
Eheeemmm...
Edward merasa tidak suka saat melihat Lily berada dalam dekapan Leon. Ada rasa tidak rela.
"Maaf Pak Leon, saya tidak senggaja. Saya tidak tahu kalau Pak Leon mau masuk" Lily membungkukkan badannya.
Ada Rasa berbeda yang dirasakan Lily. Saat Leon tak senggaja memeluknya. Lily merasa hangat.
"Tidak apa-apa Lily. Saya juga salah, karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu" ucap Leon.
Edward hanya diam. Dia mengamati Leon dan Lily berbicara sampai Lily keluar ruangannya.
"Kenapa Tuan Edward tiba-tiba ingin ke Rumah Sakit? apa tangan Tuan Edward ada masalah?" Leon merasa khawatir.
"Ikut saja jangan banyak tanya, Leon" Edward masih kesel karena Leon memeluk Lily. Meskipun tidak sengaja tapi cukup membuat Edward badmood.
"Baik Tuan Edward" ucap Leon. 'Ada apa dengan si bos kenapa jadi bete. Apa salahku?' batin Leon.
"Ayo pergi. Apa kamu mau diam disana terus?" Edward membuka pintu.
"I- iya Tuan" jawab Leon. Leon lalu mengekori Edward di belakang.
'Sepertinya si bos lagi kesel. Tapi kenapa, apa aku melewatkan sesuatu?' Leon membatin sepanjang jalan.
Buugghhh
"Maaf Tuan" Leon membungkukkan badannya.
"Kamu kenapa Leon!! daritadi tidak fokus. Apa kamu melamun tentang Lily? setelah kejadian tadi pikiranmu kemana-mana" Edward bicara dengan nada sedikit tinggi.
"Ma ma-af Tuan. Saya tidak memikirkan Lily, saya han...
"Han apa?" Edward memotong ucapan Leon.
"Saya tidak tahu. Kenapa Tuan marah-marah sama saya? saya melakukan kesalahan apa tuan?" ucap Leon.
"Tidak usah berisik. Ayo cepat Leon, dr. Luis sudah menungguku" Edward langsung masuk mobil.
"Iya Tuan Muda" jawab Leon. Disaat Edward dalam suasana hati yang buruk. Leon tidak berani bercanda. Dia berbicara formal kepada Edward.
Sepanjang jalan, didalam mobil mereka hanya diam. Sedangkan Leon tidak berani berbicara ataupun bertanya kepada Edward.
__ADS_1
Edward juga tidak mengetahui kenapa dirinya bisa uring-uringan seperti itu. Dia merasa ada yang tidak beres dalam dirinya.
'Lily hanya gadis kecil. Tidak mungkin kalau aku suka dengan Lily' batin Edward.
sekirar 20 menit Edward dan Leon sudah sampai Rumah sakit.
"Silahkan turun Tuan Muda" Leon membukakan pintu untuk Edward.
"Kamu tidak usah terlalu formal begitu Leon. Bicaralah seperti biasa" ucap Edward.
Edward berjalan menuju ruangan dr. Luis. Sedangkan Leon mengekori Edward di belakang.
Tok ... tok ... tookk
"Masuk" ucap laki-laki setengah baya dari dalam ruangan.
Edward dan Leon masuk ruangan dr. Luis. dr. Luis adalah dokter kepercayaan keluarga Edward.
"Edward, silahkan duduk. Ada apa? apa tanganmu terasa sakit?" tanya dr.Luis.
"Saya kesini sebenarnya mau memastikan, apakah tangan saya patah atau terkilir dok?" tanya Edward.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu Edward. Tangan kamu patah bukan terkilir" ucap dr. Luis.
"Apa ini ada hubungannya dengan grandpa dokter?" Edward ingin tahu kebenarannya yang dirahasiakan dr.Luis.
dr. Luis kaget dengan analisis Edward. Kenapa tiba-tiba Edward menuduhnya berbohong.
"Apa ada hubungannya dengan balapan motor saya dokter?" Edwar mencecar dr.Luis.
dr. Luis terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Semua yang diucapkan Edward itu benar. Leon yang tidak tahu apa-apa hanya diam. Dia menyimak kemana arah pembicaraan antara Edward dan dr. Luis.
