
Hari sudah menjelang sore, tapi Lily belum pulang juga. Bibi Ema sangat khawatir karena sampai sore Lily belum pulang.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Bibi Ema mondar-mandir di antara ruang santai dan ruang makan. "Kemana Lily? ponselnya juga tidak aktif" Bibi Ema mencoba menelpon Lily.
Sedangkan Edward yang dihubungi bibi Ema. Menanyakan Lily, masih di kantor atau tidak, membuat dirinya gusar. Edward tidak tenang. Apalagi saat melihat Lily menangis saat keluar dari kantor.
Edward jadi bertanya-tanya. Kenapa Lily menangis saat keluar dari ruangan kerjanya. Ada apa dan kenapa. Pertanyaan itu masuk berulang-ulang di dalam otaknya. Padahal dia tidak berbicara ataupun melakukan perbuatan yang membuat Lily menangis.
Sepanjang jalan pulang Edward hanya melihat ke luar jendela. Dia masih berpikir tentang kejadian Lily saat dikantor tadi pagi.
"Tuan sudah pulang" Leon berhenti di depan gedung apartemen Edward. Edward lalu menoleh ke arah Leon. "Terima kasih Leon" Edward menepuk pundak Leon dari belakang.
Edward lalu turun dari mobil. Sedangkan Leon masih bertanya-tanya, ada apa dengan bos arogannya itu. Tidak biasanya Edward menepuk pundak Edward, apalagi sampai bilang terima kasih.
Dengan pikiran yang masih bertanya-tanya, Leon meninggalkan apartemen Edward menuju rumah utama.
"Astaga aku lupa, mengajak Bibi Ema pulang" Leon akhirnya putar balik, kembali ke apartemen Edward.
"Tuan sudah pulang" Bibi Ema mengambil tas ransel yang di bawa Edward. Edward duduk di sofa ruang santai.
"Ini minumnya Tuan" Bibi Ema memberikan segelas air putih kepada Edward. Edward lalu meminumnya sampai tandas, dan meletakkannya di atas meja.
"Lily sudah pulang Bi?" tanya Edward menyenderkan kepalanya di sofa.
"Belum Tuan. Saya khawatir, ponsel Lily tidak aktif. Saya sudah berkali-kali menelponnya tapi ponselnya mati. Ini sudah pukul 6 sore Tuan" wajah Bibi Ema meyiratkan ke khawatiran kepada Lily.
"Apa Lily memberi tahu Bibi, kemana dia pergi?" Edward sudah mulai panik. Padahal dia pulang, ingin tahu kenapa Lily menangis saat keluar dari kantor.
"Tidak Tuan. Lily hanya bilang, kalau dia akan ke kantor membawakan sarapan untuk Tuan Edward. Lily khawatir kalau Tuan Edward telat makan" ucap Bibi Ema.
__ADS_1
Edward mengeryitkan dahinya. 'Kenapa Lily mengkhawatirkanku bukanya dia sendiri masih sakit, harusnya dia fokus dengan kesembuhannya' batin Edward.
"Aku akan mandi dulu Bi. Bibi siapkan makan malam. Nanti kalau Lily pulang kita makan bersama" ucap Edward.
"Baik Tuan" Bibi Ema pergi ke dapur dan Edward pergi ke kamarnya, untuk mandi. Seharian dirinya stres memikirkan kejadian tadi pagi.
Edward merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Kemana kamu Lily? cepatlah pulang. Aku merindukanmu. Meskipun aku tidak bisa memiliki hatimu. Setidaknya aku bisa menjaga dan melihatmu" gumam Edward.
'Bila mencintaimu adalah ilusi, maka izinkan aku berimajinasi selamanya Lily' batin Edward.
Setelah Edward mandi dan ganti baju. Edward keluar kamar. Dia berharap Lily sudah pulang dan bisa melihat wajah Lily.
"Leon kamu disini? bukannya kamu sudah pulang?" tanya Edward. Edward kaget saat melihat Leon duduk manis di ruang santai dengan Bibi Ema.
"Iya Tuan. Aku lupa kalau harus pulang bersama Bibi Ema, makanya aku kembali lagi menjemput Bibi Ema. Kata Bibi Ema Lily belum pulang Tuan? Leon menjelaskan alasan dia kembali.
"Belum Tuan. ini sudah pukul 7 malam tapi Lily belum pulang. Lily dimana?" Bibi Ema sangat cemas
"Leon kamu tahu kenapa Lily tadi menangis?" tanya Edward.
