
Ting tong ting tong
Seorang perempuan paruh baya membuka pintu apartemen yang di kunjungi Leon.
'Dia siapa? Ini benar apartemen Tuan muda. aku tidak salah apartemen' batin Leon.
"Cari siapa Tuan?" Tanya Perempuan separuh baya tersebut.
"Anda siapa Nyonya? Saya mencari Tuan Edward yang tinggal di sini" ucap Leon.
"Tuan Edward dan kekasihnya sudah pindah Tuan. Dia menjual apartemen ini kepada saya, 4 hari yang lalu" jawab perempuan paruh baya tersebut.
Leon lemas dia memegang tembok di samping pintu. Dia merasa gagal menjaga Tuan mudanya.
"Tuan. Tuan tidak apa-apa?" tanya perempuan paruh baya tersebut.
"Tidak Nyonya. Saya tidak apa-apa. Saya permisi dulu Nyonya" ucap Leon.
"Iya Tuan" jawab Wanita itu.
"Tunggu Nyonya. Apa Nyonya tahu atau mungkin Tuan Edward memberi tahu dia pindah kemana?" tanya Leon.
"Saya tidak tahu Tuan. Tapi dia bilang akan tinggal di luar negeri. Dia tidak akan kembali lagi ke kota ini" jawab wanita paruh baya itu.
"Terima kasih Nyonya. Saya permisi" ucap Leon.
Leon meninggalkan apartemen yang dulu di huni oleh Tuan Mudanya tersebut. Leon melangkah gontai menuju tempat parkir.
"Kemana kamu Tuan Muda. Kenapa kamu bisa melakukan semua ini, aku tidak menginginkan apapun, Tuan. Aku hanya ingin Tuan Muda dan Tuan Besar bersama" Leon menangis di dalam mobil.
Leon menghapus air matanya dan menelpon Ferdinand. Leon ingin tahu keadaan Gabriel. Sebisa mungkin Leon akan mencari Edward dan menyembunyikan kepergian Edward dari Gabriel.
[Hallo Paman Ferdinand]
[Iya Leon]
[Bagaimana keadaan Tuan Besar?]
[Tidak apa-apa Leon. Tuan besar hanya butuh istirahat yang banyak dan tidak boleh stres]
[Syukurlah. Paman tolong jaga Tuan besar. Aku belum bisa pulang. Ada urusan yang harus aku kerjakan]
[Iya. Tenang saja Leon. Tuan akan kami jaga. Kerjakan tugasmu dengan baik. Bicaralah dengan Tuan Edward, kalau Tuan besar sakit]
__ADS_1
[Aku akan mencari Tuan Edward dan bicara kepadanya. Jangan bicara apapun kepada Tuan Besar soal Tuan Edward. Aku takut kalau jantung Tuan besar akan kumat]
[Iya. Aku akan tetap tutup mulut]
[Terima kaaih Paman]
Leon menutup telponnya. Leon tidak tahu harus mencari Edward dan Lily kemana. Akhirnya Leon mencoba untuk mencari Lily di kampus Universitas Humburg.
Leon menunggu di tempat parkir sampai Siang. Tapi dia tidak melihat Lily maupun Edward. Siapa tahu Mereka belum pergi. Meskipun kemungkinannya kecil.
Leon bertanya kepada salah satu mahasiswa Ekonomi dan Bisnis. Kebetulan Leon masih sedikit ingat mahasiswa yang pernah di kasih materi kuliah oleh Tuan mudanya tersebut.
"Permisi" ucap Leon kepada segerombolan mahasiswa yang sedang asik bercanda.
"Iya Tuan. Ada apa" tanya salah satu mahasiswa tersebut.
"Apa kalian mengenal Lily. Lily white nama panjanganya" ucap Leon.
"Oh Lily. Kenal Tuan kita teman satu kelas. Memang ada dengan Lily Tuan. ucap salah satu mahasiswa yang lain.
"Saya mencari Lily. Apa kalian Tahu di mana Lily?" tanya Leon.
"Tidak Tuan. Kita sudah 1 minggu ini tidak melihat Lily Tuan. Kami juga tidak bisa menghubungi nomernya" jawab mahasiswa berambut pink.
"Ya sudah kalau begitu. Saya permisi dulu. Terima kasih" ucap Leon.
Leon langsung pergi dari kampus Humburg menuju kantor. Leon mencoba melacak kepergian Edward dan Lily.
Leon meminta bantuan kepada maskapai penerbangan komersial terbaik yang terbang dari Humburg. Untuk mencari nama Edward dan Lily.
Edward tidak mungkin menggunakan pesawat pribadi karena pasti akan langsung di ketahui keberadaannya.
Setelah berkutat dengan laptop dan ponsel selama 2 jam dengan maskapai yang di yakini membawa Tuannya. Leon langsung meminta data penumpang selama 1 minggu ini.
