
Lily bangun pagi sekali. Dia ingin tahu apa Edward pulang atau tidak. Sedangkan Bibi Ema masih tidur diranjang Lily.
Lily melarang Bibi Ema pulang ke rumah utama. Bibi Ema seharusnya pulang setelah memasak makan malam. Tapi Lily yang menyuruhnya untuk tetap bersamanya.
Lily menuju kamar Edward. Dia mengetok pintu kamar Edward tapi tidak ada jawaban. Akhirnya Lily masuk ke dalam kamar Edward. Lily mencari Edward keseluruh penjuru kamar, kamar mandi tapi Lily tidak menemuka Edward.
Bahkan tempat tidurnya saja masih rapi. Lily lalu duduk di ranjang Edward. Dia membawa kemeja milik Edward yang pernah dia pakai. "Tuan dimana?" Lily lalu rebahan di atas ranjang Edward.
Tak terasa Lily meneteskan air mata dan memeluk kemeja biru langit Edward. Lily merindukan Edward. Setidaknya kalau dia tidak bisa memliliki cinta Edward, dia masih bisa melihat Edward sampai di lulus kuliah nanti. Itulah yang dipikirkan Lily.
Merindukan seseorang itu sulit, tetapi membuat mereka berdiri di samping Anda dan tidak dapat menemukan kata-kata untuk memberi tahu mereka betapa Anda merindukan mereka adalah penyiksaan.
Merindukan seseorang bukanlah tentang berapa lama kamu tidak melihatnya atau berapa kali kamu berbicara dengannya. Ini tentang momen ketika kamu melakukan sesuatu dan berharap mereka ada di sana bersamamu.
Biby Ema mencari Lily. Saat bangun tidur, bibi Ema tidak melihat Lily di sampingnya. "Dimana Lily? pergi kemana Lily?" Bibi Ema mondar mandir mencari Lily keseluruh ruangan apartemen kecuali kamar Edward.
"Apa Lily pergi kekampus?" Bibi Ema terus saja berbicara sendiri. Akhirnya Bibi Ema memutuskan untuk memasak. Setelah memasak Bibi Ema pergi ke supermarket untuk berbelanja makan siang dan makan malam.
Saat bibi Ema akan membuka pintu. Lily keluar dari kamar Edward dengan mata sembab. "Bibi Ema mau kemana" tanya Lily tiba-tiba. Bibi Ema kaget dan memegangi dadanya.
"Lily kamu mengagetkanku saja" ucap Bibi Ema. "Darimana saja kamu Lily. Bibi mencarimu keseluruh apartemen tapi tidak menemukanmu. Dan sekarang tiba-tiba kamu ada disini" omel Bibi Ema.
"Ehm saya tadi ke kamar Tuan Edward. Saya mau tahu apa Tuan Edward sudah pulang atau belum" ucap Lily. Bibi Ema tahu, kalau Lily sekarang sangat mengkhawatirkan Tuannya tersebut.
"Aku mau pergi ke supermarket. Ada yang mau nitip apa Lily?" tanya Bibi Ema. Mencoba mengalihkan topik supaya Lily tidak sedih.
"Tidak Bibi. Bibi Ema masak apa hari ini? Saya mau ke kantor membawakan Tuan Edward sarapan. Tuan pasti belum sarapan. Boleh saya bawa makanannya ke kantor Bibi?" Lily meminta persetujuan Bibi Ema.
"Boleh Lily. Kebetulan bibi memasak falscher hase dan Apfelstrudel" ucap bibi Ema. "Bibi pergi ke supermarket dulu Lily. Hati-hati nanti kalau kamu pergi ke kantor" Bibi Ema menutup pintu Apartemen.
Hampir sama dengan hidangan steak, falscher hase merupakan makanan khas Jerman yang terbuat dari daging cincang yang dicampur dengan telur, tepung, dan bawang. Kemudian dagingnya disajikan dengan cara diiris pipih dan diberi bumbu saus di atasnya. Cocok banget dimakan bareng kentang layaknya steak pada umumnya.
__ADS_1
Makanan ini pas banget buat dessert, rasanya manis. Kue yang berbentuk bulat dan bertekstur lembut ini berbahan dasar apel. Konon, apfelstrudel sudah lama ditemukan. Jadi gak heran seluruh masyarakat Jerman pasti mengenal kue manis ini.
Setelah Bibi Ema pergi. Lily memasukkan falscher hase dan Apfelstrudel kedalam tempat makan. Setelah semua beres. Lily lalu pergi ke kamar mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor Edward.
"Tuan Edward pasti belum makan. Tuan tidak boleh sakit" Lily mengambil tas lalu keluar kamar.
Sepanjang perjalanan Lily merasa sangat bahagia karena akan bertemu dengan Edward. Lily bersenandung dengan lirih saat turun dari bus menuju kantor Edward.
"Lily" Sapa Maria. "Bu Maria" Lily memeluk Maria. "Lama tidak bertemu Lily. Bagaimana kerjaan kamu mengurus apartemen Tuan Edward? jangan sampai kamu bikin kesalahan, nanti kamu di pecat Lily" ucap Maria
"Tidak Bu Maria. Saya akan bekerja dengan sangat hati-hati. Saya membutuhkan pekerjaan itu" balas Lily.
"Kamu membawa apa Lily?" Maria menunjuk barang yang dibawa Lily.
"Ini sarapan untuk Tuan Edward Bu. Saya membawakanya dari rumah" jawab Lily.
