
Cekleekkk
"Tuan Edward!!" Arthur kaget saat melihat Edward ada di ruang inap Lily.
"Tuan Arthur" ucap Edward tidak kalah kagetnya saat melihat Arthur masuk ruang inap Lily.
Di otak mereka penuh dengan tanda tanya. kenapa Arthur di sini dan kenapa Edward bisa berada disini. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Tuan Arthur kenapa ada disini?" tanya Edward.
"Seharusnya saya yang bertanya seperti itu kepada Tuan Edward" balas Arthur.
Arthur mendekati Edward dan Edward berdiri melepas genggaman tangan Lily. Edward menghampiri Arthur.
"Maksud anda apa Tuan Arthur, pasien ini adalah pegawai saya. Jadi saya sekarang berada di sini" jawab Edward.
'Jadi selama ini Lily bekerja dengan Tuan Edward. Yang diceritakan Lily soal Tuan muda pemarah yang menolong hidupnya adalah Edward' batin Arthur.
"Saya kebetulan yang menolong gadis ini Tuan Edward" ucap Arthur.
Untuk sementara Arthur tidak akan membuka identitas dirinya dan Lily. Sebelum Edgar sendiri yang bercerita kepada Lily. Saat ini, Arthur akan pura-pura tidak mengenal Lily. Tetap menjadi orang asing.
"Terima kasih Tuan Arthur. Tapi bagaimana anda bisa menolong Lily, Tuan Arthur?" tanya Edward.
"Saya kebetulan datang ke kampus mencari seseorang. Sampai disana, saya melihat kerumunan mahasiswa. Waktu saya bertanya kepada salah satu mahasiswa yang lewat. Ternyata ada yang pingsan. Lalu saya membawanya ke Rumah Sakit" Jawab Arthur jujur tentang kejadian yang sebenarnya.
"Terima kasih banyak Tuan Arthur. Apa anda sudah menemukan seseorang yang anda cari tersebut?" tanya Edward.
Arthur tidak mungkin jujur, kalau dia sudah menemukan Lily. Karena dia sendiri belum memberi tahu dirinya kepada Lily secara langsung.
"Sudah Tuan. Setelah ini saya akan kembali ke Paris membawa Daddy bertemu dengan gadis tersebut" jawab Arthur.
"Anda tidak membawa dia ikut berserta anda ke Paris?" tanya Edward.
"Tidak Tuan. Biarkan dia berada di sini. Dia bersama dengan orang baik. jadi saya pikir, dia akan baik-baik saja" jawab Arthur.
"Saya ikut senang mendengarnya Tuan Arthur" Ucap Edward.
"Terima kasih Tuan Edward. Ngomong-ngomong, sepertinya gadis ini sangat penting buat Tuan Edward. Apakah dia pegawai istimewa?" tanya Arthur langsung ke poinnya.
Edwars tersenyum canggung. Dia mengusap-usap tengkuknya tanda gugup. Arthur melihat kegugupan pada sikap Edward.
"Tidak perlu dijawab Tuan. Saya sudah tahu jawabannya. Tadi dokter bilang kalau pasien mengalami sakit tipes dan dehidrasi" ucap Arthur.
__ADS_1
"Dehidrasi?" ucap Edward kaget.
"Iya Tuan. kata dokter yang memeriksa pasien. Pasien mengalami dehidrasi karena selama 2 hari tidak ada asupan makanan atau minuman yang masuk kedalam tubuh pasien. Makanya pasien drop dan jatuh pingsan karena kekebalan tubuhnya menurun" Arthur menjelaskan penjelasan dokter kepada Edward.
"Bagaimana bisa Lily tidak makan dan minum selama 2 hari?" gumam Edward.
"Karena sudah ada Tuan Edward yang menjaga pasien disini, lebih baik saya pamit. Besok saya kesini lagi sekalian mau pamit kembali ke paris. Semoga pasien sudah sadar. Tolong jaga pasien baik-baik Tuan Edward. Saya titipkan gadis manis ini kepada anda" ucap Arthur.
Arthur melihat Lily sebentar dan tersenyum. 'Lily, kamu tidak akan sendirian lagi. Kamu masih punya saudara yang akan melindungimu. Aku akan kembali bersama Daddy untuk menemuimu Lily' Batin Arthur.
Setelah melihat Lily. Arthur berpamitan kepada Edward. Edward sangat berterima kasih kepada Arthur, karena Arthur menyelamatkan Lily.
"Saya berhutang budi kepada anda Tuan Arthur. 2 kali anda membantu saya" ucap Arthur.
"Tidak Tuan Edward. Saya yang berhutang budi kepada anda. Karena anda, saya bisa berhasil menemukan gadis yang saya cari" ucap Arthur.
