
Kring ... kring ... kring
Jam weker dimeja Lily berbunyi, itu berarti tandanya sudah pagi. Lily terbangun saat mendengar jam wekernya berbunyi. Dia merasa ada tangan yang menempel diperutnya.
Lily menengok ke samping. "Tuan Edward" Lily mengucap dengan gerakan bibir. "Aduh, kenapa kepalaku pusing sekali?" Lily mencoba bangun tapi kepalanya sangat berat.
Edward terbangun karena ada pergerakan dari gadis disebelahnya. "Lily, kamu sudah bangun" Edward mengangkat kepalanya. Edward mengecek keadaan Lily.
Edward dan Lily tertidur sesaat setelah Edward menyelimuti tubuh Lily dengan selimut. Mereka berdua, tadi malam bahkan tidak sempat makan malam.
"Bagaimana keadaanmu Lily? Apa kamu baik-baik saja?" Edward meletakkan tangannya di dahi dan leher Lily.
Lily menghempaskan tangan Edward dari dahinya. Edward sampai kaget dengan sikap Lily. "Ada apa Lily?" tanya Edward.
"Saya baik-baik saja Tuan" Lily mencoba bangun sambil memegangi kepalanya. Lily merasakan kepalanya muter-muter. Lily meringis menahan rasa sakit, akhirnya kepala Lily kembali jatuh diatas bantal.
Melihat Lily kesakitan. Edward mengambil ponsel dan menelpon dr. Luis.
[Hallo. Selama pagi dr. Luis]
[Hallo Edward. Ada apa?]
[Saya minta tolong sebelum dr. Luis pergi ke Rumah Sakit, Tolong sempatkan untuk mampir ke Apartemen saya dok. Pegawai saya sedang sakit]
[Baiklah saya akan ke tempatmu dulu Edward, sebelum saya bertugas]
[Terima kasih dr. Luis]
[Sama-sama Edward]
Edward lalu memutuskan panggilan telponnya dengan dr. Luis. "Kamu istirahat saja Lily. Aku akan menyuruh Leon membelikan bubur untukmu" Ucap Leon lemah.
"Kali ini aku harus mengalah. Demi kesembuhan Lily. Mungkin dengan adanya Leon. Bisa sedikit mengobati kesedihan Lily" gumam Edward keluar kamar Lily.
"Kamu benar Tuan, aku hanyala pegawaimu. Aku bukan siapa-siapa. Kamu adalah bosku dan aku pegawaimu" ucap Lily saat Edward sudah keluar kamar.
20 menit akhirnya Leon sampai dengan membawa bubur pesanan Edward. "Ini Tuan pesanan buburnya" Leon memberikan buburnya kepada Edward.
"Kamu berikan bubur ini kepada Lily Leon. Dia pasti senang saat ini karena kamu datang" Edward menahan rasa sakitnya. Edward bahkan tidak memandang Leon saat dia berbicara.
__ADS_1
Leon yang tidak paham dengan maksud Leon malah bingung sendiri. Tetap saja Leon menuruti perintah Edward, daripada Tuan Mudanya nanti ngamuk bisa dihajar lagi dia. Sakitnya saja belum sembuh, masa mau di tambah lagi.
Leon masuk ke kamar Lily dengan mengetok pintu kemudian masuk. Lily pikir itu Edward ternyata Leon. Ekspresi wajahnya berubah, dibuat sedatar mungkin.
'Aku tidak boleh berharap. Ayo Lily kamu hanya pegawai. Perempuan yang kemarin lebih pantas jadi kekasih Tuan Edward' batin Lily.
"Lily. Kamu sakit apa? aku bawakan bubur untukmu" Leon meletakkan bubur di atas nakas. "Terima kasih Pak Leon, saya baik-baik saja. Hanya kepala saya saja yang sakit Pak" ucap Lily.
"Ayo dimakan Lily, sambil menunggu dr. Luis. Biar kamu cepat sembuh" Leon memberikan senyum terbaiknya.
"Iya Pak Leon nanti saya makan. Mulut saya pahit" ucap Lily. "Mau saya suapin? Baiklah saya akan suapin kamu. Anggap saja saya kakak kamu yang sedang merawat adeknya yang sedang sakit" Leon lalu mengambil bubur di nakas dan menyuapkan bubur tersebut kepada Lily.
"Aakkk ... ayo Lily buka mulutmu" Leon menyendok bubur di dekatkan ke mulut Lily. "Saya bisa makan sendiri Pak" Lily mengambil sendok dari tangan Leon.
Saat Leon sedang menggoda Lily yang sedang makan, Edward mendengar mereka sedang tertawa dan bercanda. Edward melihat mereka dari luar pintu kamar Lily. Edward merasa sakit, tapi dia harus tahan.
