Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 58. Lily Pingsan


__ADS_3

Lily meneteskan air mata. Dia tidak tahan melihat kebahagiaan Edward bersama dengan perempuan lain.


"Pak Leon. Bisa antarkan saya ke kampus sekarang" Lily menunduk sambil menangis.


Leon tahu Lily sedang menangis karen terluka, tapi Leon juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia membiarkan Lily menangis supaya dia lega.


Leon Juga tidak tahu siapa perempuan itu. Dia tidak pernah melihat perempuan yang bersama Edward itu selama dia bersama Edward.


'Siapa perempuan itu?' batin Leon. Leon pergi meninggalkan area parkir kantor. Dia mengantar Lily pergi ke kampus.


Setelah sampai Lily menghapus air matanya dan Leon memeluk Lily. Dia memberikan pelukan biar Lily tenang.


"Terima kasih Pak Leon" Lily keluar dari mobil.


Setelah mengantar Lily. Leon langsung kembali ke kantor. Sepanjang jalan Lily tidak bersemangat masuk kelas. Lily bahkan tidak bersemangat untuk kuliah.


'Kenapa rasanya sakit sekali saat mencintai orang tapi orang yang kita cintai bersama perempuan lain' batin Lily.


Lily kembali menangis saat menuju ruang kelas. Lily membelok, dia menuju ke kamar mandi. Dia ingin mencuci muka, supaya mukanya lebih segar.


Setelah dari kamar mandi. Lily merasakan pusing, dia sekuat tenaga menahannya. Lily mensugesti dirinya supaya kuat berjalan sampai di ruang kelas.


"Aku tidak boleh sakit. Aku tidak punya siapa-siapa untuk menolongku. Aku harus kuat" gumam Lily.


Akhirnya Lily sampai kelas dengan sisa tenaga yang ada. Lily menahan rasa pusing dan badannya yang sudah lemas.


"Lily. Muka kamu pucat sekali. Apa kamu sakit?" tanya Chelsea.


"Heemm, tidak. Aku hanya pusing saja" jawab Lily.


"Apa kamu sudah makan Lily? tanya Taylor.


"Belum" jawab Lily.


"Makanlah ini Lily" Tony memberikan roti kepada Lily.


"Tidak usah Tony. Aku baik-baik saja. Nanti setelah kelas selesai, aku akan makan" ucap Lily.


"Aku tidak yakin kamu baik-baik saja Lily. Mukamu sangat pucat" tambah Bryan.


"Selamat Pagi semua" Ucap Bu dosen.


Semua mahasiswa duduk dengan rapi. Mereka mendengarkan dengan seksama dan tenang. Lily merasa ingin muntah. Badannya sangat lemah.


Sekitar satu setengah jam. Kuliah usai, seluruh mahasiswa keluar kelas. Termasuk Lily.

__ADS_1


"Kita ketaman saja, menunggu jam selanjutnya" ucap Bryan.


"Iya setuju" ucap Tony.


Mereka bertujuh termasuk Lily berjalan menuju taman kecil fakultas. Disana banyak sekali mahaiswa yang bergerombol bersama teman-temannya.


Lily berjalan paling belakang dengan Alicia. Lily merasakan jalan didepannya begoyang-goyang. Lily memegangi kepalanya.


Brruuuuuukk


"Lily" Alicia langsung menoleh dan menghampiri Lily. Lily pingsan jatuh ke lantai. Teman-teman yang lain juga menolong Lily.


Mereka panik. Alicia menggunakan pahanya untuk dijadikan bantalan Lily. Sedang yang lainnya mencari cara supaya Lily sadar.


Pingsannya Lily membuat mahasiswa berkerumun. Arthur yang kebetulan mencari Lily di kampus karena mendapat informasi orang kepercayaan Edgar, langsung mencari ke Universitas Humburg.


Banyak mahasiswa berkerumun membuat Arthur penasaran. Dia bertanya kepada kepada salah satu mahasiswa yang berjalan.


"Permisi. Fakultas Bisnis ada disebelah mana?" tanya Arthur.


"Gedungnya ada disebelah sana" tunjuk mahasiswa tersebut ke arah gedung Fakultas Bisnis.


"Terima kasih. Itu ada apa kok rame-rame?" tanya Arthur.


"Oh itu ... ada yang jatuh pingsan Tuan" jawab Mahasiswa tersebut.


"Iya ... iya silahkan. Terima kasih informasinya" ucap Arthur.


Mahasiswa tersebut lalu meninggalkan Arthur. Arthur seperti ada yang menariknya untuk melihat kerumunan itu. Tapi di urungkan karena terlalu banyak mahasiswa.


