
Setelah sarapan, Edward dan Lily tiduran di sofa. Dua manusia yang sekarang sah menjadi sepasang kekasih ini menghabiskan waktu akhir pekan berdua di apartemen dengan menonton film di Netflix.
Edward tidak melepas tangannya dari tubuh Lily. Lily juga semakin nyaman saat Edward memeluknya. Lily ingin selalu di peluk Edward. Karena baginya, pelukan Edward adalah penenang baginya.
Apalagi kalau Lily mencium harum tubuh Edward, Lily tidak mau melepas Edward untuk pergi dari sisinya.
"Sayang" panggil Edward.
"Iya sayang" jawab Lily.
"Sebentar lagi kamu ulang tahun. Kamu mau hadiah apa sayang?" tanya Edward.
"Apa iya, sebentar lagi aku ulang tahun sayang? Aku lupa kalau aku akan ulang tahun sayang" jawab Lily sedih.
Sekarang Lily memakai kata Aku bukan saya lagi. Karena Edward yang menyuruhnya. Supaya mereka bisa lebih dekat lagi dan tidak terlalu formal.
"Kenapa sedih sayang? bukannya kamu harus bahagia kalau sebentar lagi kamu ulang tahun" tanya Edward.
"Sudah lama sekali aku tidak merayakan ulang tahun. Sejak kedua orang tuaku meninggal. Aku sama sekali tidak pernah tiup lilin. Aku bahkan lupa aku lahir tanggal, bulan berapa" jawab Lily berkaca-kaca.
Edward mencium pucuk kepala Lily berkali-kali. Edward juga mengelus tangan Lily. Edward merasakan kesedihan kekasih barunya tersebut.
Edward tidak menyangka kalau nasib Lily begitu menyedihkan semenjak kepergian orang tuanya. Padahal Lily ditinggali banyak warisan.
"Sekarang ada aku sayang. Kamu tidak perlu sedih lagi. Kita akan merayakan ulang tahun kamu setiap tahun" Edward menatap Lily penuh dengan cinta.
"Aku tidak menginginkan apapun sayang. Aku hanya menginginkan kamu selalu bersamaku dan disampingku serta selalu mencintaiku sampai kapanpun" Lily meneteskan air mata.
"Jangan menangis sayang. Aku akan selalu bersamamu dan aku akan selalu mencintaimu sampai aku mati"ucap Edward meyakinkan Lily.
Lily memeluk Edward sangar erat. 'Tuhan jangan pisahkan aku dengan Tuan Edward' do'a Lily di dalam hati.
"Aku akan mengganti ulang tahunmu yang sudah lewat dengan pesta ulang tahun yang sangat indah Lily" gumam Edward.
"Kenapa kamu bisa tahu ulang tahunku sayang?" tanya Lily.
"Aku kekasihmu, mana mungkin aku tidak tahu ulang tahun kekasihku" jawab Edward.
"Aku bahkan tidak tahu ulang tahunmu. Apa aku kekasih yang buruk?" tanya Lily.
"Sebentar Tunggu di sini" Edward berjalan menuju kamar.
Tidak ada 1 menit Edward sudah kembali rebahan dengan memeluk Lily.
"Apa yang kamu pegang sayang?" tanya Lily.
"Lihatlah" Edward menunjukkan KTP miliknya.
__ADS_1
"Untuk apa kamu menunjukkan KTPmu kepadaku sayang?" tanya Lily.
"Kamu baca baik-baik sayang. Kapan tanggal lahirku, biar kamu jadi kekasih yang baik" Edward tersenyum.
"Memangnya kalau jadi kekasih yang baik harus tahu tanggal lahir kekasihnya sayang?" tanya Lily.
Lily belum pernah pacaran. Jangankan pacaran, dekat dengan laki-laki saja tidak pernah kecuali Excel. Semua serba baru untuk Lily saat menjadi kekasih Edward.
"Tentu saja. Nanti saat aku ulang tahun aku mau minta kado kepadamu sayang" Edward mencubit hidung mancung Lily.
"Aduh ... aduh, sakit sayang" Lily melepas tangan Edward dari hidungnya.
"Maaf sayang, apa tadi kekencangan saat aku mencubitmu?" Edward khawatir.
"Iya sakit. Merahkan hidungku jadinya" Lily melihat hidungnya dengan kamera ponsel.
"Sini aku cium biar tidak merah lagi" Edward memonyongkan bibirnya.
"Tidak. Dasar modus" Lily menutup mulut Edward dengan tangannya.
