
Praaangggg!
Kedua cangkir panas jatuh kelantai dengan nampan yang masih di tangan Lily. Kopi panas itu mengenai kaki Kimberly.
"Aww...panas, panas" Kimberly lalu jongkok di lantai melepas sepatu. "Kamu sengaja memcelakai saya ya haahhh" Kimberly melotot ke arah Lily.
"Ma-Maafkan saya Nona, Saya benar-benar tidak sengaja" ucap Lily gemetar.
mendengar keributan dari luar Leon keluar dari ruangan Edward.
"Ada apa Leon" tanya Edward. Saat melihat Leon berdiri di pintu.
"Tidak tahu, Tuan. Tapi di Pantry ada Lily dan Kimberly. Sepertinya Kimberly terluka" ucap Leon.
"Saya lihat mereka dulu, Tuan" Leon keluar ruangan.
Kimberly mengipasi kakinya yang terkena air panas, sedangkan Lily mencari P3K. Dia mencari salep untuk luka bakar.
"Ada apa ini?" tanya Leon. Leon melihat kaki kimberly merah, sedangkan Lily sibuk mencari P3K tapi tidak ketemu.
"Pak Leon" Kimberly mencoba berdiri saat Leon menghampiri mereka.
"Kaki saya ketumpahan kopi panas pak. Lily tidak hati-hati membawa kopi, terus tumpah kena kaki saya Pak Leon" Kimberly membela diri.
"Benar begitu Lily?" tanya Leon kepada Lily yang berdiri sedikit jauh dari dirinya.
"Bu-bukan pak Leon. Saya tadi membuat kopi buat Tuan Edward dan Pak Leon. Tiba-tiba Nona Kimberly datang ke Pantry. Dia merebut kopi yang saya buat untuk Tuan Edward dan Pak Leon. Saya mencoba mempertahankan kopi yang saya buat pak.Karena nampannya licin, jadi jatuh mengenai kaki Nona Kimberly" Lily menjelaskan kejadiannya dengan detail.
"Apa benar ceritanya seperti itu, Kimberly? Leon memastikan kebenaran cerita Lily.
Kimberly diam. Dia tidak berani bicara, dan dia hanya mengangguk dengan terpaksa.
"Lily kamu bersihkan pecahan cangkir ini, dan Kimberly kamu kembali keruangan kamu. Nanti biar Lily yang mengantar salepnya. Kalau lukanya parah kamu pergi ke Rumah Sakit" ucap Leon dengan muka datar.w
Leon memapah Kimberly ke ruangan kerjanya. melihat Leon dekat dengan Kimberly ada rasa tidak rela di hati Lily.
Lily lalu membersihkan pecahan cangkir dan bekas kopi di lantai. Dia lalu membuat 2 cangkir kopi yang baru.
"Lily ini nanti kamu kasihkan ke Kimberly" Leon memberikan salep untuk luka bakar sekembalinya dari ruangan Kimberly.
"Iya pak. Pak Leon, saya minta maaf. Saya tadi tidak senggaja. Jangan pecat saya pak. Saya mohon" Lily menangkupkan kedua tangannya di atas kepala, memohon kepada Leon.
"Kenapa minta maaf sama saya Lily. Kamu tidak perlu minta maaf kepada saya. Yang berhak memecat kamu itu Tuan Edward bukan saya" ucap Leon. Leon lalu pergi meninggalkan Lily di pantry.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Lily masuk ke ruangan Edward membawa dua cangkir kopi.
"Ini kopinya, Tuan" Lily meletakkan kopi di meja didepan Edward dan Leon.
"Saya permisi dulu, Tuan" Lily balik badan.
"Mau kemana kamu Lily?" Tanya Edward.
"Saya mau membery obat luka kepada Nona Kimberly, Tuan" jawab Lily.
"Ya sudah, setelah itu kembali kesini" ucap Edward.
"Baik, Tuan" Lily meninggalkan ruangan Edward.
Kimberly yang merasakan panas pada kakinya karena tumpahan kopi terus mengumpati Lily. Lily yang baru baru masuk langsung kena omel Kimberly.
"Lily! kamu sengaja membuatku tersiksa ya, haahh" Kimberly membentak Lily.
"Ma-maksud Nona Kimberly apa? Lily menjawab dengan gugup.
"Kamu tidak Lihat. Kakiku merah dan rasanya panas sekali. tapi kenapa kamu baru datang kemari" Kimberly bicara dengan nada emosi.
