Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 74. Peter Pulang Kampung


__ADS_3

"Kamu bodoh Leon. Kenapa kamu bisa jatuh cinta secepat itu kepada Kimmy. Padahal dia tidak bisa mendukung keputusanmu" Leon memegangi kepalanya dan duduk di atas sofa.


"Sudah cukup Leon. Keputusanmu benar, kamu tidak perlu memikirkan perempuan manapun. Kamu harus bisa bersama dengan perempuan yang mendukung keputusanmu" Leon bicara sendiri sambil berdiri menuju kursi kerjanya.


Leon sudah tidak bisa konsentrasi lagi dalam bekerja. Dia memutuskan untuk pergi keluar, sebelum Edward pulang dia akan kembali.


Leon bahkan tidak memperdulikan ponselnya yang sudah hancur tidak berbentuk. Leon meninggalkan ruangannya tanpa izin kepada Edward.


Karena dia tahu, bosnya pasti bermesraan dengan kekasih kecilnya tersebut. Leon ingin menenangkan diri, dia pergi ke suatu tempat yang hanya dia dan Edward yang tahu tempat itu.


Sementara Kimmy menyetir mobil dengan menangis sampai apartemen. Zain dan Paula bingung, kenapa Kimmy nangis lagi. Pergi dalam keadaan menangis, pulang juga dalam keadaan menangis.


Kimmy lalu masuk kedalam kamar dan menguncinya. Zain dan Paula hanya saling pandang. Mereka tidak berani bicara apapun sekarang. Dia membiarkan Kimmy sendirian dan menenangkan dirinya.


"Kamu jahat Leon. Kamu jahaaaatt hikss hikss" Kimmy menangis dan melempar bantal ke tembok.


Kimmy merasa hancur. Saat tahu kalau Leon lebih memilih keluarga Edward daripada dirinya. Padahal Kimmy sangat mencintai Leon.


"Kenapa kisah cintaku begini. Tidak bolehkah aku merasa senang dengan orang yang aku cintai hiks hiksss" Semakin deras tangisan Kimmy.


Lama kelamaan Kimmy tertidur karena capek menagis. Dia tidur sangat lelap. Berharap semua kejadian hari ini adalah mimpi.


Menjelang sore Leon kembali ke kantor. Dia menjemput Edward dan Lily di kantor.


"Tuan sudah waktunya pulang" Leon masuk kedalam ruangan Edward.


Edward masih sangat serius dengan pekerjaanya. Sedangkan Lily tidur di kamar pribadi Edward.


"Lily sudah pulang Tuan" tanya Leon.


"Tidur di kamar" jawab Edward.


"Ayo pulang Tuan. Saya akan bereskan yang di meja. Tuan bangunkan Lily saja" ucap Leon.


Edward berdiri menuju kamar pribadinya. Lily terlihat masih sangat pulas. Edward mencoba membangunkan Lily.


"Sayang bangun. Kita pulang. Ini sudah sore" Edward mengelus pipinya Lily.


Eeemmm Lily mengerakkan badannya. Lily mencoba membuka matanya yang masih mengantuk.


"Apa sudah waktunya pulang" tanya Lily dengan mata masih tertutup.


"Iya sayang. Ini sudah sore. Leon sudah menunggu di luar" ucap Edward.

__ADS_1


Lily membuka matanya. Meskipun masih mengantuk, Lily harus membuka mata dan duduk di atas ranjang.


"Aku masih mengantuk" Lily mengerjap-ngerjapkan matanya supaya terbuka sempurna.


"Nanti kamu bisa tidur di mobil sayang" Edward menarik tangan Lily.


"Aku mau cuci muka dulu sayang. Kamu keluar saja dulu" ucap Lily.


"Aku tunggu di luar ya" Edward lalu pergi keluar kamar.


Leon duduk di sofa, dia duduk menunggu Edward dan Lily keluar dari kamar pribadi Edward.


"Lily belum bangun Tuan?" tanya Leon.


"Dia cuci muka. Sebentar lagi keluar" jawab Edward.


"Apa Kimmy sudah pulang?" tanya Edward.


"Iya. Sudah pulang dari tadi siang Tuan" jawab Leon.


Leon tidak akan menceritakan masalahnya dengan Kimmy. Karena ini juga menyangkut Lily. Edward pasti akan marah kalau Lily di rendahkan oleh orang lain.


"Apa yang ingin kalian bahas tadi denganku" Tanya Edward.


