Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 81. Edward Beduka


__ADS_3

(Lanjutan dari Flashback Gabriel)


Tiba-tiba telpon Gabriel berbunyi. Dia mengangkat nomer telpon asing yang menghubunginya.


[Hallo, Ini siapa]


[Ini nomer Pak Gabriel?]


[Iya. Ini siapa?]


[Saya orang yang membawa orang yang punya telpon ini ke rumah sakit. Dia dan istrinya mengalami kecelakaan. Saya membawa kerumah sakit terdekat]


[APAAA]


Gabriel shock. Dia memeluk Edward dengan sangat Erat. Semua pelayan bingung. Apa yang sebenarnya Terjadi dengan Tuan besarnya. Tersebut.


"Ferdinand segera siapkan mobil" titah Gabriel.


"Baik Tuan" jawab Ferdinand.


"Ema. Kamu jaga Edward. Aku akan ke rumah sakit" ucap Gabriel mencoba tegar demi cucu kesayangannya.


"Ada apa Grandpa?" tanya Edward kecil.


"Tidak ada apa-apa Edward. Grandpa ada urusan sebentar. Kamu di rumah dengan bibi Ema ya" Gabriel memeluk Edward dan mencium pucuk kepala bocah berusia 8 tahun tersebut.


"Ada apa Tuan. Saya jadi takut" tanya Bibi Ema.


"Doakan semua baik-baik saja Ema. Aku titip Edward. Tolong jaga dia baik-baik" ucap Gabriel.


Gabriel langsung pergi dari rumah bersama dengan Ferdinand menuju rumah sakit.


"Ada apa Tuan. Kenapa kita kerumah sakit?" tanya Ferdinand.


"Ben dan Kate mengalami kecelakaan" jawab Gabriel dengan menangis.


"Oh Tuhan. Semoga Engkau selamatkan nyawa Tuan Ben dan Nyonya Kate" gumam Ferdinand.


Setelah sampai di rumah sakit Gabriel segera menuju ruang UGD. Gabriel bertanya pasien yang mengalami kecelakaan. Perawat memberi tahu kalau pasien sedang di operasi karena mengeluarkan banyak darah.


Gabriel menuju ruang operasi. Dengan terburu-buru. Dia ingin sekali melihat anak dan menantunya selamat.


Orang yang menolong Ben dan Kate langsung menghampiri Gabriel saat mendengar Gabriel mencari korban kecelakaan.


"Maaf Tuan apa Tuan yang saya telpon tadi?" ucap laki-laki separuh baya.


"Kamu yang menolong anak saya?" tanya Gabriel.


"Kebetulan saya lewat pak. Saya tidak tahu siapa yang menabrak soalnya saat saya datang mobil sudah terbalik" ucap laki-laki paruh baya tersebut.


"Terima kasih Pak. Bapak sudah membawa anak saya ke sini. Ferdinand kamu tolong urus bapak ini. Dia sudah membantu Ben dan Kate" ucap Gabriel.


"Baik Tuan. Ayo ikut saya Pak" Ferdinand sedikit menjauh dari Gabriel.


Gabriel mondar-mandir di depan ruang operasi. Lampu operasi mati. dokter dan perawat satu persatu keluar.


mereka mendorong 2 pasien di atas tempat tidur rumah sakit. Gabriel lemas, karena keduanya diutup dengan kain putih.


"Apa anda keluarganya?" tanya dokter.


"Iya. dokter" jawab Gabriel gemetar.

__ADS_1


Ferdinand segera menyusul Gabriel setelah selesai dengan urusan bapak setengah baya tadi. Ferdinand juga membawa barang-barang Ben dan Kate.


"Maafkan saya Tuan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anak-anak Tuan. Mereka terlambat di bawa ke sini. Saya minta maaf, Saya tidak bisa menyelamatkan anak-anak Tuan" Ucap dokter dengan nada sedih.


"Tidaaaaaaaakkkkkk. Itu tidak mungkin dokter. Ben dan kate tidak mungkin meninggaaaalll. Mereka masih punya anak kecil dirumah. Anaknya menunggu mereka di rumah" Gabriel histeriss.


Beruntung Felix dan Ramond cepat datang. Jadi Ferdinand tidak kualahan menangkap tubuh Gabriel yang lemas.


"Angkat tubuh Tuan ke bangku" Ucap Ferdinand.


Mereka membawa Gabriel ke bangku terdekat. Sedangkan Ben dan Kate di bawa ke ruang mayat untuk di persiapkan di bawa pulang.


Setelah sedikit tenang. Gabriel ke kamar mayat untuk memastikan apakah itu Ben dan Kate, anak dan menantunya atau bukan.


