
Cekleeekk
Suara pintu terbuka. Dua sepasang manusia saling cinta masih terlelap tidur di atas ranjang yang sama saling berpelukan.
Edward membuka mata saat mendengar ada orang yang membuka pintu. Edward mendongakkan kepalanya, dia ingin melihat siapa yang masuk ke kamar Lily.
Perawarat berjalan sangat pelan-pelan dia takut menganggu pasien yang sedang tidur, tapi ternyata ada seorang yang sangat posesif berada di samping pasien.
"Maaf Tuan. Membangunkan anda" Perawat itu merasa canggung dan malu karena melihat mereka tidur bersama.
"Tidak apa-apa Suster" jawab Edward.
Mendengar suara orang berbicara Lily terbangun. Dia kaget saat ada perawat disampingnya, sedangkan Edward masih memeluknya.
"Tuan bangun. Saya malu" bisik Lily di telinga Edward.
"Maaf Nona saya harus memeriksa kondisi Nona sekarang" ucap Suster.
"Periksa saja Sus. Saya tidak akan menganggu" Ucap Edward.
Lily hanya pasrah kalau Edward sudah bicara seperti itu. Malu sudah pasti, tapi Lily bisa berbuat apa selain diam.
"Tensinya sudah normal. Sudah tidak demam juga. Ada keluhan apa Nona?" tanya Suster.
"Kepala saya masih sedikit pusing dan badan saya juga masih lemas Sus" ucap Lily.
"Iya. Itu efek dari kurangnya asupan makanan tubuh Nona Lily. Setelah ini makan yang banyak biar cepat sehat dan tidak pusing serta tidak lemas lagi" ucap Suster.
"Iya.Terima kasih Sus" ucap Lily.
"Sama-sama Nona. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan dan Nona Lily" ucap Suster sedikit canggung karena ada Edward di samping Lily.
Suster meninggalkan kamar Lily. Dia sebenarnya malu karena harus memeriksa pasien yang sedang bermesraan. Tapi dasar Tuan muda bucin, jadi dianya cuek saja kalau ada suster yang memeriksa perempuan yang dicintainya tersebut.
"Tuan ihh. Malu dilihat suster" Lily membelakangi Edward.
"Kenapa harus malu Lily. Kita tidak melakukan apapun. Aku hanya memelukmu saja" Edward masih membantah.
"Sekarang kamu makan dulu, baru minum obat" Edward turun dari tempat tidur.
Edward mendudukan Lily bersandar dengan ranjang yang dinaikan Edward sebelumnya.
"Kamu harus makan yang banyak. Biar lekas sembuh Lily" Edward memasukan sendok kedalam mulut Lily.
"Pahit Tuan. Saya tidak mau makan lagi" Lily menelan makanan di mulutnya dengan terpaksa.
"Harus di makan Lily. Memang mulut orang sakit itu pahit makanya jangan sakit kalau tidak mau makanan terasa pahit" Edward menyuapkan lagi ke mulut Lily.
Lily memakan makanannya beberapa kali saja di kunyah langsung di telan. Melihat Lily kesusaham makan karena mulutnya pahit, Edward geleng-geleng kepala.
"Sudah Tuan. Sudah kenyang" Lily beralasan.
"Tidak. Harus di habiskan Lily" Edward melihat Lily kesusahan dalam menelan.
__ADS_1
"Permisi" Suara Leon memecah perdebatan Edward dan Lily.
"Pak Leon" Ucap Lily.
"Ah kamu sudah datang Leon. Kamu membawakan pesananku?" tanya Edward.
"Sudah semuanya Tuan" Leon memperlihatkan tas yang dibawanya.
"Bagus. Terima kasih Leon" ucap Edward.
"Sama-sama Tuan. Lily sakit apa?" tanya Leon.
"Kecapekan Pak Leon" jawab Lily.
"Jaga kesehatan Lily. Awal-awal kuliah itu jadwal padat, jadi jangan sampai telat makan" nasehat Leon.
"Iya. Terima kasih Pak Leon" ucap Lily.
"Tuan juga jangan sampai telat makan. Aku bawakan makanan juga itu dari bibi Ema" Leon menunjuk makanan di atas meja.
"Nanti aku makan. Apa hari ini ada jadwal meeting?" tanya Edward.
"Tidak Tuan. Besok membahas tentang perusahaan yang baru Tuan Beli" ucap Leon.