"Maaf kan saya Nona Kimberly. Saya harus membuat kopi baru untuk Tuan Edward dan Pak Leon. Setelah itu baru saya kesini" tutur Lily.
Lily mengambil obat salep dari sakunya, lalu memberikannya kepada Kimberly.
"Saya bantu untuk mengoleskan Salep pada kaki Nona Kimberly" Lily menawarkan bantuan kepada Kimberly.
"Tidak usah, saya bisa sendiri" Kimberli menunduk lalu mengoleskan salep ke salah satu kakinya.
"Kalau begitu, saya permisi Nona Kimberly" ucap Lily berpamitan.
"Tunggu! sebenarnya apa tugas kamu berkerja di sini? kenapa kamu ada di lantai pimpinan? tanya Kimberly. Dia sangat ingin tahu kenapa Lily berada di lantai atas.
"Selama Tuan Edward sakit, saya mendapat tugas membantu Tuan Edward, Nona Kimberly" Lily menjelaskan pekerjaannya.
"Maksudmu membantu apa? bukannya ada Pak Leon yang biasa membantu Tuan Edward? tanya Kimberly.
"Saya harus bertanggung jawab atas perbuatan saya, karena saya tidak mau dipecat"
"Tanggung Jawab apa maksudmu?"
"Saya yang membuat tangan Tuan Edward celaka, maka saya harus merawat Tuan Edward sampai sembuh" Imbuh Lily.
__ADS_1
"Saya permisi, Nona Kimberly" Lily lalu meninggalkan Kimberly.
"Kurang ajar Lily, aku bekum selesai bicara dia tinggal pergi aja" gumam Kimberly.
Edward dan Leon sedang membicaran tugas baru. Leon harus mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh Edward.
"Kalau bisa kamu harus mendapat informasi itu secepatnya, Leon" ucap Edward.
"Aku akan mengerjakan sekarang juga" Leon mensesap kopi buatan Lily.
"Aku merasa ada yang tidak beres dengan orang itu" Ucap Edward.
Tok ... tok ... tok
"Masuk" ucap Leon.
"Lily. Bagaimana kaki Kimberly" tanya Leon.
"Saya sudah memberi salepnya pak. Mungkin akan sedikit membantu untuk mengurangi rasa sakit pada kaki Nona Kimberly" ucap Lily.
"Terima kasih, Lily. Lain kali kamu harus berhati-hati jangan ceroboh kalau di pantry" ucap Leon.
"Aku akan ke ruanganku. aku akan segera memberimu informasi secepatnya" Leon beranjak dari duduknya, lalu meninggalkan ruangan CEO.
"Tuan jangan pecat saya. Saya tadi tidak senggaja membuat Nona Kimberly terkena tumpahan kopi" kata Lily. Lily menunduk tidak berani menatap.
"Sepertinya kamu terlahir sebagai perempuan pembawa bencana. Baru 2 hari kamu jadi karyawan disini, sudah membuat 2 orang celaka di kantor ini" Edward mencoba bercanda kepada Lily. Supaya Lily tidak selalu merasa bersalah setiap kali melakukan kesalahan.
"Apa yang dikatakan Tuan itu benar, mungkin saya memang ditakdirkan membawa bencana untuk orang-orang yang ada di sekitar saya. Mungkin karena itu juga paman saya membenci saya. Bahkan orang tua saya juga pergi meninggalkan saya. Apa papa, mama saya juga membenci saya, sehingga mereka meninggalkan saya sendiri tanpa mengajak saya" Lily menangis. Dia merasa apa yang dikatakan Edward ada benarnya.
Edward merasa bersalah saat melihat Lily menangis dengan menundukan kepalanya. Niat ingin bercanda malah membuat gadis muda itu malah menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kedua orang tuanya.
Merasa tak tega, Edward lalu menghampiri Lily dan memeluk Lily dengan tangan yang tidak tidak terluka.
"Maaf kan saya Lily, saya tidak bermaksud seperti itu. saya hanya bercanda sama kamu" Edward merasa tidak tega dengan Lily.
"Tidak ada, orang tua yang membenci anaknya Lily" Edward mencoba menenangkan Lily.
Lily menangis dalam pelukan Edward. Dia teringat akan kematian orang tuanya. Meskipun saat itu Lily masih kecil, tapi dia masih ingat detail kematian dua orang yang sangat dia sayangi.
To be continue...
...----------------...
__ADS_1