Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 88. Edward Sayang Grandpa!


__ADS_3

"Tenang Edward. Aku akan menyiapkan pesawat pribadi untuk kalian pulang malam ini juga. Aku akan menyusul besok dengan Daddy dan Mommy" ucap Arthur.


"Kak Arthur ada apa?" tanya Lily bingung.


"Sayang. Ada apa kenapa kamu menangis. Kamu jangan membuatku takut" Lily memeluk Edward.


"Kalian harus pulang sekarang Lily. Aku sudah menyuruh anak buahku untuk menyiapkan penerbangan sekarang juga. Bersiap-siaplah, aku akan mengantar kalian ke bandara" ucap Arthur.


"Ada apa Kak. Katakan kepadaku" Edward masih memeluk Edward dan bertanya kepada Arthur.


"Kamu akan tahu setelah, kalian sampai di Humburg" jawab Arthur.


Setelah mereka beres-beres. Arthur mengantar Lily dan Edward ke bandara. Pesawat keluarga Arthur sudah siap mengantar mereka ke Humburg.


"Kalian hati-hati. Aku dan orang tuaku akan ke Humburg besok pagi" ucap Arthur.


"Terima kasih Arthur" Ucap Edward dengan nada Sedih.


"Kami pulang dulu Kak. Salam untuk Paman dan Bibi" ucap Lily.


Lily sekarang tahu. Kalau Edward menangis karena Gabriel masuk rumah sakit. Sebenarnya ini yang di takutkan Lily. Gabriel jantungnya kumat saat mendengar Edward pergi dari Humburg.


"Grandpa ... grandpa harus kuat. Edward pulang Grandpa" Edward menangis dalam pelukan Lily.


Lily memeluk dan menenangkan Edward. Dia harus kuat dan tegar untuk tunangan. Dia tidak boleh terlihat lemah, setidaknya untuk saat ini.


"Sayang. Grandpa akan baik-baik saja. Dia akan bertahan untuk kamu sayang. Grandpa sudah membuktikannya sampai saat ini, kalau Grandpa masih bisa menjaga kamu" ucap Lily.


"Aku hanya punya grandpa sayang. Dia satu-satunya keluargaku di sini" ucap Edward dengan terisak.


"Kamu masih punya aku sayang. Percayalah, Grandpa akan baik-baik saja. Sekarang kita berdoa demi keselamatan grandpa" Lily mengusap punggung Edward.


Setelah mereka sampai di bandara. Mereka di jemput Ferdinand. Arthur menelpon Leon untuk menjemput Edward dan Lily di bandara, sesaat setelah Mereka take off dari bandara.


Ferdinand memeluk Edward, Ferdinand tahu meskipun Edward sering tidak akur dengan kakeknya tapi dari lubuk hati paling dalam. Edward sangat menyayangi Gabriel.


"Bagaimana keadaan Grandpa?" tanya Edward.

__ADS_1


"Belum sadar Tuan. dokter Luis masih memantunya Tuan muda" jawab Ferdinand.


"Kita langsung ke rumah sakit Paman" perintah Edward.


"Kenapa Grandpa bisa sampai pingsan dan tidak sadarkan diri? Aku menyuruh kalian menjaga Grandpa. KALIAN SEMUA TIDAK PECUS. UNTUK APA AKU MEMBAYAR KALIAN KALAU KALIAN TIDAK BISA MENJAGA KESEHATAN GRANDPA HAAAAHHH" Edward meluapkan emosinya kepada Ferdinand.


Ferdinand hanya diam. Lily mencoba menenangkan Edward, supaya tidak bertindak bodoh.


"Sayang. Kamu harus tenang. Aku yakin mereka sudah menjaga Tuan besar dengan baik. Kita berdoa sama-sama, semoga Tuan besar baik baik saja" Lily mengelus dada Edward.


Edward sedang kacau antara sedih dan marah. Dia jadikan satu untuk meluapkan emosinya.


Setelah sampai di rumah sakit. Edward langsung berlari ke ruangan Gabriel. Dia bahkan sampai melupakan Lily yang berada di sampingnya.


Edward menatap satu per satu pelayan yang menjaga Gabriel di luar tak terkecuali Leon. Tatapannya sangat membunuh terhadap semua yang di sana.


Tidak ada yang berani menatap Edward, semua menunduk karena Tuan muda mereka sedang di ambang kemarahan yang sangat besar.


Edward lalu masuk ke dalam ruangan Gabriel. Di dalam ada dokter Luis yang memantau perkembangan Gabriel.


