Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 67. Kata Sayang


__ADS_3

Lily sudah masuk kuliah seperti biasa. Lily dan Edward sudah kembali seperti biasa.


Cup


Edward memeluk Lily dari belakang dan mencium pipi Lily. Lily merasa nyaman saat Edward memeluknya seperti itu.


Eeeemmm. Lily membuka matanya, merasakan tangan kokoh sedang memeluknya dari belakang.


"Kenapa Tuan ada di sini?" Tanya Lily.


"Aku tadi malam tidak bisa tidur. Jadi aku ke sini memelukmu" jawab Edward.


"Tuan boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Lily.


"Boleh. Mau tanya apa?" Edward membalikkan tubuh Lily.


Sekarang posisi Lily saling pandang dengan Edward. Edward mengelus pipi Lily lalu mengecup bibir Lily.


"Apa orang seperti saya tidak boleh mencintai ?" tanya Lily.


"Sepertimu bagaimana Lily?" tanya Edward.


"Gadis miskin dan yatim piatu" jawab Lily.


"Setiap orang berhak mencintai maupun di cintai Lily. Begitu juga dengan dirimu. Kamu juga berhak mencintai dan dicintai" ucap Edward.


"Tapi saya takut Tuan. Takut kalau suatu saat akan meninggalkan diriku seperti mama dan papa" ucap Lily.


"Semua orang pasti akan meninggalkan kita Lily. Kamu tidak perlu khawatir aku akan selalu berada di sampingmu. Meskipun ragaku tidak bersamamu lagi Lily" Edward menatap Lily teduh.


"Tuan jangan bicara seperti itu. saya takut, saya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Tuan jangan tinggalkan saya hiks hiks" Lily tiba-tiba menangis.


"Kenapa kamu menangis Lily. Aku tidak akan kemana-mana aku disini. Lihaat!! aku di sini kan?" ucap Edward.


"Tuan jangan bicara seperti itu lagi. Aku tidak mau Tuan kenapa-napa. Aku sayang Tuan" Lily memeluk Edward sangat erat.


Lily tidak sadar dengan apa yang diucapkan barusa. Karena terbawa perasaan ketakutan, Lily mengucap sesuatu yang membuat Edward bahagia.


Edward masih bergeming. Dia mencerna ucapan Lily. Edward memastikan kalau Edward tidak salah dengar.


"Lily katakan sekali lagi. Apa yang tadi kamu ucapakan" Edward menatap wajah Lily yang penuh air mata.


"Katakan apa Tuan?" Lily masih sesegukan.


"Katakan kepadaku, kalau kamu sayang sama aku" ucap Edward dengan tersenyum.


Muka Lily bersemu merah. Dia malu, Lily tidak sadar mengatakan kalau dia sayang kepada Edward.


Lily menelan salivanya. 'Lily bodoh kenapa kamu harus keceplosan. Tuan jadi tahu sekarang kalau aku sayang sama dia' batin Lily.


"Ayo Lily katakan sekarang. Kalau tidak aku akan pergi sekarang" ancam Edward pura-pura marah.

__ADS_1


"Jangan!" Lily memegang tangan Edward.


"Makanya cepat katakan" ucap Edward.


"A-a-ku sa-sa-sa-yang Tu-an" Lily terbata bata mengucapkan kalimat sayang kepada Edward.


Lily menutup wajahnya. Dia sangat malu, seharusnya dia tidak menggatakannya. Berbanding terbalik Edward tersenyum sumringah. Dia sangat bahagia.


Edward tidak pernah membayangkan kalau Lily ternyat menyukainya juga. Padahal seharusnya untuk Edward adalah hal yang biasa di sukai banyak perempuan.


Tapi entah kenapa saat Lily yang mengatakannya, perasaan itu sangat hangat dan mengembirakan untuk Edward.


"Lily katakan padaku. Sayangmu padaku. Sayang sebagai kakak, bos, atau sayang sebagai laki-laki yang kamu inginkan dalam hidupmu" tanya Edward.


"Tuan, aku malu. Kalau aku mencintai Tuan, apa Tuan akan mengusirku" ucap Lily lirih tapi masih bisa di dengar oleh Edward.


"Kamu mencintaiku? Katakan sekali lagi Lily" perintah Edward.


Lily ragu, Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk mengatakan perasaan yang sesungguhnya kepada Edward.


"Aku mencintai Tuan" bisik Lily di telinga Edward.


Edward menangkup pipi Lily dan menatapnya tanpa berkedip dan berkata apapun. Dia masih tidak percaya. Kalau Lily memiliki perasaan terhadapnya.


