Cinta Untuk Lily

Cinta Untuk Lily
BAB 52. Edward Menjadi Dosen


__ADS_3

Edward melepas ciuman Lily. Entah kenapa Lily sekarang lebih berani memulai dulu, padahal dulu Lily sangat kaku sekali.


"Jangan kamu lakukan itu kepada laki-laki lain Lily. Kamu akan dianggap perempuan gampangan" Edward memperingatkan Lily.


"Aku hanya melakukanya sama Tuan. Apa aku juga dianggap perempuan gampangan sama Tuan?" Tanya Lily.


"Aku menyukainya. Boleh aku mendapatkannya lagi" Edward menangkup wajah Lily.


Lily memalingkan wajahnya ke samping karena malu. Tapi langsung di hadapkan Edward keposisi semula, posisi saling berhadapan.


"Kenapa kamu malu. Tadi kamu begitu berani, sekarang mukamu jadi merah kelinci kecil" ucap Edward.


"Tuan jangan marah lagi. Biarkan saya memakai tas ini Tuan" izin Lily.


"Boleh. Pakai apa yang kamu suka. Tapi kamu tidsk boleh dekat-dekat dengan teman laki-laki kampusmu" Edward memperingatkan Lily.


"Siap Tuan" Lily mempraktekkan gaya hormat ala militer.


Edward sekarang tertawa. Lily sekarang sedikit berubah semenjak bersama Edward. Lily sekaramg bisa mengembangkan bakat dan kemampuan, serta keinginannya selama ini.


"Ayo kita turun. Leon sudah menunggu di bawah" Edward mengengam tangan Lily.


"Ke kampus Leon" perintah Edward.


"Baik Tuan" jawab Leon.


Setelah sampai kampus. Lily turun dari mobil. Edward juga ikut turun. Lily melihat Edward dengan tatapan bingung.


"Kenapa Tuan Ikut turun? loh Pak Leon juga ikut turun" tanya Lily bingung.


"Kamu tidak usah bingung Lily. Mulai hari ini, aku akan mengajar dikampus ini sebagai dosen praktisi. Leon akan menjadi asistenku" Edward menjelaskan kepada Lily.


Waktu menghidupkan ponselnya tadi pagi. Ada pesan singkat dari Leon, kalau mulai hari ini. Edward bisa mulai mengajar sebagai dosen praktisi dibidang bisnis.


"Masuklah ke dalam kelas Lily. Aku akan menemui dekan fakultas dulu. Selamat bertemu di kelas sayang" Edward mencium kening Lily.


"Tuan, ini dikampus. Saya malu, banyak yang lihatin" Lily menjaga jarak dari Edward.


"Biarkan saja. Biar mereka tahu kalau kamu milikku. Jadi tidak ada yang berani mendekati kamu" ucap Edward.


"Bilang saja kalau Tuan mau tebar pesona dengan mahasiswa perempuan disini kan. Apalagi mahasiswa perempuan disini terkenal cantik-cantik" Lily melipat tangannya di dada dengan cemberut.


Leon yang melihat drama pertengkaran dua sejoli yang entah apa statusnya itu, hanya geleng-geleng. Dia terjebak diantara 2 manusia yang unik.

__ADS_1


"Loh kok jadi aku. Aku ke sini untuk mengawasi kamu biar tidak didekati oleh laki-laki genit" ucap Edward jujur.


"Saya bisa menjaga diri. Itu Lihat, banyak mahasiswa perempuan yang melihat Tuan. Masih mengelak kalau tidak tebar pesona. Menyebalkan" Lily cemberut.


"Ya, bukan salah aku. Mereka sendiri yang melihatku, aku tidak melihat mereka. Pesonaku memang kuat, makanya mereka terpukau melihatku" Edward melipat tangannya di dada.


"Kita mau masuk atau kalian mau berdebat disini sampai sore?" Leon memotong perdebatan Edward dan Lily.


"Saya mau masuk kelas dulu Tuan, Pak Leon" ucap Lily dengan nada tidak suka.


"Belajar yang rajin jangan dekat dengan laki-laki" Edward sedikit berteriak kepada Lily. Karena Lily sudah berjalan menuju kelas.


"Apa-apan sih Tuan. Dia tidak tahu kalau, dia incaran para mahasiswa disini. Tadi saja diparkiran sudah banyak yang mengodanya. Aku melarangnya menjemput ke kampus. Dia malah mengajar di kampu. Awas saja kalau sampai aku tahu Tuan kegenitan dengan mahasiswa perempuan. Aku akan kabur dari rumah" Lily berbicara sendiri sepanjang jalan menuju kelas.


"Lily" Sapa perempuan berambut pink dan hitam.


"Hai Stephanie. Kamu sudah datang? bagaimana kencan butamu tadi malam?" tanya Lily.


"Not bad. Dia cukup menyenangkan" jawab Staphanie.


"Ayo kita masuk kelas. Nanti kita terlambat masuk" Lily dan Stephanie sedikit berlari kecil.