Saat Lily dan Maria sedang asik mengobrol. Lily melihat Leon dan perempuan cantik bak model profesional berjalan beriringan dengan Leon.
Lily hanya melihat saja. Tidak berkomentar apapun. Setelah Leon dan Perempuan cantik itu pergi. Lily juga pamit kepada Maria untuk naik keruangan Edward.
"Iya Lily. Aku juga mau kerja lagi. Sampai bertemu lagi Lily" Bu Maria memeluk Lily. Lily membalas pelukan Bu Maria. "Sampai jumpa Bu Maria" Lily dan Maria lalu berpisah.
Lily naik lift keruangan Edward. "Semoga Tuan sudah ada diruangannya. Aku tidak melihat Tuan bersama Pak Leon. Mungkin Tuan sudah berangkat duluan" Gumam Lily.
Lily masuk kedalam ruangan ruangan Edward tanpa permisi. Dia membuka pintu ruangan bersamaan dengan Edward pipinya dicium oleh perempuan yang Lily Lihat di Lobi.
"Tuan" Lily menahan sakit hati yang tak peri. Lily menahan tangisan supaya tidak pecah. Lily menengadahkan wajahnya ke atas. Supaya tidak menangis.
Edward dan Ashley lalu menoleh ke arah pintu. Edward yang melihat Lily berdiri didepan pintu, berjalan menghampiri Lily.
"Lily kamu kenapa kesini. Kamu sudah sembuh. Heemmm" Edward mengambil bekal sarapannya dari tangan Lily.
Ashley yang melihat Edward peduli dengan gadis didepannya itu, memiliki banyak tanda tanya.
"Honey siapa dia" tanya Ashley. Ashley melingkarkan tanganya di lengan Edward. Melihat pemandangan didepannya yang begitu menyakitkan, Lily tersenyum dengan terpaksa.
__ADS_1
Luka terdalam adalah ketika kamu tak mampu melihat dengan mata, dan kesedihan terpendam adalah ketika kamu tak mampu mengucapkan dengan kata-kata.
Aku ingin mengatakan bahwa aku merindukanmu. Tapi, itu tidak akan mengubah apa pun. Jadi, aku hanya memendamnya dan berpura-pura tidak merindukanmu.
"Saya pegawai bersih-bersih di rumah Tuan Edward, Nona. Saya kesini mengantarkan bekal sarapan untuk Tuan Edward. Maaf kalau saya masuk tanpa mengetuk pintu. Sekali lagi saya minta maaf kalau menganggu Tuan dan Nona. Saya permisi dulu Tuan, Nona" Lily membungkukkan badannya. Lalu pergi meninggalkan dua manusia berbeda jenis tersebut. Tanpa memandang wajah mereka.
Lily berlari menuju lift. Bugghhh ... Lily menabrak Leon yang keluar dari ruangan Kimberly mengambil berkas kontrak kerja.
"Lily! Kamu kenapa menangis?" Leon memegang bahu Lily. Lily terus menangis tanpa henti. Mereka tidak sadar ada 6 pasang mata melihat ke arah mereka.
Cemburu sih tidak, hanya ada rasa yang mengganjal saja saat aku melihat kamu bersama dia.
Edward dan Kimberly merasa kesal dan marah. Mata mereka penuh dengan amarah. Edward mengepalkan kedua tanganya. Kimberly menatap Lily penuh dengan kebencian. Sedangkan Ashley cuek dan tersenyum.
"Mereka sangat cocok. Sama-sama orang yang numpang hidup" gumam Ashley. Ucapan Ashley memancing kemarahan Edward. "ASHLEY JAGA UCAPANMU. PERGI KAMU DARI SINI!!" Edward berbicara dengan lantang dan penuh amarah.
suara Edward membuat Leon dan Lily kaget. Mereka Lily melepas pelukan Leon. Sedangkan Kimberly mengelus dada, sangking kagetnya. Dia belum pernah melihat Edward semarah itu selama dia bekerja.
Kimberli lalu masuk keruangannya. Dia tidak mau mendapat amukan dari bosnya. Sedangkan Ashley melotot kepada Edward.
"Kamu membentak dan mengusirku honey" Ashley berbicara dengan nada kesal. Edward tidak peduli.
BRAAAAAKKK
Pintu ruang kerja dibanting Edward sangat keras. Ashley sampai berjingkat. Dia tidak pernah melihat Edward semarah ini bahkan dulu waktu ditinggal Kylie, marahnyanya tidak sedahsyat ini.
Lily lalu berlari melewati tangga dengan berderai air mata. Sedangkan Leon masih bingung dengan situasi yang ada. Dia tidak tahu apapun. Leon tidak mau menanggung resiko, karena sekarang Tuannya sedang marah. Leon kembali ke ruangannya, dia mencari aman untuk saat ini.
Ashley akhirnya meninggalkan ruangan Edward. Dia masih kesal, kenapa Edward marah kepadanya. Dia tidak sadar kalau ucapannya itu untuk gadis yang dicintai Edward.
Laki-laki mana yang tidak marah ketika, perempuan yang dia cintai direndahkan oleh orang lain tak terkecuali itu oleh sahabatnya sendiri. Ashley sudah melukai ego Edward.
Cinta dapat melihat dengan jelas, kebencian dapat melihat lebih jelas lagi. Akan tetapi, kecemburuan dapat melihat yang paling jelas karena ia adalah campuran antara cinta dan kebencian secara bersamaan.
To be continue ...
__ADS_1