Edward kembali ke ruang santai. Tidak berapa lama dr. Luis datang. Edward mempersilahkan dr. Luis masuk tapi Edward masih diluar. Edward tidak mau ikut masuk karena tidak mau menambah sakit hatinya.
"Silahkan masuk dr. Luis. Leon ada di dalam saya harus siap-siap pergi kekantor" Edward mencari alasan.
"Selamat pagi Leon, Nona" ucap dr. Luis. Lagi dan lagi Lily tidak melihat Edward masuk kedalam kamarnya. Waktu Lily sakit yang pertama dia begitu perhatian. Tapi sekarang dia seolah-olah tidak peduli.
dr. Luis memeriksa Lily. "Apa ada keluhan Nona?" tanya dr. Luis. "Tidak dok. Hanya kepala saya saja yang masih sakit" ucap Lily. dr. Luis mangguk-mangguk. "Nona Lily hanya perlu banyak istirahat, jangan mikir yang berat-berat. Apa ada yang sedang Nona Lily pikirkan?" tanya dr. Luis.
"Mungkin saya terlalu gugup, menghadapi tes terakhir seleksi masuk kuliah dokter" Lily mencari alasan. Tidak mungkin Lily akan bicara memikirkan Edward. Nanti Lily ditertawakan Leon dan dr. Luis.
"Kalau bisa Nona, dikurangi mikir yang terlalu berat, pikiran akan berdampak pada kesehatan tubuh mu. Semoga lekas sembuh Nona Lily. Obatnya jangan lupa diminum" pesan dr. Luis.
Tahukah Anda bahwa sebenarnya 90% penyumbang penyakit di dalam tubuh ialah berasal dari pikiran kita. Jika pikiran kita dilingkupi oleh pemikiran negatif, tentu penyakit pun semakin sering berdatangan, namun jika sebaliknya, penyakit pun enggan hinggap di tubuh (ESQtraining.com).
"Saya permisi dulu Nona Lily" dr. Luis berdiri dari tepi ranjang Lily. "Iya dokter. Terima kasih banyak" ucap Lily.
"Biar saya antar dr. Luis. Saya juga akan pergi ke kantor" ucap Leon. "Lily saya pergi dulu, semoga lekas sembuh" Leon melambaikan tangan. "Terima kasih Pak Leon" Ucap Lily.
Leon dan dr. Luis keluar dari kamar Lily. Lily kembali sendirian dikamar. "Mama, papa Lily kangen kalian huhuuuuu..." Lily kembali menangis.
Edward ingin sekali masuk kamar Lily tapi dia urungkan. Dia ingin tahu keadaan Lily, dia ingin menemani Lily tapi dia harus belajar melepas Lily demi kebahagiaan perempuan yang sangat dia cintai.
"Lily aku berangkat ke kantor dulu. Semoga kamu baik-baik saja" Edward berbicara lirih didepan kamar Lily yang tertutup.
__ADS_1
Edward pergi ke kantor bersama Leon tapi pikiranya masih ke Lily. Edward tidak fokus bahkan Leon berbicara kepada dirinya tidak direspon sama sekali.
Edward sudah menyuruh salah satu pelayan rumah utama untuk mengurus Lily selama dia pergi. Pelayan kepercayaan Edward, dari Edward kecil.
tok ... tok ... tok
Lily berharap yang datang adalah Edward. "Masuk" Lily mengusap air matanya. "Selamat pagi Nona" ucap perempuan setengah abad tersebut.
"Selamat pagi Nyonya. Anda siapa?
"Perkenalkan, saya Ema. Panggil saja Bibi Ema"
"Bibi Ema kenapa disini?"
"Saya disuruh Tuan Edward untuk bersih-bersih dan menemami Nona Lily selama Tuan Edward bekerja"
"Bibi Ema tahu nama saya?"
"Tuan Edward yang memberi tahu saya, nama Nona Lily"
"Panggil saja saya Lily, Biby Ema. Tidak perlu panggil Nona. Saya juga pelayan disini. Karena saya sedang sakit, jadi saya tidak bisa bekerja" ucap Lily
'Gadis ini belum tahu kalau Tuan muda menyukainya. Lily kelihatannya anak baik' batin Bibi Edward.
"Bibi, Bini Ema kenapa melamun?"
"Tidak Lily. Aku hanya mengagumi kecantikanmu Lily. Kamu sangat cantik" puji Bibi Ema.
"Kamu mau Bibi masakin apa Lily?"
"Apa saja Bibi. Saya tidak pilih-pilih makanan"
"Kalau begitu bibi kedapur dulu, mau masak dulu. kamu istirahat saja Lily. Supaya cepat sembuh" bibi Ema keluar kamar Lily.
Lily merasa tidak sendirian lagi. Ada sedikit senyuman dari bibir mungil Lily.
Saat kamu memberikan perhatian bisa memberi kesempatan orang lain untuk mengetahui sisi kepedulianmu.
To be continue ...
__ADS_1