
"Lily kekamarku sekarang!" perintah Edward.
Lily mengekori Edward kekamar. Setelah masuk kamar, Edward duduk di sofa.
"Duduk sini Lily" Edward menepuk pahanya. Edward ingin Lily duduk dipangkuannya.
Lily menurut saja. Lily duduk dipangkuan Edward. Edward merapikan rambut Lily yang sedikit menutupi wajahnya.
"Ceritakan kepadaku Lily, kenapa kemarin kamu tidak pulang?" Edward menatap mata Lily. Lily hanya menunduk.
"Apakah kamu merindukan kedua orang tuamu?" tanya Edward, masih menatap mata Lily.
Lily mengangguk. Dia menunduk tidak berani menatap mata Edward. Wajahnya sedih saat Edward bertanya tentang kejadian kemarin.
"Kenapa kamu tidak bilang denganku kalau kamu rindu dengan kedua orang tuamu. Aku bisa mengantarmu ke makam kedua orang tuamu" Edward mengusap rambut Lily yang berada dipangkuannya.
"Lily, mulai sekarang kamu tidak boleh kemanapun kecuali dapat izin dariku. Kamu mengerti Lily?" Edward menatap tajam mata Lily. Lily kembali menunduk.
"Iya mengerti Tuan" Jawab Lily lirih.
"Bagus. Kenapa kamu menangis saat dikantor?" tanya Edward. Dia ingin sekali tahu kenapa waktu Lily pergi dari kantor dalam keadaan menangis.
Lidah Lily kelu tidak bisa bicara. Lily hanya bisa menelan salivanya. Dia malu kalau harus mengatakan dia tidak suka kalau Edward di cium oleh perempuan lain.
"Kenapa Lily. Ayo jawab, kenapa diam saja?" Edward sangat penasaran.
"Tu-tuan jangan ma-marah kalau a-aku cerita ya" Lily bicara terbata-bata.
"Kenapa aku mesti marah Lily?" Edward mencubit hidung Lily. Lily spontanbmemajukan bibirnya saat Edward mencubit hidung Lily.
"Aku tidak suka kalau Tuan dicium sama pacar Tuan" Jawab Lily tertunduk malu. Wajahnya ditutupi dengan kedua tangannya.
Edward membuka tangan Lily. Lalu tersenyum kepada Lily.
"Pacar siapa yang kamu maksud? aku tidak punya pacar Lily" ucap Edward.
"BOHONG!" nada Lily kesal.
"Kenapa aku mesti bohong. Aku memang tidak punya pacar Lily" Edward mencoba meyakinkan Lily.
"Kalau bukan pacar Tuan, kenapa perempuan itu mencium Tuan dikantor?" Lily kesal.
"Kenapa kamu kesal? Memangnya kenapa kalau dia menciumku?" Edward menggoda Lily. Sepertinya sudah lama Edward tidak menjaili Lily.
__ADS_1
Akhir-akhir ini mereka lebih sering marah-marah karena cemburu, dari pada mesra-mesraan seperti sekarang.
"Aku tidak suka kalau ada perempuan lain yang mencium Tuan" Lily menunduk malu sekaligus kesal. Lily pikir Edward tidak peka terhadap perasaannya.
"Terus siapa yang boleh menciumku?" Edward menatap wajah Lily dengan menyembunyikan senyumannya.
Sebenarnya hati Edward sekarang sedang bahagia, karena kejujuran Lily. Tapi Edward ingin lebih meyakinkan dirinya, apa sekarang Lily jatuh cinta kepadanya.
Lily menahan senyumnya. Dia benar-benar malu, dengan perkataan jujurnya tersebut. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Edward.
"Kenapa? kamu malu? katakan siapa yang boleh menciumku" Edward kembali menggoda Lily.
Lily geleng-geleng di ceruk leher Edward dan tangan satunya di pundak Edward.
"Baiklah kalau kamu tidak mau menjawab. Aku izinkan semua perempuan boleh menciumku" ucap Edward dengan tertawa.
Dia sudah tidak tahan lagi untuk tertawa, karena tingkah malu-malu tapi mau Lily.
"Aauuuwww ... kenapa kamu mengigitku sayang. heemm" Edward kaget karena pundak nya digigit Lily.
"Haahaaaa kamu mengemaskan sekali. Sini aku cium" Edward memonyongkan bibirnya.
"Tidak" Lily menahan bibir Edward dengan telapak tangannya.
"Kalau kamu mau aku cium. Aku janji tidak ada perempuan lain yang boleh menciumku atau aku cium selain kamu" Edward tersenyum menatap Lily.
