
Pukul 7 malam di Hotel Amaris. Edward ditemani Leon menunggu Peter dan Sekretarisnya di tempat VVIP. Tempat khusus untuk bertemu dengan orang penting, hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk tempat tersebut.
"Selamat malam Tuan Edward maaf saya terlambat" Peter menjabat tangan Edward Leon.
"Tidak masalah Tuan Peter. Silahkan duduk" Edward mempersilahkan Peter dan sekretarisnya untuk duduk.
"Saya sudah membaca surat perjanjian yang Anda kirim Tuan Peter. Tapi sebelum saya menyetujui kontrak kerja sama kita. Saya akan memastikan 1 hal dengan Tuan Peter" ucap Edward dengan tenang.
"Apa itu Tuan Edward?" tanya Peter gugup. Dia takut kalau Edward akan membatalkan kontrak kerja sama mereka.
"Sebentar saya sedang menunggu seseorang. Dia juga akan bergabung dengan kita" Edward minum anggur putih yang dipegangnya.
"Leon, pesankan Tuan Edward dan Sekretarisnya minuman" ucap Edward.
"Baik Tuan" Leon memanggil pelayan dengan tombol merah yang ada di tembok dekat pintu masuk.
"Selamat malam Tuan Edward" Sapa seorang laki-laki tampan dan masih muda yang baru saja masuk.
"Selamat malam, Tuan Arthur" Edward berdiri menjabat tangan Arthur. Arthur lalu beralih melihat Peter.
"Hallo Tuan Peter. Lama tidak berjumpa. Apa kabar Anda?" Arthur menjabat tangan Peter. Peter berdiri dan menjabat tangan Arthur dengan gemetar.
"Apa kalian saling mengenal Tuan Arthur?" Edward pura-pura tidak tahu. "Tentu saja Tuan Edward. Kita pernah kerjasama bareng. Bukan begitu Tuan Peter?" Arthur menekankan kata kerjasama.
Peter merasa terpojokkan. Dia tidak tahu kalau Arthur sedang melakukan kerja sama dengan Edward. Semua serba kebetulan dan awalnya tidak diketahui oleh Edward kalau Peter dan Arthur pernah kerja sama.
Setelah Arthur bercerita tentang kerjasamanya dengan Peter. Edward punya rencana lain, untuk Peter dan pastinya Arthur akan terlibat didalamnya.
Malam ini Edward hanya akan menjadi penonton. Malam ini peran utama akan dilakukan oleh Arthur. Tujuan Edward adalah membuat Peter gagal kerjasama dengan perusahaannya dan mengambil alih perusahaan yang sekarang di pegang oleh Peter. Edward ingin membuat perusahaan Peter jatuh, lalu membeli saham perusahaan tersebut dengan harga semurah-murahnya.
"Ada apa ini Tuan Edward?" tanya Peter. "Saya menggundang Tuan Arthur untuk bergabung dengan saya, karena saya dan Tuan Arthur sedang melakukan kerjasama. Saya tidak tahu kalau kalian saling mengenal" ucap Edward berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Tuan Edward, apa Anda berniat kerjasama dengan Tuan Peter?" tanya Arthur.
__ADS_1
" Anda benar Tuan Arthur. Benerapa minggu yang lalu, Tuan Peter mengirim proposal kerjasama ke kantor saya. Sepertinya cukup menarik kalau saya bekerjasama sama dengan Senior, Tuan Arthur.
"Apa anda tidak tahu kalau Tuan Peter sering membawa kabur uang partner yang kerja sama dengan dia?" ucap Arthur.
"Saya tidak tahu Tuan Arthur. Apa Anda salah satu partner Tuan Peter?" tanya Edward.
Peter yang jadi topik pembicaraan hanya diam. Dia gugup sudah dipastikan kerja samanya dengan Edward pasti gagal. Karena Edward tidak akan pernah mau bekerja sama dengan perusahaan yang menipu partnernya.
Sebenarnya Edward sudah tahu sepak terjang Peter di dunia bisnis. Edward juga tahu kalau Peter pecinta lubang. Tapi Edward punya rencananya sendiri terhadap Peter. Maka Edward mengambil resiko sampai sejauh ini.
"Tuan Peter, mana uang perusahaan saya yang Anda bawa kabur? sudah 3 tahun Anda mangkir dari pembayaran hutang Anda. Kebetulan sekali kalau kita bertemu disini. Mari kita selesaikan urusan kita Tuan Peter" ucap Arthur.
"Sepertinya saya harus pergi. Tuan Peter selesaikan dulu urusan anda denga Tuan Arthur. Kita jadwal ulang saja pertemuan kita. Kalau urusan Anda dengan Tuan Arthur selesai, anda bisa menghubungi saya" ucap Edward.
"Tapi Tuan Edward. Bagaimana dengan kerjasama kita?" tanya Peter panik.
