Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 17. Hipotermia


__ADS_3

"Siapa gadis ini Edward? kamu kelihatan sangat cemas tentang keadaan gadi ini. Apa dia perawat spesial yang di maksud Leon?" tanya dr. Luis yang penasaran dengan gadis yang sedang tidur di ranjang Edward.


"Dia Lily dr. Luis. Lily karyawan yang bekerja diperusahaan saya. Dia gadis yang membuat tangan saya PATAH" Edward menekankan kata patah, karena sebenarnya tangan Edward hanya terkilir.


"Hahahaaa ... maaf Edward. Ini demi kebaikanmu makanya saya bohong soal tangan kamu. Sepertinya gadis ini sangat spesial buat kamu. Saya bisa melihat dari mata kamu Edward" dr. Luis menjelaskan apa yang dia tahu.


"Ya sudah, saya pulang dulu Edward. Setelah ini kamu, minumkan obat penurun panasnya biar cepat sembuh" kata dr. Luis.


"Iya dr. Luis. Saya antar anda sampai bawah" ucap Edward.


"Tidak usah Edward, cukup sampai pintu saja. Kamu jaga Lily. Kalau ada apa-apa kamu telpon saya" dr. Luis keluar kamar Edward, diikuti Edward disamping dr. Luis.


Hipotermia adalah Penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya. Penyebab yang paling umum adalah berada di lingkungan bersuhu dingin dalam waktu yang lama.


Perawatan mandiri, Mengganti pakaian basah, menyelimuti tubuh, minum minuman hangat, dan mandi air hangat dapat membantu meningkatkan suhu tubuh.


Gejala hipotermia ringan. Pucat, kulit terasa dingin ketika di sentuh, mati rasa, menggigil, mengantuk, napas cepat dan respon menurun.


Pengobatan hipotermia. Jika Anda melihat orang yang memiliki gejala hipotermia, maka tindakan awal yang perlu dilakukan adalah memeriksa denyut nadi dan pernapasan. Jika denyut nadi dan pernapasannya sudah berhenti, maka lakukanlah tindakan resusitasi jantung paru (CPR) dan cari bantuan medis.


Bila orang tersebut masih bernapas dan denyut nadinya masih ada, lakukanlah tindakan berikut ini untuk membuat suhu tubuhnya kembali normal:


Pindahkan penderita ke tempat yang lebih kering dan hangat secara hati-hati, karena gerakan yang berlebihan dapat memicu denyut jantungnya berhenti.


Ganti dengan pakaian yang kering jika pakaian yang dikenakannya basah.


Tutupi tubuh penderita dengan selimut atau mantel yang tebal agar hangat.


Berikan penderita minuman hangat dan manis jika ia sadar dan mampu menelan.


Berikan kompres hangat dan kering untuk membantu menghangatkan tubuhnya. Letakkan kompres di leher, dada, dan ************. Hindari meletakkan kompres di lengan atau tungkai karena dapat menyebabkan darah yang dingin mengalir kembali ke jantung, paru-paru, dan otak.


Hindari penggunaan air panas, bantal pemanas, atau lampu pemanas untuk menghangatkan penderita. Panas yang berlebihan dapat merusak kulit dan menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur.


Temani dan pantau terus kondisi penderita hingga bantuan medis tiba (Sumber Alodokter.com).


Edward kembali ke kamar setelah mengantar dr. Luis pulang. Edward rebahan di sebelah Lily.

__ADS_1


"Bukanya aku yang sakit, kenapa kamu juga ikutan sakit. Bukankah kamu yang harus merawat aku, kenapa jadi aku yang merawat kamu. Apa kamu membalasku Lily" Edward bicara sendiri, melihat keadaan Lily yang berbaring di sebelahnya.


"Ah iya, aku hampir lupa" Edward menepuk jidatnya. Edward lalu turun dari ranjang dan mengambil obat Lily.


"Panas sekali dahinya" Edward menempelkan punggunng tanganya ke dahi Lily. Lily sudah tidak menggigil seperti di luar gedung tadi, tapi badannya masih panas.


Edward lalu pergi ke dapur mengambil air minum. Saat di dapur Edward melihat Käsespätzle dan lasagna daging sapi di atas meja.


"Makanan ini sudah dingin. Makanan ini pasti dibuat Lily untuk aku. Lebih baik aku hangatkan saja, untuk makan Lily. Dia pasti belum makan. Karena makanan ini masih utuh" gumam Edward.


Edward lalu membawa Käsespätzle dan lasagna yang sudah di panaskan, serta air minum di atas nampan, lalu dibawa Edward ke kamar.


Edward meletakkan makanan dan minuman di atas nakas. Lalu Edward, membangunkan Lily supaya minum obat.


