Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 49. Jatuhnya Global State Company


__ADS_3

1 minggu setelah kejadian di mall bersama Kloe. Lily sudah bisa kembali seperti sediakala. Edward berhasil membuat Lily bisa melawan dan tidak menjadi perempuan lemah.


Edward harus membangun mental Lily menjadi kuat dari sekarang. Karena setelah dia lulus kuliah, Lily akan memimpin puluhan karyawan ditangannya.


Kerjasama Antara Edward, Arthur dan Thomas berhasil membuat Peter dan Global State jatuh. Mau tidak mau Peter harus menjual seluruh saham perusahaan untuk menutup hutang perusahaan.


Seluruh Aset perusahaan dan rumah serta kekayaan Peter. Habis untuk menutup hutang. Sekarang Global State Company berhasil dibeli oleh Edward Eugenio, pebisnis ternama dengan segudang prestasi di dunia bisnis.


Perusahaan keluarga Eugenio tersebar diseluruh Jerman dan luar negeri. Setiap perusahaan akan bangga jika bekerja sama dengan perusahaan yang dipegang oleh laki-laki berwarna biru tersebut.


Disiplin, tanggung jawab dan kejujuran yang dipegang Edward membuat dia disegani oleh para pebisnis. Meskipun Edward masih muda tapi prestasinya tidak perlu diragukan lagi 3 tahun berturut-turut dia memegang tahta pebisnis muda paling berpengaruh di dunia bisnis Jerman.


Berkat gemblengan Gabriel dari kecil. Edward tumbuh menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan oleh orang-orang sekitar.


Dalam urusan bisnis Edward memang jadi juaranya, tapi dalam urusan asmara, Edward kurang beruntung. Punya tampang ganteng dan materi berlimpah tidak menjamin dia memiliki pasangan yang setia kepada dirinya.


"Lily hari ini kamu kuliah berangkat bareng bersama aku" ucap Edward.


"Iya Tuan. Tapi saya nanti pulang sendiri saja" jawab Lily.


"Kenapa begitu? bukanya biasa aku jemput?" tanya Edward dengan mengeryitkan dahinya.


"Saya tidak suka, kalau mahasiswa-mahasiswa dikampus melihat Tuan" Jawab Lily.


"Posesif sekali kamu Lily" Edward gemas melihat bibir Lily.


"Bukan begitu Tuan. Mereka selalu mengangguku. Minta nomer Tuan, tanya Tuan sudah punya pacar apa belum. Itu menyebalkan sekali" ucap Lily.


"Kenapa kamu cemburu?" tanya Edward.


"Ih bukan begitu maksud aku Tuan. Aku merasa terganggu saja. Aku kan mau belajar bukan jualan nomer Tuan" Lily mencebik.


"Kasih saja nomerku Lily. Mereka tidak akan lagi menganggumu" goda Edward.


"Tidak" Lily menjawab ketus.


"Kenapa? katanya tidak mau diganggu" Edward menggoda Lily.


"Sudah ... sudah ... sudah. Aku mau berangkat kuliah" Lily mengambil piring kotor diatas meja dengan cemberut.

__ADS_1


Lily lalu mencuci piring di wastafel. Setelah selesai Lily masuk kamar untuk ganti baju. Edward juga ganti baju dikamarnya.


Setelah selesai ganti baju mereka keluar kamar. Untuk beraktivitas. Lily masih cemberut. Dia masih kesal dengan Edward.


Melihat Lily cemberut. Sifat jahil Edward muncul. Edward memeluk Lily dari belakang.


Aahhh suara Lily mendesah karena Edward meremas Squishy.


Aahhh eemmmm sssshhhhh Tuan aku aaahh mau ber eeeeemmm ang-kat ku-liah. Lily terbata-bata.


"Kalau kamu masih cemberut. Aku tidak akan menghentikannya" ucap Edward jail.


Eemmm Tuan le aaahhh aaahh lepas ssshhhhh. Edward memelintir cochochip. Eeeemmm eemm aaaahhhhhh.


"Iya. Aku tidak cemberut lagi" ucap Lily nggos-nggosan. Edward melepas Squishy dan memberi tanda merah dileher Lily.


"Ah Tuan. Aku harus memakai Syal" Lily memajukan bibirnya.


Bibir merah merekah itu disambar Edward, dilumat dan disesapnya. Lily memberi izin Edward untuk perang Ludah.


Sekitar 1 menit. Lily melepas panggutannya Edward.


"Tuan, kita harus pergi. Pak Leon sudah menunggu" Lily membersihkan bibirnya dan bibir Edward.


"Leon antar Lily kekampus. Baru kita berangkat kekantor" ucap Edward.