Rencana Edward semakin mulus. Dia akan menjalankan rencananya bersamaan dengan ulang tahun Lily 2 minggu lagi.


Dia tidak sabar ingin sekali melakukannya sekarang tapi waktunya tidak tepat. Edward harus bersabar lagi untuk melakukan semuanya supaya tidak berantakan.


"Aahh Iya. Kenapa Lily?" tanya Edward.


"Tuan melamun?" tanya Lily.


"Apakah aku bermimpi?" tanya Edward.


"Mimpi tentang apa?" tanya Lily.


"Kalau kamu baru saja mengatakan perasaanmu kepadaku" ucap Edward.


"Maaf Tuan. Saya sudah lancang. Tapi saya benar-benar menyukai Tuan sebagai laki-laki dewasa" Lily memalingkan wajahnya.


"Tidak Lily. Kamu tidak perlu sesih dan merasa bersalah. Aku juga mencintaimu Lily. Sangat mencintaimu" Edward memeluk Lily sangat erat sampai Lily megap-megap karena tidak bisa bernafas.


"Tuan lepas. Lepas Tuan. Saya tidak bisa bernafas" Lily bicara sambil mencoba menghirup udara.


"Maaf Lily. Maafkan aku. Aku terlalu senang mendengarnya" Edward melepas pelukannya.


"Aku juga senang Tuan" Lily tersenyum.


"Coba kamu cubit aku Lily" perintah Edward.


"Untuk apa Tuan?" tanya Lily.

__ADS_1


"Kalau aku sedang tidak bermimpi" ucap Edward.


Cup


Lily mengecup bibir Edward. Lily yang mengecup, Lily juga yang malu sendiri. Edward Tersenyum. Dia gemas kalau Lily sedang malu seperti itu.


"Sudah mulai nakal ya Lily" Edward mencubit hidung Lily.


"Heheheeeee" Lily hanya tertawa kecil.


Edward mengelitiki Lily si perut dan pinggang. Lily kegelian dia meminta untuk berhenti kepada Edward. Tapi Edward malah menambah gelitikannya, Lily semakin tidak bisa berhenti bergerak.


"Ampun Tuann. Ammpuuunn" Lily tertawa karena geli.


"Panggil aku Sayangg Lily, bukan Tuan" Ucap Edward masih ndusel-ndusel perut Lily dengan kepalanya.


"Hahahaahaaaa" Lily kegelian.


"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu memanggilku sayang" ucap Edward.


"Iyaa Tuuaann. Eehh Sa-yaaangg" Ucap Lily menahan geli.


Edward lalu duduk di atas ranjang. Dia menarik tangan Lily supaya duduk seperti dirinya.


"Lily sayang. Sekarang kamu harus memanggilku Sayang bukan Tuan. Kamu mengerti sayang" Edward menoel hidung Lily.


Lily mengangguk. Edward menarik bibir Lily dengan tangannya karena gemas.


"Aduh Sakit Tuan. Maaf maaf Sayang" Lily mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu harus terbiasa memanggilku Sayang kalau sedang berdua Lily, tidak boleh Tuan lagi. Karena kamu sebentar lagi akan menjadi istriku" ucap Edward.


"Is-istri?" Lily kaget.


"Iya. Kamu tidak mau menikah denganku. Kamu tidak mau menjadi istriku Lily?" tanya Edward.


"Mau. Tapi saya masih kuliah sayang. Saya belum lulus, baru saja masuk kuliah. Masa iya langsung nikah" ucap Lily.


"Sini" Edward Menyuruh Lily duduk di pangkuanya.


Lily bergerak mendekati Edward dan duduk di pangkuan Edward seperti yang di perintahkan Edward.


"Siapa yang menyuruhmu menikah sekarang sayang. Nanti kita nikah setelah kamu lulus kuliah" ucap Edward.


Lily tersenyum. Edward mengigit lengan Lily. Dia ingin menghajar Lily di ranjang, tapi di tahan karena Lily masih muda belia.


"Ayo kita turun. Aku lapar, kamu harus masak yang enak buat aku sayang. Karena ini hari libur. Jadi kita bisa seharian berdua di rumah" Edward memeluk Lily di pangkuannya.


Lily mengusap rambut Tuannya yang sekarang ingin selalu di panggil sayang.


Tidak perlu mencari seseorang yang sempurna, karena apabila seseorang mencintaimu apa adanya, maka dirimu akan merasa sempurna.

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2