Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 63. Dasar Penganggu


__ADS_3

Semua mata melihat ke arah Edward, saat dia masuk kamar Lily. Edward tidak melanjutkan kata-katanya begitu juga dengan Lily. Lily langsung diam saat Edward masuk ke dalam kamar.


Edward mematung dan tersenyum canggung kepada teman-teman Lily. Sedangkan Lily memberi isyarat, menyuruh Edward keluar dari kamarnya.


"Maaf saya salah kamar" Edward langsung keluar dari kamar Lily.


Teman-teman Lily saling pandang dan mengedikkan bahu. Mereka bingung dengan sikap dosen praktisinya tersebut.


Lily mengelus dada. Dia lega, Edward cepat tanggap dengan kode yang dia berikan.


"Mungkin saudaranya Pak Edwars ada yang sakit di sebelah kamar Lily, tadi dia sepertinya membawa sesuatu" ucap Bryan.


"Iya. Kemarin bukannya kita melihat Pak Edward lari tergesa-gesa masuk ke dalam lift waktu kita akan pulang" ucap Chelsea.


"Iya juga seh. Mungkin dia lupa nomer kamarnya" ucap Tony.


"Kalian tidak masuk kuliah. Ini sudah pukul 10 lo. Nanti kalian terlambat" ucap Lily.


"Iya. Ayo kita ke kampus. Ini kelasnya Profesor Lucas jangan sampai terlambat" ucap Taylor.


"Lily kami ke kampus dulu ya. Semoga kamu cepat sembuh Lily. Besok kita jenguk lagi" Chelsea memeluk Lily.


Gantian Alicia yang memeluk Lily. Tony, Bryan, Diego dan Taylor hanya berjabat tangan.


Sedangkan Edward harap-harap cemas. Dia kembali ke lantai dasar, dia duduk di kursi tunggu. Dia memantau apakah teman-teman Lily sudah pulang atau belum.


"Kenapa aku tidak membaca pesan dari Lily. Untung saja aku bisa kabur, Sebelum mereka bertanya yang macam-macam" gumam Edward.


Edward melihat segerombolan anak kuliahan menuju pintu keluar. Edward tersenyum senang karena mereka adalah teman-teman Lily yang tadi ada di kamar Lily, Sekarang dia bisa naik ke kamar Lily.


"Kenapa Tuan tidak membaca pesan saya" cerocos Lily saat Edward sudah ada di dalam kamar Lily.


"Saya tidak tahu. Kenapa kamu tidak bilang kalau temanmu datang ke sini" Edward duduk di pinggiran tempat tidur Lily.


"Mana saya tahu Tuan, kalau mereka kesini. Tuan saja punya ponsel tapi tidak pernah di cek" Lily mencebik.


"Ya sudah, yang penting mereka sudah pulang. Aku belikan kamu anggur. Aku cuci dulu biar bersih" Edward pergi ke kamar mandi mencuci anggur yang di beli.


Edward mengambil piring yang ada di atas nakas Lily untuk meletakkan anggur yang baru saja dia cuci.


"Buka mulutmu Lily. Setelah ini, mulutmu pasti tidak pahit" Edward menyuapkan ke mulut Lily.


"Bagaimana rasanya?" tanya Edward.


"Lumayan" jawab Lily.

__ADS_1


"Kamu harus menghabiskan semuanya Lily. Nanti aku belikan lagi kalau habis. Sepertinya teman-temanmu memberimu banyak buah dan kue" Edward membuka kotak kue yang ada di atas meja.


"Iya. Padahal aku belum bisa makan itu semua" ucap Lily dengan mengunyah buah anggur.


"Makanya jangan sakit. Tidak enak kan kalau sakit. Kamu tidak bisa berangkat kuliah dan makan enak" ledek Edward.


"Siapa juga yang mau sakit" Lily cemberut.


Tiba-tiba telpon Edward berdering. Edward mengangkat telpon sedikit menjauh. Lalu dia mengambil tablet yang dibawakan Leon di dalam tas.


Edward senyum-senyum sendiri saat melihat tablet di depannya. Lily penasaran, dia ingin tahu apa yang membuat Edward tersenyum.


Lily memutuskan untuk istirahat saja. Lily tiduran di atas ranjang rumah sakit. Pikirannya melayang kemana-mana, dengan membelakangi Edward.


Tiba-tiba tubuh Lily ada yang memeluk dari belakang. Edward bergabung dengan Lily tidur di ranjang rumah sakit.


