Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 9. Kepergok Leon


__ADS_3

"Lily maafkan saya. Saya tidak bermaksud bicara seperti itu" Edward mencoba menenangkan Lily yang sedang menangis.


Kleeekkk


Leon membolakan matanya waktu dia masuk ke ruangan Edward. Dia tidak percaya bosnya memeluk seorang perempuan di ruangannya.


Edward melihat Leon masuk. Edward meletakkan jari telunjuk didepan bibirnya. Edward juga mengusir Leon dengan tangannya, supaya Leon pergi.


Saat ini Edward tidak tahu harus melakukan apa. Baru sekali ini dia memeluk perempuan asing, saat perempuan itu menangis.


'Tuhan karena keisenganku, aku membuat gadis ini menagis' Edward membatin.


"Lily dengarkan aku. Semua yang aku ucapkan tadi tidak benar. Jadi saya harap kamu jangan menangis lagi, oke! Edward menangkup pipi Lily dengan satu tangannya. Karena tangan yang satunya masih sakit.


Pipi Lily masih basah dengan air mata. Menatap Lily dari dekat membuat muncul perasaan aneh dalam hati Edward.


Saat melihat bibir Lily yang berwarna pink alami, membuat Edward menelan Salivanya berulang-ulang. 'Kenapa bibir Lily sangat menggoda, ingin sekali aku menciumnya' batin Edward.


Lily merasa jantungnya berdebar kencamg saat manik biru Edward beradu pandang dengan manik hijau miliknya. Dia merasakan perasaan aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Edward semakin memangkas jarak pandang diantara mereka. Lily benar-benar gugup. Dia meremas ujung kemeja bunga yang dia pakai saat ini.


Semakin dekat bibir Edward dengan bibir Lily. Lily memejamkan matanya. Edward memiringkan kepalanya. Hanya berjarak satu senti bibir dengan bibir.


Braakkk


Tiba-tiba Leon masuk, file yang dibawanya jatuh berserakan ke lantai. Edward langsung melepas tangannya di pipi Lily. Lily langsung mengeser duduknya. Sedikit menjauh dari Edward.


"Maaf bos. Saya masuk tanpa permisi karena ada hal sangat penting yang harus saya katanya dengan anda" Leon meringis merasa bersalah karena menganggu bosnya.


Edward memasang wajah tenang, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Leon tidak boleh melihatnya dalam keadaan salah tingkah.


"Lily kamu boleh pergi. Kamu bisa membantu bu Maria di bawah. Kalau nanti saya butuh bantuanmu, saya akan memanggilmu" ucap Edward.


Leon yang tahu maksud bosnya itu, hanya bisa menahan senyum.


"Iya Tuan. Saya permisi Tuan Edward, Pak Leon. Lily lalu pergi meninggalkan ruangan Edward.


"Bos apa yang kamu lakukan dengan gadis muda itu hahahahaa..." Leon meledek Edward.


"CEPAT KATAKAN! ADA INFORMASI PENTING APA LEON" Edward berkata dengan lantang. Dia menutupi salah tingkahnya.


"Santai ... santai... Tidak usah pakai otot bos" Leon lalu duduk dan membuka dokumen informasi yang Edward butuhkan.


Edward membaca dokumen yang diserahkan oleh Leon. Dia syok membaca file demi file yang Leon berikan kepadanya.

__ADS_1


"Apa semua ini benar Leon. Ternyata peter selicik itu. Kita harus hati-hati dengan orang ini, Leon" ucap Edward. Dia masih tidak percaya ada orang sejahat itu.


"Iya bos. Apa rencana bos selanjutnya?" Leon ingin tahu rencana yang akan Edward lakukan.


"Aku harus mengumpulkan banyak bukti, Leon. Aku akan menemui kakek tua. Mungkin beliau bisa membantuku mendapatkan informasi lebih detail" ucap Edward.


"Apa bos akan pulang ke rumah utama?" tanya Leon.


"Iya Leon, tapi tidak menginap. Aku hanya ingin bertemu dengan kakek tua saja, setelah itu aku akan kembali ke Apartemen" jawab Edward.


"Heeemmm ... ya saya tahu Tuan muda. Anda tidak tega meninggalkan gadis manis itu sendirian di Apartemen kan?" Leon mulai meledek Edward lagi.


"Tutup mulutmu Leon. Atau aku akan memecatmu, dan kamu akan jadi gembel dijalanan" Edward mengancam Leon, kalau dia terus saja meledeknya.


"Anda tidak bisa memecat saya Tuan Muda, karena hanya Tuan besar yang bisa memecat dan mengusir saya hehheeee..."Leon tekekeh. Dia menang telak atas ancaman Edward.


