Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 13. Edward Sakit


__ADS_3

Bruugghhh


Lily mendengar suara seperti benda berukuran besar terjatuh dilantai.


"Suara apa itu?" Lily keluar kamar mencari arah suara yang dia dengar.


Lily mencari keseluruh penjuru apartemen. Lily terkejut saat melihat Edward jatuh di depan pintu. Lily lalu berlari menghampiri Edward.


"Tuan ... Tuan Edward bangun" Lily menepuk-nepuk pipi Edward.


"Tuan Edward kenapa?" Lily semakin panik. Edward tidak sadar juga saat Lily menggoyang-goyang tubuh Edward.


"Bagaimana ini? aku tidak kuat kalau harus menggendong Tuan Edward" Lily binggung apa yang harus dia lakukan dengan tubuh tinggi besar milik Edward.


"Aku harus telpon Pak Leon sekarang" ucap Lily.


Lily lalu merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dicarinya nama Leon di barisan kontak yang ada di ponsel miliknya.


Lily mencoba menelpon Leon tapi tidak angkat. Lily memutuskan mengirim pesan saja. Lily semakin cemas saat Edward menggigau, menyebut nama mamanya.


"Ma, mama jangan tinggalin Edward ma. Edward sayang mama dan papa" ucap Edward saat menggigau.


Lily semakin cemas saat tubuh Edward panas tinggi. Lily tidak bisa meninggalkan Edward untuk menggambil kompres, karena pahanya pakai untuk bantal kepala Edward.


"Kenapa Pak Leon tidak datang, datang. Tuan Edward badannya semakin panas" gumam Lily.


Kleeekkk


Suara pintu terbuka. Lily melihat Leon dengan muka cemas dan ketakutan saat melihat Edward tak sadarkan diri di depan pintu.


"Tuan Muda bangun. Tuan bangun" Leon menepuk-nepuk pipi Edward.


"Bagaimana ini. Lily tolong bantu saya mengangkat tubuh Tuan Edward ke kamar" Leon merasa sangat cemas. Apa lagi tubuh Edward panas tinggi.


"Iya Pak Leon" Lily membantu Leon meletakkan tubuh Edward di punggung Leon.


Perasaan campur aduk menghantui Leon. Hal seperti ini yang selalu ditakutka oleh Leon kalau dia tidak berada di samping Edward.

__ADS_1


Dia sudah berjanji dengan dirinya sendiri kalau dia akan selalu menjaga Edward dan tidak akan meninggalkan Edward sampai dia mati. Mengingat jasa yang telah diberikan Gabriel dan Edward selama ini kepada dirinya. Nyawanya pun dia akan pertaruhkan untuk Edward dan Gabriel.


Leon mondar mandir saat dr. Luis memeriksa keadaan Edward. Sedangkan Lily hanya diam, tapi pikirannya sangat mencemaskan keadaan Edward.


Entah perasaan apa yang dirasakan Lily saat ini. Dia benar-benar takut kehilangan Edward. Perasaan yang berbeda, tidak seperti perasaannya kepada Leon.


"Bagaimana keadaan Tuan Edward, dr Luis?" suara Leon terlihat sangat cemas.


"Tidak apa-apa Leon, Edward hanya Kecapekan saja. Apa akhir-akhir ini Edward memikirkan sesuatu yang sangat berat, Leon? tanya dr. Luis.


"Iya dr. Luis. Tuan tadi menggunjungi makan kedua orang tuanya" jawab Leon.


"Kerinduan yang sangat besar, yang dirasakan Edward kepada kedua orang tuanya, membuat dia sakit seperti sekarang ini" ucap dr. Luis.


dr. Luis memberikan resep obat kepada Leon supaya segera ditebus di Apotik.


"Ini resep obatnya Leon. Saya hanya memberikan suntikan, supaya Edward bisa istirahat" dr. Luis memberikan catatan resep obat kepada Leon.


"Kalu begitu saya permisi dulu. Tolong Edward diawasi minum obatnya Leon. Kamu tahu kan kalau Edward paling susah kalau disuruh minum obat" dr. Luis menepuk-nepuk pundak Leon.


dr. Luis dan Leon keluar kamar Edward. dr. Luis sempat memberikan senyuman kepada Lily. Lily membalas senyuman dr. Luis.


