Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 36. Kesayangan


__ADS_3

Bibi Ema Membuatkan Waffle untuk Lily. Lily sangat menikmati waffle buatan Bibi Ema. Kebetulan Lily juga belum makan tadi pagi, ditambah dia habis ujian seleksi kurang lebih 2 jam otaknya dibuat untuk berfikir.


waffle makanan yang berasal dari Belgia. Di negara asalnya, waffle biasanya dijadikan sebagai menu sarapan warga setempat. Waffle memiliki tekstur yang renyah di luar namun lembut di dalam. Makanan ini biasanya disajikan bersama sirup, madu, es krim atau apapun yang manis.


Belakangan ini waffle sedang sangat naik daun di Indonesia. Hal tersebut terlihat karena semakin banyaknya penjual waffle yang ada di berbagai kota. Waffle memiliki bentuk yang sangat unik karena cetakan dari alat pembuatannya.


"Lily kamu tahu, Tuan Edward sangat khawatir kepadamu. Semalam dia sangat, sedih saat tidak menemukanmu.Tuan Edward juga pagi-pagi sekali sudah mencarimu dikamar, Seperti kemarin kamu mencari Tuan di kamarnya waktu dia tidak pulang" cerita Bibi Ema.


"Aku sudah merepotkan kalian semua. Maafkan aku ya Bi" Lily mengusap tangan Bibi Ema.


"Aku senang kamu sudah kembali Lily. Aku sangat cemas memikirkan kamu tidur dimana, sudah makan apa belom, dan masih banyak pertanyaan di kepala Bibi Lily" ucap Bibi lily.


" Lily Bibi mau tanya, apa kamu mencintai Tuan Edward?" tanya bibi Ema.


Lily diam dan menghentikan kunyahannya. Dia tidak tahu harus menjawab apa kepada Bibi Ema. Dia takut dibilang lancang karena mencintai majikannya ssndiri.


"A-aku eehheeemm ..." Lily menelan salivanya dia takut menjawab tentang perasaannya.


"A-aku. Ahhh sudahlah Bi, tidak usah di bahas. Tapi yang jelas aku saya sangat mencintai Bibi Ema" Lily memeluk Bibi Ema dari samping.


Bibi Ema tersenyum dan sangat bahagia. Meskipun mereka baru bertemu beberapa hari, tapi Bibi Ema merasakan aura positif dan baik dari diri Lily. Lily sudah dianggap sebagai anak Bibi Ema sendiri.


Bibi Ema juga tahu kalau sebenarnya Lily sangat mencintai Tuan Mudanya tersebut. Tapi Bibi Ema tidak mau memaksa Lily mengakui perasaannya. Biarkan dia jujur dengan sendirinya.


"Sepertinya asik sekali ngobrolnya ya. Ngomongin apa sih?" tiba-tiba muncul dari dalam kamar, menuju meja makan.


Lily melepas pelukannya dari Bibi Ema saat Edward duduk di meja makan. Laku duduk disamping Edward.


"Tuan muda. Karena Tuan muda sudah disini dan Lily juga sudah sembuh. Saya minta izin untuk kembali ke rumah utama" ucap Bibi Ema.


"Bibi Ema disini saja. Biar aku ada temannya" Pinta Lily.


"Tidak bisa Lily. Tugas Bibi Ema dirumah utama. Saya disini, disuruh Tuan muda untuk menjagamu saat kamu sakit. Kamu sekarang suda sembuh, dan Tuan muda juga sudah pulang jadi tugas Bibi sudah selesai. Kamu bisa datang ke rumah utama kalau kamu ingin bertemu Bibi Ema" tutur Bibi Ema.


Wajah Lily sedikit sedih. Dia merasa nyaman bersama Bibi Ema. Dia merasakan kehangatan pelukan seorang ibu.


"Kenapa kamu sedih Lily?" tanya Edward.


"Tidak Tuan. Saya akan sendirian lagi" jawab Lily.


Edward mengeryitkan dahinya dan menatap Lily yang sedang menunduk dan sedih.


"Lihat aku Lily" Edward menarik dagu Lily. Lily langsung bertatapan dengan Edward.Dia merasa jantungnya mau copot sekarang, karena melihat ketampanan seorang Edward dari jarak sangat dekat.

__ADS_1


Ditatap dengan sangat dalam oleh Edward. Lily jadi salah tingkah. Bibi yang melihat kegugupan Lily menahan senyum, supaya Lily tidak malu.


"Iya Tuan" ucap Lily.


"Kamu tidak sendirian. Ada aku disini. Kalau kamu butuh apapun kamu tinggal ngomong sama saya, heemmm. Paham kamu Lily?" tanya Edward.


Lily mengangguk. Bibi Ema yang melihat interaksi mereka berdua senyum-senyum sendiri. Dia sudah lama tidak melihat Tuan mudanya bersama perempuan lain setelah kepergian Kylie.


