Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 92. Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

2 minggu telah berlalu. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Eugenio dan keluarga Lily. Sebentar lagi mereka akan menikah. Lily memutuskan untuk mempercepat pernikahannya karena keinginan Gabriel.


Lily ingin membuat kakek berusia 70an itu bahagia melihat cucu kesayanganya menikah. Lily sangat menyayangi Gabriel. Dia mendapat kasih sayang lebih dari keluarga Edward. Semua orang menyayanginya. Lily memiliki keluarga baru yang sangat sayang dan peduli dengannya.


"Lily apa kamu sudah siap menikah?" goda Arthur.


Sekarang keluarga Arthur sedang berkunjung ke rumah keluarga Edward. Edgar akan menjadi wali untuk Lily. Sebagai satu-satunya paman kandung Lily. Edgar akan sangat bahagia saat mengandeng tangan keponakannya ke altar pernikahan.


Dia akan menggantikan sang adik yang sudah tiada. Edgar tidak menyangka kalau sekarang dia bisa bebas berkumpul dengan keponakannya lagi, tanpa ada gangguan dari Peter.


"Aku harus siap Kak Arthur. Aku ingin segera bersama dengan Edward selamanya" jawab Lily.


Semua orang tertawa mendengar jawaban Lily yang polos. Dia memang belum tahu apa tujuan dari menikah. Apalagi usianya masih 19 tahun.


Cintanya kepada Edward sangat besar. Jadi itu modal untuk Lily menjadi istri Edward. Edward bahagia karena keinginannya untuk menjadi suami Lily akan segera terlaksana.


"Ayo kita makan dulu. Nanti kita lanjutkan pembicaannya kembali" ajak Gabriel.


Lily, Edward, Gabriel dan keluarga Arthur serta Leon menuju meja makan. Mereka makan malam bersama dengan penuh kekeluargaan.


Sebentar lagi Edgar dan Gabriel akan menjadi besan. Cucu dan keponakan mereka akan mengikat janji suci di hadapan Tuhan.


"Bagaimana perkembangan perusahaan Global company Arthur?" Tanya Gabriel.


"Lumayan Grandpa. Sedikit demi sedikit mengalami kenaikan. Sahamnya juga sudah sedikit naik meskipun hanya sedikit" jawab Arthur.


Gabriel menyuruh Arthur memanggil dirinya Grandpa karena Arthur adalah sepupu dari Lily. Sama artinya Arthur adalah cucunya Gabriel.


"Apa kamu kesulitan di kantor Lily?" tanya Gabriel.


"Awalnya cukup kaget Grandpa. Saya tidak tahu apapun. Tapi Kak Arthur dan Edward banyak membantu jadi sekarang saya bisa banyak belajar dari mereka" jawab Lily.


"Lily cepat sekali belajar Grandpa. Dia perempuan yang cerdas" puji Arthur.


"Kalau tidak cerdas aku tidak akan mau menikah dengannya Arthur. Aku tidak suka perempuan bodoh" Ucap Edward dengan tertawa.


"Kamu benar Edward. Aku juga akan mencari perempuan yang cerdas seperti Lily. Supaya tidak merepotkan aku" Timpal Arthur dengan tertawa.


Suasana Meja makan menjadi hangat karena obrolan ringan tapi syarat akan makna yang dalam. Setelah selesai makan malam, Edgar dan keluarganya pamit pulang karena sudah malam.

__ADS_1


Mereka di antar Lily, Edward dan Leon sampai depan gerbang rumah. Setelah mobil Edgar pergi, mereka bertiga kembali masuk ke dalam rumah.


"Tuan" panggil Leon.


"Iya Leon. Ada apa?" tanya Edward.


"Acara pernikahan Tuan, mau menggundang berapa orang? Besok saya akan buatkan Listnya. Sekalian contoh kartu undangannya" ucap Leon.


"Kita bahas besok saja Leon. Aku capek ingin istirahat" ucap Edward.


"Oh iya Leon. Beritahu Kimmy, besok sekalian kirim contoh tempat terbaik di Humburg untuk pernikahan di Outdoor" ucap Edward.


"Baik Tuan. Lusa jadwal Fitting baju pengantin. Kemarin saya di telpon dari desainer gaun penganti Lily" ucap Leon.


"Iya. Terima kasih Leon. Ayo kita istirahat saja. Besok kita lanjutkan mengurus itu semua" ucap Edward.


