Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 45. Deep Talk


__ADS_3

Setelah makan malam, Edward duduk diruang santai. Dia menonton Netflix, sedangkan Lily mencuci piring di dapur.


Mereka berdua berasa suami istri yang berbagi tugas. Setelah Lily selesai cuci piring, Lily izin untuk kekamar. Tapi Edward memanggilnya, untuk menemani dia nonton movie.


"Sini Lily" Edward memanggil Lily.


"Iya Tuan. Tuan membutuhkan bantuan saya?" tanya Lily.


"Duduk sini" Edward menepuk sofa kosong sebelahnya.


Lily mendekati Edward dan duduk disamping Edward. Baru saja bamper Lily menempel di sofa, sudah ditarik Edward menempel pada tubuhnya.


Lily yang tidak siap langsung memeluk Edward. Edward hanya senyum-senyum saat Lily memeluknya. Edward ingin membuat Lily bergantung sepenuh kepada dirinya.


"Sudah diam, duduk disini saja Lily" Edward merangkul pinggang Lily yang duduk di samping dirinya.


"Kita akan nonton Film horor" Edward memutar film horor.


"Tuan aku takut. Jangan nonton Film horor" ucap Lily


"Kalau kamu takut kamu bisa memelukku" Edward sedang modus.


"aahh Tuan itu menyeramkan, aku nanti tidak bisa tidur"


"Nanti tidur saja dikamarku"


"Aaaaaa Tuan" Lily sembunyikan wajahnya di dada Edward saat hantu perempuan muncul.


Hati Edward bersorak gembira, karena mangsa sudah masuk perangkap. Tujuannya Edward adalah biar malam ini bisa tidur bersama dengan Lily.


"Lily apa yang kamu lihat, kalau wajahmu di dadaku seperti ini. Hantunya sudah tidak ada" ucap Edward.


Lily lalu menghadap kedepan dengan mengintip sedikit demi sedikit, apakah hantu perempuan itu masih ada.


Saat melihat Lily dengan wajah tegang. Muncul sikap iseng Edward. Dia akan mengerjai Lily.


"Lily itu siapa didapur rambutnya panjang berbaju putri. Dia kenapa menatap kesini. Lily Dia berjalan kesini" Edward bicara dengan nada lirih, seolah-olah hantu didapur itu memang ada.


"Tuann" Lily mengeratkan gengaman pada kaos Edward. Lily menelusupkan wajahnya kedada Edward. Badannya gemetar.


"Lily awas" Edward berteriak menyakinkan kalau hantu itu sedang bersama mereka.


Lily spontan naik dipangkuan Edward. Edward senyum-senyum senang. Karena itu yang dia inginkan.


Edward mengambil selimut di sampingnya. Dia menyelimuti tubuh Lily dan tubuhnya 1 selimut 2 tubuh.


Dengan begitu Edward bisa menonton film dengan tenang karena Lily sudah ada dipangkuannya.


"Tenanglah Lily ada aku disini, apa yang kamu takutkan?" Edward memeluk Lily dengan erat.


Lily merasa nyaman saat berada dipelukan Edward. Lily bahkan meletakkan wajahnya diceruk Edward.


"Tuan harum sekali" Lily mengendus-endus leher Edward.

__ADS_1


"Kenapa? kamu suka bau harumnya?" tanya Edward.


"Iya. Harum sekali. Pasti harganya sangat mahal. Saya pernah mencium parfum Kloe, baunya harum. Waktu aku tanya harganya, mahal sekali Tuan" Jawab Lily.


"Parfum apa? berapa harganya?" tanya Edward.


"Apa ya, saya lupa merknya. Kalau harganya saya ingat Tuan, karena mahal jadi saya jadi beli karena tidak punya uang sebanyak itu. Kalau tidak salah harganya itu sekitar 15 jutaan Tuan" Jawab Lily sambil mengingat-ingat.


"Kamu masih ingin beli parfum itu?"


"Iya. Tapi Saya tidak punya uang sebanyak itu. Gaji saya saja tidak sampai sebanyak itu Tuan. Belum di potong tiap bulan untuk membayar hutang kepada Tuan"


"Besok kita beli parfum dan tas baru untuk kamu"


"Tidak Tuan. Hutangku sudah banyak Tuan. Jangan ditambah lagi. Nanti semakin menumpuk hutangku Tuan"


"Ini hadiah dari aku, karena kamu jadi gadis manis saat bersamaku"


"Tidak Tuan. Saya tidak mau hadiah semahal itu. Nanti bagaimana saya membelikan hadiah untuk Tuan?"


"Aku tidak butuh hadiah. Aku hanya ingin kamu selalu disampingku. Apa kamu mau?"


"Iya Tuan. Saya akan selalu bersama Tuan. Tuan selalu membantuku, jadi aku akan balas budiku tetap kerja bersama Tuan. Seperti Bibi Ema"


"Bibi Ema? Kenapa Bibi Ema?"


