Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 89. Gabriel Sadar


__ADS_3

"E-ed-waaarrdd" Gabriel bersuara lirih dan terbata-bata.


"Grandpaaaa!" Edward spontan berteriak memanggil Gabriel saat dia mendengar suara Gabriel dengan lirih.


"Grandpa ini Edward Grandpa. Grandpa sudah sadar" Edward mencium tangan Gabriel berkali-kali.


"dokter ... Suster. Cepat ke sini. Grandpa sudah sadar" Edward berteriak-teriak seperti di rumahnya sendiri.


dokter Luis dan beberapa suster menghampiri Edward dan Gabriel. Edward sedikit mundur, memberikan ruang kepada dokter Luis dan perawat untuk memeriksa Gabriel.


"Kamu tidak perlu khawatir Edward. Tuan besar sudah melewati masa kritis. Aku memberinya obat, 1 sampai 2 jam lagi Tuan akan membuka mata. Setelah itu kita akan memindahkan Tuan ke ruang perawatan" ucap dokter Luis.


"Terima kasih dokter Luis" Edward memeluk dokter Luis sangat erat.


"Aku harus menggurus pasien yang lain Edward. Aku pergi dulu. Tuan besar sudah tidak apa-apa. Hanya butuh banyak istirahat dan tolong di jaga, jangan sampai stres dan banyak pikiran" pesan dokter Luis.


"Iya dokter Luis. Aku akan menjaga Grandpa dengan baik" jawab Edward.


"Edward Tuan besar sangat menyayangimu. Jangan kecewakan dia dan jangan pernah meninggalkan Tuan besar" ucap dokter Luis.


dokter Luis meninggalkan Edward dan Gabriel. Hanya tinggal beberapa perawat yang mencabut alat-alat yang sudah tidak diperlukan lagi.


Setelah dipindahkan ke ruang perawatan hanya Edward yang berada di dalam. Leon dan yang lainnya menunggu di luar. Mereka sangat senang mendengar berita kalau Tuan besar mereka sudah melewati masa kritis dan sudah sadar.


"Lily. Terima kasih. Kamu sudah membawa Tuan muda kembali ke sini" ucap Leon.


"Edward sangat menyayangi kakeknya Pak Leon. Sudah pasti Edward akan kembali. Apalagi mendengar Tuan besar tidak sadarkan diri. Dia pasti akan langsung menemui Tuan Besar" Jawab Lily.


"Aku tahu. Tuan Muda tidak akan membiarkan Tuan Besar melewati hari-harinya tanpa Tuan Muda" ucap Leon.


"Pak Leon. Maafkan Edward sudah terlalu keras kepadamu. Dia hanya tidak tahu bagaimana harus mengambil keputusan di saat dia emosi" ucap Lily.


"Tidak apa-apa Lily. Aku juga salah. Aku sudah ceroboh malam itu. Tuan muda benar, kalau saat itu Tuan Besar tiba-tiba jantungnya kumat. Tidak ada Aku maupun Ferdinand, maka tidak akan ada yang membawa Tuan Besar kerumah sakit" jawab Leon.


Mereka kembali terdiam. Lily bersandar di pundak Bibi Ema yang sedari tadi memeluknya.


"Lily masuklah" perintah Edward.


Lily berdiri dan melihat Leon dan yang lainnya. Leon,Ferdinand dan Bibi Ema mengangguk. Dia mempersilahkan Lily masuk.

__ADS_1


Lily menghampiri Edward di tengah pintu. Pintu ruang perawatan langsung di tutup saat Lily masuk ke dalam ruang perawatan.


"Grandpa, ini Lily. Calon Istri Edward. Calon cucu mantu Grandpa" Edward memperkenalkan Lily kepada Gabriel yang masih lemas.


"Li-Lily" ucap Gabriel.


"Tuan besar harus cepat sehat ya. Edward sudah ada di sini. Edward akan menjaga Tuan besar. Tuan besar harus sehat kembali. Supaya nanti Kita bisa merayakan pernikahan kami dengan bahagia bersama Tuan besar" Lily tersenyum.


Gabriel tersenyum dan menganggukkan kepala. Dia belum bisa banyak bicara.


"Grandpa harus sembuh. Edward ada disini" Edward mencium tangan Gabriel.


Gabriel menangis. Air mata Gabriel keluar dari sudut mata kiri dan kanan. Edward menghapus air mata Gabriel.


