
Cup
Lily spontan berdiri dan mencium Edward. Entah dapat keberanian dari mana Lily berani mencium Edward. Apa efek dari Lily bahagia karena tidak jadi di pecat, atau karena Lily sudah mulai tertarik dengan Edward, tanpa Lily sadari dia mulai menaruh hati dengan Edward.
Edward yang mendapat kecupan dari Lily di pipinya, tampak shock. Edward mematung memegangi pipi yang telah di cium Lily.
Lily sang pelaku, langsung kabur dari ruang kerja Edward. Dia juga merasa shock karena tiba-tiba mencium laki-laki bermata biru tersebut.
Lily masuk ke kamar, lalu melihat ke meja rias. "Apa yang aku lakukan. Dasar Lily bodoh" Lily merutuki kebodohannya dengan memukul-mukul bibirnya.
"Aku akan sangat malu saat bertemu dengan Tuan Edward besok" beo Lily. "Bagaimana ini, Tuan Edward pasti marah, jangan sampai aku diusir dari sini. Bodoh ... bodoh ... bodoh" Lily terus memaki dirinya sendiri.
Edward tersadar dari mematungnya. Dia tersenyum, walaupun tidak tahu kecupan di pipinya itu pertanda baik atau buruk. Yang pasti sekarang Edward sangat bahagia. Dia lompat-lompat seperti orang menang lotre.
"Yes" Edward melakukan gerakan menaik turunkan tanganya dengan mengepal. "Lily akan terikat dengan perjanjian yang aku buat, dengan begitu dia tidak akan pernah melihat Leon lagi" Edward tersenyum cerah.
Edward lalu keluar ruang kerja menuju kamarya. Edward sempat sekilas melihat ke arah pintu kamar Lily. Lalu dia teruskan berjalan.
Edward masih semyum-senyum sendiri. Sampai akhirnya di diganggu deringan ponsel miliknya. "Kenapa Leon menelpon malam-malam begini" Edward melihat nama yang terpampang nyata di layar ponselnya.
[Hallo Leon. Ada apa?]
[Hallo Edward, maaf menganggu waktu istirahatmu]
[Heem, katakan!! Ada Apa Leon]
[Aku sudah menghubungi Tuan Arthur. Lusa dia akan datang ke Humburg menemuimu]
[Cuma itu yang ingin kamu katakan Leon? Bukankah itu bisa kamu katakan saat kita bertemu di kantor. DASAR BEDE BAH!!]
Leon yang mendengar makian Edward dari telpon seberang tertawa cekikikan. Apa yang dikatakan Edward memang benar. Leon bisa memberi tahu informasi tersebut besok, saat mereka tiba di kantor. Leon senggaja menelpon Edward karena dia ingin tahu bagaimana suasana hati Edward sekarang.
Terakhir mereka bertemu, berakhir dengan perang dingin. Membuat mood Edward sangat buruk. Saat mendengar Edward sudah memaki-maki dia kembali, berarti suasana hatinya sudah membaik. Leon senang akan hal itu.
[Sepertinya suasana hati Tuan muda, sudah baik-baik saja. Hahaaaa]
[SIAL AN KAU LEON]
__ADS_1
Tut ... Tut ... tut ...
Edward menutup telpon Leon sepihak. Karena Leon menganggu acara mengkhayal si Edward.
"Leon sialan, menelpon hanya memberi tahu sesuatu yang tidak terlalu penting" Edward meletakkan benda pipih tersebut di atas meja.
"Apa itu berarti Tuan Arthur bersedia membantuku. Dia jauh-jauh dari paris ke Jerman hanya untuk bertemu denganku. Padahal dia pebisnis yang cukup sibuk" Edward mondar-mandir di depan ranjang.
"Ah sudahlah. Yang penting Tuan Arthur menemuiku besok lusa. Aku mau tidur" Edward merebahkan dirinya di atas ranjang empuk berukuran king size.
Pagi hari seperti biasa Lily menyiapkan sarapan untuk Edward. Lily masih takut kalau Edward akan marah soal kejadian tadi malam.
Lily juga malu, mukanya bersemu merah saat membayangkan dia mencium Edward. Ada perasaan aneh bercampur senang saat ini yang dirasakan Lily. Lily juga binggung dengan perasaan yang dialaminya akhir-akhir ini, saat bersama Edward.
