
"Selamat pagi Tuan" Lily memberi salam kepada Edward saat keluar dari kamar.
"Selamat pagi Lily. Kamu masak apa Lily?" tanya Edward saat menarik kursi untuk duduk.
"Saya membuat omelet Tuan" jawab Lily. Lily menaruh omelet di piring dan meletakkan di meja Edward.
"Saya membuka kulkas, ternyata ada telur jadi saya membuat omelet.
Omelet adalah variasi hidangan telur goreng yang disiapkan dengan cara mengocok telur dan menggorengnya dengan minyak goreng atau mentega panas pada sebuah wajan.
"Kamu bisa masak Lily?" tanya Edward.
"BisaTuan. Saya kadang membantu bi Sandra di dapur buat masak" Tutur Lily.
"Nanti pulang dari kantor, kita belanja di supermarket dulu. Mulai sekarang kamu masak disini" ucap Edward. Dia sudah menghabiskan omelet buatan Lily.
"Lily, nanti kamu mengambil baju-baju kamu bersama Leon, setelah mengantar saya kekantor" ucap Leon.
"Baik Tuan" Lily membersihkan meja makan lalu berangkat ke kantor bersama Edward.
Leon sudah menunggu Edward dibawah.
"Leon, nanti kamu antar Lily mengambil pakaiannya di tempat tinggalnya, kamu antar dulu aku ke kantor" Edward memberi perintah kepada Leon.
"Baik Bos" ucap Leon. Mereka laku pergi ke kantor bersama.
"Lily siapa nama paman kamu" tanya Edward tiba-tiba.
"Peter White, Tuan" jawab Lily
"Peter White? Peter White yang menjalankan perusahaan Golden Company? Apa yang kamu maksud Peter yang itu?"
"Iya Tuan, Itu perusahaan tempat papa saya bekerja sebelum papa saya meninggal Tuan" ucap Lily.
"Leon ada tugas baru untukmu" ucap Edward.
"Tugas apa Tuan?" tanya Leon. Dia penasaran kira-kira tugas apa yang akan diberikan Edward untuknya.
"Nanti saja kita bahas di ruanganku" ucap Edward.
"Baiklah Tuan" Jawab Leon.
Mereka sudah sampai kantor. Leon menurunkan Edward di kantor. Setelah itu dia dan Lily pergi ketempat tinggal Lily mengambil baju-baju Lily.
"Lily, apa benar kamu keponakan peter white? pemilik Global Company?" tanya Leon. Dia masih tidak percaya dengan ucapan Lily.
"Iya benar Pak Leon. Paman Peter itu adiknya papaku pak" Jawab Lily.
"Bagaimana kamu bisa kabur, padahal pamanmu orang kaya?" tanya Leon. Dia penasaran dengan hidup Lily.
"Paman melarangku melanjutkan kuliah pak. Kata paman biaya kuliah mahal, butuh banyak uang" jawab Lily.
__ADS_1
"Apa peter punya anak, Lily?" tanya Leon.
"Punya, sepupuku perempuan. Seumuran denganku pak Leon"
Leon mangut-mangut. "Dimana Flat kamu tinggal Lily?"
"Gardiola Barat Flat nomer 9 pak" jawab Lily.
Tidak terasa mereka telah sampai di flat Lily. Lily lalu turun dari mobil.
"Kamu butuh bantuanku?" Leon menawarkan bantuan.
"Tidak usah pak Leon, bajuku cuma sedikit. hanya 1 ransel saja" tutur Lily. Dia bergegas menuju flat yang disewanya, untuk mengambil baju-bajunya.
"Ya sudah kalau begitu, saya tunggu disisi saja. kalau kamu butuh bantuan panggil saja saya" ucap Leon.
Lily lalu masuk ke flat dan mengambil baju- baju yang didiperlukan selama tinggal di Apartemen Edward.
"Ayo pak Leon. Saya sudah selesai" ucap Lily duduk disamping Leon.
"Cepat sekali Lily. Letakkan tas mu dibagasi saja, biar kakimu tidak kesempitan" ucap Leon.
"Tidak usah pak Leon, disini saja tidak apa-apa. Nanti saja kalau sudah tiba di kantor, saya pindahkan ke bagasi" Lili memasang setbelt.
Mereka menuju kantor. Leon sudah ditunggu Edward untuk membahas tugas baru Leon.
"Kamu ikut saya ke ruangan Tuan Edward. Ini perintah Tuan Edward" ucap Leon.