"Ben anakku, bangun Ben. Kamu tudik boleh tidur di sini, buka matamu nak. Ayo kita pulang, Edward sedang menunggumu main bola Ben" Gabriel terus mengerak-ngerakkan badan Ben sambil terus menangis.


"Ben bangun. Jangan tinggalkan papa Ben. Kalau tahu akan seperti ini. Papa tidak akan mengizinkanmu pergi bersama Kate" ucap Ben sesegukan.


"Kate bangun nak. Edward menunggumu, dia tidak mau tidur. Dia ingin tidur bersama kalian. Bangunlah nak buka matamu" Gabriel tak kuasa menahan air mata lalu jatuh pingsan.


Ferdinand memanggil Felix dan Raymond kedalam. Untuk mengangkat Gabriel keluar. Ferdinand menelpon Bibi Ema di rumah. Ferdinand memberi tahu kalau Tuan dan Nyonya mereka sudah meninggal.


Seketika Bibi Ema langsung memeluk Edward kecil dengan berlinang air mata. Dia tidak kuasa menahan tangisannya, saat melihat Edward kecil di pelukannya.


"Kenapa Bibi Ema menangis? Siapa yang menelpon Bibi Ema?" tanya Edward.


"Tidak Tuan Muda. Mata Bibi Ema hanya terkena debu" Bibi Ema menyeka air matanya.


"Bibi kenapa mama dan papa belum pulang juga. Aku ingin tidur bersama mereka" ucap Edward dengan polos.


"Sebentar lagi pasti pulang Tuan" Bibi Ema memeluk Edward dengan erat.


"Kenapa kursi dan meja dipindahkan Bibi. Jangan pindahkan itu vas bunga kesayangan Mama" ucap Edward.


"Tidak apa-apa Tuan, Vas itu hanya di simpan supaya tidak pecah. Nanti kalau pecah, mama Tuan muda akan marah" ucap Bibi Ema masih memeluk Edward.


Ambulance datang dengan membawa 2 tubuh Ben dan Kate yang sudah tidak bernyawa. Dua peti mati di masukkan ke dalam rumah.


Pelayan sudah menyiapkan pakaian baru yang sangat cantik untuk Kate dan juga pakaian yang sangat gagah untuk Ben.


Gaabriel masuk dan mencari Edward kecil. Edward kecil masih belum tahu kalau kedua orang tuanya sudah meninggal.


"Edward cucu grandpa" Gabriel menangus memeluk Edward.


"Grandpa kenapa menangis. Kenapa ada ambulance datang. Itu peti untuk siapa Grandpa. Siapa yang meninggal?" ucap Edward dengan polos.


Gabriel semakin erat memeluk Edward kecil. Sekarang hanya Edward keluarganya. Gabriel tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali Edward.


Mulai sekaran, Gabriel harus kuat demi Edward, sang cucu tercinta sebagai pewaris kerajaan bisnis keluarga Eugenio.


"Papa dan mama kenapa belum pulang Grandpa" tanya Edward tiada henti menanyakan keberadaan orang tuanya.


Dua tandu masuk kedalam rumah, petugas membawa ke dua orang tua Edward, yang sudah sudah kembali kepada sang pencipta.


Semua pelayan menangis menyambut kedatangan 2 majikannya yang dikenal sangat baik dan dermawan tersebut.


Edward masih belum tahu dengan keadaan di sekitarnya. Bocah 8 tahun itu masih bingung, kenapa semua orang menangis kecuali dirinya.


Gabriel mengendong Edward untuk melihat jenazah Ben dan Kate. Gabriel tidak kuasa menahan tangisannya, dia kembali menangis saat melihat anak dan menantunya menutup mata untuk selama-lamanya.


"Mama, Papa kenapa kalian tidur di sini. Ayo tidur di kamar. Kita tidur bersama, Edward ingin tidur bersama kalian" Edward memeluk tubuh mamanya yang sudah jadi jenazah.

__ADS_1


"Mama. Kenapa tubuh mama sangat dingin. Papa juga, kalian kedinginan. Bibi Ema tolong ambilkan Mama dan Papa selimut, mereka kedinginan. Grandpa suruh mama dan papa bangun, jangan tidur di sini" ucap Edward polos.


Dia sama sekali tidak tahu kalau mama dan ¹apanya sudah meninggal.


"Mama, papa ayo bangun. Edward sudah menunggu kalian pulang. Edward ingin tidur dengan kalian" Edward mengerak-gerakkan tubuh mama dan papanya.


"Edward sayang. Mama dan papa sudah tidur. Edward sekarang tidur ya. Besok Edward harus mengantar mama dan papa ke rumah baru" ucap Gabriel. Gabriel tidak kuat untuk mengatakan kalau orang tua Edward sudah meninggal.