"Tidak tahu Tuan. Aku tadi berpapasan dengan Lily, dia sudah menangis. Aku bertanya tapi dia malah tambah menangis. Aku mencoba menenangkannya tadi. Terus tiba-tiba Tuan mengusir Ashley. Terus Lily pergi begitu saja" Leon menjelaskan yang terjadi dengan sebenar-sebenarnya kepada Edward.
"Apa Lily tadi sempat pulang setelah Bibi menelpon saya?" Edward mulai cemas. Dia tidak tahu harus bertanya kepada siapa kalau Lily pergi. Setahu Edward Lily tidak punya teman atau saudara.
"Kita tunggu dulu bi. Siapa tahu sebentar lagi Lily pulang" Edward mencoba untuk tenang dan positive Thinking kalau Lily akan pulang.
"Lily belum sehat betul Tuan. Ditambah semalam dia begadang nungguin Tuan Pulang sampai ketiduran di sofa. Saya menyuruh Lily untuk tidur dikamar, awalnya menolak, setelah saya kasih penjelasan kenapa Tuan belum pulang, Lily baru mau tidur di kamar. Pagi-pagi sekali Lily pergi kekamar Tuan, untuk melihat apa Tuan sudah pulang atau belum" Bibi Ema bercerita betapa khawatirnya Lily terhadap Edward.
"Tuan tidak pulang Bi?" Leon terkejut saat Bibi Ema bercerita kalau Edward tidak pulang semalam.
__ADS_1
"Apa benar itu Tuan?" Leon bertanya kepada Edward. Edward hanya mengangguk. Edward tidak berbicara apapun.
"Kenapa Tuan? Tuan tidur dimana semalam?" Leon merasa khawatir. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Edward sendiri di kantor semalam. Harusnya dia tidak menuruti permintaan Edward, saat Edward menyuruhnya pulang ke rumah.
"Tidak usah khawatir seperti itu Leon. Aku sudah besar, Aku bisa jaga diriku sendiri" ucap Edward. Edward tidak mungkin bercerita karena cemburu dengan Leon. Gengsi tetap nomer 1 untuk Edward.
"Ayo kita makan. Nanti kalau Lily pulang, biar dimasakan Bibi Ema lagi" Edward mengajak Bibi Ema dan Leon makan malam bersama.
Edward tidak tenang saat makan malam. Pikirannya fokus kepada Lily. Kemana Lily dan dimana Lily. Pertanyaan itu terus menghantui Edward dalam pikirannya.
Setelah selesai makan. Mereka kembali ke ruang santai dengan minum teh dan cemilan. Tapi pikiran Edward tidak tenang.
"Leon apa kamu tahu, flat tempat tinggal Lily? Aku pernah menyuruhmu ke sana mengantar Lily mengambil baju" Edward bertanya kepada Leon.
"Iya Tuan. Sepertinya saya masih ingat" jawab Leon. "Antar aku kesana. Kita cari Lily ke flatnya yang dulu" Edward mengambil jaket dikamar, lalu pergi bersama Leon.
"Bibi Ema dirumah saja. Siapa tahu Lily pulang. Nanti kalau Lily pulang, hubungi saya Bibi Ema. Kita pergi dulu" Edward memakai jaketnya.
"Hati-hati Tuan. Tolong bawa Lily kembali Tuan. Kasihan Lily, tidak punya siapa-siapa" mata Bibi Ema berkaca-kaca.
"Pasti Bi. Aku akan membawa Lily kembali kesini. Bibi Ema tolong jaga rumah" Edward pergi bersama Leon.
Diperjalanan Edward sangat gelisah. Edward teringat semua ucapan Bibi Ema, Saat dia tidak pulang kerumah. 'Kenapa kamu melakukan itu Lily? kenapa setiap kali aku ingin menghindarimu, kamu justru yang menarikku untuk selalu bersamamu. Kalau seperti ini aku jadi tidak bisa meninggalkanmu' batin Edward.
Jika kamu menemukan seseorang yang kamu cintai dalam hidupmu, maka pertahankan cinta itu. Cinta bukan hanya sesuatu yang kamu rasakan, cinta adalah sesuatu yang kamu lakukan.
Cinta adalah kondisi di mana kebahagiaan orang lain penting untuk Anda sendiri.
To be continue ...
__ADS_1