
Arthur mendapat mandat dari daddynya Edgar Miller mencari anak dari adik kandung Edgar. Tapi Arthur tidak memiliki petunjuk kecuali lewat Peter dan keluarganya.
Sedangkan Edgar melarang Arthur untuk mendekati Peter, karena dia orang yang sangat licik.
Edgar khawatir, kalau Peter tahu siapa Arthur. Maka Lily akan dalam bahaya. Arthur pikir setelah dia menginjakkan kakinya di Humburg, dia akan dengan mudah mencari Lily dengan orang-orang suruhan Edgar.
Ternyata setelah Arthur menemukan keluarga Peter. Lily sudah tidak bersama dengan Keluarga Peter. ditambah lagi Peter pernah menipunya waktu Arthur pertama kali memulai didunia bisnis tanpa nama keluarganya Miller.
Arthur baru tahu kalau Peter yang menipunya itu adalah Peter yang di maksud Edgar. Setelah dia memberi tahu daddynya sebelum dia kembali ke Humburg.
Misi pencarian Lily sebenarnya sangat rahasia. Edgar ingin keponakannya itu ikut bersama dia tanpa sepengetahuan Peter. Karena Edgar memiliki rencana sendiri untuk menghancurkan Peter.
Bak gayung bersambut. Arthur mendapat penawaran dari Edward untuk menghancurkan Peter karena alasan pribadi.
Sebelumnya Edward menyuruh Leon, untuk mencari nama-nama pengusaha yang ditipu oleh Peter yang berada di luar Jerman.
Saat melihat nama Arthur Miller. Dia langsung menghubungi Arthur karena sebelumnya perusahaan Gabriel dan Kakek Arthur pernah bekerja sama dengan baik.
Akhirnya Arthur dilepas Edgar ke Humburg untuk membantu Edward dan untuk menghancurkan Peter karena telah membuat perusahaan pribadinya merugi ratusan milyar.
Arthur tidak memiliki Foto Lily remaja. Arthur hanya tahu nama Lily, dan keluarga Peter. Dia tidak memiliki petunjuk lain.
Waktu Arthur minum kopi bersama Lily. Arthur baru tahu kalau perempuan yang ditabraknya tanpa sengaja adalah Lily yang dia cari selama hampir 1 bulan ini.
Flashback On
"Lily sudah pergi. Aku mau cek surel dulu. Apa yang ditemukan orang-orangnya daddy" Arthur menyesap kopi yang dipegangnya.
Arthur melihat foto-foto Lily dari kecil sampai Lily yang sekarang. Arthur shock, ternyata gadis belia yang dicarinya adalah Lily kecil yang dulu selalu menempel kepadanya saat Arthur tinggal di Humburg.
Arthur keluar dari kedai kopi, tapi dia sudah terlambat. Bus yang ditumpangi Lily sudah melaju jauh. Arthur mengepalkan tangannya meninju angin.
Arthur lalu pergi mengambil mobil di tempat parkir Mall.
"Ternyata firasatku benar. Aku merasa mengenal Lily dari kecil. Apa ini alasan daddy dulu tinggal di Humburg, supaya aku mengenal keluarga Daddy. Lily kecil adalah saudaraku" gumam Arthur didalam mobil.
"Daddy, sejahat apa Peter sampai daddy tidak ingin muncul dihadapan Peter" gumam Arthur.
Arthur lalu melajukan mobilnya pulang ke apartemen. Dia bertekad akan menemukan Lily dan mempertemukannya dengan Edgar.
Arthur sendiri masih penasaran tentang hubungan Papanya Lily dan Edgar.
__ADS_1
Flashbak Off
"Besok aku akan menemui laki-laki yang berbicara dengan Lily di kedai kopi tadi" gumam Arthur dengan melihat foto-foto yang dikirim orang suruhan Edgar.
Arthur juga sudah menyuruh orang suruhan Edgar untuk mencari alamat dan kampus Lily.
Sementara Lily masih kesal Edward karena tiba-tiba jadi dosen di kampusnya. Edward yang melihat muka Lily ditekuk penasaran ingin bertanya.
"Kamu kenapa Lily? muka kamu tidak enak dilihat. Tersenyumlah, itu lebih manis" goda Edward.
"Tuan sengaja ya, jadi dosen di kampus saya?" tanya Lily sewot.
"Iya. Kok kamu tahu Lily" Edward menyembunyikan senyumannya. Supaya dia tidak tertawa.