Setelah Leon dan dr. Luis keluar apartemen. Lily mengambil es batu ditaruh di panci kecil, setelah itu dia mengambil handuk kecil di kamar mandi.


Lily meletakkan handuk kecil di dahi Edward. Lily sangat telaten merawat Edward. Dia bahkan membersihkan tangan dan kaki Edward dengan air hangat.


Saat Lily akan pergi membuang air bekas membersihkan tangan dan Kaki Edward ke kamar mandi, di alam bawah sadarnya Edward memegang tangan Lily.


"Jangan pergi" ucap Edward di alam bawah sadarnya.


Lily kaget. Karena tiba-tiba tangannya di cekal oleh Edward.


"Tuan" Lily mengerakakan tangannya di depan muka Edward yang sedang tidur.


Genggaman Edward sangat kuat sehingga Lily tidak bisa melepasnya. Melihat tangan Lily di pegang Edward. Leon mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.


Leon berniat untuk memberikan obat yang dibelinya dari apotik kepada Lily. Karena Lily nanti yang akan membantunya mengurus Edward selama Edward sakit.

__ADS_1


Leon memilih untuk menulis di kertas, tentang harus berapa kali Edward harus meminum obatnya. Kertas itu lalu dimasukkan kedalam kantong plastik obat.


Leon lalu rebahan di atas sofa ruang santai. Kedua tangannya dijadikan bantal. Kaki satu bertumpu pada kaki yang lain.


Entah apa yang dipikirkan Leon sekarang. Dia menatap langit-langit berwarna putih di atasnya. Pikirannya melayang jauh entah sampai mana. Akhirnya Leon tertidur di atas sofa.


Lily tertidur di pinggiran ranjang Edward. Pukul 10 malam Edward terbangun. Mungkin efek suntikan dari dr. Luis sudah hilang.


Badannya masih terasa lemas. Saat melihat kesamping, Dia melihat Lily tertidur di samping ranjang, memegang salah satu tangan Edward.


Edward tersenyum melihat tangannya di genggam oleh Lily. Edward melepas tangan yang digenggam Lily dengan sangat pelan-pelan, supaya tidak membangunkan Lily.


Edward turun dari ranjang lalu menggendong Lily. Lily diletakkan diatas ranjangnya dengan sangat hati-hati.


Edward lalu tidur disebelah Lily. Saat Edward membenarkan selimut, Lily tiba-tiba tanpa sadar memeluk Edward dengan mata masih tertutup.


Edward terkejut, lalu dia merebahkan badannya kembali dan mendekap Lily dalam pelukannya.


Perasaan bahagia dirasakan Edward, saat Lily memeluk dirinya. Terukir senyum dari dibibirnya.


Tanpa sepengetahuan Edward, saat dia dan Lily tidur dalam satu ranjang. Leon masuk ke kamar Edward. Leon menyunggingkan senyum saat melihat bosnya tidur dengan lelap dengan memeluk seorang gadis.


Leon tadi hanya ingin mengecek keadaan Edward setelah dia terbangun dari tidurnya, sekalian pamit mau pulang. Karena dia yakin Lily bisa menjaga dan merawat bosnya dengan baik.


Tidak disangka kalau Leon melihat pemandangan yang sangat manis di hadapannya. Leon tidak mau membuang kesempatan untuk mengengerjai bosnya saat kembali sehat.


Leon mengambil ponsel dari saku celananya, lalu mengambil foto Edward yang sedang memeluk Lily saat tidur. Leon tersenyum sumringah.


"Lihat nanti apa yang aku akan lakukan dengan foto ini bos" Leon bergumam pelan agar tidak membangunkan Tuan Mudanya.


Leon keluar kamar, lalu meninggalkan dua sejoli yang sedang tertidur lelap dengan berpelukan. Sepanjang jalan Leon menebar senyum, karena dia merasa senang kalau bosnya sudah bisa membuka hati untuk perempuan.


"Mungkin ini adalah awal yang baik untuk Tuan Muda. Semoga Lily bisa menjadi obat melepas rindu kepada orang tua Tuan Muda" gumam Leon di dalam mobil.


Bersambung ....


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2