Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 75. Batal Dinner Romantis


__ADS_3

Setelah sampai di depan gedung apartemen Lily bangun dari tidurnya. Dia membuka lebar matanya, supaya tidak mengantuk lagi.


Lily dan Edward turun dari mobil. Tidak lupa Lily mengucapkan terima kasih kepada Leon. Beda dengan Edward. Dia pergi saja tanpa ucapan terima kasih.


Edward merangkul pinggang Lily berjalan menuju lift apartemen. Di dalam apartemen Edward meremas pantat Lily, karena gemas.


Aaaahhhh. Lily kaget spontan mendesah. Lily lalu melotot dan memukul dada Edward. Edward tertawa saat melihat Lily panik.


Ting


Pintu lift apartemen telah terbuka. Lily segera masuk ke dalam apartemen. Lily ingin sekali mandi. Dia berlari ke dalam kamar.


Edward yang melihat tingkah Lily mengerutkan dahinya. Edward pergi ke dalam kamar untuk bersih-bersih dan makan malam bersama Lily.


Edward rencananya akan mengajak Lily pergi makan di luar. Edward ingin sekali-kali makan romantis di luar.


Edward sudah memesan tempat khusus untuk mereka berdua. Edward ingin membiasakan Lily hidup dengan lingkungan yang berbeda.


Edward keluar kamar dengan pakaian rapi semi formal. Lily sedang memasak di dapur.


"Kamu masak apa sayanh?" tanya Edward.


"Masak makan malam biasa" jawab Lily.


"Ganti bajumu kita makan malam di luar sayang" ucap Edward.


"Aku sudah terlanjur memasak Schnitzel sayang" ucap Lily.


"Ayo ganti baju sayang. Aku sudah memesan tempat untuk makan malam kita berdua" ucap Edward.


Schnitzel adalah makanan khas Jerman yang menggunakan potongan daging tanpa tulang yang sangat tipis, seperti daging sapi muda, babi, sapi atau ayam. Dagingnya bisa dilapisi tepung roti lalu digoreng, ditumis, atau hanya dikonsumsi tanpa tepung roti.


"Iya, iya aku ganti baju" ucap Lily.


Lily menyimpan makanan yang dia masak di tempat penyimpanan makanan. Setelah itu dia pergi ke dalam kamar untuk ganti pakaian.


Lily keluar dengan memakai dress panjang berwarna hitam dengan lengan pendek bertumpuk. Selain itu Lily juga memakai highheels yang di belikan Edward dan memakai kalung pemberian Alm ibunya yang dia pakai sejak kecil.


Edward yangbtidak pernah melihat Lily memakai dress, langsung melongo. Dia terpesona melihat kecantikan kekasihnya tersebut. Apalagi dengan rambut yang di kepang dan di beri hiasan penjempit rambut di bagian samping dan dengan sedikit rambut di biarkan terjuntai di sisi kiri dan kanan telinganya.


"Ayo sayang kita pergi" Lily berjalan mendekati Edward.


Edward masih belum sadar kalau Lily mendekatinya. Dia tersihir kecantikan perempuan bermanik hijau tersebut. Hidung mancung dengan bibir tipis berwarna pink membuat Lily semakin mempesona.

__ADS_1


"Sayang, Ayo kita berangkat" ucap Lily lagi


"Aah iya. Ayo" Edward tersadar dari keterpesonanya terhadap Lily.


Edward merangkul pinggang Lily, menarik dagu Lily dan ******* bibir kekasihnya yang sudah menjadi candu untuk dirinya tersebut.


Lily membalas ******* Edward. Saling panggut memanggut tidak mau saling kalah. Akhirnya Lily mengakhiri ciuman panas tersebut.


"Sudah sayang. Kalau kita teruskan, kita tidak akan jadi pergi makan di luar" Lily membersihkan bibir Edward yang ada bekas lipstiknya.


"Maaf kan aku sayang. Kamu terlalu cantik sampai aku tidak bisa tahan untuk tidak menciummu" Edward menatap Lily.


"Jadi sekarang kita makan di luar atau di rumah?" tanya Lily.


"Di rumah saja. Kita makan Schnitzel yang kamu masak dan bikinkan aku spagheti sayang" ucap Edward mengendus-ngendus ceruk leher Lily.


"Percuma aku ganti baju. Kalau ujung-ujungnya kita makan dirumah" Lily mengelus rambut kekasihnya yang sedang manja.