"Grandpaaaaa" Edward langsung memeluk Gabriel. Dia menangis sesegukan. dokter Luis menggusap punggung Edward, supaya tenang.


dokter Luis ikut menangis. Melihat Edward sangat ketakutan akan kehilangannya kakeknya. Selama bekerja dengan keluarga Gabriel. dokter Luis tidak pernah melihat Edward menangis dan sekhawatir ini terhadap Gabriel.


dokter Luis senang sekaligus sedih, karena Gabriel tidak bisa melihat cucunya yang begitu sedih dan ketakutan kalau terjadi hal buruk terhadapnya.


Selama ini Edward hanya memperlihatkan sikap ketidak sukaan dirinya kepada Gabriel. Meskipun begitu Gabriel merasa yakin kalau cucunya sangat menyayanginya.


"Grandpa bangun, Edward mohon bangunlah Grandpa" Edward menatap tubuh Gabriel penuh dengan selang yang menempel di tubuh kakek tua tersebut.


"Edward minta maaf Grandpa. Edward sangat menyayangi Grandpa. Aku Mohon bangunlah demi Edward Grandpa" Edward memeluk Gabriel.


dokter Luis hanya diam. Dia hanya mengamati dua orang di hadapanya dengan perasaan campur aduk. Pemandangan yang belum pernah dia lihat selama ini selama Gabriel masih sehat.


Edward menangis di sambil memeluk tubuh Gabriel, dia merasa sangat bersalah telah melakukan hal yang ke kanak-kanakan.


Saat Edward memegang tangan Gabriel. Jari telunjuk Gabriel bergerak pelan-pelan. Edward kaget spontan mencium tangan Gabriel.

__ADS_1


"dokter Luis, jari Grandpa bergerak" ucap Edward dengan sedikit senyuman.


dokter luis langsung mendekat dan memeriksa Gabriel yang tergolek tak berdaya di tempat tidur pasien.


Setelah memeriksa Gabriel. dokter Luis merasa lega setelah memeriksa kondisi kakek berusian 70 tahunan tersebut.


"Bagaimana keadaan Grandpa dokter?" tanya Edward cemas.


"Kamu tenang saja Edward. Tuan besar berhasil melewati masa kritisnya" jawab dokter Luis.


Edward bernafas lega. Edward memeluk kakekknya kembali dan cium pipi kening dan tangan kakeknya.


"Kenapa Grandpa belum membuka matanya dokter?" tanya Edward.


"Kami akan memeriksa lebih lanjut Edward. Tuan besar dalam pengawasanku langsung, aku akan melakukan yang terbaik" ucap dokter Luis.


"Terima kasih dokter" Edward memeluk dokter Luis.


"Biarkan Grandpamu istirahat. Kita akan tunggu besok pagi. Semoga Tuan besar sudah bisa sadar dan membuka matanya kembali" jawab dokter Luis.


"Aku akan menunggu di sini dokter. Aku ingin Grandpa melihatku yang pertama saat dia membuka matanya" ucap Edward.


"Iya tidak apa-apa. Pencet tombol itu kalau ada apa-apa dengan Tuan besar. Aku ada di ruang sana" dokter Luis menunjuk ruang kerjanya.


"Iya dokter Luis" jawab Edward.


"Kakekmu sangat menyayangimu Edward. Jangan membuat dirinya khawatir lagi setelah ini. Jantungnya sudah lemah" pesan dokter Luis.


"Baik dokter Luis. Aku juga sangat menyayangi Grandpa. Hanya Grandpa yang aku punya. Aku tidak punya siapa-siapa lagi" Edward melihat tubuh Gabriel yang masih setia menutup matanya.


dokter Luis pergi meninggalkan Gabriel dan Edward di ruang ICU. dokter Luis memerintahkan perawat untuk selalu memonitor Gabriel secara Intensif.


"Grandpa. Ini Edward, Grandpa bisa merasakan ini tangan cucu Grandpa yang suka marah sama Grandpa. Grandpa cepat bangun ya, Edward kangen saat Grandpa memarahi Edward saat Edward keras kepala" Edward terus mengajak Gabriel bicara.


Edward ingin Gabriel merasakan sentuhan dan mendengar suaranya. Meskipun Gabriel masih tidur. Edward yakin alam bawah sadar Gabriel bisa mendengar suaranya dan merespon sentuhannya.


"E-ed-waaarrdd"

__ADS_1


"Grandpaaaa!"


To be continue ....


__ADS_2