
Sepulang kuliah Lily berbelanja ke supermarket. Sebenarnya Lily masih kesal dengan Edward yang menjadi dosen di kampusnya.
Lily tidak mau kalau Edward dikelilingi mahasiswa cantik di kampus. Karena Lily tahu Edward itu sangat tampan dan mempesona setiap mata yang memandangnya.
"Dasar Tuan muda menyebalkan. Dia sengaja ke kampus, biar diliik sama mahasiswa cantik. Kalau dikantorkan perempuannya sudah tua-tua" Lily ngomel-ngomel menuju rak shampo untuk laki-laki.
Saat Lily mengambil shampo untuk Edward. Bersamaan seorang laki-laki juga mengambil shampo yang sama.
Lily dan Laki-laki itu tidak sengaja berssntuhan kulit. Karen sibuk ngomel-ngomel Lily jadi tidak fokus, sehingga tangan dia dan laki-laki tersebut saling bersentuhan.
"Maaf Nona saya tidak sengaja" ucap laki-laki itu sopan.
"Ah iya Tuan. Saya juga minta maaf. Saya tidak melihat saat Tuan mau mengambil shampo yang sama" ucap Lily ramah.
Laki-laki tersebut mengambil 2 buah shampo. 1 untuk Lily dan 1 lagi untuk dirinya.
"Ini Nona, saya ambilkan sekalian" laki-laki tersebut memberikan shampo kepada Lily.
"Terima kasih Tuan" Lily mengambil shampo dari tangan laki-laki tersebut.
"Nona. Apakah kita pernah bertemu?" tanya laki-laki berhidung mancung tersebut.
"Saya rasa tidak pernah Tuan. Saya tidak pernah keluar selain ke supermarket dan kekampus" jawab Lily.
Laki-laki tersebut mengali memorinya. Dia tidak pernah salah. Dia merasa pernah bertemu Lily sebelumnya.
"Tuan" Lily mengipas-ngipas tanganya di depan laki-laki ganteng tersebut.
"Iya. Saya ingat. Kita pernah bertabrakan waktu di Mall. Apa nona ingat?" tanya Edward
Lily mencoba mengingat kembali. Dia terakhir pergi bersama Edward bertemu dengan Kloe. Setelah itu dia tidak pergi Mall lagi.
Lily ingat sekarang. Pasti yang dimaksud laki-laki didepannya adalah waktu Lily pergi bersama Edward. Lily memang menabrak seseorang tapi dia lupa wajahnya.
"Apa nona sudah ingat?" tanya laki-laki tersebut.
"Iya Tuan. Maaf saya tidak mengenali anda karena pada saat itu saya terburu-buru. Bos saya sedang marah saat itu" ucap Lily dengan tersenyum.
"Sekarang kita bertemu lagi disini secara tidak sengaja. Mungkin kita jodoh" canda laki-laki berambut hitam tersebut.
"Tuan bisa saja" Lily tersenyum.
"Apa shampo itu untuk bos anda Nona?" tanya laki-laki tersebut.
"Iya Tuan. Bos saya galak, suka marah-marah tidak jelas. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Dia Itu menyebalkan Tuan" Lily membicarakan larangan Edward.
"Oh ya boleh saya kenalan Nona?" tanya laki-laki tersebut.
"Iya. Nama Saya Lily" Jawab Lily.
__ADS_1
"Nama saya Arthur" Arthur memberi tahu namanya.
'Lily. Apa dia yang daddy cari?' batin Arthur.
Arthur merasa, sejak pertama kali dia melihat Lily, ada perasaan yang begitu dekat. Seperti mereka sudah kenal lama. Hal itu yang membuat Arthur memberanikan diri untuk berkenalan.
"Nona, apa Nona Lily sedang terburu-buru?" tanya Arthur.
Lily melihat jam ditangannya. Masih sore, Edward juga belum tentu sudah pulang dari kantor. Jadi Lily masih bisa santai sebentar, dia juga masih kesal denga Edward.
"Tidak Tuan. Bos saya juga belum pulang karena masih sore" jawab Lily.
"Kalau tidak keberatan. Saya ingin mentraktir kopi disana" Arthur menunjuk kedai kopi yang ada di dekat supermarket.
"Boleh. Tapi saya tidak bisa berlama-lama Tuan" ucap Lily.
"Tidak masalah. Sebentar saja, sebagai ucapan maaf dari saya. Karena menabrak Nona Lily" ucap Edward.
"Jangan panggil saya Nona, Tuan. Panggil saja Lily" pinta Lily.
"Baiklah Lily" ucap Arthur.