"Aku tidak ingin berbagi kecantikanmu dengan laki-laki di luar sana. Hanya aku yang boleh memandangmu dan menyentuhku" Edward mengecup bibir Lily.


"Iya, iya. Kalau begitu aku panaskan dulu makanannya dan membuatkan spagheti untukmu sayang" ucap Lily.


Edward melepas pelukannya dan membiarkan Lily ke dapur. Dia membuka jas yang dipakainya dan diletakkan disofa.


Edward mengambil air putih dan meminumnya. Bukan Edward namanya kalau tidak menggoda Lily. Edward memeluk Lily dari belakang.


Sssshhhhhhh eemmmmm


"Sayang lepas. Aku sedang membuat spagheti untukmu" ucap Lily.


"Kamu sangat cantik sayang" bisik Edward di telinga Lily.


Eeeemmmm saa-yaaaaanggg aaahhh.


"Sepertinya kamu sudah siap sayang" ucap Edward.


"Tidak sekarang sayang. Nanti setelah makan" ucap Lily.


"Lilhatlah" Edward memperlihatkan dua jarinya kepada Lily.


"Itu karena perbuatanmu. Makanya basah, dasar om genit" Lily mencubit pinggang Edward.


"Hahahaaaaa" Edward tertawa.

__ADS_1


"Ayo makan. Aku sudah sangat lapar sayang" Lily meletakkan Spagheti di meja makan.


Edward langsung gerak cepat memakan spagheti buatan Lily. Bukan hanya Lily yang lapar. Edward juga lapar.


Mereka berdua makan dengan tenang. Karena mereka kelaparan jadi mereka tidak saling bicara di meja makan. Mereka terlalu fokus pada makanan yang ada mereka makan.


Edward bersandar di senderan kursi. Perutnya kenyang bahkan dia beberapa kali bersendawa. Lily sampai geleng-geleng kepala, melihat kekasihnya yang kalap saat makan.


"Perutku sakit sayang. Sepertinya aku kekenyangan" ucap Edward.


"Salah sendiri, makan tidak pelan-pelan" ucap Lily.


"Aku lapar banget sayang. Aku sudah membayangkan makanan direstoran yang aku booking. Tapi gagal gara-gara kamu" ucap Edward.


"Kenapa jadi aku yang salah sayang. Kamu sendiri yang membatalkan makan malam kita diluar" Lily membalikkan keadaan.


"Itu karena kamu terlalu cantik. Aku tidak mau kamu dilihat mata laki-laki hidung belang" ucap Edward.


"Ya sudah kamu pindah duduk di sofa sayang, nanti aku ambilkan obat antasida dan air hangat. Supaya perut kamu bisa longgar" ucap Lily.


Edward pindah duduk di sofa dan Lily mencuci piring terlebih dahulu sebelum menyusul Edward di Sofa ruang tamu.


"Minum dulu air hangatnya sayang, baru minum obatnya" Lily memberikan air hangat kepada Edward.


Edward meminum air hangat pemberian Lily setelah itu meminum obat yang di kasih Lily. Lily memang menyediakan obat di apartemen Edward. Obat-obat yang jual di apotek untuk sakit ringan yang biasa dialami semua manusia.


Lily berjaga-jaga setidaknya saat sakit seperti Edward sekarang. Dia tidak perlu keluar rumah untuk membeli obat. Karena dia sudah siap sedia di rumah.


"Bagaimana sayang, sudah enakan?" tanya Lily.


Saat Edward ingin tiduran di paha Lily. Lily melarangnya. Edward tidak boleh tidur sebelum perutnya kembali normal.


"Aku ingin tidur sayang" ucap Edward.


"Tidak boleh sayang. Nanti perut kamu sakit lagi. Kalau sudah normal baru boleh tiduran" ucap Lily.


Edward menarik tangan Lily. Dia menyuruh Lily mengusap perutnya biar cepat sembuh.


"Dasar bayi besar manja" Lily mengusap perut Edward.


Edward sangat menikmati bentuk kasih sayanng yang Lily berikan kepadanya. Memang benar kata orang dalam hubungan itu, 2 orang harus saling mencintai. Biar balance perhatian dan kepedulian terhadap pasangan, sehingga tidak ada kata bosan untuk saling memanjakan dan memberikan kepedualian terhadap pasangan.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2