"Iya pak Leon" jawab Lily.
Lily merasa ada yang aneh saat dekat dengan Leon. 'Kenapa saya senang ya kalau dekat dengan pak Leon' batin Lily.
Tok...tok...tookk
"Masuk" Edward menyuruh Leon masuk keruangannya.
"Bagaimana sudah selesai mengambil baju-bajumu Lily?" Tanya Edward.
"Sudah Tuan" Jawab Lily
"Leon apa kita punya meeting hari ini?" tanya Edward. Dia mencari waktu untuk membahas rencana barunya bersama Leon.
"Ada, nanti setelah makan siang. Bertemu dengan Mr. Robbert" Jawab Leon.
"Baiklah masih ada waktu untuk kita membahas, tugas barumu Leon" ucap Edward.
"Apa kamu masih menyimpan dokumen kerja sama dengan Global Company?" tanya Edward.
"Untuk apa? Kalau kamu butuh sekarang, aku akan mencarinya di ruanganku" ucap Leon.
"Aku membutuhkannya. Apa Kamu bisa mencarinya sekarang Leon" Edward menyusuh Leon mencari dokumen Global Company.
"Baiklah, aku akan mencarinya sekarang" Leon lalu berdiri.
__ADS_1
Lily yang tidak tahu apapun hanya diam dan duduk di sofa.
"Lily, bisa kah kamu buatkan saya kopi?" tanya Edward.
"Baik Tuan" jawab Lily. Lily lalu ke pantry khusus untuk pimpinan. Masih berada di lantai yang sama dengan ruang CEO.
Saat Lily melewati ruangan Leon, Leon kebetulan keluar dari ruangannya dengan membawa berkas-berkas yang Edward minta.
"Kamu mau kemana Lily?" tanya Leon, sambil menutup pintu.
"Saya mau bikin kopi untuk tuan Edward, Pak Leon" Jawab Lily. "Pak Leon mau saya bikin kan kopi juga? tanya Lily.
"Boleh. Nanti dibawa ke ruangan Edward ya, Lily" kata Leon. Lalu dia pergi keruangan Edward.
Lily sedang sibuk membuat kopi, tiba- tiba Kimberly datang dan menyapa Lily.
"Hai, kamu pegawai baru ya?" tanya Kimberly.
"Eh ... Hai, Iya Nona. Saya pegawai baru disini" jawab Lily.
"Siapa namamu?"
"Saya Lily Nona"
"Kamu kenapa bisa disini? kamu tahu kalau pantry ini khusus orang di lantai ini?" Kimberly menatap Lily dengan tatapan tidak suka.
"Saya membuatkan kopi untuk Tuan Edward dan Pak Leon, Nona Kimberly.
Lily mengambil 2 cangkir kopi untuk diisi kopi dan air panas.
"Sini, biar saya saja yang membuatkan kopi untuk Tuan Edward dan Pak Leon" Kimberly merebut cangkir yang diambil Lily.
"Tapi Nona, Tuan Edward yang menyuruh saya. Biar saya saja yang membuatnya. Saya takut dimarahi Tuan Edward Nona Kimberly" Lily merebut kembali cangkir yang di pegang Kimberly.
"Kamu ini tidak tahu ukuran kopi mereka. Saya yang tahu, karena saya yang membuatkan kopi setiap hari untuk mereka" Kimberly berkacak pinggang.
Lily tidak memdengarkan ucapan Kimberly. Dia hanya takut kalau nanti Edward marah dan memecat dirinya. Karena pekerjaan ini satu-satunya harapan Lily.
Lily diterima kerja tanpa menggunakan ijasah karena bantuan Maria. Orang kepercayaan Leon, di divisi Kebersihan.
Kalau dia dipecat harapannya kuliah akan musnah. Karena dari gaji kerja, bisa buat nambah biaya kuliahnya nanti.
"Kamu anak baru berani membantah saya ya" Kimberly menarik pundak Lily supaya menghadap kepadanya.
"Saya tidak bermaksud seperti itu Nona. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Edward saya" Lily membela diri.
"Sini kopinya biar saya saja yang memberikan kepada Tuan Edward dan Pak Leon. Kimberly merebut dua cangkir yang dibawa Lily.
"Jangan Nona" Lily mempertahankan cangkir yang dia bawa.
Lily dan Kimberly saling rebut cangkir yang berisi kopi panas. Tidak ada yang mau mengalah.
Praaaanggggg!!
__ADS_1
...----------------...