
Seharian Leon menunggu Edward di tempat parlir. Dia bahkan tidak makan seharian demi ingin bertemu dan bicara dengan Edward.
Jam waktu pulang kantor sudah tiba. Edward keluar gedung menuju tempat parkir. Saat akan masuk ke dalam mobil kaki Edward di pegang oleh Leon.
Leon berlutut sambil memegang kaki Edward. Edward sampai kaget. Dia mengerak-gerakkan kakinya supaya tangan Leon lepas, tapi ternyata Leon semakin erat memegangnya.
"LEPASKAN LEON" Edward kembali naik pitam.
"Tidak Tuan. Sebelum Tuan memaafkan saya" ucap Leon.
Edward semakin kesal. Dia bahkan memukul atap mobil dengan tangannya. Leon menunduk tidak berani menatap Edward.
"Bangunlah Leon. Kamu ingin aku memaafkanmu bukan? Maka berdirilah. Kamu tidak perlu seperti itu" ucap Edward sedikit menurunkan nada bicaranya.
"Saya akan berdiri kalau Tuan memaafkan saya" ucap Leon.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi bangunlah" ucap Edward.
"Benaran Tuan. Tuan Edward sudah memaafkan Saya?" Leon tersenyum lalu berdiri berhadapan dengan Edward.
"Benar. Aku sudah memaafkanmu, Tapi Pekerjaanmu akan diambil alih oleh orang lain" Ucap Edward.
Edward lalu masuk ke dalam mobil. Leon masih bergeming, ternyata Tuan mudanya tidak segampang itu percaya lagi dengan dirinya. Leon mengikuti mobil Edward.
Leon harus mendapatkan pekerjaannya kembali. Ternyata Edward menuju rumah utama, rumah Gabriel, kakeknya Edward.
Setelah sampai, Edward langsung masuk rumah dan mencari Gabriel. Leon mengekori Edward di belakang.
"Grandpa ... Grandpa dimana?" Edward berteriak mencari Gabriel.
"Tuan Muda pulang" ucap Laki-laki muda yang usianya 1 tahun di bawah Leon.
"Dimana Grandpa Tristan?" tanya Edward.
"Tuan Besar ada di ruang kerja Tuan" ucap laki-laki yang bernama Tristan tersebut.
Edward berjalan menuju ruang kerja. Leon tidak bisa masuk, dia menunggu di luar. Leon duduk dilantai bersandar pada dinding. Wajahnya sangat lesu dan tidak bersemangat.
__ADS_1
Sekitar 1 jam Edward keluar dari ruang kerja Gabriel dengan muka penuh amarah. Leon tidak berani mendekat, karena di tatap dengan penuh kebencian.
"Edward Tunggu" ucap Gabriel keluar dari ruang kerjanya.
Edward tidak menghiraukan ucapan Gabriel, dia terus berjalan menuju pintu keluar dengan penuh kemarahan. Bibi Ema, Tristan, Ferdinand dan pelayan yang lainnya tidak berani menegur Edward.
Mereka hanya diam melihat Tuan besar dan Tuan mudanya seperti habis bertengkar. Mereka tidak mau ikut campur.
"Edward kalau kamu berani melangkah keluar pintu. Aku akan menarik semua sahammu dari perusahaan. Jangan lupa Grandpa masih punya 40 saham diperusahaan, dan Grandpa masih pimpinan diperusahaan yang sekarang kamu Pimpin" Teriak Gabriel.
Edward menoleh kebelakang. Edward menatap Gabriel seperti musuh, tatapan yang sama setelah kedua orang tuanya meninggal. Edward sangat membenci Gabriel. Dia bahkan tidak mau tinggal bersama Gabriel semenjak remaja.
"SAYA TIDAK PEDULI. BAHKAN SAYA DENGAN SENANG HATI AKAN MENINGGALKAN PERUSAHAAN ANDA TUAN GABRIEL EUGENIO YANG TERHORMAT. SILAHKAN ANDA BERIKAN JABATAN SAYA, KEPADA ANAK LAKI-LAKI YANG ANDA AMBIL DARI JALANAN. SAYA TIDAK AKAN MENGAMBIL UANG SEPESERPUN DARI ANDA KALAU MEMANG ITU AKAN ANDA LAKUKAN KEPADA SAYA. KARENA SAYA SUDAH TIDAK MEMILIKI GRANDPA LAGI SETELAH KEDUA ORANG TUA SAYA MENINGGAL. ANDA YANG TELAH MEMBUNUH ORANG TUA SAYA!" Edward meninggalkan rumah Gabriel dengan membanting pintu.
Semua yang mendengar ucapan Edward sangat shock tak terkecuali Leon. Dia merasa sangat bersalah. Karena kesalahan yang dia lakukan tidak sengaja telah membuat Tuan besar dan Tuan mudanya bertengkar.
