
"Selamat pagi sayang muaachh" Edward mencium kening Lily.
"Pagi sayang. Muaaachhhhh" Lily mencium pipi Edward.
"Satunya lagi belum sayang" Edward menyodorkan pipinya ke bibir Lily.
"Muaachhh" Lily mencium pipi kekasihnya.
Mereka semalam bergulat di atas ranjang yang panas pelepasan tanpa penyatuan. Edward memang tidak mau melakukan kalau Lily belum siap.
Pemanasan adalah kunci untuk melakukana pelepasan dan saling memuaskan. Sekarang mereka di bawah selimut yang sama dalam keadaan polos.
"Ayo mandi sayang. Kamu harus berangkat ke kampus" Edward mengelus pipi Lily yang masih ingin tidur.
"Aku masih ngantuk sayang. Boleh aku tidur sebentar saja" ucap Lily masih dalam dekapan Edward.
"Tidak ini sudah pukul 6 pagi. Kamu ada kuliah pukul 8 pagi. Jadi kamu harus mandi sekarang" Ucap Edward.
"Ini semua gara-gara kamu. Semalam aku sudah meminta berhenti. Kamu masih lanjut sampai dini hari. Aku jadi masih ngantuk" Lily mencebik.
"Kamu terlalu nikmat sayang. Makanya aku tidak mau berhenti" Edward terkekeh.
"Tapi kamu tahu gaya-gaya seperti itu dari mana sayang?" Tanya Edward penasaran.
"Hahahaaaa" Lily tertawa.
"Kenapa kamu malah tertawa sayang" Edward bingung.
"Aku dikirimi Alicia linknya sayang" Lily tertawa ngakak.
"Whaatt?" Edward kaget.
"Bukan cuma aku sayang, semua 1 grup aku di kasih linknya. Aku penasaran makannya aku buka. Ternyata isinya begituan" Lily tambah ngakak.
"Nakal kamu ya. Nakal kamu ya" Edward mencubit pipi Lily.
"Tapi berguna kan sayang. Aku praktekkan semalam sama kamu" Lily tersenyum.
Edward geleng-geleng kepala. Dia tidak habis pikir, ternyata Lilynya sudah tidak sepolos dulu. Dia takut kalau Lily memilih teman yang salah.
"Sayang kamu jangan lakukan itu selain kepadaku. Kamu mengerti?" tanya Edward.
"Aku mengerti sayang. Aku hanya mencintaimu. Jadi aku maunya hanya sama kamu sayang" Lily memeluk Edward dan menengadahkan kepalanya ke atas.
CUP
Edward mengecup bibir Lily. Lalu memeluknya dengan erat.
"Ayo mandi sayang" Edward membuka selimut.
"Malu sayang. Kenapa dibuka semua" Lily menarik selimutnya kembali.
__ADS_1
"Malu sama siapa. Semalam saja tidak malu. Saat mendesah" goda Edward.
"Ih sayaang. Jangan bicara seperti itu. Aku jadi tambah malu" Lily menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Sudah tidak perlu malu. Nanti kamu terlambat kuliah" Edward menyibak kembali selimut yang menutupi tubuh Lily.
"Ya sudah aku kembali ke kamar aku. Aku tidak mungkin mandi di sini. Semua aroma laki-laki" Lily turun dari ranjang dan mengambil pakaiannya yang tercecer karena semalm dibuang Edward ke sembarang arah.
"Sayang braku dimana?" tanya Lily.
"Ini" Edward mengambilnya di bawah meja dan memberikan kepada Lily.
"Kenapa bisa sampai sejauh itu" Lily mengambil bra yang dipegang Edward.
"Mulai sekarang kalau di rumah tidak perlu memakai underware. Biar tidak usah mencari bra seperti tadi" ucap Edward.
"Iya" Lily keluar kamar Edward.
Edward langsung bergegas kedalam kamar mandi. Badannya lengket karena semalam setelah bermain langsung tidur karena ngantuk, tidak sempat bersih-bersih.
Lily masuk kedalam kamar mandi dengan tubuh polos. Dia melihat dirinya di cermin.
"Apa ini. Kenapa seluruh badanku merah semua. Tuan memang maniak. Untung Tuan hanya memberikan tanda merah di area tertutup. Jadi masih aman" Lily mandi dengan Shower karena dia sudah kesiangan.
"Aku belum membuat sarapan untuk Tuan" Lily bergegas membersihkan badannya.
Setelah selesai mandi dia lalu ganti pakaian dan pergi ke dapur.