Setelah melakukan pembayaran belanja. Mereka berdua berjalan kaki ke dalam kedai kopi dekat supermarket.
Arthur dan Lily memesan didepan kasir. Setelah selesai memesan minuman. Seorang laki-laki mendekati Lily.
"Lily" sapa Laki-laki tersebut.
"Lily kamu kemana saja. Aku mencarimu kemana-mana. Kenapa kamu memblokir nomerku? Tanya Excel.
"Ceritanya panjang Excel. Aku tidak bisa cerita sekarang" ucap Lily.
Arthur yang tidak mengerti percakapan mereka, hanya menyimak saja.
"Dia siapa Lily? apa dia kekasihmu?" tanya Excel.
"Bukan Excel. Dia Tuan Arthur. Kita baru bertemu 2 kali. Tuan ini mentraktirku sebagai permintaan maaf" jawab Lily.
"Lily apa kamu sudah tahu kabar tentang Kloe dan pamanmu?" tanya Excel.
"Memangnya kenapa mereka Excel?" tanya Lily.
"Mereka se ... "
"Lily ini minumanmu. Cepat diminum nanti dingin" ucap Arthur dari meja di sebelah kaca.
Belum sempat Excel selesai bicara. Arthur tidak sengaja memotongnya, Lily lalu pergi menyusul Arthur.
"Excel lain kali kita bicara lagi. Aku harus kesana, tidak enak dengan Tuan Arthur" ucap Lily.
__ADS_1
"Baiklah. Aku juga harus bekerja. Kamu tinggal dimana sekarang Lily?" tanya Excel.
"Nanti aku kasih tahu. Sekarang aku harus meminum kopi hangatku" Lily meninggalkan Excel.
"Lily. Buka blokiran nomerku" Excel sedikit berteriak.
Lily tidak menyangka kalau dia bertemu dengan Excel. Sebelumnya Excel kerja di sebuah mini market. Karena ada masalah dengan minimarket tersebut. Akhirnya Excel pindah kerja.
Baru sekitar 5 menit Lily duduk dan meminum kopi. Edward menelponnya. Lily membolakan matanya. Kalau sampai Edward tahu dia bersama Arthur. Edward bisa mendiamkannya, bahkan dia juga akan diusir dari apartemen.
"Maaf Tuan Arthur sepertinya saya harus pulang. Bos saya sudah menelpon. Saya takut nanti dia marah-marah" ucap Lily.
"Kalau begitu biar saya antar. Nanti akan saya jelaskan kepada bosmu Lily" ucap Arthur.
"Tidak usah Tuan. Saya bisa pulang sendiri. Saya akan naik bus saja. Terima kasih traktiran kopinya Tuan" Lily membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan Arthur.
Arthur minum kopi sendiri. Sambil membuka email yang dikirim anak buahnya.
"Apa" Arthur segera pergi meninggalkan kedai kopi.
Arthur mencari Lily di sekitar kedai. Siapa tahu Lily belum pergi. Ternyata Lily sudah naik bus kota. Arthur kehilangan jejak Lily.
Arthur memilih pulang dan beristirahat. Besok dia akan melanjutkan mencari Lily.
Sementara itu. Lily sangat was-was setelah mengangkat telpon dari Edward di dalam bus. Lily berharap, Edward tidak mengetahu kalau dia pergi bersama Arthur.
Lily berjalan sedikit takut. Takut kalau Edward akan marah karena pulang terlambat.
Cekleekk
Lili membuka pintu Apartemen. Dia celingak-celinguk mencari Edward. Lily tidak melihat batang hidung Edward di ruang santai maupun di dapur.
Saat Lily akan masuk kamar. Edward memanggilnya. Lily sudah ketar-ketir. Kalau nanti Edward akan mendiamkannya.
"Darimana kamu Lily?" Edward muncul dari dalam kamar.
Lily menelan salivanya dengan sangat berat. Dia harus mencari alasan.
"Lily aku bertanya kepadamu bukan dengan patung" ucap Edward dengan nada sedikit meninggi.
"Sa-saya dari belanja Tua. Saya belanja keperluan mandi Tuan dan belanja daging" jawab Lily dengan menunjukkan barang belanjaan dimeja dapur.
"Kenapa lama sekali?" tanya Edward.
"Antrinya panjang banget Tuan. Ini awal bulan" Lily beralasan.
"Ya sudah kamu mandi dulu setelah itu kamu masak. Aku sudah lapar" ucap Edward.
"Baik Tuan" Lily lega karena Edward tidak terlalu banyak bertanya.
__ADS_1
Edward dudukk di ruang santai sambil menonton Netflix sedangkan Lily masuk kamar membersihkan badan.
to be continue ....