"Lihat saja nanti, apa yang bisa aku lakukan untuk menendangmu keluar dari dukungan kakek tua itu" ucap Edward.


Hubungan Edward dan Leon bukan hanya sebagai partner kerja. Tapi mereka sudah seperti saudara. Karena Edward, Leon bisa percaya diri ssperti sekarang.


Bagi Leon Keluarga Edward sangat penting dalam hidupnya. Bahkan nyawanya pun dipertaruhkan untuk keluarga Edward.


"Hahahahaaaaa...coba saja kalau bisa" Leon tetap saja meledek Edward.


"Baiklah, saya keluar Tuan Muda" Leon terkekeh, melihat muka Edward kesal.


Setelah Leon pergi, Edward membaca kembali tumpukan file yang diberikan Leon kepadanya.


"Aku akan memberimu kejutan Tuan serakah, Kau dan keluargamu harus menerima pembalasan yang setimpal" Edward berbicara sendiri.


Dia membolak-balik file yang dibacanya. Mencari cara untuk membuat musuhnya hancur.


"Aku belum bisa naik mobil maupun naik motor. Aku harus menemui dr. Luis sekarang. Aku curiga dr. Luis sekongkol dengan kakek tua untuk membuatku berhenti naik motor" Edward melihat gips yang ada di lenggannya.


Edward mengambil benda pipih di meja. Dia mencari nama dr. Luis di deretan nama yang ada di ponselnya.


Edward memencet nomer dr.Luis, dia ingin memastikan sendiri kalau tangannya baik-baik saja.


[Hallo Edward. Bagaimana tanganmu? Apa ada keluhan?]


[Hallo dr.Luis. Bisa kita bertemu siang ini? sekalian kita makan siang?]


[Boleh, saya tunggu kamu di ruangan praktek Rumah Sakit]


[Baik dr. Luis. Aku akan segera kesana]

__ADS_1


Edward mematikan telponnya. Lalu meletakkan ponsel di meja.


Tok ... tok ... tookk


"Masuk" ucap Edward dari dalam ruangan. Edwars merebahkan punggungnya dikursi kebesaranya.


"Maaf Tuan Edward, Apa saya mengganggu Tuan? tanya gadis bermanik hijau.


"Ada apa Lily?" Edward tetap menjaga suaranya yang cool, agar tidak ketahuan kalau sekarang Edward sedang Gugup berhadapan dengan Lily.


Karena kejadian kissingnya tadi gagal, dia sekarang merasa malu bertemu dengan Lily. Dia merutuki kebodohannya kepada gadis muda dihadapanya itu.


"Sa-saya mau izin Tuan" ucap Lily gugup. Dia merasa malu dengan kejadian yang dialaminya bersama Edward.


"Memang kamu mau kemana?" Edward tetap dengan nada tenang.


"Sa-saya mau ikut Bu Maria belanja ke supermarket Tuan, sekalian makan siang" ucap Lily


"Pergilah" Edward mencoba tenang dan berharap Lily cepat pergi.


"Ah...Tuan, Apa lagi haahh?" Edward benar-benar tidak tenang. Semakin lama dekat dengan Lily semakin dia salah tingkah.


"Apa tidak sekalian saya belanja sayuran untuk masak di apartemen Tuan? jadi nanti saat pulang tidak perlu lagi mampir ke supermarket" ucap Lily.


"Terserah kamu saja Lily" Edward terus berharap Lily cepat pergi dari hadapannya.


Lily masih bergeming tidak mau pergi.


"Ada apa lagi? kenapa masih disini?" tanya Edward sudah mulai kesal dengan dirinya sendiri.


"Saya tidak punya uang untuk belanja Tua" Lily menatap Edward.


'Apa-apaan ini kenapa dia malah menatapku seperti itu. Kenapa dengan diriku. Ini tidak benar. kenapa aku jadi deg degan' Edward membatin.


"Ini" Edward memberikan kartu kredit miliknya. "Cepatlah keluar Lily. Jangan mengangguku. aku masih banyak pekerjaan" Edward mencari alasan agar Lily cepat pergi


"Baik Tuan, saya permisi" Lily mengambil kartu di meja.


Tepat saat Lily akan membuka pintu. Leon masuk, tubuh Lily menabrak Leon yang berdiri di depan pintu. Karena kaget tubuh Lily hampir jatuh, spontan Leon menangkap tubuh Lily.


Edward yang melihat Lily di dekapan Leon, ada Rasa tidak rela melihat mereka berdua.


"Ehheeeemmmm"


To be Continue...

__ADS_1


__ADS_2