Sekitar sepuluh langkah dari kerumunan, Arthur berhenti. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang tidak enak saat melewati kerumunan mahasiswa yang pingsan tersebut.


"Lily bangun" ucap Alicia.


"Lily buka matamu" Diego menepuk pipi Lily pelan.


Deg


"Lily" gumam Arthur.


Arthur merasa deg-degan saat mendengar nama Lily disebut dalam kerumunan tersebut. Deg-degan bukan karena jatuh cinta. Tapi deg-degan mungkinkah itu Lily yang dia cari.


Arthur lalu berbalik dan melihat kerumunan mahasiswa tersebut. Mata Arthur terbelalak saat melihat Lily yang dia cari tidak sadarkan diri.


Athur lalu mendekat. Dia langsung mengendong Lily menuju mobilnya.

__ADS_1


"Kalian ikut saya ke Rumah Sakit" ucap Arthur.


mereka berenam langsung mengikuti Arthur ke area parkir. Arthur panik, karena menemukan Lily dalam keadaan pingsan.


Toni, Alicia, Chelse dan Bryan ikut kerumah sakit. Bryan dengan Tony membawa mobil sendiri. Sedangkan Taylor dan Diego tidak ikut, Karena mereka akan mengizinkan teman-teman mereka pergi mengantar Lily ke Rumah Sakit.


Mereka akan menyusul setelah kuliah kedua selesai. Arthur menyetir seperti orang kesetanan. Dia mengebut, karena Lily tidak sadarkan diri juga.


Sekitar 20 menit Arthur sampai ke Rumah Sakit. Dia mengendong Lily masuk ke dalam Rumah sakit. Arthur sangat panik, sebenernya apa yang terjadi dengan Lily. Kira-kira seperti itu di dalam pikiran Arthur Miller.


"DOKTER, SUSTER!!" Arthur berteriak memanggil pegawai kesehatan, dengan Lily masih di gendongannya.


Perawat langsung datang membawa Stretcher untuk menidurkan Lily. Perawat memberikan penanganan pertama kepada Lily.


Jarum suntik menempel di kulit Lily untuk menempelkan selang infus terpasang di tangan Lily. Lily masih belum sadar di ruang UGD.


Arthur menunggu Lily di samping tempat tidur pasien. Orang selama ini dicarinya, sudah didepan mata tapi dia belum sadarkan diri.


Ke empat teman menunggu Lily diluar. Mereka menunggu Lily untuk dipindah di rawat inap. Setelah menunggu sekitar 30 menit, Lily dipindah ke ruang rawat inap VIP.


Ke empat teman Lily dan Arthur mengikuti Lily dipindah ke ruang inap VIP. Wajah mereka sangat cemas. Selang beberapa menit dokter datang. dokter memeriksa kesehatan Lily.


"Bagaimana keadaan pasien dok?" Tanya Arthur.


"Apa Anda wali dari pasien?" tanya dokter.


"Iya dok. Saya walinya. Bagaimana keadaan pasien dok?" tanya Arthur.


"Pasien terkena penyakit Tipes, selain itu pasien juga mengalami dehidrasi karena tidak ada asupan makanan dan minuman didalam tubuh pasien selama beberapa hari" dokter menjelaskan keadaan Lily.


Tipes atau demam tifoid adalah penyakit yang terjadi karena infeksi bakteri Salmonella typhi yang menyebar melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi. Penyakit ini yang banyak terjadi di negara-negara berkembang dan lebih sering dialami oleh anak-anak. Tifus dapat membahayakan nyawa jika tidak ditangani dengan baik dan secepatnya.


"Apa? Bagaimana bisa Lily tidak makan dan minum?" gumam Arthur.


"Saya sarankan untuk memastikan pasien makan tepat waktu dan minum yang banyak" ucap dokter.


"Selain itu pasien sakit apa dok?" tanya Arthur.


"Tidak ada. Pasien hanya kecapekan dan banyak pikiran saja. Mungkin itu yang menyebabkan tubuhnya drop. Sehingga pasien jatuh pingsan. Saya sudah memberikan suntikan supaya pasien bisa istirahat " jawab dokter.


"Terima kasih dok" ucap Arthur.


dokter dan suster minta izin pergi dari ruangan Lily. Lily tidur dengan pulas dengan wajah pucat. Arthur mengambil ponsel menelpon seseorang.


"Saya minta tolong kepada kalian, tolong jaga Lily sebentar. Saya mau menelpon" Arthur keluar ruangan untuk menelpon.

__ADS_1


Sementara di ruangan Edward. Edward dan Perempuan yang dilihat Lily dan Leon, sedang asik bercerita sambil tertawa bahagia.


Bersambung ....


__ADS_2