"Ah iya. Terima kasih Leon sudah mengingatkan" ucap Edward.
"Kamu mau makan apa Lily nanti sore aku bawakan,sekalian membelikan makan malamnya Tuan" tanya Leon.
"Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu Tuan. Lily cepat sembuh ya. Nanti sore aku mampir lagi" ucap Leon.
Leon pergi meninggalkan kamar Lily. Dia tidak menyangka Tuan mudanya begitu mencintai gadis kecil itu.
"Tuan tidak pergi ke kantor?" tanya Lily.
"Tidak. Aku akan menunggumu di sini. Memastikan kamu makan dengan baik dan minum obat tepat waktu" ucap Leon.
"Aku bukan anak kecil Tuan. Aku bisa jaga diri" ucap Lily.
"Bisa jaga diri darimana? Kalau kamu bisa jaga diri, kamu tidak mungkin sakit" Edward merapikan tempat makan Lily.
"Itu karena ..." Lily menunduk tidak melanjutkan kalimatnya.
"Karena apa? heeemm" tanya Edward.
"Tidak apa-apa" jawab Lily.
"Minum obatnya dulu. Setelah itu kamu istirahat" Edward memberikan obat kepada Lily.
Lily meminum obat yang diberikan Edward. Edward mengambil makanan yang dibawa Leon, dan memakannya. Sedangkan Lily rebahan di atas ranjang.
Setelah Makan Edward makan, dia mandi dan ganti pakaian yang dibawakan Leon. Sekarang pakaiannya lebih santai cuma pakai kaos oblong biasa.
Edward mengunci kamar Lily. Lily sudah berpikiran yang aneh-aneh. Mukanya sudah tegang. Dia takut Edward akan melakukan sesuatu diuar dugaannya.
__ADS_1
"Kenapa mukamu tegang seperti itu Lily?" tanya Edward.
"Tuan mau ngapain? Kenapa pintunya di kunci?" tanya Lily.
Edward membawa ember kecil berisi kain handuk kecil. Dia ingin membersihkan tubuh Lily.
"Buka bajumu Lily" perintah Edward.
"Tidak. Tuan mau apa?" tanya Lily.
"Aku tidak mengulangi ucapanku 2 kali Lily" ucap Edward.
"Tidak Tuan aku malu" ucap Lily.
"Kamu lupa Lily aku sudah pernah tubuhmu dalam keadaan polos. Jadi tidak usah malu" ucap Edward.
"Tapi Tuan" Lily memegangi baju depannya.
"Kamu buka sendiri atau aku yang membukanya" ucap Edward.
Lily akhirnya membuka baju pasien bagian atas. Bukan di buka sepenuhnya tapi hanya di buka bagian depan saja.
Edward membersihkan tubuh Lily dengan handuk kecil yang sudah di celupkan pada air hangat. Edward modus sedikit. Dia menciup pundak Lily yang terbuka.
Lily mengigit bibir bawahnya saat Edward menyentuh area dada. Lily berpegangan pada pembatas tempat tidur.
Ssshh aaahhhh "Tuan jangan disitu" ucap Lily.
"Kenapa Lily?" tanya Edward.
Eemmm sshhhh Lily meremang. Lily mengacak-acak rambut Edward yang sedang mengambil minuman kesukaannya.
Aahhh Tuuuaaann ssshh aaaahhh. Melihat Lily sudah bisa merancau akhirnya Edward menghentikan permainannya.
Edward membersihkan kembali bagian dada Lily yang sudah dikasih beberapa tanda merah di bagian kesukaannya.
Edward memakaikan kembali bra Lily yang dia lepas kaitannya. Edward juga merapikan kembali baju Lily ssperti semula.
Edward membuang air kedalam kamar mandi. Lily mengambil ponselnya di dalam tas.
Lily melihat chat dari Edward sudah dibaca. Dia lalu membuka panggilan masuk. Terlihat disitu kalau kemarin sore Esward menelponnya, tapi dia masih berbaring di ranjang rumah sakit.
"Siapa yang mengangkat telpon dari Tuan Edward?" gumam Lily.
"Ada apa Lily?" tanya Edward.
"Tuan yang membawaku ke Rumah sakit?" tanya Lily.
"Saya"
Laki-laki lebih muda dari Edward masuk kedalam kamar Lily.
To be continue ....
__ADS_1