
Eeeeuuuugggg ... Edward merasa kepalanya sakit sekali. Saat membuka mata Edward kaget, dia tidak percaya kalau sekarang dia dan Lily satu ranjang. Sedangkan Lily hanya menggunakan tangtop saat tidur.
Edward masih tidak percaya kalau dia tidur bersama Lily lagi dan kali ini dikamar Lilu.. Dia benar-benar lupa tentang apa yang terjadi tadi malam. Bahkan tangannya masih memeluk tubuh Lily yang tidur di dekapannya.
Edward meringis karena kepalanya masih terasa berat. Edward mencoba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam.
Saat Edward masih belum ingat apa yang telah dia lakukan, Lily masih asik berada di dimensi mimpi. Lily sangat tenang dan nyaman. Dia bahkan tidak bergerak sama sekali saat Edward, mengelus-elus punggung Lily.
Lily malah semakin mempererat pelukan pada tubuh Edward. Tanpa sadar Edward menyunggingkan senyuman dari bibir tipisnya itu.
Dia berniat akan membuat Lily jatuh cinta kepada dirinya dan melupakan Leon. Padahal, apa yang dirasakan Lily hanyalah suka karena kagum kepada Leon, bukan suka karena cinta.
Tapi Edward salah mengartikan perkataan Lily pada waktu itu. Sehingga dia berpikir, kalau Lily punya ketertarikan kepada Leon. Membuat dirinya selalu kalang kabut, setiap Leon memercikkan api kecemburuan kepada Edward.
'Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?aku benar-benar tidak ingat' Edward membatin. Lebih baik aku bangun dan kembali ke kamarku, "Siapa tahu aku bisa mengingat kejadian terakhir sebelum aku tidur disini" gumam Edward.
Edward pelan-pelan melepas tangan Lily yang berada di pinggangnya. Dia tidak ingin membangunkan Lily, yang sedang tidur sangat nyenyak sekali.
Pelan-pelan Edward keluar dari kamar Lily dengan berjalan berjinjit, supaya tidak mengeluarkan suara saat berjalan.
Edward melihat ponselnya berada di lantai dan hancur berantakan. Tiba-tiba teringat kejadian, kenapa ponselnya bisa hancur. Mood pagi yang tadinya cerah kembali mendung.
"Aku harus menyingkirkan perempuan itu secepatnya. Jangan sampai dia merusak hubunganku dengan Lily" Edward duduk di kursi yang ada di kamarnya.
"Lebih baik aku mandi dulu, terus pergi kekantor. Aku akan memikirkannya nanti setelah tiba dikantor" Lewat berjalan ke kamar mandi.
Eeemmmm ... Lily meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah bangun tidur. Tiba-tiba Lily tersenyum saat mengingat kejadian semalam bersama Edward.
Lily lalu mengelus-elus bibirnya sambil tersenyum. "Jadi semalam adalah ciuman pertamaku. Jadi seperti itu rasanya berciuman" Lily kembali tersenyum.
__ADS_1
Sepertinya hari ini adalah musim semi bagi Lily. Tumbuh dan bermekaran bunga-bunga di hati Lily. Sedangkan Humburg sedang musim dingin. Tapi tidak membuat hati Lily kedinginan.
"Aku akan membuat sarapan untuk tuan Edward" Lily mengambil sweater di gantungan baju. Lily akan memasak makanan special untuk Edward.
"Aku akan memasak Kartoffelpuffer dan Eintopf sangat cocok sekali saat musim dingin seperti ini. Lily memotong semua bahan yang dibutuhkan untuk membuat makanan tersebut. Dia juga sangat cepat meracik bumbu yang menambah cita rasa yang lezat untuk sarapan pagi ini.
Kartoffelpuffer adalah sejenis kue dadar kentang yang terbuat dari kentang, tepung dan telur. Biasanya makanan ini didampingi dengan krim asam, keju cottage, saus apel dan gula.
Kartoffelpuffer juga dikenal sebagai Reibekuchen, Reibeplatzchen, Reiberdatschi dan Grumbeerpannekuche, tergantung pada wilayah Jerman. Makanan ini menjadi hidangan favorit untuk disajikan di rumah, khususnya musim dingin.
Makanan ini dibuat dengan cara direbus, jadi rasanya hangat. Hidangan ini terbuat dari daging sapi, kentang, wortel, sayuran dan kaldu sayur.
