Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 55. Penawaran Leon


__ADS_3

Lily bangun tidur langsung cuci muka dan gosok gigi lalu pergi ke dapur. Hari ini dia akan masak kesukaan Edward.


Lily ingin masak kesukaan Edward untuk menyuap Edward supaya tidak marah lagi. Pagi ini rencananya Lily akan memberitahu siapa itu Bryan.


"Tuan pasti masih tidur. Biarlah nanti akan aku bangunkan kalau sudah selesai memasak" gumam Lily.


Lily memasak Gulaschsuppe. Makanan khas yang satu ini berupa sup kuah kental, terbuat dari daging sapi atau daging babi sebagai bahan utama. Daging-daging tersebut dipotong agak besar dan disajikan dengan roti. Kalau di Indonesia, hampir sama dengan sup merah.



Setelah selesai masak. Lily mengetok pintu kamar Edward. Beberapa kali di ketok tidak ada jawaban. Akhirnya Lily mencoba membuka pintu kamar Edward.


Cekleeekkk


"Tidak terkunci" gumam Lily.


Lily masuk kamar Edward, dia shock karena kamar Edward seperti kapal pecah. Semuanya berada dilantai termasuk bantal dan guling serta selimut.


"Kenapa kamar Tuan Edward berantakan sekali. Apa yang sebenarnya dia lakukan. Apa dia membuang semua barang-barang ini kelantai" Lily melipat tangannya didada.


Lily mengambil satu per satu barang yang ada di lantai. Dia meletakkan ketempat semula.


Setelah rapi, Lily mencari Edward. Dia memanggil-manggil nama Edward. Tapi tidak ada sautan dari yang bersangkutan.


Lily berjalan ke walking closet tidak ada juga. Lily menuju ke kamar mandi tidak ada suara air. Lily memanggil Edward, tetap tidak ada suara.


"Apa Tuan tidur dikamar mandi?" gumam Lily.Lily memberanikan diri membuka kamar mandi.


"Tu aann ..."


Lily tidak melihat Edward dikamar mandi. Dia bingung, kemana Edward pagi-pagi sudah tidak ada dikamar.


"Apa Tuan sudah berangkat ke kantor? pagi-pagi seperti ini? atau jangan-jangan Tuan pergi setelah dari kamarku" Lily menebak-nebak.


Lily keluar kamar. Dia masuk kedalam kamar dan mengambil ponsel.


"Aku akan coba menelpon Tuan Edward" Lily menekan nomer Edward.


"Kenapa tidak aktif" Lily berpikir.


"Kalau begitu, aku akan mandi dan siap-siap pergi ke kantor setelah itu aku ke kampus"


Lily berniat pergi ke kantor Edward membawakan makanan yang dia buat untuk sarapan Edward.


Ponsel Lily bergetar. Lily mendapat pesan singkat. Lily lalu membukanya.


"Lily. Tuan Edward menyuruhku mengantarmu berangkat ke kampus. Bersiap-siaplah, aku menunggumu di bawah" pesan singkat yang ditulis Leon.


"Berarti Tuan sudah berangkat duluan. Apa ada meeting penting sampai Tuan berangkat sepagi ini" gumam Lily.

__ADS_1


Lily lalu menyiapkan sarapan untuk Edward di tempat makan yang akan dia bawa ke kantor. Tidak lupa dia juga membawa 1 kotak makan untuk Leon.


Harusnya itu sarapan untuk Lily, tapi karena Edward tidak sarapan bersama dia. Sarapan yang harusnya dia makan di kasihkan kepada Leon.


Setelah beres Lily turun kebawah. Dia menemui Leon yang sudah stand by menunggunya dibawah atas perintah Edward.


"Pak Leon menunggu lama?" tanya Lily.


"Tidak juga, baru 10 menit" jawab Leon.


"Apa hari ini ada meeting penting?" tanya Lily.


"Tidak. Ada meeting tapi meeting dengan klien biasa" jawab Leon.


"Kenapa Lily?" tanya Leon.


"Ah tidak. Kenapa Tuan Edward berangkat pagi-pagi sekali?" tanya Lily.


"Mungkin Tuan ada urusan lain" jawab Leon.


"Emm begitu ya" gumam Lily.


"Apa itu yang kamu bawa Lily?" tanya Leon.


"Ini sarapan untuk Tuan Edward. Tuan pergi sebelum aku bangun, jadi Tuan Esward tidak sempat sarapan" jawab Lily.