'Kelinci kecilku memang sangat mengemaskan kalau sedang kesal' batin Edward.
"Sudah saya tebak. Memang Tuan sengaja jadi dosen untuk menarik perhatian mahasiswa perempuan di kampus" ucap Lily dengan nada kesal.
"Kenapa aku baru sadar kalau mahasiswa di kampusmu itu memamg cantik-cantik. Aku jadi betah mengajar disana" Edward semakin mengoda Lily.
Lily semakin cemberut. Mulutnya manyun kedepan. Matanya menyipit menatap Edward.
'Dasar laki-laki semua sama saja. Lihat perempuan cantik langsung melotot' batin Lily.
"Tidak boleh. Aku akan membantumu mengerjakan tugas" Edward minum jus jeruk ditanganya.
"Mana bisa begitu Tuan. Namanya juga tugas kelompok, ya harus dikerjakan bersama" ucap Lily.
"Kamu mau belajar dimana?" tanya Edward.
"Di apartemen Bryan" jawab Lily.
"Tidak. Aku tidak mengizinkanmu pergi. Ini perintah Lily" Edward sedikit emosi.
"Kita ada 7 orang Tuan. Kalau saya tidak ikut mengerjakan tugas kelompok, saya tidak enak Tuan" ucap Lily.
"Sekali tidak tetap tidak Lily. Kamu jangan membantah" Edward berdiri lalu duduk di sofa.
"Ihh menjengkelkan sekali. Harusnya aku tidak usah bilang" gumam Lily.
Setelah selesai cuci piring Lily masuk kamar. Dia akan menyelesaikan tugas yang harus di kumpulkan besok pagi.
__ADS_1
Tiba-tiba telpon Lily berbunyi. Lily mengangkat telponn dari Chelsea teman sekelas Lily.
[Hallo Lily]
[Hallo Chelsea, ada apa?]
[Lily, besok kita jadi mengerjakan tugas kelompok?]
[Iya Chelsea. Kamu kenapa tadi tidak masuk?]
[Aku baru kembali dari rumah nenekku Lily]
Lily dan Chelsea ngobrol sampai Lily tidak sadar Edward masuk kedalam kamarnya. Edward mendengarkan pembicaraan Lily dan Chelsea.
Lily tiduran di tempat tidur. Dia tidak tahu kalau Edward berada di samping tempat tidur.
[Kamu tahu Chelsea, tadi Brian sangat tampan. Aku sudah mengirim fotonya kepadamu hihihiii]
Saat mendengar kata Brian. Edward langsung mengambil ponsel Lily. Lily kaget lalu duduk di atas ranjang. Edward langsung mematikan telpon dari Chelsea.
"SIAPA BRYAN?" tanya Edward dengan nada tinggi.
Lily sampai menutup telinganya. Dia tidak berani menatap Edward. Edward melihat ke Lily yang menunduk dengan amarah yang membuncah.
"JAWAB LILY. SIAPA BRYAN?" Edward semakin marah.
Lily tetap membisu. Dia tidak mau bicara selama Edward masih marah. Karena percuma, Edward pasti tidak mau mendengarkan dirinya. Lily ingin menjelaskan tentang Bryan saat Edward sudah tenang.
"Jadi laki-laki ini yang membuat kamu ingin mengerjakan tugas kelompok. Baiklah Lily. Lakukan semaumu, Kalau itu membuatmu senang" Edward melempar ponsel Lily di ranjang.
Brraaaaakkkk
Edward membanting pintu dan keluar dari kamar Lily. Lily sampai berjingkat saat Edward membanting pintu.
"Tuan marah besar. Aku akan menjelaskan besok pagi saja, sebelum berangkat kekampus. Sekarang aku akan menyelesaikan tugas buat besok"Lily mematikan ponselnya.
Aaaaaarrrggggghhhhhhh Edward berteriak dikamarnya. Dia seperti orang kesetanan. Dia membuang semua barang-barang dikamarnya.
Bantal, guling dan selimut dibuang kelantai. Dia sangat cemburu saat Lily menyebut laki-laki lain tampan.
Edward rebahan di sofa, tidak terasa dia tertidur di sofa sampai pagi. Pagi-pagi sekali Edward sudah rapi. Bahkan Lily yang biasanya sibuk didapur membuat sarapan belum ada di dapur.
__ADS_1
Edward mengambil kunci mobil dan berangkat kekantor.
To be continue ....