
"Tuan yang membawaku ke Rumah sakit?" tanya Lily.
"Saya"
Laki-laki lebih muda dari Edward masuk kedalam kamar Lily. Edward dan Lily menoleh ke arah pintu. Lily merasa pernah melihat orang yang berjalan ke arahnya.
"Masih ingat saya Lily?" Tanya Arthur.
Lily mencoba mengingat-ingat laki-laki tersebut. Sedangkan Edward menatap Lily dengan intens.
"Apa kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Edward.
"Iya. Kami pernah bertemu tidak sengaja 2 kali" ucap Arthur.
Seketika Lily ingat orang yang asing yang berada di dalam kamarnya saat ini.
"Selamat pagi Tuan Arthur. Maaf saya baru mengenali anda. Apa anda yang membawa saya ke sini?" tanya Lily.
"Iya Nona Lily. Kamu pingsan di kampus. Kebetulan saya berada di kampus kamu kemarin. Jadi saya membawa kamu ke Rumah sakit karena keadaan kamu sangat lemah" jawab Arthur.
"Terima kasih Tuan Arthur. Saya merepotkan anda. Bagaimana saya menganti semuanya?" tanya Lily.
"Tidak merepotkan sama sekali nona Lily. Kebetulan saya juga mengenal Tuan Edward jadi sudah sepantasnya saya membantu teman saya" jawab Arthur.
"Terima kasih Tuan Arthur" Edward duduk di ranjang Lily.
"Sama-sama Tuan Edward. Saya kesini untuk menjenguk Nona Lily, sekalian saya mau pamit kembali ke Paris. Tugas saya juga sudah selesai. Waktunya saya melapor kepada daddy saya" ucap Athur.
"Sampaikan salam saya untuk Tuan Edgar. Nanti kalau kesini lagi, kita makan bersama dengan Grandpa juga" ucap Edward.
"Nanti saya sampaikan kepada daddy Tuan Edward. Nona Lily semoga lekas sembuh, ada hadiah special saat nanti kamu ulang tahun dari seseorang" Arthur mengedipkan matanya kepada Lily dan tersenyum kepada Edward.
Edward tersenyum malu. Dia menahan senyumannya supaya tidak terlihat Lily maupun Arthur.
Arthur menjabat tangan Edward dan mengusap rambut kepala Lily. Setelah itu Arthur meninggalkan kamar VIP Lily.
Edward menatap Lily secara intens. Lily yang dilihat Edward seperti itu sudah tahu kalau Edward menuntut jawaban.
"Ada yang ingin kamu ceritakan kepadaku sayang?" Edward melipat tangannya di depan dada.
"Soal apa Tuan?" Lily melihat ke arah Edward lalu menghadap kedepan.
"Ya sudah kalau tidak mau cerita. Aku akan pergi ke depan" ucap Edward.
"Iya baiklah. Tuan Arthur ternyata orang yang menabrakku waktu kita belanja ke Mall. Aku tidak sengaja bertemu lagi waktu aku belanja di supermarket. Sudah itu saja Tuan, tidak ada yang special" cerita Lily.
__ADS_1
Edward mangguk-mangguk. Dia tidak merespon apapun terkait pertemuan mereka.
"Ya sudah aku akan keluar sebentar. Aku ingin membayar tagihan kamarmu dulu" Edward mengambil dompet dan Ponsel di meja.
"Nanti potong gajiku saja Tuan?" ucap Lily.
"Gajimu sudah habis aku potong. Kalau aku potong semua, kamu tidak akan gajian setiap bulan" tutur Edward.
"Terus aku bayar pakai apa Tuan. Pakai tubuhmu" Edward tertawa ngakak.
Lily langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Dia memicingkan matanya kepada Edward. Edward tertawa ngakak melihat ekspresi ketakutan Lily.
"Sudah kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Aku pergi dulu" Edward mencium pucuk kepala Lily lalu mengecup bibir Lily sekilas.
Edward pergi dari kamar Lily. Edward pergi ke bagian Administrasi. Seharusnya dia bisa menyuruh Adam untuk melakukan hal itu, tapi terlalu lama karena masih nanti sore.
Lily kembali rebahan di atas ranjang rumah sakit. Lily bosan, akhirnya dia membuka Artikel berita. Belum Sempat Lily membaca teman- teman Lily datang menjenguknya.
"Lilyyyy" sapa Chelsea saat masuk kamar Lily.
