Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 51. Saling Sayang


__ADS_3

"Sudah malam Tuan belum juga pulang" Lily mencemaskan Edward.


"Apa aku telpon saja Tuan Edward" gumam Lily.


Lily mengambil ponsel dan menekan nomer Edward tapi nomernya tidak aktif.


"Kenapa nomer Tuan Edward tidak aktif" Lily bergumam.


Lily mencemaskan Edward. Karena tidak pulang-pulang. Sementara Edward baru terbangun dari tidurnya di ruang pribadi miliknya.


"Jam berapa sekarang?" Edward mengambil ponselnya. Ternyata ponselnya mati.


Edward bangun dari tempat tidur. Dia ke ruang kerja ternyata sudah malam. Karena seluruh lampu diluar hidup semua.


Edward melihat jam dinding. Ternyata sudah larut malam. Edward lalu mengambil kunci mobil. Edward bergegas pulang.


Sepanjang jalan dia teringat kejadian tadi dikampus. Dia harus bertanya kepada Lily.


Setelah sampai apartemen, Edward melihat Lily tertidur di meja makan. dengan makanan yang masih utuh.


Edward masuk kedalam kamar. Dia mandi lalu setelah itu makan. Lily terbangun karena mendengar suara orang berjalan. Harum parfum Edward juga masih tercium di ruang makan.


"Tuan sudah pulang" Lily melihat jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam.


Lily lalu memanasi makan malam yang sudah dingin. Supaya Edward bisa makan. Tidak berapa lama Edward keluar dari kamar.


Edward duduk di kursi meja makan, menunggu Lily memanaskan makanan. Setelah selesai Lily meletakkan makanan di atas meja.


Seperti biasa, Lily akan mengambilkan makanan di piring Edward. Edward hanya diam saja. Kali ini dia tidak banyak bertanya atau banyak bicara.


Merasa canggung akhirnya Lily membuka percakapan diantara mereka. Dengan perasaan takut-takut Lily ingin menjelaskan kepada Edward tentang kesalah pahaman yang Edward lihat dikampus.


"Tuan" ucap Lily.


"Heemm" jawab Edward Singkat.


"Tuan, soal yang tadi siang itu ...."


Belum selesai Lily bicara. Edward bangun dari kursi. Dia melangkah pergi.


"Tunggu Tuan. Saya mau menjelaskan kepada Tuan" Lily memegang tangan Edward. Tapi Edward tetap menghadap kedepan.


"Tuan dengarkan penjelasanku dulu" Lily memeluk Edward dari belakang.


"Aku tidak akan melepaskan Tuan. Kalau Tuan tidak mau mendengarkan saya" ucap Lily.


Edward menghembuskan nafas kasar. Lalu Edward berjalan ke sofa ruang santai.


Edward melepas tangan Lily dan mendudukkanya di sofa. Edwad duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Katakan" ucap Edward dingin.


"Tadi siang itu Taylor latihan akan menembak Katty mahasiswa fashion. Dia deg degan makanya dia latihan bersama kami ditaman. Aku sudah menepati janjiku. Aku tidak dekat dengan laki-laki manapun Tuan" ucap Lily.


Edward masih menatap ke depan. Dia sama sekali tidak melihat Lily maupun merespon kata-kata Lily.


"Tuan. Katakan sesuatu. Aku sudah bicara jujur, jangan diam saja" Lily menarik-narik tangan Edward.


Edward berdiri. Dia mau ke kamar. Tapi tangannya masih dipegangi Lily sampai masuk ke kamar Edward.


Cekleekkk


Edward mengunci kamarnya. Lily panik, karena Edward ada di depan Pintu dan Lily terperangkap didalam kamar Edward.


"Aku mau tidur, ini sudah malam" ucap Edward.


Edward berjalan ke arah tempat tidur dan rebahan di atas ranjang. Lampun kamar sudah dimatikan Edward, hanya lampu tidur yang hidup.


Lily bisa membuka pintu karena kuncinya diambil Edward. Lily duduk di sofa, melihat ke arah Edward yang sudah nyaman di bawah selimut.


"Bagaimana ini? aku tidak bisa keluar. Kalau aku menganggu Tuan Edward dia pasti marah lagi" gumam Lily.


Karena tidak menemukan jalan keluar akhirnya tertidur diatas Sofa. Edward yang pura-pura tidur, mengintip Lily yang sedang tidur disofa. Edward bangun dari ranjang dan mengendong Lily ke atas ranjang hangatnya.