Gabriel kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Gabriel meneteskan air mata. Karena cucu kesayangannya telah membenci dirinya. Karena kesalahan di masa lalu, luka Edward belum sepenuhnya sembuh karena kehilangan orang tuanya.
Gabriel menatap foto anaknya, menantu dan Edward kecil yang di pangku mamanya. Dia merasa sangat sedih karena tidak bisa dekat dengan Edward.
Gabriel malah lebih dekat dengan Leon. Kerena Leon yang tinggal bersama dengan Gabriel. Sedangkan Edward tinggal di apartemen setelah dia remaja. Tentunya selalu di awasi dari jauh oleh orang-orang bayaran Gabriel.
"Flash back On"
"Ben, papa tidak bisa menghadiri acara tender. Bisakah kamu mewakili papa ke sana?" Tanya Gabriel.
"Bisa Pa. Nanti Ben akan mengajak Kate" jawab Ben.
"Terima kasih Ben. Kamu siap-siap sekarang. Biar nanti Edward sama Papa" ucap Gabriel.
"Iya pa" jawab Ben.
Setelah berbicara dengan Gabriel, Ben keluar dari meja kerja Gabriel. Waktu akan naik tangga, Edward berlari ke arah Ben.
"Papa. Ayo main sama Edward. Mama payah tidak bisa main bola" ucap Edward dengan suara khas anak kecil.
"Edward. Papa harus pergi ke acara penting sayang. Edward main sama Bibi Ema ya" Ucap Ben dengan lembut.
__ADS_1
"Tidak mau. Edward maunya sama papa. Tidak mau sama yang lain" Edward mulai tantrum.
"Edward sayang. Edward kan anak yang manis. Tidak pernah membantah mama sama papa. Nurut ya Nak. Papa kan pergi kerja, nanti uangnya buat Edward beli sepatu roda" Kate ikut menenangkan Edward yang mulai rewel.
"Tidak mau Ma. Papa dan mama tidak boleh pergi huuaa huaaaa" Edward menangis.
"Edward sayang. Besok papa temani Edward main bola. Sekarang papa harus kerja sayang" ucap Ben memberi pengertian sama Edward kecil.
"Edward sama Grandpa saja ya Nak. Kita main di ruangan Grandpa" Gabriel ikut mencoba menenangkan Edward kecil.
"Tidak mau. Kenapa tidak Granpa saja yang pergi. Itukan pekerjaan Granpa" ucap Edward kecil polos.
"Grandpa masih ada pekerjaan yang lain Edward. Ben lebih baik tidak usah datang. Kita sudah mendapat kerjasama yang lebih bagus dari perusahaan Lion company" ucap Gabriel.
"Tidak apa-apa pa. Siapa tahu perusahaan Starlight bisa kerja sama dengan kita juga. Itu akan lebih baik lagi" ucap Ben.
"Bagaimana dengan Edward. Dia tidak mau kamu tinggal. Sudahlah Ben, Kamu tidak usah datang. Temani saja Edward main bola. Seandainya pekerjaan Papa kali ini tidak penting. Papa pasti akan datang sendiri" ucap Gabriel.
"Edward biar sama bibi Ema. Dia nanti pasti tidur, kalau kita sudah pergi" ucap Ben.
Edward masih saja menangis. Saat Kate dan Ben akan pergi. Gabriel, bibi Ema dan pelayan lainnya tidak ada yang berhasil membujuk Edward untuk berhenti menangis.
"Papa, mama tidak boleh pergi. Edward ikut kalian huhuuhuu" Edward nangis sesegukan.
"Papa dan mama akan segera pulang sayang. Edward jadi anak manis ya. Nanti kalau papa pulang kita main bola bareng. Oke anak papa" Ben dan Kate mencium Edward di gendongan Gabriel.
Gabriel tidak tega melihat Edward menangis seperti itu. Dia lalu membawa Edward ketaman belakang. Gabriel memperlihatkan koleksi ikan hiasnya.
Edward tidak berhenti menangis. Edward minta diturunkan dari gendongan Gabriel. Edward lalu berlari ke depan pintu. Dia menunggu orang tuanya sambil menangis.
"Tuan Muda. Ayo tidur ini sudah malam. Nanti bibi dimarahi papa dan mama Tuan Muda" ucap Bibi Ema.
"Bibi kenapa papa dan mama belum pulang?" tanya Edward kecil.
"Sebentar lagi juga pulang Tuan. Sekarang Tuan tidur ya, bibi Ema temani Tuan Muda tidur" ucap Bibi Ema.
"Tidak Bibi. Edward mau menunggu mama dan papa pulang. Edward mau tidur dengan mama" ucap Edward.
__ADS_1
Karena tidak berhasil membujuk Edward. Gabriel dan pelayan yang lain menemani Edward duduk di depan pintu.
To be continue ...