"Kalian ada disini" ucap Chelsea.
Chelsea dan Alicia memeluk Lily. Sedangkan Bryan, Toni, Diego dan Taylor hanya berjabat tangan. Mereka senang melihat Lily sudah bisa duduk sendiri dan terlihat lebih sehat dari kemarin.
"Aku sangat mengkhawatirkanmu Lily. Tiba-tiba saja kamu pingsan dan muka kamu pucat sekali kemarin" ucap Chelsea.
"Perempuan ganjen" tutur Tony.
"Ih memang ganteng. Dari pada kamu burik" balas Alicia.
"Jangan begitu nanti lama-lama kalian suka lo" ucap Lily.
"Idih. Suka sama perempuan modelan seperti dia. Tidak ada akan pernah Lily" ucap Tony.
"Heeehh. Memangnya aku sudi jadi kekasih kamu. Laki-laki suka ************ modelan sepertimu. Suka gonta-ganti perempuan tiap malam. Hiiii ... Aku tidak mau tertular penyakit" ejek Alicia.
"Siapa yang punya penyakit. Kamu itu perempuan ganjen. Semua laki-laki di goda. Memangnya kamu tidak ngaca. Badan krempeng sepertimu siapa yang bakalan suka. Aku saja mikir 10 ribu kali untuk suka sama kamu" balas Tony.
"Biarin saja krempeng tapi yang melirik banyak. daripada kamu cuma dimanfaatin badannya doang" Alicia balas meledek Tony.
"Sudah, sudah, sudah. Kalian ini apa-apan sih. Kita kesini mau jenguk Lily, bukan mendengarkan kalian saling ledek" Bryan menengahi.
"Dia duluan yang mulai Bryan" Alicia tidak terima di salahkan.
"Enak saja. Kamu yang menghinaku dulu" Tony tidak mau kalah.
__ADS_1
"STOP" Taylor memisahkan mereka.
"Kalau kalian ingin berantem. Silahkan dilanjutkan di luar. Jangan ganggu Lily istirahat" ucap Tylor.
Tony dan Alicia akhirnya diam. Mereka saling memicingkan mata permusuhan. Yang lainnya hanya geleng-geleng. Lily tersenyum melihat perdebatan Alicia dan Tony.
"Bagaimana keadaanmu Lily" tanya Taylor.
"Sudah cukup kuat tidak selemas kemarin. Pusingnya juga sudah lumayan hilang" jawab Lily.
"Syukurlah kau begitu. Maaf kemarin aku tidak jadi kesini" ucap Taylor.
"Tidak apa-apa Taylor. Aku juga kemarin belum sadar. Sekarang kalian kesini saja aku sudah sangat senang" ucap Lily tersenyum.
"Kita membawakan buah dan Roti untukmu Lily. Nanti dimakan ya" Diego meletakkan bawaannya ke atas meja.
"Itu tas paman yang kemarin mengantar kamu ya Lily?" tanya Chelsea. Dia menunjuk tas baju Edward diatas Sofa.
Lily panik. Ekspresi wajahnya gugup. Saat Chelsea melihat tas Edward. 'Jangan sampai Tuan kesini sebelum mereka pergi' batin Lily.
"Eemm I-itu tas aku" ucap Lily bohong.
"O ... kirain tas om yang mengantar kamu kemarin Lily" ucap Chelsea.
"Bukan" Lily tersenyum canggung.
"Om yang kemarin kemana Lily? aku tidak melihatnya?" tanya Alicia.
"Kamu sama siapa di sini Lily?" tanya Bryan.
"Om yang kemarin sudah pulang. Aku sendiri disini" ucap Lily dengan ekspresi canggung.
"Apa mau aku temani Lily?" tanya Chelsea.
"Tidak usah. Kata dokter, besok aku sudah boleh pulang" Lily berbohong.
Lily mengirim pesan kepada Edward. Lily melarang Edward masuk kamar karena ada teman-temannya. Lily takut kalau teman-temannya melihat dosen praktisi di kampusnya masuk kedalam kamar inapnya.
Tapi sayangnya pesan singkat yang kirim Lily tidak ada respon, tidak dibaca oleh Edward. Muka Lily panik, dia tidak tenang.
"Kamu kenapa Lily. Muka kamu gugup sekali" tanya Tony.
"Ti ..."
"Aku belikan mu anggur Li ..."
__ADS_1
"Pak Dosen" ucap teman-teman Lily serempak.
To be continue ....