"Bibi Ema mendedikasikan hidupnya untuk Keluarga Tuan besar dan Tuan Muda, karena Bibi Ema pernah ditolong oleh Tuan besar"


"Waktu Tuan besar dan Nyonya besar berlibur di kebun anggur. Tuan besar melihat Bibi Ema akan dinodai oleh paman bibi Ema. Untung Tuan besar tepat waktu. Kalau tidak, Bibi Ema pasti sudah bunuh diri. Terus bibi Ema dibawa ke rumah Tuan besar sampai sekarang. Itu cerita bibi Ema"


"Pantas saja aku tidak Tahu saat aku lahir bibi Ema sudah ada dirumah Grandpa. Kamu sudah sedekat itu dengan bibi Ema?"


"Saat saya bersama bibi Ema, aku merasakan kehangatan seorang ibu yang tidak pernah saya rasakan setelah mama meninggal. Meskipun bibi Ema tidak punya anak, tapi dia tahu bagaimana menyanyangi"


Edward tahu bagaimana rasanya ditinggal oleh kedua orang tua. Dia juga bisa merasakan apa yang dirasakan Lily. Tapi dia lebih beruntung karena dikelilingi orang yang sangat menyayangi dirinya. Kebalikan dengan Lily, yang hidupnya dirampas oleh pamannya.


"Aku akan memelukmu. Apa kamu suka saat aku peluk?"


"Iya. Saya merasakan kenyamanan saat berada dipelukan Tuan Edward"


"Kalau begitu kapanpun dimanapun kamu bisa peluk aku"


Lily mengangguk. Edward senang, meskipun hubungan mereka belum jelas. Setidaknya Edward senang kalau Lily ada bersamanya.


"Kapan pengumuman ujian akhir kamu?"


"Masih 1 minggu lagi Tuan. Saya tidak sabar menunggu pengumumannya"


"Apa kamu yakin. Kamu bakal diterima?"


"Aku ragu Tuan. Melihat banyak sekali mahasiswa yang mendapat beasiswa. Mereka juga dari berbagai negara. Mereka sangat pintar-pintar"


"Kenapa kamu ragu. Kamu bisa mengerjakan ujianmu tidak? berbagai negara? kamu kenalan sama mereka?"

__ADS_1


"Bisa. Saya menyelesaikan 10 menit sebelum berakhir. Iya Tuan. Namanya Dominic dan Belinda. Mereka dari Inggris Tuan"


"Dominic? Dia laki-laki. Aku sudah memperingatkan kamu Lily, jangan berkenalan dengan laki-laki" Edward menatap mata Lily dengan tajam.


"Saya hanya berusaha ramah Tuan. Aku juga ingin punya teman. Tuan saja dicium perempuan diam, tidak protes. Kenapa saya tidak boleh?" Lily turun dari pangkuan Edward. Tapi Edward menahannya.


Awalnya menonton film horor berubah jadi sesi perbincangan hangat. Layar datar di depannya dicuekin. Bukan Edward dan Lily yang menonton layar datar tapi layar datar menonton keromantisan mereka berdua.


"Mau kemana?"


"Saya mau kekamar Tuan"


"Mana ponsel kamu?"


"Ada di kamar Tuan"


"Ayo kita kekamar kamu"


Edward mematikan saluran Netflix. Lalu Edward merangkul pinggang Lily masuk kedalam kamar Lily.


'Aku harus melihat ponsel Lily. Tidak boleh dia menyimpan nomer laki-laki' Edward membatin.


"Mana ponselmu Lily" Edward melipat tanganya di dada.


"Ini Tuan" Lily memberikan ponselnya kepada Edward.


"Apa passwordnya" Tanya Edward sedikit marah.


Lily menyebutkan passwordnya. Edward memasang wajah cemburu.


"Nomer siapa saja disini? Siapa Excel?"


"Dia teman aku dan Kloe waktu sekolah. Tapi sudah aku blokir".


"Kenapa cuma di blokir. Kamu suka dengan dia?"


"Tidak Tuan. Karena dia laki-laki baik. Dia selalu membantuku, disaat aku tidak punya teman disekolah"


"Kenapa kamu tidak minta bantuan dengan dia. Saat kamu kabur dari rumah pamanmu?" Edward sedikit sinis.


"Saya tidak mau menyusahkan dia Tuan. Dia hanya orang biasa, tinggal di flat kecil seperti saya. Dia hanya anak sekolah dan pekerja Kafe. ibunya sakit-sakitan didesa"


"Sepertinya kamu kenal baik dengan Excel" Edward cemburu.


"Saya pernah diajak menjengguk ibunya di desa. Ibunya tinggal bersama dengan adiknya. Dia laki-laki yang bertanggung jawab dan juga penyayang. Pekerja keras dan suka menolong"


Edward panas mendengar Lily memuji laki-laki lain. Edward lalu menyerahkan benda berbentuk pipih itu kepada Lily.


Edward langsung pergi dari kamar Lily tanpa berucap satu patah kata pun. Lily mengejar Edward sampai depan kamar.


Braaakkkk


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2