Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 23. Takut Kehilanganmu


__ADS_3

Seharian mood Edward sangat buruk, karena ulah Leon. Edward menganggap semua ucapan Leon itu serius. Bahkan Edward tidak fokus dalam bekerja.


Pulang kerja Edward dan Leon tetap saling diam. Tidak ada yang mau memulai bicara, Walaupun satu mobil. Bibir Leon sudah di obati. Edward juga tidak mau minta maaf.


Edward memandang keluar jendela, sejak naik mobil. Sedangkan Leon fokus menyetir menghadap kedepan.


Mobil Edward telah sampai di depan gedung apartemennya. Belum sempat Leon memarkirkan mobil dengan benar, Leon langsung keluar mobil. Edward masih marah dengan kata-kata Leon.


"Ckckkk ... dasar orang gengsian" gumam Leon. Leon lalu pulang ke rumah utama, rumah kakeknya Edward, Gabriel.


Edward membuka masuk ruangan apartemen. Dia tidak melihat Lily dimana-mana. Bahkan dikamarnya Lily juga tidak ada.


Edward tambah gusar. Dia mondar mandir, sekarang dia benar-benar takut kalau Lily pergi meninggalkan dia.


Kleekk


Pintu apartemen terbuka. Lily membawa banyak barang belanjaan di kedua tangannya. Edward yang melihat Lily kepayahan membawa belanjaan, dia urungkan untuk marah.


"Kamu habis darimana Lily?" Edward membantu Lily membawa 1 kantong plastik besar berisi sayur mayur.


"Saya habis belanja Tuan. Saya tadi ketiduran setelah belajar. Setelah bangun ternyata sudah sore. Jadi saya cepat-cepat berbelanja dan memasak makan malam untuk Tuan" jawab Lily.


"Saya pikir Tuan Edward akan pulang malam, ternyata sudah pulang" Lily meletakkan belanjaannya di atas meja.


"Pekerjaannya sedikit santai, makanya pulang cepat" Edward mengambil air mineral di dalam kulkas.


Lily mengambil satu per satu barang belanjaannya. Dia meletakkan bahan-bahan masakan di dalam kulkas. Lily menatanya dengan sangat rapi. Nanti kalau di butuhkan bisa langsung di ambil tidak perlu kerepotan mencari.


Edward yang sedari tadi memperhatikan Lily, senyum-senyum sendiri. Baginya Lily adalah penyembuh luka dan memberi kebahagiaan baru untuknya.


Cinta adalah salah satu hal paling penting di dunia ini, rasanya hidup semua orang akan lebih baik jika cinta hadir di dalamnya. 


Sekarang Edward sedang jatuh cinta kepada Lily. Tapi dia belum mau mengungkapnya sebelum Lily juga mencintai dirinya.


Pengalaman pahit yang pernah dialami Edward. Ditinggal pergi pas lagi sayang-sayangnya membuat Edward sekarang lebih berhati-hati. Meskipun dia sangat mencintai perempuan tersebut, Edward harus memendam perasaan itu sampai perempuan tersebut juga memiliki perasaan yang sama terhadap dia.


Edward tidak mau lagi, ditinggal perempuan yang dia cintai demi laki-laki lain. Baginya cukup kehilangan Kylie saja dalam hidupnya.

__ADS_1


Kembalinya Kylie kini membuat Edward bimbang. Kylie adalah cinta pertamanya yang belum sepenuhnya bisa dia lupakan. Disatu sisi, Edward tidak mau kehilangan Lily dalam hidupnya.


Apalagi saat mengingat kata-kata Leon tadi siang, membuatnya harus ekstra mengawasi Lily. Sepengetahuan Edward, Lily menyukai Leon. Kalau sampai Leon mewujudkan kata-katanya tersebut, mereka akan Bersama. Edward bisa gila.Mungkin Edward akan benar-benar membunuh Leon.


"Tuan ... Tuaann ...Tuaannn" Lily menepuk tangan Edward. Edward kaget sampai gelas yang di pegangnya jatuh ke meja. Beruntung gelasnya tidak pecah, hanya airnya yang tumpah ke meja.


"Ya ampun Tuan. Tuan Edward kenapa? Tuan Edward melamun ya. Dari tadi dipanggil tidak menjawab" Lily membersihkan air yang tumpah di atas meja.


Edward sedang melamun. Saat Lily memanggilnya berkali-kali, tapi tidak ada sautan dari sang punya nama yang disebut Lily.


"Tuan punya masalah di kantor?" Tanya Lily. " Ah ... tidak. Hanya kecapekan saja" Edward mencari alasan.


"Tuan mandi dulu saja, biar saya masak buat makan malamnya Tuan Edward" Lily mengambil panci untuk meletakkan sayur mayur.


"Tuan mau makan malam apa?" Tanya Lily. "Apa saja Lily. Cepat masak yang enak. Nanti setelah saya mandi, makan malam sudah harus siap" perintah Edward.