"Jawab dr. Luis jangan diam saja. Saya menunggu jawaban yang jujur dari mulutmu dr. Luis" Edward sudah mulai kesal.
"Maafkan saya Edward. Kamu sudah tahu kalau seluruh kehidupanmu, diawasi oleh kakekmu. Termasuk kecelaan kecil yang kamu alami sekarang" ucap dr. Luis.
"Sewaktu kamu menelpon saya. setelah itu Kakek kamu juga menelpon saya. Kakek kamu ingin kamu tidak ikut balapan motor lagi. Dia meminta bantuan kepada saya, kalau saya harus mengagalkan rencana balap motor kamu minggu depan. Patah tulang adalah cara yang pas untuk kamu tidak ikut balapan motor. Dengan begitu kamu jadi tetap berada di rumah" dr. Luis menceritakan alasan dia berbohong kepada Edward.
Edward memahami ke khawatiran grandpanya. lima tahun yang lalu karena balap motor, Edward hampir meregang nyawa. Sang kakek tak henti-hentinya berdoa kepada sang pemilik langit, semoga cucunya bisa selamat.
Edward adalah selain pewaris tunggal, dia adalah keluarga kandung satu-satunya yang dimiliki oleh sang kakek.
__ADS_1
"Apa sekarang tanganku baik-baik saja dokter?" tanya Edward.
"saya periksa dulu Edward" ucap dr. Luis.
dr. Luis melepas gips yang terpasang di lengan Edward. Lalu di periksa, sudah bisa dilepas atau belum gips yang biasa dia pakai.
"Kakekmu sangat menyanyangimu Edward. Dia tidak ingin kejadian masalalu terulang kembali. Dia tidak ingin kamu mengikuti balapan motor lagi. Dia ingin kamu fokus pada perusahaan saja" ucap dr. Luis setelah memeriksa keadaan tangan Edward yang sudah membaik.
"Saya tahu dr. Luis. Saya melalukan balapan saat saya butuh hiburan saja" ucap Edward.
"Tanganmu sudah baik-baik saja tapi masih harus menggunakan gips selama 1 minggu, supaya tanganmu yang terkilir tetap aman. Masih belum boleh melakukan kegiatan yang berat-berat untuk 1 minggu ke depan" ucap dr. Luis kepada Edward.
"Leon, kamu awasi Tuan Mudamu supaya tidak melakukan kegiatan yang berat-berat" dr.Luis memperingatkan Leon untuk menjaga Edward.
"Tenang saja dr. Luis, Tuan Edward sudah memeliliki asisten pribadi selama dia sakit. Dijamin dia cepat sembuh" Leon terkekeh.
"Tutup mulutmu anak setan" Edward melotot ke arah Leon.
Leon yang melihat Tuan Mudanya kembali memaki-maki dirinya merasa senang. Setidaknya Edward tidak kesal lagi kepada dirinya.
"Oh ... siapa dirinya Leon?" tanya dr. Luis.
"Bukan siapa-siapa dr. Luis. Hanya perawat biasa" Ucap Edward, sebelum Leon berbicara macam-macam kepada dr.Luis.
Leon yang melihat Tuan Mudanya salah tingkah malah tertawa. Tingkahnya seperti anak muda yang ke gap sedang menjalin hubungan dengan lawan jenis.
"O ... sepertinya dia cukup istimewa Edward. Mukanya jadi merah hahahaaa" dr.Luis menggoda Edward.
"Tidak ada yang seperti itu dr. Luis. Dia hanya karyawan biasa yang kerja di perusahaan" ucap Edward menutupi kegugupannya.
"Apa benar seperti itu Leon?" dr. Luis gantian penasaran dengan sosok yang di maksud Leon.
"Sepertinya a...." Ucapan Leon terputus.
"Ayo kita makan siang bareng dr. Luis. Dekat sini ada restoran enak" Edward mengalihkan pembicaraan.
"Ya ... ya, Ayo kita lanjutkan ngobrol sambil makan siang" ucap dr. Luis.
Akhirnya mereka bertiga pergi makan siang bersama di restoran dekat Rumah Sakit.
To be Continue...
__ADS_1
...----------------...