"Baik Tuan. aku permisi dulu Tuan" Leon meninggalkan Lily dan Edward yang berdiri di ruang tamu.


Lily dan Edward pergi ke kamar mereka. Sedangkan Gabriel sudah masuk ke dalam sejak mereka di luar.


"Kamu senang sayang?" Edward memeluk Lily dari belakang.


"Aku sangat bahagia sayang. Semoga acara pernikahan kita lancar sayang" Lily mencium pipi Edward.


"Aku tidak pernah membayangkan kalau kita akan segera menikah sayang. Dulu aku takut saat aku tahu aku jatuh cinta kepadamu. Aku takut kalau aku akan terluka karena cintaku bertepuk sebelah tangan" ucap Lily.


Edward tersenyum, lalu memeluk erat calon istrinya tersebut.


"Aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali aku melihatmu sayang. Kamu ingat, kamu yang membuat tanganku patah gara-gara kamu jatuh dari tangga" ucap Edward.


"Serius sayang. Iya maaf kan aku sayang. Aku benar-benar ceroboh waktu itu. Kakiku kepleset saat akan menginjak anak tangga" jawab Lily.


"Aku mau bertanya. Apa benar kamu menyukai Leon?" tanya Edward.


"Heheheee" Lily terkekeh.


"Iya. Aku suka dengan Pak Leon karena dia Dewasa dan tidak suka marah-marah. Kamu suka sekali marah-marah jadi aku takut" jawab Lily.


Edward melepas pelukannya. Dia berjalan ke tempat tidur dan merebahkan dirinya. Lily menyusul Edward dan tidur di atas tubuh Edward.

__ADS_1


"Aku akan tidur seperti ini kalau kamu marah" ucap Lily.


"Apaan seh sayang. Tidur yang benar nanti badan kamu sakit" ucap Edward.


"Apa kamu cemburu sayang?" tanya Lily.


"Cemburu sama siapa?" Edward balik bertanya.


"Cemburu dengan Pak Leon" jawab Lily.


"Iya. Banyak yang suka dengan Leon karena kedewasaan dan kesabaran Leon. Meskipun dia lebih muda dari aku tapi pemikiran dan sikapnya sangat dewasa. Berbanding terbalik denganku, aku tidak bisa mengontrol emosi yang ada di dalam diriku. Apalagi kalau menyangkut orang yang aku cintai. Aku pasti langsung marah, kalau ada laki-laki yang mendekatinya" jawab Edward.


"Aku menyukainya. Aku sangat mencintaimu apapun yang ada di dalam dirimu sayang. Meskipun kamu pemarah dan galak. Aku tetap memilihmu, karena kamu memberikan cinta yang besar kepadaku. Aku belum pernah merasakan cinta yang besar seperti ini selain dari kedua orang tuaku. Kamu membuatku lebih berani dan menjadi diriku sendiri" puji Lily.


"Aku mencintaimu sayang. Aku pasti akan melalukan sesuatu yang membuat kamu bahagia. Saat kamu bahagia, aku juga akan bahagia sayang" Edward menurunkan badan Lily dari tubuhnya.


"Peluk aku sayang" pinta Lily.


Edward memeluk Lily dan mencium kening Lily.


"Aku mau cium bibir" Lily merajuk.


"Aiiihh kenapa kamu ini sayang. Tiba-tiba manja seperti ini. Apa kamu hamil?" tanya Edward.


"Hamil? Apa orang hamil itu manja sayang?" tanya Lily sedikit khawatir.


"Ada yang manja ada yang tidak sayang" jawab Edward.


"Aku tidak mungkin hamil. Aku baru selesai datang bulan 5 hari yang lalu" ucap Lily.


"Aku kan cuma tanya sayang" Edward tertawa.


"Kamu menakutiku sayang" Lily memukul dada Edward.


"Sini aku cium dulu. Setelah itu tidur ya. Pernikahan kita tinggal 1 minggu lagi sayang. Kita tidak boleh capek" ucap Edward.


"Apa perlu pesta sebesar itu sayang. Aku tidak terbiasa dengan kamera" ucap Lily.


"Kamu harus membiasakan dirimu mulai dari sekarang sayang. Karena kamu adalah calon istri Edward Eugenio" Edward mencium bibir Lily.

__ADS_1


Ciuman berubah menjadi ******* dan saling membelit lidah. Semakin panas dan aaaahhhh. Jebol pertahanan Lily dengan sekali sentuh oleh tangan ajaib Edward.


To be continue ....


__ADS_2