"Iya Tuan" Lily mengambil bahan-bahan untuk dimasak dari kulkas.


Edward berjalan menuju kamarnya. Edward rebahan di atas kasur sampai ketiduran. Ponselnya berbunyi beberapa kali, tapi Edward masih tetap terlelap.


Lily sedang memasak shabu-shabu. Dia ingin sekali makan makanan berkuah dari jepang tersebut. Setelah masakan siap Edward belum keluar kamar. Akhirnya Lily pergi ke kamar Edward untuk memberi tahu kalau makan malamnya sudah siap.



Shabu-shabu terdiri dari berbagai macam sayur mayur, jamur, daging ayam yang di hidangkan bersama kuah kaldu yang menyegarkan. 


"Lama sekali Tuan Edward mandi. Tidak biasa dia mandi selama ini" gumam Lily. Lily lalu mengetuk pintu Edward tapi tidak ada jawaban


Lima menit Lily berdiri di depan pintu kamar Edward, Edward masih belum keluar. Pintu kamarnya di ketok Lily berkali-kali juga tidak ada sautan dari orang yang punya kamar.


"Masuk tidak masuk tidak masuk tidak" Lily mondar mandir di depan pintu Edward. Dia menimbang-nimbang akan masuk atau tidak kedalam kamar Edward.


Akhirnya Lily memutuskan untuk masuk ke kamar Edward. Lily membuka pintu kamar Edward. Lily menghela nafas panjang, karena melihat laki-laki yang akhir-akhir ini selalu membuat jantungnya tidak aman tidur diatas ranjang dengan tengkurap.


"Ah ... syukurlah Tuan sedang tidur mungkin kecapekan kerja. Aku sudah berpikir yang tidak-tidak. Aku takut sekali kalau terjadi sesuatu dengan Tuan Edward" Lily memandangi wajah Edward yang menghadap ke kanan dengan posisi tidur tengkurap.


"Tuan Edward memang sangat tampan, kalau sedang tidur seperti bayi. Wajahnya penuh ketenangan dan damai sekali" Lily tersenyum sendiri.

__ADS_1


Triingg ... tringg ... triingg


Bunyi suara ponsel Edward membuyarkan kekaguman Lily terhadap Edward. Laki-laki yang sedikit demi sedikit sudah merasuki hatinya.


"Siapa yang telpon" Lily mencari ponsel Edward. Dia melihat nama Kylie tertera di layar ponsel milik Edward.


"Siapa Kylie?" Lily merasa dadanya sakit. Ada yang terluka tapi tidak berdarah. Lily lalu membangunkan Edward.


"Tuan bangun. Makan malamnya sudah siap. Tuan ... tuan Edward bangun" Lily menepuk-nepuk pipi Edward.


Eeuuugghhhh ... Edward membuka matanya yang masih mengantuk. Dia mengedip- ngedipkan kedua matanya. Lalu dia merubah posisinya menjadi miring.


"Apa ini sudah pagi" tanya Edward. Sepertinya Edward masih setengah sadar. Nyawanya masih belum genap, dia tidak sadar berbicara ngelantur.


Lily yang mendengar ucapan Edward, langsung tertawa. Karena takut Edward marah, Lily menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa kamu tertawa Lily? memangnya ada yang lucu. Haahhhh" Edward duduk di atas ranjang.


"Tidak Tu-tuan" Lily gugup karena ketahuan menertawakan Edward. "Sini kamu gadis Nakal" Edward menyuruh Lily duduk di sebelahnya.


Karena Lily takut Edward marah, Lily duduk disebelah Edward. "Iya Tuan. Ada a-apa?" Lily masih gugup. Dia takut perbuatannya membuat Edward marah. 'Tuan Edward kalau sedang marah seperti monster. Sangat mengerikan' batin Lily.


"Kamu menertawakan apa,heemm?" Edward menatap Lily sangat dekat. Lily sangat gugup. Kelemahannya adalah tatapan dan sentuhan Edward. Dia tidak bisa menolak kedua hal tersebut.


"Cepat Jawab Lily atau kamu mau aku ..."


"tidak ... tidak ... jangan Tuan. Saya masih ingin kerja disini" Lily menyatukan kedua tangannya didepan Edward.


Edward menyipitkan matanya. Belum sempat Edward meneruskan ucapannya, Lily sudah memotong ucapan Edward begitu saja. Alhasil membuat Edward mempunyai ide untuk mengerjai Lily.


Edward mengelitiki pinggang Lily. Sampai Lily kegelian. "Ampun Tuan, Ampun. Saya geli sekali Tuan" badan Lily ke kiri dan ke kanan.


"Ini akibatnya kalau kamu menertawakan saya Lily" tangan Edward beralih ke perut Lily.


Aahh keluar ******* dari bibir Lily. Kali ini bukan kegelian tapi Lily merasa ada gelenyer aneh saat Edward mengusap-usap perutnya.


Lily merasakan banyak kupu-kupu terbang di dalam perutnya.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2