"Bukan pak. ini untuk Pak Leon, karena kebetulan masaknya kebanyakan. Sayang kalau dibuang Pak" Lily beralasan.


"Untukku juga. Terima kasih Lily" ucap Leon.


"Lily aku boleh tanya sesuatu?" tanya Leon.


"Pak Leon mau bertanya apa?" tanya Lily balik.


"Apa kamu menyukai Tuan Edward" tanya Leon.


DEG


Jantung Lily langsung berdetak sangat cepat. Dia seperti sedang kepergok berselingkuh dengan laki-laki lain.


"Ma-maksud Pak Leon apa ya?" tanya Lily dengan gugup.


"Kamu tidak perlu gugup seperti itu Lily. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku akan membantumu dekat dengan Tuan" ucap Leon.


"Tapi aku harus memastikan kalau kamu benar-benar mencintai Tuan Edward. Tapi kalau sebaliknya, aku akan membantumu menjauhkan dirimu dari Tuan Edward. Keputusan ada ditanganmu Lily" ujar Leon.


Lily tidak tahu harus menjawab seperti apa. Lily masih mencerna pertanyaan Leon dengan baik. Dia takut dibilang lancang kalau dia mengakui dirinya mencintai Edward.


"Aku kasih kamu waktu 3 hari dari sekarang Lily. Semoga kamu bisa mengambil keputusan dengan tepat" ucap Leon.

__ADS_1


Lily menelan salivanya. Dia benar-benar gugup dengan pertanyaan Leon. Lily tidak pernah menyangka kalau Leon bertanya pertanyaan seperti itu kepadanya.


"Sudah sampai Lily. Kamu bisa turun, nanti kamu terlambat masuk kelas" Leon menghentikan mobilnya.


"Iya Pak Leon, terima kasih. Saya titip sarapan ini untuk Tuan dan 1 lagi untuk Pak Leon" Lily memberikan 2 kotak makanan kepada Leon.


"Nanti aku berikan kepada Tuan muda. Terima kasih, kamu sudah memberikanku ini" Leon menunjuk kotak yang diberikan untuknya.


"Sama-sama Pak Leon. Saya turun dulu" Lily turun dari mobil.


Setelah Lily turun dari mobil. Leon langsung tancap gas ke arah kantor. Leon merasa ada yang tidak beres dengan bosnya. Tidak biasanya dia ke kantor pagi-pagi.


Sedangkan Lily sepanjang jalan menuju kelas terus memikirkan perkataan Leon. Lily sampai lupa kalau sebenarnya dia ingin memberikan makanan itu sendiri kepada Edward.


Karena pertanyaan Leon. Perhatian Lily teralihkan, dia sampai lupa kalau harusnya dia ke kantor dulu baru ke kampus.


"Lily" Chelsea memanggil Lily.


Lily terus berjalan. Dia tidak mendengar panggilan Chelsea karena melamun. Chelsea sedikit berlari mengejar Lily.


"Lilyyy" Chelsea menepuk pundak Lily.


Lily kaget. Dia tersadar dari lamunannya. Dia menenggok dan tersenyum kepada Chelsea.


"Chelsea. Kenapa Nggos-nggosan seperti itu? kamu berlari?" tanya Lily.


Chelsea mengatur nafasnya. Mereka berdua berhenti berjalan dilorong kampus. Lily memandang Chelsea dengan kasihan.


"Ini karena kamu Lily" ucap Chelsea dengan mengelus dadanya.


"Aku? Kenapa dengan aku?" tanya Lily.


"Aku dari tadi memanggilmu tapi kamu sepertinya tidak mendengar panggilanku. Makanya aku berlari mengejarmu" jawab Chelsea.


"Maafkan aku Chelsea. Aku tidak mendengar panggilanmu tadi" ucap Lily polos.


"Kamu melamun ya" tebak Chelsea.


"Tidak. Mungkin banyak mahasiswa berjalan sambil bicara dengan teman-temannya. Jadi aku tidak mendengar panggilanmu" ucap Lily mencari alasan.


"Apa iya seperti itu?" Chelsea melihat Lily dengan tatapan curiga.


"Sudahlah. Ayo kita maauk kelas. Nanti kita berlambat" Lily mengandeng tangan Chelsea.


Mereka berdua berjalan masuk kelas. Dari belakang seorang mahasiswa laki-laki menepuk pundak mereka.


"Lily"


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2