
Lily pulang sebelum jam 6 sore. Dia ingin berada di rumah sebelum Edward pulang dari kantor. Lily memasak makan malam special untuk Edward.
"Masak sudah selesai. Sekarang aku akan mandi" Lily meletakkan masakannya diatas meja.
Lily pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih. Dia ingin saat Edward pulang. Dia sudah bersih dan wangi.
Setelah Lily mandi, dia keluar kamar dan menunggu Edward di sofa santai. Sambil menunggu Lily mengerjakan tugas kuliah mata kuliah lain.
Lily termasuk anak yang cerdas. Dia selalu mendapat juara di kelasnya. Hal itu yang membuat Kloe membenci Lily karena Lily mendapat perhatian dari guru-guru di sekolah.
"Ini sudah jam 8, kenapa Tuan belum pulang juga" Lily melihat jam dinding di tembok.
"Coba aku telpon saja Tuan. Siapa tahu ponselnya sudah aktif" Lily menekan nomer Edward.
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif" suara operator seluler.
"Kenapa masih tidak aktif. Aku tunggu disini saja, sambil belajar" gumam Lily.
Lily belajar dan mengerjakan tugas sampai tertidur kepalanya di atas meja. Pukul 11 malam Edward baru pulang.
Dia melihat Lily tertidur. Dia mengabaikan Lily. Edward langsung masuk kamar. Dia mandi lalu rebahan di ranjang.
Edward tidak tenang. Dia lalu bangun dari ranjang dan keluar kamar. Dia mengendong Lily ke dalam kamar Lily. Edward menyelimuti Lily lalu keluar kamar.
Edward lalu merapikan buku-buku Lily dan meletakkan ponsel Lily di atas buku. Dia juga membereskan makanan dimeja dan diletakkan di tempat makan.
Edward lalu kembali ke dalam kamarnya. Saat ini Edward tidak mau bertemu dengan Lily. Dia ingin tenang saat berbicara dengan Lily nanti.
Pagi-Pagi Edward sudah keluar apartemen sebelum Lily bangun. Dia pergi kekantor. Seperti biasa, Edward menyuruh Leon menjemput Lily dan mengantarnya ke kampus.
Lily bangun dari tidurnya. Dia merasa heran, kenapa dia ada di kamar. Seingat Lily, dia belajar di ruang santai.
"Kenapa aku bisa berada dikamar. Tadi malam aku belajar di ruang santai" Lily duduk di ranjang sambil mengingat-ingat kejadian semalam.
Lily lalu beranjak dari ranjang. Dia segera keluar kamar. Dia ingin tahu apa Edward pulang atau tidak.
Dia melihat kearah ruang santai. Buku-bukunya sudah rapi. Ponselnya juga ada dia atas buku, dia ke arah dapur. Makanan yang dia masak tidak ada di meja.
"Semalam Tuan pasti pulang waktu aku ketiduran. Yang memindahkan aku ke dalam kamar juga pasti Tuan. Makanannya tidak ada, pasti sudah dimakan Tuan" gumam Lily.
Lily lalu membuka tempat untuk menyimpan makanan. Dia terkejut saat melihat makanan yang dia masak tidak tersentuh sedikitpun. Makanan itu utuh, hanya pindah tempat saja.
"Apa Tuan semarah itu denganku. Sampai tidak mau makan makanan yang aku masak" gumam Lily.
__ADS_1
Mata Lily berkaca-kaca. Dia tidak mengerti kenapa Edward bisa semarah itu hanya karena kerja kelompok. Lily tidak tahu kalau yang membuat marah Edward adalah dia memuji cowok lain.
Lily masuk kekamar Edward. Ternyata tidak dikunci. Kamarnya sudah rapi, tidak seperti kemarin berantakan seperti kapal pecah.
"Tuan, apa tuan di dalam" Lily memanggil Edward tapi tidak ada sahutan dari Edward.
Lily menunggu di ranjang Edward. Sekitar 30 menit Lily duduk di ranjang Edward, Edward tidak muncul-muncul dari kamar mandi.
Lily lalu mencari Edward di kamar mandi. Tapi dia tidak menemukan Edward. Lily menangis, karena tidak menemukan orang yang dia cari.
"Tuan. Apa kamu membenciku, sampai kamu tidak mau melihatku hiks hikss" Lily menangis.
"Aku harus menemui Tuan di kantor. Aku harus bicara dengan Tuan Edward. Aku tidak mau Tuan Edward membenciku" Lily keluar kamar Edward.
Saat Lily mau masuk kamar. Ponselnya berdering. Dia mengambil ponselnya, ternyata Leon yang menelpon.
Lily mengangkat telpon dari Leon. Sebelumnya dia menghapus air mata yang keluar dari mata indahnya.