"Kenapa Grandpa menangis? Grandpa senang Edward ada di sini, di samping Grandpa?" tanya Edward.


Gabriel menanggukkan kepalanya kembali. Gabriel sangat bahagia, saat dirinya sakit, Edward ada di sampingnya dan menemaninya.


"Grandpa istirahat ya. Edward akan menjaga Grandpa di sini. Edward tidak akan pergi kemana-mana" Edward mengecup kening Gabriel.


Gabriel akhirnya tidur. Edward menyuruh Lily untuk tidur di tempat tidur penunggu. Sedangkan Edward menyuruh Leon, Ferdinand dan Bibi Ema pulang.


"Leon. Urus perusahaan selama aku menjaga Grandpa disini. Kabari aku kalau ada yang penting" perintah Edward.


"Baik Tuan muda" Jawab Leon.


"Paman, Tolong jaga rumah selama aku ada di sini dan Leon di kantor" perintah Edward.


"Baik Tuan Muda" jawab Ferdinand.


"Bibi Ema, Tolong buatkan makanan kesukaan Grandpa. Nanti biar Paman Ferdinand yang mengantarkan Bibi Ema ke sini" ucap Edward.


"Baik Tuan Muda" Jawab Bibi Ema.


"Kalian bisa pulang dan mandi di rumah. Barang-barangku dan Lily. Tolong di bawa ke kamarku Paman" ucap Edward.


"Iya Tuan Muda" jawab Ferdinand.


Mereka bertiga akhirnya pulang bersama. Edward dan Lily menjaga Gabriel di ruang perawatan.

__ADS_1


"Sayang. Kamu bisa tidur di tempat tidur" ucap Edward.


"Aku juga ingin menjaga Tuan besar sayang" ucap Lily.


"Kita bergantian kamu tidur dulu. Nanti kamu bisa menjaga Grandpa saat kamu sudah bangun tidur" ucap Edward.


Itu cara terbaik yang dilakukan Edward, supaya tunangannya bisa tidur. Edward tahu badan Lily pasti masih capek.


Selain perjalanan jauh. Lily juga habil di jebol gawangnya. Pasti masih nyeri dan tidak nyaman.


"Baiklah. Aku akan tidur sebentar" ucap Lily.


Lily pindah dari Sofa ke tempat tidur. Dia merebahkan dirinya di kasur yang lumayan besar dan nyaman.


Edward terus menatap wajah Gabriel yang sudah menua dengan wajah yang sudah keriput. Edward menyadari kesalahannya. Seharusnya dia tidak mengikuti emosinya saat membuat keputusan.


"Maafkan Edward Grandpa. Ini semua salah Edward. Kalau Edward tidak kekanak-kanakan, Grandpa pasti tidak berada disini" Edward menangis.


"Grandpa harus cepat sembuh. Jangan tinggalin Edward Grandpa hiks hiksss" Edward menangis.


Baru kali ini Edward merasakan kesedihan saat Gabriel sakit. Biasanya Edward hanya menjenguk dan tidak pernah menemaninya saat sakit.


Leonlah yang menjaga Gabriel saat Gabriel sakit. Meskipun tidak parah, tapi Gabriel ingin Edward berada disampingnya saat Dia sakit.


Sekarang Edward menyesal karena dari dulu, dia tidak pernah perduli kepada Gabriel. Sekarang dia ingin menjaga kakeknya sendiri.


Dia harus mengawasi makan dan kegiatan Gabriel setiap hari nanti saat Gabriel sudah kembali kerumah.


Edward tertidur di samping Gabriel. Gariel terbangun, dan mengusap rambut Edwar dengan tangan kiri. Karena tangan kanannya di pegang oleh Edward.


Gabriel tersenyum saat melihat cucu kesayangannya berada di samping dirinya dan tertidur saat menunggu dirinya.


Edward sangat nyenyak tidurnya karena semalaman dia tidak tidur dan menjaga Gabriel sampai sadar.


Bahkan air matanya tidak pernah habis selama menunggu Gabriel yang belum sadarkan diri.


Kadang, kasih sayang seseorang itu tidak terlihat oleh orang lain tapi bisa dirasakan oleh orang yang menerimanya.


Kasih sayang kakek kepada cucu adalah kasih sayang yang murni tanpa pamrih. Seperti kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya.

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2