
Gleeekkkk
'Apa yang dia lakukan, kenapa dia tidak menggunakan bra. Jangan tergoda Edward, dia masih anak kecil' Edward membatin.
"Ayo cepat, kamu siapkan malamnya Lily" Edward berbalik menuju meja makan. "Baik Tuan" Lily mengekori Edward.
Lily meletakkan makanan khas Jerman seperti Falscher Hase, Gulaschsuppe, dan Apfelstrudel di atas piring.
Falscher Hase adalah makanan yang terbuat dari daging cincang yang dicampur dengan telur, tepung, dan bawang. Kemudian dagingnya disajikan dengan cara diiris pipih dan diberi bumbu saus di atasnya. Cocok banget dimakan bareng kentang layaknya steak pada umumnya.
Gulaschsuppe adalah sup kuah kental, terbuat dari daging sapi atau daging babi sebagai bahan utama. Daging-daging tersebut dipotong agak besar dan disajikan dengan roti. Kalau di Indonesia, hampir sama dengan sup merah.
Apfelstrudel adalah makanan yang pas banget buat dessert, rasanya manis. Kue yang berbentuk bulat dan bertekstur lembut ini berbahan dasar apel. Konon, apfelstrudel sudah lama ditemukan. Jadi gak heran seluruh masyarakat Jerman pasti mengenal kue manis ini.
Tidak lupa Lily juga meletakkan 2 gelas air putih diatas meja. Setelah siap semua, Lily memanggil Edward yang duduk di sofa sedang menonton TV.
"Tuan makanannya sudah siap" ucap Lily. Edward lalu mematikan TV dan berjalan ke meja makan. Edward mengeryitkan dahi saat melihat Lily hanya berdiri di depannya.
"Kenapa kamu hanya berdiri Lily, duduklah kita makan bersama" ucap Edward yang sedang mengambil Falscher Hase di letakkan di piring.
"Tidak Tuan. Tuan makan dulu saja, nanti saya akan makan setelah Tuan selesai makan" ucap Lily.
"Kenapa begitu?" tanya Edward. "Saya sudah terbiasa seperti itu sejak saya kecil Tuan" ucap Lily menunduk.
"Maksud kamu bagaimana Lily. Kamu selalu berdiri saat yang lainnya makan?" Edward meletakkan sendoknya di piring.
"Iya Tuan" menganggukan kepala. "Ya sudah, sekarang kamu makan sama saya. Sekarang kamu duduk dan nikmati makan malam. Nanti setelah makan saya mau dengar cerita tentang kehidupan kamu" ucap Edward.
Lily lalu duduk di depan Edward. Dia takut nanti Edward marah kalau dia tidak menuruti Tuannya.
"Makanlah!! anggap saya sebagai temanmu, jangan sungkan. Kamu bekerja untuk saya, saya harus memastikan siapapun yang bekerja dengan saya harus tercukupi kebutuhannya" ucap Edward.
Lily lalu mengambil makanan dengan tangan gemetar. Edward yang melihat tangan Lily gemetar lalu bertanya.
"Kenapa Lily?" Edward mengamati Lily. "Tidak Tuan, Apa aku tidak masalah kalau makan satu meja dengan Tuan Edward? Tanya Lily dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Tentu saja, memang kenapa Lily?" tanya Edward balik. "Saya takut dianggap lancang Tuan" ucap Lily.
"Makan saja Lily, tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak-tidak. Saya tidak pernah keberatan kalau saya harus makan 1 meja dengan pegawai saya"
Akhirnya Lily makan dengan tenang. Lily dan Edward hanya diam saat mereka makan, tidak ada percakapan apapun diantara mereka.
"Lily kalau sudah selesai makan, tolong kamu bersih kan semua. Saya tunggu kamu di sofa. Kamu harus ceritakan kehidupanmu kepada saya malam ini" Edward berjalan menuju ruang santai.
Lily membersihkan sisa makanan di meja. Lalu mencuci piring. Setelah selesai dia menemui Edward di Sofa.
"Tuan, Saya sudah selesai" ucap Lily
"Duduk sini Lily" Edward menepuk-nepuk sofa kosong disampingnya. Dia menyuruh Lily duduk di sampingnya.
"Saya duduk di bawah saja, Tuan" Lily duduk karpet bawah.
"LILY, APA-APAAN KAMU. CEPAT BERDIRI!! Jangan duduk di lantai, itu kotor" Edward menarik tangan Lily supaya berdiri.
