gazebo semuanya berwarna putih, di kelilingi taman mawar yang juga berwarna putih, tak lama seorang pangeran muncul, berpakaian serba putih tersenyum pada Suri, memeluknya dari belakang, dan berbisik, "Sayang aku merindukanmu, sangat merindukanmu..., pangeran itu mengeratkan pelukannya, menempelkan dagunya dibahu Suri. Tak lama Pangeran itu mengendong Suri, membawa Suri ke ayunan di depan gazebo, merekapun berpelukan dengan Suri yang masih dalam pangkuan.


Mereka hanya diam, saling memandang dan saling bertukar senyum, pangeran mengecup puncak kepala Suri, mengecup kedua matanya, menggesekkan hidungnya yang mancung kehidung Suri sebelum mengecup lembut hidung itu, saat pangeran menyentuh bibirnya, Suripun terbangun, ibundanya sudah ada di tepi pembaringan membelai lembut putri kesayangannya.


"Ibunda"Suri bangun dan memeluknya, ada rasa hangat yang menjalar indah saat berada dipelukan wanita itu, sangat nyaman, Suri tak pernah merasakannya, tak ingin melepaskan pelukannya saat Ibunda permaisuri mendorongnya perlahan, "Jangan ibunda, biarkan ananda memeluk ibunda sebentar lagi" "Hm..." permaisuri mencubit pelan hidung putri kesayangan, "Ibunda dengar ananda sakit, mengapa tidak memanggil tabib?" sedikit wajah cemas terpancar di wajahnya. "Ananda hanya lelah ibunda, hanya butuh istirahat, tidak perlu tabib.


Suri tersenyum menyembunyikan kegalauan hatinya. Baiklah ibunda pergi dulu, acara di gelanggang akan segera selesai ibunda harus mendampingi ayahandamu, jika ananada tidak apa apa alangkah baiknya ananda juga hadir disana" Permaisuri menatap Anandanya penuh harap.


"Baiklah, ibunda pergilah dahulu, ananda akan menyusul kemudian, Suri membungkuk hormat melangkah bersama menuju pintu keluar.


Suri segera bersiap, mengganti pakaiannya dengan pakaian latihan yang baru dibelinya kemarin di pasar, sepasang baju merah dengan ikat kepala yang juga berwarna merah, rambutnya yang hitam panjang di ikat tinggi ke atas Suri lebih mirip pendekar dari pada putri raja yang anggun.


Sampai detik ini masih belom berani tekan tombol kontrak,๐Ÿ˜ Tq 901 view๐Ÿ˜ meski aku ngga tau kalian baca atau cuma lewat sudah cukup buat aku senang, btw tq so much more n i love you more more more๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2