Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 44. Orang Istimewa


__ADS_3

"Aku pulang. Lily kamu dimana?" Edward mencari Lily di seluruh penjuru ruangan apartemen, tapi tidak ketemu.


"Dimana Lily? Apa dia dikamar? jangan-jangan Lily memakai lingeri "Edward senyum-senyum tidak jelas.


Edward masuk kedalam kamar Lily. Edward terkejut saat melihat Lily tidur dengan tengkurap, kepalanya di atas buku-buku berserakan diatas ranjang.


Edward lalu menghampiri Lily. Dia merapikan buku-buku Lily di atas ranjang. Kepala Lily diangkat Edward. Buku yang dibuat bantal Lily diambil Edward dan diganti dengan bantal.


Edward senyum-senyum sendiri. Melihat Lily tidur seperti bayi. Edward merapikan rambut Lily ke samping.


"Cantik" puji Edward. Edward lalu mengambil ponsel dari dalam sakunya dan memotret Lily yang sedang tidur cantik.


Edward lalu menyelimuti Lily. Setelah itu Edward keluar dari kamar Lily. Esward berendam air hangat dengan harum aromaterapi.


Cukup menenangkan Edward karena seharian mengurusi perusahaan Global State Company. Sebentar lagi akan jatuh ketangannya.


Flashback On


[Selamat siang Tuan Edward] sapa Tuan Thomas.


[Selamat siang Tuan Thomas Green. Bagaimana Tuan Thomas? Apa Peter mau melepas perusahaannya?] Sapa Edward balik.


[Belum Tuan Edward. Tapi tenang saja, Saya kasih waktu 1 minggu untuk memikirkan tawaran saya Tuan. Dia pasti akan menerima tawaran saya. Dia tidak punya pilihan lain selain dapat pinjaman modal] ucap Tuan Thomas.


[Saya tahu Tuan Thomas. Dia sudah tidak punya jaminan sebagai cadangan lagi] ucap Edward.


[Tuan Edward, Kalau boleh saya tahu kenapa anda begitu sangat tertarik dengan perusahaan Global State Company. Padahal perusahaan anda sudah besar] tanya Tuan Thomas.


[Aku akan memberikan perusahaan itu kepada seseorang sebagai hadiah ulang tahun Tuan Thomas] jawab Edward.


[O ... sepertinya dia sangat istimewa untuk Tuan Edward?]tebak Tuan Thomas.


[Iya Tuan Thomas. Dia sangat istimewa buat saya] Edward tersenyum meskipun Tuan Thomas tidak melihatnya.


[Jadi penasaran siapa orang istimewa yang anda maksud Tuan Edward]


[Nanti Tuan Thomas akan tahu kalau Global State pindah kepemilikan] ucap Edward.


[Baiklah, semoga rencana Tuan Edward berjalan dengan lancar] ucap Tuan Thomas.


[Terima kasih Tuan Green. Salam untuk Nyonya Green. Nanti kalau Tuan Green ada waktu senggang, kita makan malam bersama] ucap Edward.


[Siap Tuan Edward saya tunggu undangan makan malamnya, salam untuk Tuan Gabriel]


[Tentu, nanti saya sampaikan kepada Grandpa. Grandpa yang menyarankan kepada saya, untuk meminta bantuan anda Tuan Thomas]


[Kapanpun Tuan Gabriel dan Tuan Edward meminta bantuan saya, saya akan membantu kalian. Saya sudah banyak berhutang budi kepada Tuan Gabriel]

__ADS_1


[Semoga kita selalu bisa kerja sama dengan baik Tuan Thomas]


[Saya senang bisa membantu cucu Tuan Gabriel]


[Terima kasih Tuan Thomas] ucap Edward.


Flashback off


"Segar sekali setelah berendam" gumam Edward.


Edward pergi ke walking closet di pilih-pilih baju untuk dipakai. Setelah selesai ganti baju, Edward keluar kamar. Dia sangat lapar, akhirnya dia ke meja makan.


"Lily pasti belum makan?" Edward garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


Edward masuk kedalam kamar Lily. Lily masih tidur. Edward mau membangunkan Lily jadi tidak tega. Akhirnya dia memutuskan rebahan di sofa kamar Lily.


Edward tertidur karena lama menunggu Lily tidak bangun-bangun. Edward tidur disofa dengan menggunakan bantal kecil sebagai bantal kepalanya.