"Tadi kamu menciumku duluan, sekarang giliran dicium tidak mau" Edward meremas bakpao kenyal di tangannya.
"Aauuww, ih nakal. Suka begitu deh sayang" Lily pura-pura kesal.
"Hahahhaaaa. Habisnya gemes sayang pengen aku makan" Edward tertawa ngakak
"Jangan memancingku sayang. Nanti singaku bangun" Edward mengedipka mata kanannya kepada Lily.
"Dasar kamunya saja, sukanya langsung nyruduk kayak banteng" Ucap Lily.
"Mau aku sruduk sekarang sayang" Edward menggoda Lily.
"Tidak. Aku ingin mesra-mesraan seperti ini saja, lebih romantis" jawab Lily.
"Sayang, tolong ambilkan buah yang tadi kamu masukin ke dalam kulkas sayang. Kita makan sambil nonton movie" perintah Edward.
"Iya. Sebentar aku ambilkan" Lily berdiri dan berjalan menuju dapur.
Lily kembali dengan membawa buah yang sudah di potong. Dia letakkan di atas piring dan di tata dengan sangat manis. Edward tidak tega untuk memakannya karena sangat indah.
"Kenapa kamu menatanya sangat indah sayang. Ini kan langsung dimakan. Aku tidak tega mau memakannya" Edward mengamati potongan buah dibawa Lily.
"Makan saja sayang. Aku memang sudah terbiasa menata buah seperti itu. Ada daya tarik tersendiri untuk mencicipinya" ucap Lily.
Edward jadi enggan untuk memakannya. Lily mengambil piring dari tangan Edward dan dia duduk dipangkuan Edward.
"Aku suapin. Biar tidak dilihatin terus" Lily menyuapkan potongan kiwi ke mulut Edward.
__ADS_1
Edward menurut saja. Apalagi disuapin Lily, kekasih kecilnya. Rasanya ingin terus di suapin kalau sedang makan.
"Gantian. Aku akan suapin kamu sayang" Edward mengambil garpu kecil dari tangan Lily.
"Aku buah Stroberinya saja sayang" ucap Lily.
"Kamu suka strowberi?" tanya Edward.
"He'eh. Aku sangat suka sayang. Dulu mama selalu beli Strowberi banyak dan di stock di dalam kulkas. Kalau aku tidak mau makan, mama melarangku makan strowberi di kulkas. Jadi demi makan strowbri aku harus makan Sayang" cerita Lily.
"Ya sudah. Kamu makan strowberinya. Aku akan makan buah yang lainnya" Ucap Edward.
Mereka berdua membuat keromantisan mereka sendiri. Movienya di cuekin Edward dan Lily.
"Aku sudah kenyang" ucap Lily.
"Aku taruh dulu piringnya" Edward menaruh piring buah di atas meja.
Lily mengambil air putih dan memberikannya kepada Edward.
"Terima kasih sayang" Edward mengambil gelas dari tangan Lily.
"Sama-sama sayang" jawab Lily.
Mereka melanjutkan menonton Movie sampai mereka berdua ketiduran dengan saling berpelukan satu sama lain.
pukul 3 sore, Lily bangun terbangun. Dia menguap karena masih ngantuk. Edward masih tidur dengan pulas.
Lily menuju dapur dia ingin memasak makan malam untuk Edward dan dirinya. Lily membuat masakan Suop Iga dan steak.
mencium aroma masakan Edward terbangun. Edward mengucek matanya. Dia melihat kekasihnya sibuk di dapur. Edward lalu menghampiri sang pujaan hati.
"Masak apa sayang" tanya Edward.
"Astaga. Kaget aku sayang. Kamu mengagetkanku sayang" Lily mengelus dada.
"Kamu melamun apa, sampai kaget begitu sayang" Edward meletakkan dagunya di pundak Sang kekasih.
"Tidak melamun. Tadi kamu masih tidur, tiba-tiba saja sudah ada dibelakangku" jawab Lily.
"Kamu masak apa sayang?" tanya Edward.
"Soup Iga dan Beef Steak sayang. Kamu suka?" tanya Lily.
"Sangat suka. Apapun yang kamu masak aku pasti menyukainya sayang" Edward mencium pipi Lily. Lily membalas ciuman Edward.
Cinta sejati bukan muncul karena materi, namun cinta sejati muncul dari seseorang yang tulus dan tak pernah menuntut apa-apa.
__ADS_1
To be continue ....