"Bibi Ema bisa kembali ke rumah utama. Nanti setelah makan siang biar dijemput Leon" ucap Edward.


"Baik Tuan" ucap Bibi Ema.


"Sebaiknya kamu istirahat Lily. Nanti malam kamu harus ceritakan, kemana kamu pergi semalam" perintah Edward.


"Aku mau membantu Bibi Ema menyiapkan makan siang Tuan" Jawab Lily. Edward menatap Lily dengan tatapan teduh.


"Baiklah. Terserah kamu saja. Lily bawakan aku orange juice kekamarku. Aku akan menelpon Leon untuk makan siang disini bersama kita" ucap Edward.


"Iya Tuan. Nanti akan saya bawakan ke kamar Tuan Edward" Lily lalu berjalan ke lemari pendingin mengambil orange juice permintaan Edward.


Edward pergi kekamar mengambil ponsel untuk menghubungi Leon, supaya Leon makan siang di apartemen bersama dirinya, Lily dan Bibi Ema.


tok ... tok ... tok


Edward sedang berbicara dengan Leon di telpon. Lily meletakkan minuman orange juice di atas meja. Saat Lily akan pergi pinggang Lily ditarik tangan Edward, Lily membentur dada bidang Edward.


Edward masih berbicara dengan Leon.


[Kamu pantau terus perkembangannya Leon. Setelah berada di harga yang paling rendah kita akam membelinya. Jangan lupa kamu makan siang disini, setelah itu kamu antarkan Bibi Ema ke rumah utama] perintah Edward.


[Baik Tuan. Tuan Arthur juga membantu kita]


[Kerja bagus]


Edward mematikan sambungan telponnya. Edward melempar ponselnya ke sofa. Untung tepat sasaran kalau tidak hancur lagi ponselnya.


"Mau kemana kamu?" Edward merapikan Rambut Lily kebelakang telinga. Tangan satunya lagi masih memegangi pinggang Lily.


"A-aku mau membantu Bibi Ema Tuan" Jawab Lily terbata-bata.


"Ganti bajumu, pakai kaos biasa agar menutupi dadamu. Nanti ada Leon kesini, jangan memakai pakaian seperti ini" perintah Edward.


"Baik Tuan" jawab Lily singkat.

__ADS_1


Edward mengusap bibir Lily dengan ibu jari. Lily memejamkan matanya. Dia menikmati sentuhan jari Edward di bibirnya.


Ingin rasanya Edward melahap Lily sekarang, tapi dia tidak mau kalau Bibi Ema mendengar aksi mereka berdua. Edward mengecup kening Lily, mata, pipi dan yang terakhir bibir.


Bibir rasa strawbery yang sudah dia cicipi tadi dikampus dan di dalam mobil.


"Cepat kamu ganti baju. Baru kamu bantu Bibi Ema. Sebentar lagi Leon datang. Saat aku keluar kamu sudah harus ganti baju, kamu mengerti?" Edward berbicara dengan tegas.


"Emm" Lily menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. Lily lalu keluar kamar Edward.


Setelah ganti baju Lily. Membantu Bibi Ema menyiapkan makan siang. Tidak berapa lama Leon datang dengan senyuman bahagia. Karena bosnya sudah menemukan kekasih hatinya.


"Bibi Ema, Lily. Tuan mana Bi?" tanya Leon.


"Masih di kamar" jawab Bibi Ema.


"Ohh ... makan apa kita siang ini Bi?" Leon melihat banyak makanan diatas meja.


"Kamu sudah datang Leon" Edward muncul dari belakang Leon.


"Tuan. Iya Tuan. Aku lapar sekali" ucap Leon.


"Apa pekerjaan dikantor beres?" tanya Edward.


"Beres semua Tuan" jawab Leon bangga.


Mereka berempat makan bersama dengan lahap, terutama Leon. Entah karena dia kelaparan atau memang suka dengan makanannya dia sampai nambah.


Setelah makan siang Leon dan Bibi Ema berpamitan pulang ke rumah utama.


"Ayo Bi kita pulang. Jangan menganggu mereka. Biarkan mereka menikmati waktu bersama" Leon tertawa. Bibi Ema juga tertawa.


Edward dan Lily malu saling pandang. "Pergi sana, jangan pernah kesini kalau aku tidak mengundangmu" Edward menendang pantat Leon.


"Sakit Tuan. Kenapa Tuan jadi kejam begini. Ayo Bi kita pergi saja. Aku tidak mau terluka setelah keluar dari sini" Ledek Leon.


"Apa katamu" Edward melotot ke arah Leon.


"Bibi Ema hati-hati. Aku akan mengunjungi Bibi Ema ke rumah utama" Lily memeluk Bibi Ema. Leon dan Bibi Ema pulang kerumah utama.


"Lily kekamarku sekarang!" perintah Edward.


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2