"Soal ulang tahun Lily. Lebih baik Tuan bicarakan dengan Kimmy sendiri. Karena dia yang lebih tahu konsepnya" jawab Leon.


Leon hanya mangguk-mangguk saja. Dia mencoba menampakkan wajah yang biasa saja. Supaya Tuannya tidak curiga.


"Kamu sudah selesai Lily" tanya Leon saat melihat Lily keluar dari kamar Edward.


"Iya. Ayo kita pulang" ucap Lily.


Edward berjalan bersama Lily. Sedangkan Leon berada di belakang. Leon mencoba tidak mengingat-ingat kejadian tadi siang.


Leon memang mencintai Kimmy. Tapi perkataan Kimmy sungguh sangat melukai hatinya. Entah apa yang di pikirkan Kimmy sampai bisa merendahkan Lily seperti itu. Itu sama saja Kimmy merendahkan dirinya secara tidak langsung.


Leon sangat kecewa dengan ucapan Kimmy soal karyawan yang tidak berhak mendapatkan cinta. Seolah-olah orang kaya hanya boleh mencintai orang kaya juga.


Sedangkan orang yang tidak punya seperti dirinya tidak pantas bersanding dengan orang kaya. Leon tidak pernah habis pikir kalau pemikiran Kimmy sepicik itu.


"LEOOOOONNNNN" Teriak Edward.


"Iya Tuan" jawab Leon tanpa dosa.

__ADS_1


"Kamu melamun?" tanya Edward.


"Tidak Tuan" jawab Leon.


"Apanya yang tidak melamun. Dipanggil daritadi tidak menjawab. Cepat buka pintunya" perintah Edward.


"Oh ... iya Tuan" Leon menekan remote mobil untuk membuka pintu mobil di depannya itu.


"Kenapa kamu melamun Leon?" tanya Edward saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tidak Tuan. Saya capek dan mengantuk Tuan. Makanya tidak konsentrasi" ucap Leon mencari alasan.


"Aku saja yang menyetir kalau begitu. Aku tidak mau kalau kita kenapa-napa" ucap Edward.


"Tidak apa-apa Tuan. Aku masih bisa menyetir" ucap Leon.


"Ya sudah hati-hati menyetirnya Leon" pesan Edward.


"Iya Tuan" Leon menjalankan mobilnya keluar dari kantor.


Sepnajang jalan mereka bertiga hanya diam. Lily kembali tidur, dia sangat mengantuk karena capek mengerjakan tugas kuliah.


"Apa persidangan Kloe sudah berjalan Leon?" tanya Edward.


"keputusannya minggu depan Tuan. Kemungkinan dia akan di penjara selama 5 tahun karena kasus penyerangan di tempat umum" jawab Leon.


"Sudah cukup untuk untuk memberikan dia pelajaran supaya sadar. Dia juga kehilangan kesempatan emas untuk kuliah" ucap Edward.


"Iya Tuan. Mantannya langsung menguras habis tabungan dan uang di perusahaan Peter" ucap Leon.


"Bagaimana keadaan Peter dan istrinya" tanya Edward.


"Peter mengalami stroke dan istrinya menganggur di dirumah. Mereka juga kembali ke Hannover karena sudah tidak punya tempat tinggal" jawab Leon.


"Padahal aku belum menemui Peter. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka. Setidaknya apa yang direbut dari pemiliknya akan kembali ke pemilik yang sesungguhnya" Edward mengecup pucuk kepala Lily yang tertidur di dadanya.


"Kalian sepertinya sudah di takdirkan untuk bersama sama Tuan. Orang tua kalian meninggal di tangan orang yang sama. Padahal Tuan dan Lily tidak saling kenal. Tuhan sepertinya mengirim Lily kepada Tuan untuk memperlancar tujuan Tuan" ucap Leon.


"Mungkin saja Leon. Aku juga tidak tahu kalau Lily adalah keponakan dari Peter. Awalnya aku hanya ingin mengorek informasi tentang Peter dari Lily. Mendengar cerita Lily yang sangat diperlakukan tidak adil membuat aku merasa kasihan. Akhirnya aku minta bantuan Grandpa dan menemukan jalan untuk membalikan keadaan peter" ucap Edward.


"Apakah semua sudah berakhir Tuan?" tanya Leon.


"Entahlah Leon. Aku masih belum yakin. Aku takut melepas Lily tanpa pengawalan. Apa kamu sudah menemukan orang kepercayaan papanya Lily Leon?" tanya Edward.

__ADS_1


"Sudah Tuan"


To be continue ....


__ADS_2