"Sarapannya sudah siap Lily?" Edward muncul dari arah kamarnya.
Lily kaget saat suara Edward memanggilnya. Pisau yang dipegang Lily sampai jatuh ke lantai.
"Hati-hati Lily. Kamu melamun apa, sampai kaget begitu" Edward mengambil pisau yang jatuh di lantai.
"Duduklah kita makan bersama. Bagaimana perkembangan kuliahmu Lily?" Edward menggunyah roti buatan Lily.
"Minggu depan tes terakhir penentuan Lulus atau Tidak, Tuan" jawab Lily.
"Belajarlah yang rajin, supaya kamu bisa lulus masuk kuliah" Edward membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Iya Tuan. Saya juga belajar dengan buku-buku yang Tuan belikan untuk saya" ucap Lily.
"Bagus. Saya yakin kalau kamu Rajin belajar. Kamu pasti lulus tes Lily" Edward mengusap rambut Lily yang masih makan roti, sedangkan Edward sudah berdiri akan berangkat kerja.
"Iya Tuan. Itu harapan saya. Supaya saya bisa mendapat pekerjaan bagus setelah saya lulus kuliah. Tuan apa saya boleh kerja diperusahaan Tuan Edward kalau saya lulus kuliah nanti?" Lily berbicara dengan sangat hati-hati.
"Kamu tidak perlu bekerja di tempat saya Lily, karena suatu hari nanti kamu akan memimpin perusahaanmu sendiri" Edward tersenyum kepada Lily.
"Kita bahas ini nanti. Saya harus berangkat ke kantor. Kamu di rumah saja dan belajar yang rajin" Edward berjalan menuju pintu dan Lily mengekori Edward di belakang.
__ADS_1
"Jaga rumah Lily, saya berangkat kerja dulu" Edward membuka pintu.
"Baik Tuan" Lily menundukkan kepala.
Di luar gedung apartemen Leon sudah menunggu Edward. Leon dilarang masuk apartemen selama Lily tinggal di apartemen Edward, kecuali ada sesuatu yang mendesak dan penting.
"Berapa hari Tuan Arthur akan berada di Humburg Leon? Tanya Leon.
"Kata Tuan Arthur, dia akan tinggal di sini cukup lama. Dia sekalian mencari sahabat kecilnya yang dulu pernah tinggal 1 komplek yang dengan Tuan Arthur" Jawab Leon
"Tuan Arthur pernah tinggal di sini? bukannya kedua orang tua Tuan Arthur dari dulu tinggal di paris?" ucap Edward.
"Dulu mereka sempat tingga di sini beberapa tahun Tuan. Karena bisnis kakeknya di Paris membutuhkan bantuan orang tua Arthur, akhirnya mereka meninggalkan Humburg dan pindah ke Paris Tuan" Leon menceritakan ke pada Edward apa yang dia ketahui.
"Kamu tahu darimana cerita itu Leon?" tanya Edward penasaran.
" Tuan Arthur sendiri yang bercerita kepadaku" ucap Leon.
Edward dan Leon sudah sampai dikantor. Mereka keluar mobil menuju kedalam gedung.
"Tuan Edward ada yang sedang menunggu di ruangan Anda" ucap Kimberly.
"Siapa Kim?" Tanya Edward.
"Saya tidak tahu Tuan, dia tidak menyebutkan namanya. Dia hanya berkata, dari masa lalu" ucap Kimberly.
"Baiklah. Terima kasih Kim" ucap Edward.
Edward lalu masuk keruangannya. Dia melihat perempuan cantik berambut panjang dengan mata berwarna hijau, sedang duduk di sofa ruangannya.
Perempuan cantik tersebut tersenyum. Lalu menghampiri Edward. Edward hanya diam mematung. Dia tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu.
Sekilas di terlintas bayangan masalalu, yang membuat nyawanya hampir tak terselamatkan. Beruntung ada malaikat baik yang menolong Edward untuk mendonorkan darahnya. Sehingga Edward bisa selamat dan masih bisa berdiri sampai sekarang.
"Hai, Apa kabar Edward?" perempuan itu menyapa Edward yang berdiri di depan pintu.
"Kylie"
__ADS_1
To be continue ...