"Sepertinya sudah siap sarapan kita pagi ini" Edward berjalan menuju meja makan. Saat mendengar suara Edward, jantung Lily berasa mau copot. Lily sangat gugup. Ini berbeda dari sebelumnya, Lily malu kalau Edward ingat apa yang mereka lakukan tadi malam.
Lily meletakkan sarapan di atas meja. Edward melihat leher Lily banyak bekas merah. Edward membolakan matanya dan menelan saliva berkali-kali. Sudah pasti Edward tahu kalau itu adalah kiss mark.
Lily masih belum sadar dan tidak tahu bekas yang di tinggalkan Edward semalam masih tenang. Dia malu saat ini bukan karena tanda merah di lehernya karena memang dia belum tahu, tapi malu kalau Edward ingat saat berciuman panas dengan dirinya tadi malam.
Edward masih shock, dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, siapa yang telah melakukannya kepada Lily. kenapa Edward tidak ingat sama sekali.
"Lily, apa hari ini kamu akan keluar rumah?" Tanya Edward dengan sedikit ragu. " Iya Tuan, saya akan pergi ke kampus, jadwal tes sudah keluar" Jawab Lily. Lily menatap Edward lalu menunduk kembali.
"Kalau begitu kamu harus memakai pakaian yang menutupi leher kamu?" Edward gugup. "Kenapa Tuan"? Lily masih tidak mengerti. "Leher kamu di gigit serangga. Eheemm" Edwad berdehem, menutupi kegugupannya.
"Haaahh ... semalam saya tidur di ranjang. Apa di ranjang saya juga ada serangganya Tuan?" Lily benar-benar tidak tahu maksud dari ucapan Edward.
__ADS_1
"Kalau saya digigit serangga, kenapa Tuan tidak digigit juga. Semalam kita tidur di satu ranjang" Lily berbicara lirih tapi cukup didengar Edward
Edward yang sedang makan jadi tersedak mendengar ucapan Lily. Lily lalu mengambilkan air putih di sebelah Edward. "Ini Tuan. Tuan harus hati-hati saat makan" Lily menepuk-nepuk punggung Edward.
"Saya tidak apa-apa Lily, habiskan makanmu" Edward mengelus dadanya, akibat tersedak. 'Aku harus tahu apa yang terjadi semalam' batin Edward.
"Lily habiskan makanmu dan ingat saat keluar rumah, kamu harus menutupi lehermu dengan syal atau kamu pakai turtleneck" Edward meninggalkan meja makan.
Saat Edward melewati ruang santai, dia melihat botol Vodka dan gelas yang masih ada di atas meja. Seketika dia samar-samar mengingat kejadian semalam bersama Lily.
Edward menutup mulutnya, lalu menenggok kearah Lily yang berada di dapur sedang mencuci piring. "Oh Tuhan! Apa yang sudah aku lakukan semalam" Edward menepuk dahinya, lalu berjalan cepat ke dalam kamar.
"Jadi benar, aku yang memberi bekas merah di leher Lily. Aku melakukannya disaat mabuk? bodoh kamu Edward" Edward menutup pintu kamarnya.
Lily kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke kampus. Karena hari ini dia ingin mengetahui lokasi diadakannya tes minggu depan.
Lili mandi seperti biasa, setelah selesai mandi Lily bercermin di depan meja rias. Dia ingin tahu gigitan serangga yang di maksud Edward. Alangkah kagetnya Lily saat tahu banyak sekali tanda merah di leher dan dada atas, bukan cuma satu dua tanda merah, banyak sekali. Leher Lily seperti orang kena alergi.
"Bagaimana ini. Serangga apa yang menggigitku. Aku harus pergi ke dokter agar leherku cepat sembuh. Nanti setelah pulang dari kampus, aku akan ke apotik beli obat serangga, baru pergi kedokter" Lily memegang tanda merah di leher dan dada atas.
Lily lalu ganti pakaian dan bersiap-siap pergi ke kampus. " Eh ... lupa. Aku harus mencari nama obat serangga yang ampuh" ucap Lily. Lily lalu mengambil ponselnya di dalam tas.
Lily mencari di laman pencarian. Lily mengetik warna merah di leher karena serangga. Muncul banyak sekali gambar. Lily mencocokkan satu persatu gambar yang sesuai dengan warna merah di lehernya.
Karena terlalu banyak Lily tidak senggaja menekan gambar perempuan dengan bekas merah di leher. "Apa Ini. Kok sama seperti di leherku?" Lily lalu membaca Artikelnya.
"APAAAA!!"
To be continue ....
__ADS_1