"Tidurlah aku akan memelukmu" Edward mengecup pucuk kepala Lily.


Mereka berdua tidur bersama, dibawah 1 selimut. Mereka pergi ke alam mimpi yang indah.


Edward membuka mata dan melihat Lily masih tertidur pulas. Edward menatap Lily dengan tersenyum.


Edward memandang Lily seperti bayi yang mengemaskan. Edward juga tidak tahu kenapa dia bisa jatuh cinta kepada Lily begitu besar.


eeeemmm Lily membuka mata. Dia terbelalak saat melihat mata Edward menatapnya. Dia belum terbiasa melihat Edward menatap dirinya saat bangun tidur.


"Selamat pagi sayang" Edward ngecup bibir Lily.


Lily seperti mimpi, pagi hari di panggil sayang terus dikecup bibirnya dan ditatap dengan penuh cinta oleh pangeran kesayangannya.


Lily tidak bisa berbicara apapun. Dia hanya diam. Dia tidak mau bangun kalau sekarang dia mimpi. Dia ingin bersama dengan Edward selamanya.


Edward mengecup bibir Lily berkali-kali. Lily hanya diam dan menikmatinya. Lily masih belum sadar sepenuhnya dari tidurnya, masih sedikit ngantuk.


Sshhhh aahhhh Tu-tuan aahh eeemmm.


Empuk sekali Lily ahhhh bikin candu sekali.


Apa Tuan menyukainya aahhh eeemmmm aahhh


"Ini milikku Lily. ini juga milikku" ucap Edward.

__ADS_1


sshh aaahhh iya Tuuaannnn aaaahhhhh eemmmm aahhh aaahhhhh.


Tuan geli sekali kalau pakai lidahh aaaahhhh aaahhhh


"Geli tapi enak kan Lily" goda Edward.


ssshhh i-iyaTuaann aahh aahh aahh ahh ahhh eeemm aahhh ssshhh terus Tuann aahhhh.


"kamu sekarang nakal Lily" Edward semakin menganas. Mendapat lampu hijau dari Lily.


"Seperti ini Tuan" Lily menuruti perintah Edward.


"Iya seperti itu Lily. Kamu memang gadis pintar Lily" puji Edward.


"Luar biasa Lily. Ini sangat indah, aku sangat menyukainya Lily.


"Terima kasih Tuan" aahh aaahh yaaa eemmmm yaàaa aaaaaaahhhhhhhhhh mayones putih meluber keluar.


Lily nggos-nggosan mengatur nafasnya. Dia dibuat menggila oleh aksi Edward.


"Ayo mandi. Nanti kamu terlambat kuliah" ucap Edward.


"Aku masih lemas Tuan. Banyak sekali keluarnya" jawab Lily.


"Aku akan menggendongmu ke kamar mandi" Edwar menggendong Lily ala bridal style masuk kedalam kamar mandi Lily.


"Mandi yang bersih. Setelah itu kita makan" Edward mengecup kening Lily.


Setelah itu Edward kembali kekamar untuk mandi dan segera berangkat kekantor.


Edward membuat sandwich untuk sarapan pagi dirinya dan Lily. Saat Lily keluar kamar. Sarapan pagi sudah siap.


Edward bahkan sudah memakan bagiannya. "Makanlah Lily. Kita berangkat bareng" ucap Edward.


Lily duduk dikursi meja makan dan makan sandwich buatan Edward. Hari ini dia seperti putri. Full pelayanan dari Edward.


Setelah selesai makan. Lily membersihkan meja dan piring kotor di meja. Edward membaca pesan singkat dari Arthur.


Edward tersenyum cerah. Karena semua rencananya sudah berhasil. Edward tinggal menunggu nasib Kloe di pesidangan. Keluarga Peter White menuju kehancuran.


Edward tidak pernah setengah-setengah dalam bertindak. Apalagi ini menyangkut keadilan untuk perempuan yang dia cintai. Apapun akan dia lakukan.


"Ayo Tuan kita berangkat" Lily sudah memakai tas buluknya lagi.


Edward melihat tas yang dipakai Lily. Langsung menatap Lily dengan tajam. Lily tahu kalau Edward sedang emosi.


"Tuan jangan marah dulu. Saya tidak nyaman memakai tas yang dibelikan Tuan. Tapi akan saya pakai kalau kita pergi keluar" ucap Lily.


Edward kembali pada mode dingin. Lily lalu menarik tenguk Edward dan ******* bibir Edward.

__ADS_1


To be Continue ....


__ADS_2