Awalnya susah karena Leon bukan Edward yang apa-apa serba gampang. Tapi karena Leon sudah dikenal sebagai asisten Edward. Maka dengan sedikit negosiasi, Leon pun mendapat data penumpang maskapai yang di gunakan oleh Edward dan Lily.
"Paris" gumam Leon.
"Tuan jauh-jauh meninggalkan Jerman, untuk tinggal di Paris. Apa Tuan benar-benar sudah melepas hidupnya di sini?" Leon bicara sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang. Kenapa bisa jadi seperti ini" Leon mengebrak meja.
Telpon Leon berbunyi. Leon melihat nama Ferdinand di layar ponselnya. Leon memang berpesan kepada Ferdinand untuk selalu mengabari dirinya kalau terjadi sesuatu kepada Gabriel.
__ADS_1
[Hallo Paman Ferdinand. Apa terjadi sesuatu yang buruk kepada Tuan Besar?]
[Pulanglah Leon. Pengacara keluarga sekarang ada di sini. Kamu disuruh pulang Tuan besar]
[Baik Paman. Aku akan segera pulang]
Setelah berbicara dengan Ferdinad. Leon menutup telponnya. Leon segera mengambil barang-barangnya, setelah itu langsung pulang kerumah.
"Apalagi sekarang Tuan muda. Aku sudah di kejutkan dengan keputusanmu secara sepihak. Apa sekarang Tuan muda juga melibatkan Tuan besar" gumam Leon di dalam mobil.
Setelah sampai rumah. Leon tidak melihat siapa pun di ruang tahu. Salah satu pelayan memberitahu kalau Leon di suruh ke kamar Gabriel karena sudah di tunggu pengacara keluarga dan Gabriel.
"Selamat siang Tuan Muller. Maaf saya terlambat" Ucap Leon.
"Tidak apa-apa Leon. Saya datang kesini karena amanat Tuan Muda" ucap Muller pengacara keluarga Gabriel.
"Ada apa Muller? Kenapa Edward menyuruhmu datang ke sini?" tanya Gabriel. Masih lemas di atas tempat tidur.
"Maafkan saya Tuan besar. Saya tidak tahu alasan pastinya. Tapi Tuan muda menyuruhku mengantarkan ini" Muller memberikan sebuah map kepada Gabriel.
Gabriel mengambil dari tangan Muller. Muller juga memberikan map surat kuasa yang asli kepada Leon untuk menduduki jabatan CEO yang selama ini di pegang oleh Edward.
"Ini untukmu Leon. Saya yakin kamu pasti sudah mengetahuinya dari Jason. Karena Tuan muda memberikan salinannya kepada Jason" ucap Muller.
Leon hanya mengangguk. Dia tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau Edward bisa senekad itu meninggalkan keluarga dan perusahaan keluarganya.
"Ini kunci mobil dari Tuan Muda juga di suruh mengembalikan kepada Tuan besar. Mobilnya masih ada di apartemen. Paman Fedinand bisa mengambilnya" ucap Muller.
"Apa ini maksudnya Muller. Kenapa saham ini kamu berikan kepada saya?" tanya Gabriel.
"Tuan muda menyerahkan 60% saham atas dirinya, mama dan papanya kepada Tuan Gabriel. Tuan muda mengundurkan diri dari perusahaan dan jabatan CEO yang dia pegang, di berikan kepada Leon Tuan besar" ucap Muller kuasa hukum Edward.
"APA YANG KAMU KATAKAN MULLER. EDWARD TIDAK MUNGKIN MENINGGALKANKU SENDIRIAN DI SINI. CUCUKU PASTI AKAN KEMBALI " Gabriel naik pitam.
"Tuan tenang dulu. Ingat kesehatan Tuan besar. Tuan muda pasti hanya sedang emosi, makanya Tuan muda mengambil keputusan yang salah" ucap Leon.
"Iya Tuan. Tuan tidak boleh stres, kesehatan Tuan besar lebih penting. Tuan besar harus sehat kalau ingin menyelesaikan masalah ini dengan Tuan muda" Ucap Bibi Ema.
"Maafkan saya Tuan besar. Saya hanya menyampaikan amanat Tuan muda. Saja juga Kaget waktu Tuan muda meminta saya untuk memindahkan nama Tuan besar ke saham Tuan muda" ucap Muller.
"Aku harus bertemu Edward. Ferdinand antar aku ke apartemen Edward" Gabriel menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
"Tuan. Tuan muda sudah pergi dari humburg 3 hari yang lalu. Apartemen Tuan muda sudah dijual Tuan" ucap Leon.
__ADS_1
"APAAAAA" Gabriel langsung pingsan di tempat tidur.
To be continue ....