[Hallo Pak Leon]
[Hallo. Suara berbeda Lily. Apa kamu habis menangis?]
[Tidak Pak. Saya habis bangun tidur]
[O ...Bersiap-siaplah Lily. Aku sudah menunggumu dibawah]
Leon menutup telpon. Lily lalu pergi mandi dan bersiap-siap berangkat kuliah. Lily mandi dengan menangis. Dia sedih, karena 2 hari Edward tidak mau bertemu dengannya.
Setelah selesai mandi. Lily lalu turun menemui Leon yang akan mengantarnya pergi ke kampus.
"Pagi Pak Leon" sapa Lily.
"Pagi Lily. Kamu habis nangis Lily? matamu sembab" tebak Leon.
"Tidak Pak Leon. Mataku memang sensitif, kalau sedang gatal pasti bengkak" Lily mencari alasan.
"O ... begitu. Sudah siap berangkat ke kampus?" tanya Leon.
"Pak Leon. Boleh saya ikut ke kantor?" tanya Lily.
"Kenapa ke kantor? bukanya kamu ada kuliah pagi?" tanya Leon
"Kuliah saya diundur nanti pukul 10 Pak Leon. Saya ingin bertemu dengan Tuan Edward" ucap Lily.
__ADS_1
Akhirnya Leon menemukan jawaban. Kenapa Tuan mudanya dari kemarin lebih banyak diam. Dia juga menyuruh dirinya menjemput Lily sedangkan dia naik mobil sendiri.
'Tuan muda dan Lily pasti sedang berantem. Mereka ini lucu sekali. Sama-sama cinta tapi tidak ada yang mau mengakuinya' batin Leon.
"Baiklah aku akan mengajakmu ke kantor. Kamu bisa bertemu dengan Tuan Muda" ucap Leon.
"Terima kasih Pak Leon" ucap Leon.
"Kamu tidak perlu berterima kasih Lily. Bagaimana penawaranku Lily. Apa kamu sudah memikirkannya?" tanya Leon.
Lily menatap kedepan dengan putus asa. 'Dia Tuan Muda. Sedangkan aku hanya rakyat biasa' batin Lily.
"Ingat Lily. Cuma 3 hari waktu yang aku berikan kepadamu. Kalau kamu benar-benar mencintai Tuan Edward. Aku pastikan, kamu dan Tuan Edward akan bersama selamanya. Tapi kalau kamu tidak ingin bersama dengan Tuan Edward. Aku juga yanga akan menjauhkan Tuan Edward dari hidupmu. Dan aku pastikan kalian tidak akan pernah bertemu lagi sampai kalian mati" Leon bersungguh-sungguh memberikan pilihan untuk Lily.
Leon akan melindungi Tuan mudanya supaya tidak terluka lagi. Leon tidak ingin melihat Tuan mudanya mencintai perempuan yang salah lagi.
Jantung Lily terasa berhenti, saat Leon bicara akan menjauhkan Edward dari dirinya. Sekarang saja terasa tersiksa apalagi seumur hidup Lily harus berpisah.
Lily menelan salivanya. Dia binggung kalau dia menjawab mencintai Edward. Takut Edward tidak mencintainya. Kalau dia bilang tidak mencintai Edward, dia akan berpisah dengan Edward.
"Sudah sampai Lily. Kamu bisa bertemu dengan Tuan Edward. Tapi sepertinya, Tuan Edward tidak ada dikantor" ucap Leon.
"Apa iya Pak Leon?" tanya Lily.
"Iya Lilly. Mobilnya tidak ada di kantor" jawab Leon.
"Tuan pergi kemana?" gumam Lily sambil menunduk.
"Kamu khawatir dengan Tuan Lily?" tanya Leon.
"Saya ingin menjelaskan sesuatu kepada Tuan Edward, Pak Leon" jawab Lily.
"Kalian sedang marahan" tebak Leon.
"Tuan marah karena aku belajar kolompok bersama teman-temanku" jawab Lily.
Tiba-tiba mobil Edward datang. Lily merasa senang karena dia bisa berbicara dengan Edward setelah ini.
Perasaan bahagia yang selihat dari wajah Lily berubah mendung saat dia melihat Edward membukakan pintu dan keluarlah perempuan cantik seumuran dengan Edward.
Mereka tampak akrab dan tertawa bahagia. Edward bahkan merangkul pundak perempuan itu sedangkan perempuan itu melingkarkan tanganya di pinggang belakang Edward.
Mereka berdua masuk ke dalam kantor. Melihat Edward bahagia dan tertawa dengan perempuan lain. Hati Lily sakit bagai teriris sembilu.
__ADS_1
Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dalam percintaan, saat kita melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain.
To be continue ....