"Membuat sarapan sayang. Aku belum membuatnya" jawab Lily.
"Tidak perlu. Kita tidak sempat makan. Nanti kamu makan di kampus saja sayang" ucap Edward.
Lily lalu mengambil tasnya di dalam kamar. Lily sudah kembali kuliah setelah kurang lebih 10 hari tidak berangkat kuliah.
"Ayo kita berangkat" Lily sudah memakai celana jeans dan kemeja serta tas slempang buluk miliknya.
"Kamu masih pakai tas jelek itu sayang. Ingin rasanya aku bakar saja tas itu" ucap Edward.
"Aku sudah bilang. Ini tas pembawa keberuntungan sayang. Biarkan aku memakainya sampai rusak" pinta Lily.
"Hanya untuk kuliah saja ya" ucap Edward.
"Oke" Lily mengangkat ibu jarinya.
"Ayo kita berangkat. Leon sudah di bawah" ucap Edward.
Lily dan Edward keluar apartemen. Mereka segara turun karena Leon sudah menunggu mereka untuk ke kampus dan berangkat kerja.
"Pagi Leon" sapa Edward.
"Pagi Pak Leon" sapa Lily
__ADS_1
"Pagi Tuan, Lily. Tumben kalian kesiangan?" tanya Leon.
"Biasa Leon" ucap Edward.
Lily mengerutkan kedua alisnya. Dia binggung tidak paham dengan ucapan Edward. Tapi Leon tahu maksud Edward.
"Oke. Semoga Lily tidak pingsan" Leon tertawa ngakak.
Lily melihat Leon lalu melihat Edward binggung. Sedangkan Edward memukul kepala Leon dengan makalah kerja yang ada di belakang kursi Leon.
"Aduuuh. Tuan jangan kasar dong mainnya. Lily, Tuan mainnya halus apa kasar?" Leon cengegesan.
"LEON!! jalankan mobilnya sekarang" perintah Edward.
"Iya-iya Tuan. Aku cuma bercanda Tuan. Soalnya Kimmy suka sedikit kasar" Leon semakin membuat Edward tidak nyaman dengan pembicaraannya.
Bagi Edward dan Leon mereka sudah terbiasa bicara apapun tanpa filter. Tapi, Lily belum terbiasa dengan pembicaraan antara Leon dan Edward yang selalu frontal tanpa tedeng aling-aling.
Lily hanya diam. Dia tidak tahu apa yang dibahas antara Edward dan Leon.
"Kamu tidak usah dengarkan Leon Lily. Dia memang sedikit sinting. Maklum dia sedang jatuh cinta, jadi otaknya sedang fokus" ucap Edward.
"Sudah sampai di kampus Nona Lily dan Tuan Edward" ucap Leon.
Aaahh
Edward melepas ciumannya dibibir Lily. Edward mengambil tisu dan membersihkan bibir Lily yang belepotan karena ulahnya.
"Rapikan dulu sayang. Apa kamu membawa lipstik?" tanya Edward.
"Bukan lipstik tapi lip balm" Lily mengeluarkan lip balm dari dalam tas buluknya.
"Rapikan dulu baru keluar. Nanti pulang dari kampus kamu ke kantor nanti kita pulang bareng" ucap Edward.
"Aku pulang pukul 2 siang. Apa Tuan sudah di kantor?" tanya Lily.
"Iya. Hari ini tidak ada meeting. Jadi bisa lebih santai" Ucap Edward.
Leon kepanasan melihat dua sejoli sedang mesra-mesraan sedangkan dia hanya bisa mengelus dada dan bersabar. Setelah pulang kerja dia baru bisa bermesra-mesraan dengan kekasihnya Kimmy.
"Sabar Leon. Waktumu nanti sore mesra-mesraan dengan Kimmy" gumam Leon.
"Aku turun dulu Tuan. Pak Leon terima kasih" Lily berpamitan.
"Jangan lupa makan sayang. Kamu belum makan" pesan Edward dari dalam mobil.
Lily mengangguk dan berjalan menuju kelas. Leon dari tadi bertanya-tanya. Tuannya memanggil Lily sayang di depannya.
Leon ingin bertanya tapi dia urungkan. Dia akan bertanya saat di kantor. Jadi dia tidak perlu menunggu Lily memberikannya jawaban atas kesepakatannya kepada Lily sebelum sakit.
'Semoga Feelingku benar. Jadi aku tidak lagi mendesak Lily soal perasaannya kepada Tuan' Batin Edward.
__ADS_1
To be continue ....