
Lily sibuk di dapur memasak makan malam untuk Edward. Lily memasak Lanchashire Hotpot dan Roast Meat.
Saat bangun tidur Lily sangat bahagia karena Edward ada disampingnya. Lily sekarang tidak lagi merasa canggung saat bersama Edward.
Lily sudah banyak berubah saat tinggal bersama Edward. Sekarang Lily sangat percaya diri, dari pertama kali bertemu Edward.
"Heemm makan malamnya sudah siap. Aku harus membangunkan Tuan Edward untuk makan" Lily meletakkan makanan di atas meja.
Lily lalu berjalan ke kamarnya. Melihat Edward tidur sangat pulas, Lily tidak tega untuk membangunkan Edward. Lily melihat menatap wajah Edward saat tidur dengan senyum-senyum sendiri.
"Tuan Edward memang sangat tampan, dia seperti bayi saat tidur. Tuan juga baik hati" gumam Lily. Meskipun ucapan Lily pelan tapi masih bisa didengar oleh Edward. Edward sebelumnya sudah bangun, tapi dia pura-pura memejamkan mata.
Lily mencoba membangunkan Edward. "Tuan bangun, Tuan makan malam dulu. Saya sudah membuat makan malam. Tuan ... Tuan bangun, ayo bangun Tuan" Lily mengerak-gerakkan tubuh Edward.
Edward menarik selimut dan kembali tidur. "Kok tidur lagi. Tuan bangun, ayo makan malam. Ini sudah waktunya makan malam" Lily menepuk-nepuk tangan Edward.
Edward menahan senyum. Dia ingin iseng kepada Lily lebih lama. "Apa orang tampan kalau tidur seperti kebo susah di bangunin" gumam Lily.
Edward yang dibilang kebo langsung membuka mata. "Siapa yang kamu bilang kebo Lily?" Edward duduk di atas ranjang.
Melihat Edward duduk di atas ranjang, Lily membolakan mata dan memukul-mukul mulutnya pelan dengan tangannya. "Bodoh sekali kamu Lily" Lily menutup mulutnya.
"Kamu bilang saya kebo Lily" Edward menatap Lily dengan tatapan khasnya. Lily yang di lihat Edward seperti itu jadi salah tingkah dan menundukkan kepala.
"Tidak seperti itu Tuan, sa-ya hanya eeemmm ..." Lily gugup, dia takut kalau salah bicara akan membuat Edward marah lagi.
Grraaaappp
Edward menarik tangan Lily yang berdiri tertunduk dipinggir ranjang. Aaahhhhh ... Lily terduduk di pangkuan Edward.
"Tuan" Lily mencoba berdiri dari pangkuan Edward. Tapi Edward menahan Lily untuk tetap duduk dipangkuannya.
Tatapan Edward menghipnotis Lily untuk tetap diam. Meskipun Lily sudah beberapa kali bertatapan cukup dekat dengan Edward, Lily tetap saja masih gugup dan malu.
"Kamu bicara apa tadi, heemm?" Edward bertanya dengan lembut sambil menatap Lily penuh kasih.
__ADS_1
Lily merasakan perasaan yang tidak pernah dia rasakan kepada siapapun sebelumnya, perasaan bahagia saat Edward menyentuhnya bahkan dia tidak ingin kehilangan sosok laki-laki yang sedang memangkunya sekarang.
"Apa saya tampan?" tanya Edward menggoda Lily. Lily hanya mengangguk, dia malu menatap Edward sedekat itu.
"Saya dengan Leon, tampan siapa?" tanya Edward penasaran dengan jawaban Lily. Lily malu menjawabnya, dia memainkan ujung kaos yang dia pakai.
"Tuan" Jawab Lily sambil menunduk malu. Edward mendengar jawaban Lily tersenyum bahagia. Edward merapikan rambut Lily kebelakang telinga.
"Saya akan memberi syarat kepadamu, kalau kamu masih ingin kerja di sini. Kamu mengerti Lily" ucap Edward mengelus pipi Lily dengan ibu jari.
"Syaratnya apa Tuan?" Tanya Lily. Lily berhadapan sangat dekat dengan Edward.
"Ayo kita makan dulu. Saya sudah lapar" Edward menoel hidung mancung Lily. Lily lalu turun dari pangkuan Edward dan berdiri disamping ranjang. Mereka berdua keluar kamar menuju dapur.