"Bagaimana mau aku cium atau aku cium perempuan lain?" Edward senyum-senyum.
Cup
Lily mencium pipi Edward sebelah kiri. Edward kaget lalu tersenyum menatap Lily.
"Woww ... kelinci kecilku sudah mulai nakal ya sekarang. ini belum" Edward menunjuk pipi kanan.
Lily geleng-geleng sambil tersenyum. Lily sekarang sudah mulai berani memulai duluan. Dia takut kalau Edward nanti bersama perempuan lain yang lebih dewasa dari dirinya.
"Yakin tidak mau cium yang ini. Kamu tahu, kalau sekretaris partner kerja aku ingin sekali menciumku. Sepertinya aku akan meminta kepada sekre ..."
Lily mencium bibir Edward, sebelum Edward menyelesaikan perkataannya. Lily mengalungkan tangannya di leher Edward.
Meskipun masih kaku, Lily ingin Edward tidak melakukannya dengan perempuan lain.
Edward menggendong Lily seperti kangguru yang membawa anaknya dikantong depan. Tanpa melepas panggutan mereka. Edward merebahkan tubuh Lily di ranjang dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Sekarang Lily berada dibawah Edward. *******, sesapan, dan saling membelit lidah. Mereka tanpa merasa jijik saling bertukar saliva.
Lily meremas rambut Edward yang semakin buas di bibir Lily. Edward kurang puas saat dikampus dan di dalam mobil. Dia ingin menuntaskan kekarang.
"Haaahh haahhh" nafas Lily megap-megap kayak ikan koi yang kehabisan nafas. Lily mengatur nafasnya karena ciumannya bersama Edward. Edward tersenyum melihat wajah Lily memerah, Edward memberikan jeda agar Lily bisa bernafas.
"Lily dengarkan aku. Mulai dari sekarang kamu jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain selain aku. Kalau sampai aku tahu kamu bersama dengan laki-laki. Aku akan menghukummu" Edward meremas dada Lily dari luar.
"Aaauuwww ... sakit Tuan" Lily memegangi dadanya.
"Sekarang kita tidur siang saja. Nanti malam kita belanja baju" ucap Edward.
"Belanja baju untuk siapa Tuan?" tanya Lily.
"Baju untuk kamu" jawab Edward. Wajahnya diletakkan di ceruk leher Lily. Tangannya melingkar di perut Lily.
Tangan kiri Lily beremas-remas rambut Edward. sedang tangan kanannya. Mengelus-elus tangan Tangan Edward yang melingkar diperutnya.
"Aku masih punya baju Tuan" ucap Lily.
"Aku akan membuang semua bajumu. Kita beli baju baru nanti malam. Sekarang kita tidur saja. Aku capek dari kemaren tidak bisa istirahat dengan tenang karena mencarimu" ucap Edward.
"Heemm ... tidurlah" Lily mencium pucuk kepala Edward. Lily merasa senang saat melakukannya. Harum mentol rambut Edward memberikan kesegaran dan ketenangan untuk Lily.
Edward tersenyum dengan apa yang dilakukan Lily dipucuk kepalanya. 'Aku akan membuat Lily ketergantungan denganku' batin Edward.
Rasa ngantuk yang luar biasa membuat Edward tertidur dengan pulas, begitu pun. Dia ikut tertidur karena tidak ada teman ngobrol.
Lily terbangun tapi Edward masih tertidur. Dia tidak mau membangunkan Edward. Karena tidurnya sangat pulas.
"Sepertinya Tuan sangat kecapekan. Apa benar Tuan mencariku kemarin malam? Aku harus bertanya siapa perempuan yang ada dikantor kemarin" gumam Lily lirih.
"Tuan memang sangat tampan. Pantas saja banyak perempuan yang mendekati Tuan" Ucap Lily.
"Aku memang terlahir sebagai laki-laki tampan. Banyak perempuan ingin menciumku bahkan ingin tidur denganku" Edward menggoda Lily.
Sebenarnya dia sudah bangun saat Lily tadi bangun. Dia hanya pura-pura tidur.
"Tuan sudah bangun. Apaan sih Tuan bicara seperti itu?" nada Lily kesal.
"Halah ... halah ngambek" Edward mendongakkan kepalanya melihat wajah Lily.
Edward lalu menghisap leher Lily seperti vampire. Sampai tercetak tanda merah segar.
__ADS_1
sstttt aaahhhhh ...
To be continue....