Jam 9 malam Lily terbangun dari tidurnya. Dia mengucek-ngucek matanya. Lily duduk dikasur dan melihat sekitar kasur.


"Buku-bukuku sudah rapi. Siapa yang membersihkannya" Lily bingung.


Saat turun dari ranjang, Lily melihat ke sofa panjang. Lily kaget saat melihat Edward tidur di Sofa dengan meletakan kedua tangannya di atas dada.


"Tuan? Tuan tidur disini? Apa Tuan Edward yang membereskan semua buku-bukuku?" tebak Lily.


Lily keluar kamar. Dia mengecek makanan didapur. Ternyata makanannya sudah dingin. Lily lalu memanaskan kembali makanannya.


"Sudah hangat. Aku akan bangunkan Tuan Edward, dia belum makan" gumam Lily.


Lily lalu masuk kamar dan membangunkan Edward. Dia mengoyang-goyang lengan Edward, tapi Edward tidak bangun juga.


Saat Lily akan pergi, tangan Lily ditarik Edward. Sehingga Lily jatuh di atas tubuh Edward.


"Mau kemana kamu" Edward meminggirkan rambut Lily samping.


"Tuan sudah bangun" Lily gugup.


Lily mencoba bangun tapi kakinya dikunci oleh Edward. Lily mencoba melepaskan diri dari atas tubuh Edward tapi malah semakin erat.


"Kamu tidak bisa kemana-mana Lily" Edward tersenyum. Lily sudah dag dig dug tidak karuan.


"Kenapa jantungmu berdebar sangat kencang Lily?" Edward menggoda Lily.


Lily memalingkan wajahnya kesamping. Dia malu menatap Edward. Ingin rasanya dia menutup wajahnya pakai masker. Supaya Edward tidak melihat wajahnya.


"Tetap seperti ini 5 menit" Edward memeluk Lily Erat.

__ADS_1


Lily meletakkan kepalanya didada Edward. Lily merasa nyaman dan tenang. Jantungnya perlahan netral. Tidak sekencang tadi.


Mereka berdua saling diam, tidak ada yang berbicara. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Sudah 5 menit, ayo kita makan" Edward duduk di sofa dengan memangku Lily.


"Ingin sekali aku memakanmu Lily. Tapi di Noveltoon dilarang adegan panas. Jadi kita yang manis-manis saja" ucap Edward.


"Kok Noveltoon Tuan? apa hubungannya?" tanya Lily.


"Tidak Lily. Aku hanya bercanda. Ayo kita makan saja. Aku sudah lapar" Edward mengelus perutnya.


Edward mengendus-endus ceruk leher Lily. Aahh Tuan geli. "Harum sabun ini jangan diganti Lily, aku suka baunya" ucap Edward.


"Iya Tuan. Perintah Tuan adalah titah buat saya"


Edward beradu hidung mancung dengan Lily. Edward menempelkan hidungnya ke hidung Lily. Lalu Edward mengecup bibir Lily.


"Lily dengarkan aku. Jangan pernah dekat dengan laki-laki manapun. Nanti kalau kuliah, jangan punya teman laki-laki harus perempuan" posesif Edward.


"Iya Tuan. Tuan selalu mengulang-ulang pesan itu terus. Memang kenapa kalau saya punya teman laki-laki Tuan?"


"LILY! jangan bikin aku marah ya. Mau kamu aku suruh kamu pakai lingeri lagi?"


"Tidak. Tuan jangan, saya ingin pakai pakaian yang normal saja" ucap Lily.


"Makanya jangan bikin aku marah" ucap Edward.


"Iya Tuan. Maaf" Lily memegang kedua telinganya dengan tangan.


"Ayo makan saja" ucap Edward dengan nada kesel.


"Edward, mengendong Lily didepan. Lily mengeratkan pegangannya di leher Edward.


"Tuan, aku turun saja" ucap Lily.


"Jangan berisik Lily. Diam saja. Mau aku jatuhin ke lantai?"


"Tidak Tuan" Lily mengeleng.


"Makanya menurut saja. Jangan berisik" Edward mendudukan Lily dikursi ruang makan.


Mereka berdua makan bersama dengan tenang. Meskipun sudah telat untuk makan malam, tapi mereka berdua menghabiskan makan malam buatan Lily.


Cinta tidak butuh alasan, karena cinta bukan sebuah alasan.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2