Lily merasa nyaman menghirup afoma maskulin yang menempel di tubuh Edward. Sangat menenangkan hati dan pikiran Lily.


"Katakan kepadaku, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Edward.


"Aku tidak memikirkan apapun Tuan" ucap Lily.


Edward membalikkan tubuh Lily. Sekarang Lily terlentang sedangkan Edward. Posisi miring, kepalanya disanggah dengan tangannya.


Lily gugup. Dia takut kalau Edward akan berbuat nekat di rumah sakit. Lily menelan salivanya saat tangan Edward mengelus pipi mulus Lily.


Lily memejamkan matanya. Menikmati setiap sentuhan yang Edward berikan kepada tubuhnya. Lily sekarang menjadi candu dengan sentuhan Edward.


"Tuaaaannnn" Leon berteriak saat masuk kamar Lily.


Edward dan Lily sampai kaget. Edward memegangi dahinya, dia ingin marah karena Leon datang menganggu kesenangannya. Sedangkan Lily menutup wajahnya dengan Selimut.


"LEON!" Edward melotot kepada Leon dengan mengeratkan giginya.


Leon hanya nyengir menuju sofa. Leon membawa makanan untuk makan malam Edward.


"Maaf Tuan. Tuan mesra-mesraan kenapa tidak dikunci. Masih untung aku yang masuk, coba kalau yang masuk dokter atau suster. Apa Tuan tidak malu" Leon mengoceh.


"Kenapa kamu kesini? bukankah kamu bilang nanti sore baru kesini" ucap Edward.


Edward berjalan menghampiri Leon. Dia membuka makanan yang Leon bawa untuk dirinya.


"Aku membawakan makanan untuk Tuan. Nanti sore aku ada janji dengan Kimmy Tuan. Jadi aku tidak bisa kesini" ucap Leon.


"Kamu ada dengan Kimmy Leon? Kamu jangan macam-macam ya Leon. Dia sudah punya kekasih" Edward memperingatkan Leon.

__ADS_1


"Itu kekasih bohongan Tuan" ucap Leon santai.


"Apa maksudmu Leon?" tanya Edward.


"Nanti aku jelaskan kalau Lily sudah keluar dari rumah sakit" ucap Leon.


Lily yang tidak tahu pembicaraan mereka. Memutuskan untuk main ponsel.


"Tuan belum makan?" tanya Leon.


"Belum. Nanti saja" jawab Edward.


"Makanlah Tuan, nanti tempat bekalnya sekalian aku bawa pulang" ucap Leon.


"Bukankah kamu mau kerumah Kimmy" tanya Edward.


"Iya tapi tidak menginap di sana Tuan. Aku pulang ke rumah.


"Bagaimana dengan Ashley? kamu sudah tidak mencintainya lagi?" tanya Edward.


"Dia tidak pernah menyukaiku Tuan. Tuan kan tahu Kalau Ashley hanya menginginkan Tuan" ucap Edward.


"Ssstttt pelankan suaramu Leon. Nanti Lily dengar" Edward menutup mulut Leon dengan tangannya. Sedangkan mata Edward melihat ke arah Lily.


"Hahahhaaaaaa" Leon tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?" tanya Edward.


"Sejak kapan Tuan takut sama perempuan? hahahaaaaaa" Leon tertawa ngakak.


Lily sampai melihat ke arah mereka berdua. Matanya memicing, sangat mengintimidasi sekali.


"Selamat siang. Ini makan siangnya Nona Lily" petugas pembawa makanan memberikan makan siang untuk Lily.


"Iya Nyonya. Terima kasih" ucap Lily.


"Sama-sama Nona. Silahkan di makan Nona Lily. Semoga lekas sembuh Nona. Saya permisi dulu Nona, Tuan" ucap petugas pembawa makanan.


"Lily ayo makan dulu. Aku tidak mau kalau kamu sampai telat makan" Edward menghampiri Lily yang sedang rebahan di ranjang.


Lily lalu duduk dibantu Edward. Sedangkan Leon hanya sebagai obat nyamuk disana. Leon merebahkan dirinya di atas tempat tidur penunggu.


Lily makan di suapi Edward. Lily menawarkan diri untuk makan sendiri. Tapi Edward menolaknya. Dia ingin merawat gadis yang dicintainya.


Cintai orang yang mencintaimu, untuk mengerti akan indahnya ketulusan hidup dari kasih sayang.

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2