
"Aduh" Lily mengusap jidatnya.
Lily menabrak seorang Laki-laki yang berjalan berlawanan arah dengannya. Lily terburu-buru mengejar Edward yang sudah berjalan didepan, sampai Lily menabrak orang yang berjalan didepannya.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja. Apa Nona baik-baik saja" Tanya laki-laki tersebut.
"Ahh ... saya tidak apa-apa Tuan" Lily menjawab dengan mengambil paper bag yang jatuh dilantai.
"Ini Nona" Laki-laki itu memberikan paper bag Lily yang diambil dari lantai.
"Terima kasih Tuan" Lily mengambil paper bag dari tangan laki-laki tersebut dan membungkukkan badan.
"Saya yang seharusnya minta maaf Nona, karena telah menabrak Nona" ucap laki-laki tersebut.
"Tidak Tuan saya juga salah, karena terburu-buru jadi tidak melihat Tuan berjalan di depan saya" ucap Lily santun.
Edward berhenti berjalan saat tahu Lily tidak ada dibelakangnya. Edward melihat Lily sedang berbicara dengan laki-laki asing. Matanya memancarkan ke cemburuan yang sangat dalam. Edward lalu memangil Lily.
"LILYYYY!" Edward berteriak memangil nama Lily.
Hampir semua pengunjung Mall melihat ke arah Edward, karena suaranya yang begitu kencang.
Lily yang mendengar Edward memanggil namanya, melihat Edward sedang meletakkan tangannya di pinggang. Lily lalu buru-buru pergi dari laki-laki asing tersebut.
"Maaf Tuan saya harus pergi" Lily lalu pergi dari hadapannya.
Belum sempat laki-laki itu membalas ucapan Lily, Lily sudah menjauh. Laki-laki itu menengok kebelakang. Bertepatan dengan Edward balik badan.
"Lily? Apa gadis itu yang Daddy cari? belum pasti, nama Lily kan banyak di Jerman" gumam laki-laki tersebut.
Laki-laki asing tersebut lalu berjalan ke dalam toko elektronik yang berada di lantai bawah Mall tersebut.
Edward berhenti mendadak sampai Lily yang berjalan sedikit cepat menabrak punggung Edward.
"Aduh. Tuan kenapa tiba-tiba berhenti?" Lily mengusap hidung mancungnya yang menabrak duluan punggung Edward daripada jidatnya.
Edward membalikkan badannya. Menatap Lily penuh selidik. Lily yang dilihat Edward penuh kecurigaan lalu bertanya kepada Edward.
"Ada apa Tuan? Kenapa melihat saya seperti itu?" Tanya Lily.
__ADS_1
"Siapa laki-laki itu? kenapa kamu berbicara dengan laki-laki asing? apa kamu mengenalnya? apa sekarang kamu sudah mulai genit menggoda laki-laki diluar?" Edward bertanya bertubi-tubi. Edward mulai kesal karena cemburu sehingga dia tidak sadar melontarkan kata-kata yang menyudutkan Lily.
"Saya tidak tahu Tuan. Kita bertabrakan waktu saya mengejar Tuan" ucap Lily dengan jujur.
"Kenapa kamu bicaranya lama sekali?" Edward bersandar pada badan mobil dan menaruh tangan satunya di ke dalam saku celana.
"Saya cuma minta maaf Tuan. Karena tidak melihat jalan, dan hanya fokus mengejar Tuan. Itu saja" ucap Lily sudah mulai kesal karena dicurigai Edward.
"Yakin cuma itu? apa dia minta nomer ponselmu?" tanya Edward makin melantur.
"Tidak Tuan. Kita hanya saling minta maaf itu saja. Terserah Tuan mau percaya atau tidak" Lily membuang nafas kasar.
"Ya sudah. Kamu masukkan belanjaannmu ke Bagasi belakang" Edward memberikan tas belanjaan yang dibawanya kepada Lily.
Edward lalu masuk kedalam mobil dan Lily memasukkan barang belanjaannya kedalam bagasi mobil. Setelah itu Lily duduk di jok depan disamping Edward.
"Kamu mau makan apa Lily?" tanya Edward, melajukan kendaraannya keluar Mall.
"Emmm ... makan apa ya" Lily berpikir dengan meletakkan tangannya di depan dada.
"Jangan lama-lama mikirnya Lily. Aku sudah lapar" ucap Edward sedikit kesal.
"Baiklah Tuan. Saya ingin makan steak" Jawab Lily.
Steak adalah sepotong besar daging, biasanya daging sapi. Daging merah, dada ayam, dan ikan sering kali dipotong menjadi steik. Kebanyakan steik dipotong tegak lurus dengan serat otot, menambah kelegitan daging. Steik biasanya dimasak dengan dipanggang, meskipun dapat digoreng atau di-"broil".
Edward lalu meluncur ke resteron dengan menu steak terbaik dan tentunya sangat enak. Edward lalu berhenti di restoran Heliot Steak House, yang terkenal dengan kelezatan steaknya di kota Humburg.
"Turun" Edward menyuruh Lily turun dari mobil. Mereka sudah sampai di tempat parkir Heliot Steak House.
Lily diam saja di dalam mobil. Padahal Edward sudah keluar. Lily tidak mau turun, karena dia tahu Heliot Steak House adalah restoran mahal sekali makan bisa menghabiskan uang gajinya dalam sebulan.