"Kamu masak apa Lily. Aromanya sangat harum" Edward mencium aroma masakan Lily sebelum duduk di meja makan.
"Lanchashire Hotpot dan Roast Meat, Tuan" Jawab Lily. " Sepertinya enak" Edward melihat masakan Lily dimeja.
Roast meat adalah daging panggang. Bahan dasar untuk membuat olahan ini adalah daging iga sapi, kamping atau bahkan daging ayam, kemudian dipanggang di dalam oven sekitar 2 jam.
"Mulai sekarang kamu harus masak buat saya Lily" Edward mengambil Lanchashire hotpot.
Edward dan Lily menikmati makan malam dengan perasaan bahagia. Mereka makan begitu nikmat. Sampai semua makanan di depannya habis tidak tersisa.
"Kita akan membicarakan pekerjaan barumu Lily. Setelah mencuci piring, temui saya di ruang kerja" Edward berdiri dari kursi menuju ruang kerja.
"Baik, Tuan Edward" Lily membersihkan meja makan. Lily merasa bahagia, karena dia akan bekerja kembali.
Lily membersihkan semua piring kotor dengan sangat cepat, karena Lily ingin mengetahui syarat yang akan di ajukan oleh Edward.
Di dalam ruang kerja Edward menulis syarat-syarat yang harus dipatuhi oleh Lily, untuk tetap kerja bersamanya.
__ADS_1
Tok ... tok ... tookk
"Masuk Lily" ucap Edward dari dalam ruang kerja. Lily membuka pintu dan masuk ke ruang kerja Edward.
"Duduk Lily" Edward menyuruh Lily untuk duduk di sofa. Lalu Edward menyerahkan kertas dan duduk di samping Lily.
Lily mengambil kertas yang diberikan Edward. "Apa ini tuan?" Tanya Lily binggung. "Baca dulu Lily, Kalau ada yang kurang ngerti, kamu bisa tanyakan kepada saya" ucap Edward.
Lily lalu membaca dengan seksama. Mulai dari poin satu sampai selesai. Lily setuju dengan semua syarat yang ditulis Edward, tapi ada beberapa syarat yang dia tidak paham maksudnya. Salah satunya adalah kalau Lily tidak boleh berdekatan dengan Leon, asisten pribadinya.
"Tuan, Kenapa saya tidak boleh dekat-dekat dengan Pak Leon?" Lily sedikit binggung.
"Pokoknya enggak boleh!! Kalau kamu melanggar salah satu di kertas itu, maka kamu tidak akan bekerja dengan saya, kamu paham Lily" Edward mensentil dahi Lily.
"Aauuuwww ... sakit Tuan" Lily menggosok dahinya. "Makanya nurut. Kalau tidak nurut, saya akan menghukummu Lily" Edward berdiri mengambil bolpoin.
"Sekarang kamu tanda tangan di sini" Edward menunjuk tempat yang ada nama Lily dibawahnya.
Lily mengambil bolpoin dari tangan Edward. Lalu dia tanda tangan diatas kertas yang dia baca.
"Sudah Tuan" Lily mengembalikan kertas dan bolpoin kepada Edward yang berdiri di sebelahnya.
Edward lalu membaca dan melihat sekilas kertas yang dipegangnya tersebut.
"Oke. Mulai sskarang kamu harus menggurus apartemen saya dengan baik. Kamu juga harus masak setiap hari untuk saya. Yang paling penting kamu tidak boleh bertemu dengan Leon tanpa sepengetahuan saya. Kamu paham Lily?" Edward melipat tangannya di dada.
"Saya paham Tuan. Jadi sekarang saya tidak lagi bekerja di kantor Tuan?" tanya Lily.
"Tidak. Kamu harus fokus kuliah dan bersih-bersih apartemen dan memasak buat saya" Jawab Edward.
Lily merasa bahagia. Akhirnya dia bisa kuliah seperti yang dia impikan. Selain itu dia juga masih bisa bekerja dan menghasilkan uang untuk makan sehari-hari.
"Terima kasih Tuan" Lily memperlihatkan senyum manisnya kepada Edward.
Cup
To be continue ....
__ADS_1
...----------------...