Karena tangan kanan Edward sedang sakit, jadi dia kehilangan keseimbangan saat menarik tangan Lily untuk berdiri.
Eee...eee...Bruugghh. Mereka berdua jatuh ke sofa. Lily berada diatas Edward.
"Lily, berdiri!!"
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja"
Lily lalu berdiri, dia langsung membantu Edward untuk duduk kembali.
"Duduklah!!"
Lily duduk di samping Edward. "Lily, mulai sekarang, jangan duduk dilantai lagi. Kalau saya makan, kamu juga harus makan. Ini rumah saya, jadi kamu harus mengikuti peraturan di rumah saya.
"Baik Tuan"
"Sekarang jelaskan kepada saya, kenapa tadi kamu tidak mau makan 1 meja dengan saya?"
"Saya terbiasa makan setelah paman, tante dan anak mereka makan, Tuan. Saya tidak pernah makan bersama mereka. Kadang kalau makanannya habis saya tidak makan.
Kata paman, saya hanya numpang dirumah mereka, jadi harus tahu diri. Meskipun saya lapar banget, saya harus menahan rasa lapar saya sampai mereka selesai makan.
__ADS_1
Saya tidak apa-apa kalau harus menahan lapar, asalkan paman masih mau mensekolahkan saya. Saya juga tidak masalah kalau harus tidak makan seharian asalkan masih diizinkan pergi sekolah"
"Kenapa paman kamu memperlakukan kamu seperti itu?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin karena saya hanya keponakannya, bukan anaknya paman.
"Kamu duduk dilantai juga karena kamu terbiasa seperti itu?"
"Iya, Tuan. Saya tidak boleh duduk di kursi seperti sekarang ini Tuan. Pelayan disana juga banyak yang tidak suka sama saya
"Apa pamanmu orang kaya?"
"Iya, Tuan. Dia bekerja diperusahaan yang sama dengan papa saya, Tuan". Semenjak orang tua saya meninggal, saya ikut paman. Katanya dia satu-satunya wali yang saya punya".
"Bagaimana dengan rumah kamu? maksud aku rumah peninggalan orang tuamu?"
"Rumahnya di jual sama paman saya, katanya buat bayar hutang orang tua saya. Makanya saya diajak tinggal bareng sama mereka"
"Kamu tidak punya tante/paman dari mamakamu?
"Saya tidak ingat, Tuan. Waktu orang tua saya meninggal, saya masih umur 7 tahun. Yang saya ingat hanya paman saya, karena dia yang sering datang kerumah saat orang tua saya masih hidup. Anak paman saya juga seumuran dengan saya, Tuan".
"Bagaimana kamu bisa sampai kabur dari rumah pamanmu? aku dengar cerita itu dari Leon"
"Soal itu, karena paman tidak mau saya lanjut kuliah, Tuan. Katanya kuliah itu biayanya mahal. Padahal aku ingin sekali kuliah, supaya saya bisa kerja diperusahaan ternama dan mendapat gaji besar. Karena aku ingin mandiri, tidak mau tinggal terus dengan paman. Akhirnya saya kabur waktu mereka makan siang di luar, Tuan.
"Saya kabur dengan uang yang di kasih bibi Sandra. Dia yang menyuruhku untuk pergi dari rumah paman. Dia menyuruhku mengejar cita-citaku sampai sukses"
"Siapa Bibi Sandra?"
"Bibi Sandra adalah salah satu pelayan di rumah paman saya, tapi dia sangat baik. Dia yang selalu membantu saya dan memberi saya makan kalau saya seharian tidak makan"
"Kamu masih ingin kuliah?
"Iya, Tuan. Tapi saya mau nabung dulu dari gaji saya. Selain itu saya juga sudah Apply beasiswa dari Universitas yang saya impikan sejak dulu"
"Sepertinya kamu sudah mengantuk. Kamu tidur sana. Saya juga mau tidur. Lily, jangan pernah kamu keluar rumah tidak memakai bra, itu sangat berbahaya"
Lily kaget dan menutup dadanya dengan kedua tanganya. 'Bagaimana Tuan bisa tahu kalau aku tidak memakai bra' Lily membatin.
"Iya Tuan, saya permisi" Lily langsung lari ke kamar.
__ADS_1
Edward tertawa melihat muka panik Lily. "Untung saja aku tidak terbawa suasan" Gumam Edward.
Edward berjalan ke kamarnya.