
Satu minggu telah berlalu. Tangan Edward sudah tidak memakai gips lagi. Misi yang sudah direncanakan dengan Leon akan dia laksanakan.
"Bos kita ada janji makan siang dengan Tuan Peter White di restoran Amora" ucap Leon. Leon membawa banyak berkas di tanganya.
"Sudah kamu siapkan berkas-berkas yang aku butuhkan Leon?" Edward menatap layar laptop di depannya.
"Sudah semua bos, tinggal melaksanakan rencana selanjutnya" ucap Leon.
Leon membaca lagi berkas-berkas untuk menghancurkan musuh dalam selimut.
"Apa Lily akan tetap tinggal bersama bos, meskipun tangan bos sudah sembuh?" tanya Leon.
"Kenapa Leon? kamu tidak suka kalau Lily tinggal bersama aku?" Edward menyindir Leon.
"Bukan begitu bos, jangan salah paham. Aku dengan Lily tidak seperti yang bos pikirkan" Leon mencoba menjelaskan kepada Edward agar tidak salah paham kepadanya.
"Memangnya apa yang aku pikirkan Leon?" ucap Edward ketus.
"Sudahlah bos. Bos tidak usah menyangkal perasaan bos kepada Lily. Bos jatuh cinta dengan Lily kan" Leon menebak perasaan Edward.
"Jangan sok tahu kamu Leon. Aku tidak ada perasaan apapun terhadap Lily. Jangan bicara yang tidak-tidak, Leon" Edward membentak Leon. Dia menyangkal perasaannya.
Edward tidak mau kalau Leon sampai tahu kalau dirinya jatuh cinta kepada pegawai diperusahaannya itu.
"Yakin bos tidak jatuh cinta dengan Lily? Kalau begitu, aku boleh pacaran dengan Lily kan bos?" Leon menggoda Edward.
"AKU BUNUH KAMU LEON!!!" Edward melempar file yang ada di meja kepada Leon.
Leon tertawa terbahak-bahak saat Edward marah-marah kepadanya karena cemburu.
"Oii ... santai bos. Jangan marah-marah seperti itu. Apa salahnya kalau aku pacaran dengan Lily bos, dia kan single bos. Cantik, polos, pinter, bodynya boss bikin a..."
PLAAAAAKKKK!!
belum sempat Leon menyelesaikan ucapannya, kepalanya di pukul dengan dokumen yang dibawa Edward.
"Aduuh, sakit bos" Leon mengusap-usap kepalanya yang di pukul Edward.
"MAKANYA KALAU BICARA ITU DIJAGA MULUTNYA, JANGAN ASAL DIBUKA ITU MULUT" Edward meninggikan suaranya, dia tidak suka kalau ada laki-laki lain memuji Lily.
"Katanya si bos tidak suka dengan Lily, kenapa aku di pukul, kalau Lily jadi pacarku bos" Leon tidak henti-hentinya menggoda Edward.
"SEKALI LAGI KAMU BICARA AKU PATAHKAN KEDUA TANGANMU BANG SAT!!!!! Edward benar-benar emosi.
"Slow bos, aku akan tanya kepada Lily apa dia mau jadi..."
Kleekkk
__ADS_1
ucapan Leon terpotong saat ada yang membuka pintu. Leon dan Edward menoleh ke arah pintu. Mereka membolakan mata, saat Lily muncul dari balik pintu.
"Maaf Tuan Edward, Pak Leon saya menganggu" ucap Lily, Lily merasa bersalah karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
Edward menetralkan mukanya, sedang kan Leon melihat Edward dan Lily secara bergantian.
"Ada apa Lily?" tanya Edward.
"Saya mau izin hari ini saya pulang terlambat Tuan, karena saya ada tes masuk kuliah" ucap Lily.
"Jam berapa kamu pulang Lily, biar saya jemput kamu di kampus" Leon menawarkan bantuan kepada Lily.
Edward membolakan matanya. Dia melihat Leon dengan tatapan membunuh. Sedangkan yang ditatap malah senyam senyum tidak jelas.
"Tidak usah Pak Leon, saya bisa pulang sendiri. Saya tidak mau merepotkan Pak Leon" ucap Lily.
"Tidak merepotkan sama sekali Lily. Saya malah senang bisa menjemput kamu pulang. Saya berasa menjemput pacar pulang kuliah" ucap Leon sambil melirik Edward.
Edward menatap Lily. Muka Lily merah saat Leon menyebut kata pacar. Entah kenapa Lily merasa senang dengan ucapan Leon. Tanpa sadar dia tersenyum tipis dan senyuman itu terlihat oleh Edward.
"Lily kamu kenapa?" tanya Edward. Dia mencari jawaban tentang ekspresi Lily.
Lily gugup saat Edward bertanya kepadanya. Dia takut kalau ketahuan suka dengan Leon. Dia pasti akan malu.
"Ah tidak apa-apa Tuan" Lily menunduk takut kalau ketahuan mukanya merah.