"Restoran ini sangat mahal. Lebih baik aku makan dirumah saja. Uangku sudah habis untuk berbelanja. Itupun aku masih berhutang kepada Tuan Edward. Nanti kalau aku makan disini, hutangku bertambah lagi" gumam Lily di dalam Mobil. Dia mengepalkan tangan dan memukul-mukulkan ke pahanya.
Edward mengetuk pintu jendela mobil dari luar. Menyuruh Lily untuk segera keluar. Lily menggelengkan kepalanya. Edward lalu membuka pintu mobil dan menyuruh Lily untuk keluar.
"Keluar Lily. Cepatlah aku sudah lapar" ucap Edward kesal.
"Tidak Tuan. Saya tidak mau makan disini. Restoran ini sangat mahal, uang saya sudah habis untuk membayar hutang saya kepada Tuan. Saya tidak punya uang lagi" ucap Lily Jujur.
__ADS_1
Edward menepok jidatnya. Dia tidak habis pikir, kenapa gadis didepannya ini selalu berpikir, kalau Lily berhutang kepada dirinya.
"Sudah ... sudah, aku tidak mau dengar lagi soal hutang piutang. Kali ini kamu tidak berhutang, aku mentraktirmu sekarang. Kamu mengerti Lily? sekarang keluarlah! atau kamu mau aku gendong? heemm" Edward membungkukkan badannya melihat Lily di dalam mobil.
"Tidak ... tidak Tuan. Saya bisa jalan sendiri" Lily keluar mobil dengan perasaan deg degan. Karena belum pernah makan direstoran mewah. Lily juga memakai jeans dan kaos oblong dengan luaran sweater yang sudah lusuh.
Saat berjalan Edward mengenggam tangan Lily. Lily merasa malu harus berada ditempat ini. Karena hanya kalangan elit yang bisa masuk kedalam Heliot Steak House.
'Aku akan membiasakan dirimu ke tempat-tempat seperti ini Lily karena seperti ini kehidupanmu yang sebenarnya' batin Edward.
Saat Edward masuk restoran. Ada seorang perempuan yang mendatangi Edward. Edward sangat mengenal perempuan itu. Tatapan Edward penuh kebencian.
"Edwaaardd" Kylie memanggil Edward dan mencoba mencium pipi Edward tapi Edward berhasil menghindar.
"Jaga batasanmu Kylie. Kita bukan siapa-siapa lagi. Kamu harus tahu itu" ucap Edward ketus dengan tatapan tajam.
'Ini bukankah perempuan yang mengandeng tangan Tuan Edward waktu itu. Ada hubungan apa mereka berdua. Tuan bilang kita bukan siapa-siapa lagi. Apa mereka pernah pacaran?' Lily berbicara dalam hati.
"Aku ingin kita kembali bersama seperti dulu Edward" Kylie mencoba meriah tangan Edward tapi dihempaskan oleh Edward.
"Kamu jangan pernah bermimpi Kylie, dia adalah kekasihku yang sekarang" Edward meraih pingang Lily supaya menempel kebadannya.
"Aku tidak percaya. Mana mungkin kamu menyukai gadis lusuh seperti ini. Dia pasti hanya pelayanmu yang kamu ajak makan malam kan. Kamu tidak usah berbohong kepadaku Edward. Seleramu itu tinggi, tidak seperti gadis kampungan ini" Kylie menunjuk Lily dengan jari telunjuk dari atas sampai bawah.
"JAGA UCAPANMU KYLIE. AKU INGATKAN KAMU JANGAN KELEWAT BATAS. KAMU MAU BUKTI, HAAAHHHH. AKU AKAN BUKTIKAN" Edward berbicara dengan nada tinggi karena emosi dengan kata-kata Kylie yang merendahkan Lily.
Edward lalu menarik tengkuk Lily dan mencium bibir Lily. Lily membuka mulutnya memberi akses kepada Edward supaya Edward bisa mengeksplor bagian dalam mulutnya.
Edward mengabsen deretan gigi Lily dan membelitkan lidahnya ke lidah Lily. Lily semakin ahli sekarang. Dia mengikuti ritme ciuman Edward.
Kylie yang melihat Edward berciuman membuat dirinya gerah. Dia lalu pergi meninggalkan Erdward dan Lily yang semakin menjadi-jadi dengan aksi mereka.
"AWAS KAMU GADIS SIALAN. AKU AKAN MEMBUNUHMU. LIHAT SAJA NANTI. KAMU PASTI MATI!!!" Kylie menatap tajam kedua manusia yang bertukar saliva di depannya itu.
Kylie lalu pergi meninggalkan Heliot Steak House dengan perasaan kesal. Dia tidak rela dirinya dihina seperti itu. Sedangkan Edward dan Lily terhanyut dalam kecipak kecipuk bum bum, sampai ada pelayan yang menyapa mereka.
"Permisi Tuan dan Nona" ucap pelayan restoran.
Edward dan Lily seketika menghentikan aksi romantisme mereka. Lily sangat malu. Ini kedua kalinya Lily ditonton banyak orang saat melakukan adegan kecipak kecipuk bum bum.
__ADS_1
Edward mengusap bibir Lily. Lali mengandeng Lily duduk ditempat yang nyaman.
To be continue ...