Semua mahasiswa sudah hadir dikelas. Suasana kelas yang tadinya ramai karena pada ngobrol. Tiba-tiba menjadi tenang dan sunyi karena ada dosen tampan masuk kelas mereka.


Semua mahasiswa banyak yang langsung jatuh cinta kepada Edward karena ketampanannya diatas rata-rata.


Para mahasiswa perempuan sampai melonggo melihat dosen tampan yang ada di depannya sekarang.


"Kalau dosennya ganteng begini aku betah berjam-jam kuliah" ucap Alicia.


'Tuan memang menyebalkan. Bagaimana bisa dia tebar pesona dengan para mahasiswa disini" batin Lily.


Edward melihat kearah Lily. Muka Lily sangat tidak baik, mukanya kusut seperti baju belum disetrika. Edward tertawa dalam hati melihat wajah Lily cemberut. Edward jadi gemas, ingin mengigit pipi Lily yang seperti tomat.


"Perkenalkan nama saya Edward. Saya dosen praktisi bisnis di kelas kalian. Kalau kalian ada pertanyaan tentang bisnis. Silahkan, bisa bertanya kepada saya lewat asisten saya" ucap Edward.


"Pak Edward" panggil salah satu mahasiswa perempuan.


"Iya ada yang kamu mau tanyakan?" tanya Edward.


"Bapak ganteng banget. Sudah punya kekasih belum Pak?" tanya mahasiswa beramput hitam panjang itu.


"Huuuuuuuuuuuuuuuu" seluruh mahasiswa kompak menyoraki mahasiswa tersebut.

__ADS_1


"Tenang-tenang. Ayo kita mulai kuliah hari ini" Edward menenangkan seluruh mahasiswa di kelasnya.


'Tuan pasti senang karena sudah dapat mangsa' batin Lily kesal.


Sepanjang kuliah Lily tidak melihat Edward. Dia menunduk, kalau kebetulan bertemu pandang. Lily memalingkan wajahnya, kearah lain.


'Kamu memang mengemaskan sekali kelinci kecil. Untung saja ini di kampus, kalau dirumah sudah aku makan kamu' batin Edward gemas.


Sekitar satu setengah jam, Kuliah selesai. Lily meregangkan badannya. Edward sudah keluar kelas. Setelah itu dia harus ke kantor karena ada janji dengan Arthur.


"Tuan, kita sudah ditunggu tuan Arthur" ucap Leon.


"Kita langsung ke kantor Leon. Aku tidak sabar, ingin segera mengesahkan surat-surat pengalihan kekuasaan" Edward tersenyum bahagia.


Edward dan Leon langsung meluncur ke kantor. Karena Arthur sudah berada di kantor Edward. Setelah sampai kantor. Edward langsung masuk ke ruangan Meeting.


"Selamat siang Tuan Arthur. Maaf sudah membuatmu menunggu lama" Edward menjabat tangan Arthur.


Leon datang membawa berkas-berkas yang perlu di ditanda tangani antara Arthur dan Edward.


"Tidak masalah Tuan Edward. Saya sangat bangga kepada anda. Selain menjadi seorang pebinis masih sempat untuk mengajar di kampus" puji Arthur.


"Ah itu hanya untuk mengisi waktu luang saja Tuan Arthur. Sebagai selingan saja. Saya kadang bosan di dalam kantor terus Tuan" Edward beralasan.


Mereka berdua menyelesaikan kontrak kerja sama dan pemindahan nama sesuai yang direncanakan Edward dari awal, untuk merebut perusahaan Global State Company dari tangan Peter.


"Sekaramg perusahaan itu sudah menjadi milik anda Tuan Edward. Saya senang bisa bekerja sama dengan anda dan bisa mengenal anda. Sekarang tugas saya sudah selesai. Saya tinggal menyelesaikan 1 tugas lagi yang diberikan oleh Daddy saya" ucap Edward.


"Tugas? Kalau boleh saya tahu. Tugas apa itu Tuan Arthur. Mungkin saya bisa membantu" tanya Edward.


"Mencari anak paman saya dan dia adalah teman masa kecil saya. Saya sudah menyelidiki di rumah pamannya tapi dia sudah tidak ada disana" jawab Arthur.


"Kalau Tuan Arthur membutuhkan bantuan saya. Tuan hubungi saja saya" ucap Edward.


"Baik Tuan Edward. Nanti saya hubungi anda kalau saya membutuhkan bantuan. Saya permisi dulu. Saya harus pergi sekarang karena masih ada yang harus saya selesaikan" ucap Arthur.


"Silahkan Tuan Arthur. Kalau ada waktu mari kita makan malam bersama" tutur Edward.


"Nanti saya kabari lagi Tuan Edward" Arthur pamit kepada Edward.


Arthur pergi meninggalkan ruangan meeting. Edward tersenyum bahagia karena dia sudah mendapatkan perusahaan yangbakan dijadikan kado ulang tahun orang terkasih.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2