"Heemm, pergilah. Belajar yang benar jangan mikirin laki-laki" Edward memberi nasehat kepada Lily.
Sebenarnya ucapan Edward itu lebih merujuk kepada dirinya sendiri, supaya Lily tidak dekat dengan laki-laki manapun kecuali dia.
"Iya, saya permisi Tuan" Lily keluar dari ruangan Edward.
Lily sempat berpapasan dengan Kimberly waktu keluar dari ruangan Edward. Kimberly menatap dengan sinis kepada Lily.
"O ... jadi kamu menjual tubuhmu kepada Tuan Edward agar bisa kuliah. Memangnya kamu dibayar berapa haaaahh, dasar gadis bi nal" Kimberly menyindir Lily.
Lily yang sama sekali tidak tahu apa kesalahan yang dia perbuat, sampai kimberly membencinya seperti itu menjadi binggung.
"Maaf Nona Kimberly, sebenarnya saya punya salah apa kepada anda, sampai anda membenci saya? soal masalah kuliah, saya tidak menjual tubuh saya kepada Tuan Edward, saya mendapat beasiswa, Nona" Lily masih bicara tenang. tapi sebenarnya hatinya sakit mendengar kata-kata kimberly.
"Halah kamu tidak perlu munafik Lily, jangan sok polos itu buktinya di leher kamu, itu apa kalau tidak menjual diri?" Kimberly bicara dengan nada sinis.
Lily baru ingat kalau lehernya ada bekas tanda merah yang belum hilang. Dia lupa memakai syal untuk menutupi bekas merah itu. Padahal Edward sudah mengingatkannya setiap akan berangkat ke kantor.
Lily tadi buru-buru waktu berangkat dengan Edward, jadi lupa membawa syal. Lily tidak tahu kalau tanda itu adalah bekas kiss mark dari Edward, tapi Edward bilang itu adalah gigitan serangga. Lily yang masih polos percaya saja apa yang diucapkan Edward.
Flashback on
__ADS_1
2 hari yang lalu Edward pulang larut malam. Edward pulang ke rumah utama kakeknya. Edward ingin tahu tentang keluarga White dan bisnisnya, karena itu Edward menemui kakeknya yang bernama Gabriel.
Sekitar pukul 11 malam Edward pulang ke partemen diantar Leon. Waktu masuk ke dalam apartemen Edward terkejut saat Lily tidur di sofa. Dia ingin membangunkan Lily, tapi saat melihat bibir Lily yang berwarna merah alami naluri kelelakiannya muncul.
Dia mencium bibir Lily dan memberikan tanda kiss mark di leher Lily saat Lily tidur. Setelah itu Edward membangunkan Lily. Karena tangannya masih memakai gips dia tidak bisa menggendong Lily.
Pagi hari saat Lily berdiri di depan cermin, Lily kaget dengan warna merah di lehernya. Dia bertanya-tanya kenapa dengan lehernya. Padahal sebelumnya baik-baik saja.
Saat Lily memasak buat sarapan. Edward keluar dari kamar dan duduk dikursi ruang makan.
"Sarapan apa kita pagi ini Lily" tanya Edward. Edward senyum-senyum sendiri membayangkan dirinya di luar control tadi malam.
"Nasi goreng ayam sosis, Tuan" Jawab Lily.
"Sepertinya enak, dari aromanya sudah membuat saya lapar" tutur Edward.
Lily meletakkan 2 piring nasi goreng ayam sosis di meja makan.
"Lehermu kenapa Lily?" Edward pura-pura tidak tahu.
"I-ini saya juga tidak tahu Tuan. Saya baru tahu waktu bagun tidur tadi" Lily menutupi bekas merah di lehernya dengan tangan.
"Mungkin itu gigit serangga saat kamu tidur di sofa tadi malam. Nanti kamu bersihkan sofanya biar tidak ada serangga nakal" Edward tersenyum tipis, sampai Lily tidak melihat senyuman itu.
"Iya Tuan" jawab Lily singkat.
"Jangan lupa setiap ke kantor kamu pakai syal atau baju yang bisa menutupi warna merah di leher kamu. Biar orang tidak menilai kamu macam-macam" ucap Edward.
flashback off
"Ada apa ini?" tiba-tiba Edward sudah ada belakang Kimberly, dengan tatapan dingin seperti biasa.
Leon yang ada di samping Edward memperhatikan kedua perempuan yang ada didepannya.
"Tuan Edward" Kimberly membalikkan badan dan sedikit minggir.
"Ini Syal kamu Lily. Tadi jatuh diruangan saya" Edward memberikan syal yang dibawanya kepada Lily.
"Terima kasih Tuan" Lily mengambil syal dari tangan Edward.
Edward dan Leon lalu pergi meninggalkan Lily dan Kimberly. Setelah itu Lily meninggalkan Kimberly yang berdiri di depannya.
To be continue
...----------------...
__ADS_1