"Tidak Grandpa. Kalau mama dan papa tidur disini, Edward juga akan tidur disini bersama mereka" Edward memeluk mama dan papanya secara bergantian.


"Edward mama dan papa harus ganti baju dulu. Nanti Edward bisa melihat mama dan papa lagi" ucap Gabriel.


Setelah selesai ritual mendandani jenazah. Orang tua Edward di masukkan kedalam peti jenazah. Edward sekarang mengerti kenapa orang tuanya tidak bergerak dan badannya sangat dingin. Karena mereka udah meninggal.


"Jangan masukkan papa dan mama ke peti. Mama dan papa tidak meninggal, mereka hanya tidur. Grandpa jangan biarkan mereka memasukan mama dan papa ke dalam peti huaa huaaaaa"Edward mulai menangis.


Edward menarik-narik baju petugas dan pelayan untuk tidak memasukkan mama dan papanya ke dalam peti jenazah.


"Lepaskan! Mama dan papa Edward tidak meninggal. Mama dan papa hanya tidur. Jangan letakkan mereka ke peti" Edward nangis sesegukan.


Gabriel mencoba menenangkan Edward kecil. Dia harus kuat menahan kesedihannya di tinggal anak dan menantunya demi cucu tunggalnya, yaitu Edward.


Bocah kecil berusia 8 tahun itu, harus kehilangan kedua orang tuanya di usia yang sangat kecil. Edward masih sangat membutuh kasih sayang kedua orang tuanya, Kini dia harus kehilangan orang yang sangat dia sayangi dan harus hidup sendiri dengan kakeknya.


"Mama, Papaa jangan tinggalkan Edward. Papa harus menemani Edward main bola huuaaaa huuaaaaa" Edward memukuli Gabriel yang mengendongnya.


Karena capek menangis Edward tertidur. Bibi Ema menidurkan Edward ke dalam kamar. Semua kerabat berdatangan ke rumah Gabriel, untuk melepas kepergian Ben dan Kate untuk terakhir kalinya.


Pagi hari pemakaman sudah dipersiapkan. Banyak kolega dan saudara dekat dan saudara jauh berdatangan. Mereka turut berbela sungkawa, karena orang tua Edward terkenal sangat dermawan dan suka membantu orang yang sedang kesusahan.


Edward menatap peti jenazah kedua orang tuanya dengan tatapan kosong. Edward sudah tidak bisa menangis lagi. Kesedihan yang dialami Edward sangat dalam.


Bahkan dia tidak menjawab sapaan semua orang. Edward hanya diam tatapannya kosong. Edward di gendong Gabriel menuju kepemakaman.


Sepanjang jalan Edward hanya diam. Bahkan Gabriel bicara saja tidak di respon oleh Edward. Gabriel merasa sangat terluka melihat cucunya mehilangan semangat.


Setelah pemakaman selesai Edward duduk diantara kedua pusaran kedua orang tuanya. Dia tidak menangis dan dia juga tidak bicara. Dia hanya diam dalam mengelus tanah tempat persemanyaman kedua orang tuanya.


1 jam Edward duduk di antara makam mama dan papanya. Dia hanya diam dengan tatapan kosong. Gabriel mengajak Edward pulang. Karena semua orang sudah bubar. Hanya tinggal beberapa pelayan, Gabriel dan Edward saja.


"PERGI!! EDWARD MEMBENCI GRANDPA!!" Edward mendorong Gabriel yang mencoba memeluknya.


"Tuan besar" Ferdinand menolong Gabriel bangun.


"Mama, Papa. Edward ikut kalian" Edward mengaruk makan mamanya dengan tangan mungilnya.


"Tuan muda, jangan Tuan" Raymond mencegah Edward mengaruk tanah makam mamanya karena bisa melukai tangannya.


"Lepaskan. Lepaskan aku" Edward memberontak saat Raymond mengendong Edward menuju mobil.


Raymond terpaksa membawa Edward kecil. Karena dia tidak ingin Tuan mudanya menyakiti dirinya sendiri


Mereka semua kembali ke rumah. Sebelum pulang Gabriel mencium nisan Ben dan Kate.


"Tidurlah kalian dengan tenang. Papa akan menjaga Edward dengan baik. Tolong jaga kami dari atas anak-anakku" Gabriel mengusap pusaran anak dan menantunya.


Setelah itu Gabriel pergi dari makam dan masuk ke dalam mobil bersama Edward. Edward pingsan karena terlalu banyak menangis dan merasakan kesedihan yang mendalam atas kehilangan kedua orang tuannya.


Flashback Off


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2