"Lily bangun" Edward membangunkan Lily dengan sangat halus. Edward mengelus-elus pipi Lily supaya bangun.


Lily membuka matanya, dia merasakan berat dikepalanya. Badannya juga rasanya panas dan lemas.


"Aku dimana" memegangi kepalanya.


"Tu-Tuan Edward apa saya bermimpi?" Lily tanpa sadar memeluk Edward. Edward sampai kaget karena tidak menyangka akan dipeluk Lily.


"Tidak Lily. Kamu tidak bermimpi. Ini saya Tuan Edward. Kamu berada di kamarku" Edward mengelus rambut Lily yang masih memeluknya.


huhuhuuu Lily menangis di pelukan Edward. "Ma-maaf kan saya Tuam Edward. Tolong jangan usir saya dari sini. Biarkan saya melayanimu Tuan Edward. Sebagai balas budiku karena membolehkan saya bekerja dan kuliah" Ucap Lily sesegukan.


Edward menghapus air mata Lily dan memcium mata Lily yang penuh air mata, sedangkan Lily memejamkan mata dan menikmati usapan ibu jari Edward di pipinya. Lily, merasa nyaman dengan semua sentuhan Edward.


"Lily, kita akan bahas itu nanti. Sekarang kamu makan dan minum obat. Biar cepat sembuh" Edward tersenyum kepada Lily.


"Sekarang lepas pelukannya Lily, Apa kamu mau memeluk saya seperti ini terus, dan tidak jadi minum obat, heemm" Edward berbicara sangat lembut, membuat jatung Lily berdetak tak beraturan.


Lily lalu melepas pelukan di pinggang Edward. Setelah Lily melepas pelukannya, Edward mengambil lasagna di atas nakas.


"Makan terus minum obat Lily. Aakkk... ayo buka mulutnya Lily" Edward menyuapi Lily makan.


"Saya bisa makan sendiri Tuan. Ini makanan untuk Tuan. Saya makan roti saja Tuan" Lily meletakkan lasagna di atas ranjang.

__ADS_1


"Lily, saya pernah bilang kan. Apa yang saya makan, kamu juga makan. Jadi makanlah, habis itu minum obat. Lily ini perintah, jangan membantah" ucap Edward mengambil lasagna di atas ranjang.


Lily tidak berani membantah. Dia takut nanti Edward marah lagi dengan dia. Akhirnya Lily makan lasagna yang dia masak untuk Edward.


"Habiskan makanmu, saya akan mandi dulu. Ini obatnya, jangan lupa diminum" Edward lalu pergi ke kamar mandi.


Lily makan dengan mulut pahit. Badannya benar-benar tidak enak. Tapi tetap dia paksa habiskan lasagna di tangannya. Setelah itu Lily minum obat.


"Aku memakai baju Tuan Edward? bajuku dimana? siapa yang mengganti bajuku? aku tidak memakai bra dan ****** *****?" Lily menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia takut kalau Edward melihatnya.


"Lily sudah diminum obatnya?" Edward muncul dari kamar mandi.


"Sudah Tuan. Tuan saya mau bertanya, siapa yang mengganti pakaian saya?" Tanya Lily lirih.


"Kamu pikir siapa yang menggantikan pakaianmu. Disini cuma ada saya dan kamu. Kalau kamu yang mengganti sendiri tidak mungkin. Kamu tahu jawabannya kan" Edward mensedekapkan tangannya di dada.


Lily membekap mulutnya. Dia tahu kalau Edward yang mengganti bajunya. Lily menutup seluruh tubuhnya termasuk wajahnya dengan selimut. Lily sangat malu sekarang.


Edward yang melihat tingkah Lily, langsung terkekeh. Muncul ide gila di benaknya.


"Kamu tidak perlu malu Lily, saya sudah melihat semua tubuhmu. Untuk apa kamu tutupi seperti itu" Edward menahan tawa.


Edward akhirnya rebahan disamping Lily. Edward menarik selimut Lily. Kini mereka dalam 1 selimut dan 1 ranjang.


"Ayo kita tidur"Edward memeluk Lily dari belakang.



"Jangan macam-macam Lily, kamu sekarang menjadi milikku. Tidak boleh ada yang menyentuhmu kecuali aku, kamu mengerti Lily" Edward berbisik ditelingga Lily.


Lily mengangguk, entah kenapa dia senang saat bicara seperti itu. Dia merasa di inginkan. Dan itu membuat Lily tersenyum.


Tuhan tidak pernah keliru memberikan anugerah cinta kepada hamba-Nya, karena sebuah cinta yang datang itu pasti ada makna dan alasannya.


To be continue ....


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2