"Maksud anda apa Tuan Arthur? saya tidak melakukan apapun. Bagaimana anda punya hutang budi kepada saya" ucap Edward.
"Nanti kalau saya kembali ke Humburg. Saya akan memberikan jawabannya" Arthur menepuk pundak Edward.
Arthur keluar dari kamar inap Lily diantar Edward sampai depan pintu. Edward kembali ke dalam kamar dan memegang tangan Lily.
"Bangun Lily aku disini" Edward mencium tangan Lily lalu menatap Lily.
Edward berdiri dan tersenyum melihat Lily tersadar. Lilly melihat ke arah sekitar. Badannya sangat lemas.
"Lily" Edward mengusap-usap pucuk kepala Lily.
"Tuaaannn" suara Lily masih terdengar lemah. Tiba-tiba Lily kembali pingsan
Edward panik. Dia mengerak-gerakkan tubuh Lily tapi tetap menutup mata. Edward memencet tombol yang ada didekat pasien.
Tidak berapa lama suster dan dokter datang ke dalam kamar Lily. dokter memeriksa dengan tenang di dampingi suster disampingnya.
Edward sangat ketakutan, dia panik. Sedangkan dokter malah tersenyum kepada Edward. dokter selesai memeriksa dokter dan memberitahu suster untuk memberi obat supaya badan Lily tidak lemah lagi.
"Bagaimana keadaan pasien dokter?" tanya Edward cemas.
"Tuan tidak perlu khawatir. Nona Lily baik-baik saja. Dia hanya masih terlalu lemah. Makannya dia kembali pingsan. Saya sudah menyuruh suster untuk memberi obat supaya bisa lebih kuat sedikit" dokter menjelaskan kepada Edward tentang kondisi Lily.
"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih dokter" ucap Edward.
"Apa anda wali dari pasien?" tanya dokter.
__ADS_1
"Iya dokter. Ada apa dokter?" jawab Edward.
"Pasien terkena dehidrasi parah, sebaiknya nanti kalau pasien sudah sadar. Anda memberi minum dan minumkan obat ini kepada pasien" dokter menunjuk obat di atas nakas pasien.
"Baik dokter" jawab Edward.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan. Nanti kalau ada apa-apa hubungi kami lewat tombol ini" ucap dokter.
"Iya dokter terima kasih" ucap Edward.
dokter dan suster keluar dari kamar Lily. Hanya tinggal Edward dan Lily yang masih tidak sadarkan diri.
Edward naik ke atas tempat tidur pasien. Dia memeluk Lily dari samping. Edward mencium kening Lily berkali-kali.
"Bangun Lily, banguunn. Aku disini, maafkan aku yang membuat kamu seperti ini" Edward mengelus pipi Lily.
Edward ingin Lily merasakan kehadirannya sekarang. Lily masih belum mau membuka matanya.
Edward akhirnya tertidur disamping Lily sambil memeluk tubuh Lily. Lily sadar dan membuka mata. Kepalanya masih terlalu berat, dia merasa ada tangan yang memeluknya.
Badannya masih sangat lemah. Lily melihat kesamping. Dia terkejut saat melihat wajah Edward ada disampingnya.
"Aku ada dimana?"Lily melihat sekitar. Dia merasa asing dengan tempatnya sekarang. Karena bukan kamarnya tapi Edward berani memeluknya.
Di tangannya juga menempel selang infus. Sekarang Lily mengerti kalau dia sekarang berada di rumah sakit.
"Tuann. Tuuaaann bangun" Lily mengusap tangan Edward yang ada di perutnya.
Edward mengeliat karena sentuhan Lily. Edward lalu membuka mata, dan melihat Lily menatap wajahnya dengan tersenyum.
"Lily. Kamu sudah sadar sayang" Edward mencium pipi Lily berkali-kali sangking senangnya.
"Sudah Tuan. Sudah. Kepalaku masih pusing" Lily memegangi kepalanya.
"Sebentar" Edward turun dari ranjang. Dia mengambil obat dan air minum untuk Lily.
Edward menaikkan ranjang Lily supaya bisa untuk senderan saat Lily duduk minum obat.
"Minum obatnya dulu Lily" Edward memberikan obat kepada Lily.
Setelah minum obat Lily dikembalikan lagi rebahan di atas ranjang rumah sakit. Edward sangat senang saat melihat Lily sudah sadar. Tak henti-hentinya Edward mencium Tangan Lily dengan perasaan bahagia.
Cinta sejati itu memandang kelemahan, lalu dijadikan kelebihan untuk saling mencintai.
__ADS_1
To be continue ....