"Tuan Peter, kita tunda saja kerjasama kita. Saya tidak mau menginvestasikan uang saya kepada perusahaan yang sudah banyak menipu perusahaan lain. Kalau begitu saya permisi dulu. Tuan Arthur silahkan anda selesaikan urusan anda dengan Tuan Peter. Saya permisi dulu Tuan Arthur, Tuan Peter" Edward berdiri lalu berjabat tangan dengan Arthur dan Peter. Leon juga melakukan hal yang sama seperti Edward.
Edward dan Leon keluar dari ruang VVIP tersebut. Diruangan itu hanya menyisakan Arthur , Peter dan sekretarisnya saja. Sebenarnya ada anak buah dari Arthur yang bersembunyi diruangan yang sama. Tapi Peter tidak tahu. Arthur hanya berjaga-jaga kalau seandainya Peter akan mencelakainya.
"Leon pantau terua saham perusahaan Peter. Kita akan membelinya disaat saham Perusahaan Peter anjlok. Kita harus membelinya dengan harga paling murah" Edward merasa senang sekarang. Karena rencananya tinggal selangkah lagi mengambil perusahaan keluarga White.
"Leon antar aku ke kantor" perintah Edward
"Tuan tidak pulang?" tanya Leon
Setelah itu kamu boleh pulang. Ada sesuatu yang akan aku kerjakan" ucap Edward.
"Apa perlu aku temani Tuan" Leon menawarkan diri untuk menemani bos tercintanya.
"Tidak usah, kamu kembali saja Leon. Kapan Grandpa pulang dari Dubai?" tanya Edward.
"Sepertinya masih 2 minggu lagi Tuan. Tuan besar sekalian bertemu dengan teman lamanya disana" jawab Leon.
"Aku akan menemui kakek tua itu kalau dia sudah kembali ke Humburg" Edward sangat merindukan Gabriel. Gabriel adalah keluarga satu-satunya Edward. Setelah orang tuanya meninggal Edward tidak punya saudara lagi.
__ADS_1
Dia punya 1 bibi dari saudara ibunya. Tapi tinggalnya di Belgia. Edward jarang bertemu dengan keluarga bibinya tersebut.
"Terima kasih Leon. Kamu boleh pulang" Edward turun dari mobil Leon.
"Tuan beneran tidak mau aku temani?" Leon masih ragu meninggalkan Edward dikantor.
"Heeemmm. Pulanglah jaga rumah grandpa" ucap Edward. Edward berjalan masuk menuju ruangannya. Suasananya sangat sepi, tidak ada siapapum kecuali beberapa satpam yang berjaga di luar, sesekali berkeliling kedalam kantor perusahaan Edward.
Leon pergi meninggalkan Edward dikantor sendirian. Sebenarnya Leon mau menemani bosnya itu, tapi dia takut bosnya marah lagi seperti kemari. Mukanya baru kembali ganteng setelah beberapa hari plester nempel diujung bibirnya.
"Tuan Edward. Kenapa belum pulang Tuan?" tanya satpam yang kebetulan sedang keliling kantor. Untuk mengecek keamanan kantor.
"Iya. Ada pekerjaan yang harus saya kerjakan dikantor" Edward masuk keruanga CEO.
Sebenarnya pekerjaan adalah alasan Edward untuk tidak pulang ke apartemen. Malam ini, Edward akan tidur dikantor. Dia belum siap bertemu dengan Lily.
Sedangkan Lily diapartemen sedang menunggu Edward pulang. Kepala Lily sudah agak mendingan karena dia tidur sepanjang hari. Sudah membuat kepalanya tidak pusing lagi, ditambah minum obat dari dr. Luis. Semakin mempercepat kesembuhannya.
Lily berkali-kali melihat jam didinding. Lily sangat gelisah. Biasanya jam 6 Edward sudah pulang. Tapi sekarang jam 8 masih belum kelihatan batang hidungnya.
"Lily bangun. Lily" Bibi Ema membangunkan Lily yang tertidur di sofa ruanga santai. Lily membuka matanya, ternyata yang membangunkan Lily adalah Bibi Ema. Dia pikir Edward.
"Bibi Ema" Lily mengucek matanya. "Kenapa kamu tidur disini Lily. Ayo pindah ke kamar kamu" Bibi Ema menarik tangan Lily, supaya pindah.
"Ini jam berapa bi? Apa Tuan Edward sudah pulang?" Lily melihat kearah jam dinding.
"Belum Lily" Jawab Bibi Ema.
"Ini sudah pukul 11 malam. Kenapa Tuan belum pulang?" gumam Lily.
Bibi Ema melihat raut kecemasan dari wajah Lily. Dia sangat mengkhawatirkan Edward, karena tak kunjung pulang.
Kamu akan tahu bahwa itu adalah cinta, bukan ketika kamu memikirkan mereka sepanjang waktu atau ingin bersama mereka, tetapi ketika kamu mengkhawatirkan mereka dan kamu menginginkan persetujuan dan kebahagiaan mereka.
To be continue ...
__ADS_1