"Baik Tuan" jawab Leon.


Setiap mereka bertiga berada dalam 1 mobil. Leon selalu menutup pambatas kursi antara kursi depan dan belakang. Leon harus memasang earphone biar tidak mendengar suara berisik di kursi belakang.


Jiwa jomblo Leon meronta kalau sudah bersama Edward dan Lily. Seperti sepasang kekasih tapi tidak sepasang kekasih, itulah hubungan Edward dan Lily.


Setelah mengantar Lily ke kampus. Edward dan Leon langsung menuju kantor Edward.


"Tuan, sebenarnya hubungan Tuan dan Lily itu seperti apa? mau dibilang sepasang kekasih tapi kalian tidak pacaran. Tapi kalau tidak pacaran sikap kalian seperti sepasang kekasih. Aku jadi bingung Tuan" Leon mengaruk kepala yang tidak gatal.


"Aku juga bingung Leon. Aku ingin menyatakan perasaanku kepada Lily. Tapi kamu tahu sendiri, aku takut kalau nanti akan ditinggal lagi saat aku menjalin komitmen seperti dulu" Edward menyandarka kepalanya di sandaran kursi.


"Aku rasa Lily bukan tipe perempuan seperti Kylie Tuan. Kalau aku lihat Lily memeiliki perasaan yang sama seperti Tuan. Mungkin dia takut, mencintai Tuan karen status kalian berbeda" ucap Leon.

__ADS_1


"Oh iya Leon. Apa Arthur sudah menanda tangani proses pengalihan perusahaan?" Tanya Edward.


"Proses Tuan. Sepertinya rencana kita sedikit lebih cepat dari apa yang kita rencanakan dari awal" jawab Leon.


"Arthur bergerak lebih cepat dari apa yang kita bayangakan Leon. Tuan Green cukup handal menekan Peter untuk menyerah daripada bertahan" Edward tersenyum senang.


"Kita tinggal menunggu kabar dari Tuan Arthur, Tuan" ucap Leon.


"Iya Leon. Sejauh mana kasus Kloe Leon?" tanya Edward.


"Sepertinya dia akan mendapat ancaman kurungan penjara karena kasus penganiayaan ditempat umum. Sidangnya 2 minggu lagi Tuan. Ibunya jatuh sakit. Sekarang berada dirumah sakit" Jawab Leon.


"Mereka akan mendapat balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka" ucap Edward.


"Tinggal sebentar lagi Tuan. Kita hanya perlu menunggu tugas Tuan Arthur selesai. Baru bisa memindah nama Aset kepada pemilik baru" ucap Leon.


"Kita tunggu kabar dari Arthur, semoga dia bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat" ucap Edward.


Mereka berdua sudah sampai di kantor. Saat turun dari mobil, Edward melihat Ashley berjalan ke arah dirinya dan Leon.


"Edward honey. Lama tidak berjumpa, apa kamu sibuk hari ini?" tanya Ashley.


"Iya. Aku banyak sekali meeting hari ini Ashley. Jadi tidak ada waktu untuk santai-santai" jawab Edward.


Leon mengeryitkan dahinya. 'Perasaan hari ini tidak ada jadwal meeting. Ada cuma satu nanti jam 1 siang. Ada apa dengan Tuan muda. Tumben banget tidak mau bertemu dengan Ashley' Leon membatin.


"Apa tidak bisa untuk kita makan siang honey?" tanya Ashley.


"Tidak bisa Ashley. Jam makan siang proyek kerja sama dengan klien baru" Edward mencari alasan, supaya tidak bersama Ashley.


"Sesibuk itukah. Baiklah kalau begitu kita makan malam saja" Ashley masih kekeh ingin bersama Edward.


"Aku ada janji dengan grandpa. Ada sesuatu yang penting yang harus aku bIcarakan dengan grandpa berdua" Edward kembali mencari alasan.


Leon semakin tidak menggerti dengan alasan Tuan mudanya tersebut. 'Sejak kapan Tuan muda pintar mencari alasan' batin Leon.


Sedangkan Edward berharap Ashley menyerah dan segera pergi dari kantornya. Dia tidak mau mengingkari janjinya kepada Lily. Bisa kabur Lily nanti, kalau dia tahu Edward bersama Ashley.


"Ashley. Saya harus segera meeting. Saya sudah terlambat. Ayo Leon" Edward berjalan cepat.

__ADS_1


Leon mengekori Edward dari belakang. Dia masih bingung dengan Tuannya hari ini. Tuannya sangat berbeda tidak seperti biasanya. Leon masuk ruangan kerja Edward dengan sangat penasaran.


To be continue ....


__ADS_2